NovelToon NovelToon
AKU DICERAI KARENA MANDUL

AKU DICERAI KARENA MANDUL

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.

Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.

Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.

Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.

"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."

Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.

Tapi Tuhan tidak tidur.

Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.

arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mandor VS Nenek

Jam 11.30 siang, gerbang TK Islam Terpadu Bunga Bangsa.

Alesha keluar dari kelas dengan rompi oranye kebesaran masih dipakai, helm kuning dipegang erat, buku Hello Kitty laporan mandor di dalam tas, dan muka cemberut. Hari ini dia tidak dapat bintang 5 dari Bu Guru karena tidak fokus pelajaran. Di buku gambarnya, bukan menggambar apel, tapi menggambar denah Rumah Bunga Matahari dengan perosotan kuning yang belum jadi, karena pikirannya ada di Puncak, ada di batu bata pertama dengan foto USG adik dan gelang 5 ribu di bawahnya.

Aku menunggu di gerbang dengan perut 9 minggu 6 hari yang sudah mulai kram lagi sejak telepon Pak Slamet jam 08:40 tadi. Mualnya hilang, diganti perih karena menahan tangis. Di sampingku, bukan Revan. Revan masih di Puncak, sudah 2 jam di sana menghadapi Bu Lastri dan Bara yang kabur dari RS dengan selang infus.

Aku harus menjemput Alesha sendiri, padahal aku sendiri hampir pingsan.

"Mama! Laporan Mandor hari ini selesai! Bu Guru kasih bintang 3 aja, soalnya Alesha gambar rumah terus, bukan apel," kata Alesha sambil naik ke motor, memeluk pinggangku.

Aku tidak bisa menjawab. Hanya mengangguk. Motor matic kami melaju pelan ke arah Puncak. Bukan ke arah rumah di Jakarta. Tapi ke arah Puncak. Karena Pak Slamet barusan telepon lagi jam 11.15: "Bu Arini, Pak Revan sudah di sini, tapi Bu Lastri gak mau pergi, Pak Bara pingsan di atas pondasi, tolong bawa Mandor Kecil ke sini, Bu. Cuma Mandor Kecil yang bisa usir mereka, Bu."

Alesha tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya tahu Mama mengajaknya ke Puncak jam 11 siang, padahal biasanya ke Puncak hanya Sabtu.

Jam 12.30 siang, tanah 500 meter Puncak.

Pemandangan yang Alesha lihat dari atas motor membuat helm kuningnya hampir jatuh.

Tanahnya berantakan. Pondasi 20 persen yang kemarin rapi setinggi lutut, sekarang ada bekas kaki orang dewasa. Pagar bambu kecil yang melindungi bunga matahari liar, roboh, diinjak. Spanduk kuning besar PROYEK RUMAH BUNGA MATAHARI - MILIK KELUARGA ARINI, REVAN & KAKAK ALESHA + ADIK KACANG sobek di ujungnya, ditarik paksa.

Dan di tengah tanah, ada 4 orang. Revan dengan kemeja putih yang kotor semen, sedang menahan 2 laki-laki berbadan besar yang dibawa Bu Lastri. Bu Lastri sendiri, perempuan gemuk dengan daster bunga-bunga, rambut disasak, membawa map coklat besar berisi sertifikat palsu, sedang berteriak-teriak ke Pak Slamet dan 3 tukang lain.

Dan di atas pondasi, tepat di atas batu bata pertama tempat foto USG 9 minggu 1 hari dan gelang 5 ribu disimpan, terbaring Bara Mahendra. Baju pasien putih biru RS Darmo Surabaya, selang infus masih menempel di tangan kirinya yang kurus, darah menetes dari selang karena dia cabut paksa, wajah pucat seperti mayat, mata terpejam, pingsan.

Alesha turun dari motor. Rompi oranye kebesaran. Helm kuning miring. Buku Hello Kitty di tangan.

Dia tidak menangis. Dia tidak takut. Dia marah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya 5 tahun setengah, Alesha marah.

Dia berjalan pelan ke arah Bu Lastri. Bu Lastri yang dulu, 5 tahun lalu, pernah datang ke kontrakan kecil Arini dan Alesha bayi, melempar uang 500 ribu ke lantai dan berkata, "Ini uang buat anak haram kamu, jangan pernah ngaku-ngaku cucu saya, kamu kan mandul!"

Alesha tidak ingat kejadian itu. Tapi tubuh kecilnya ingat. Hatinya ingat.

"Siapa kamu? Kenapa injak bunga matahari aku?" tanya Alesha dengan suara kecil tapi keras, menunjuk bunga matahari liar yang roboh, yang pagar bambunya diinjak Bu Lastri.

Bu Lastri menoleh, melihat anak kecil ber-rompi oranye dan helm kuning miring. Dia tidak kenal. Dia kira anak tukang.

"Minggir kamu anak kecil! Ini tanah nenek! Tanah ayah kamu, Bara! Nenek mau ambil lagi tanah ini buat ayah kamu berobat gagal ginjal! Minggir!"

Alesha tidak minggir. Dia malah membuka buku Hello Kitty nya, halaman DAFTAR INSPEKSI MANDOR ALESHA.

"Ini tanah aku! Lihat!" Alesha membalikkan buku Hello Kitty nya, menunjukkan coretan crayon yang dia gambar kemarin: tanah kotak dengan tulisan KAKAK ALESHA PUNYA. "Ini sertifikat asli aku! Aku yang gambar! Tanah ini atas nama Alesha Pratama Argan! Bukan Bara Mahendra!"

Bu Lastri tertawa, tertawa keras. "Halah, anak kecil tau apa soal sertifikat! Ini lihat, sertifikat asli!" Dia membuka map coklat, mengeluarkan kertas yang dia klaim sertifikat tahun 2018 atas nama Bara Mahendra.

Revan yang dari tadi menahan 2 laki-laki berbadan besar, berteriak, "Itu sertifikat palsu! BPN tidak ada recordnya! Bu Lastri, jangan bohongi anak kecil!"

Tapi Alesha tidak butuh Revan menjelaskan sertifikat palsu. Alesha melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Revan, olehku, oleh Pak Slamet, oleh 2 laki-laki berbadan besar, oleh Bu Lastri, bahkan oleh ADIRA yang protes konflik hilang tadi pagi.

Alesha melepas helm kuning kebesarannya. Helm yang selama ini menjadi mahkota Mandor Kecil Dari Puncak. Dia letakkan helm itu dengan hati-hati di atas tanah, di samping bunga matahari liar yang roboh.

Lalu dia berjalan ke arah Bara Mahendra yang pingsan di atas pondasi, di atas batu bata pertama.

Bara yang pingsan, dengan selang infus berdarah, tidak tahu bahwa di atasnya berdiri seorang anak kecil ber-rompi oranye kebesaran, anak yang 5 tahun setengah lalu dia tinggalkan dengan surat lusuh 3 baris di kontrakan: "Arini, aku titip Alesha, aku mau menikahi Luna, maaf."

Alesha menatap Bara. Lama. Bara yang pucat. Bara yang kurus. Bara yang gagal ginjal.

"Mama bilang, Papa Bara sakit," bisik Alesha pelan, suaranya hanya terdengar olehku yang berdiri di belakangnya dengan perut 9 minggu 6 hari. "Mama bilang, Papa Bara butuh ginjal. Tapi Mama juga bilang, adik di perut Mama butuh rumah."

Alesha lalu jongkok, tangan kecilnya mengambil sesuatu dari saku rompi oranye kebesarannya. Bukan crayon. Bukan buku. Tapi gelang kuning 5 ribu cadangan. Ya, Alesha punya 2 gelang. Satu yang sudah diletakkan di bawah batu bata pertama kemarin, dan satu lagi yang dia simpan di saku rompi untuk adiknya.

Dia letakkan gelang 5 ribu cadangan itu di samping Bara yang pingsan, di atas pondasi 20 persen.

"Ini buat Papa Bara," kata Alesha, dengan suara yang membuat 2 laki-laki berbadan besar yang dibawa Bu Lastri pun diam. "Tapi tanah ini bukan buat Papa Bara. Tanah ini buat adik. Buat adik yang di perut Mama. Jadi Papa Bara gak boleh gusur."

Bu Lastri yang melihat Alesha memberikan gelang ke Bara, yang melihat cucunya sendiri yang dulu dia bilang anak haram, sekarang memberikan gelang 5 ribu ke ayahnya yang gagal ginjal, terdiam. Map coklat berisi sertifikat palsu di tangannya jatuh ke tanah. Kertas sertifikat palsu tahun 2018 atas nama Bara Mahendra beterbangan kena angin Puncak.

Revan melepaskan 2 laki-laki berbadan besar itu, berjalan pelan ke arah Alesha, menggendongnya. Aku berjalan ke arah Bara yang pingsan, dengan perut 9 minggu 6 hari, menutupi Bara dengan jaket Revan yang ada di tanah.

Di atas tanah Puncak 500 meter atas nama Alesha Pratama Argan, di bawah spanduk kuning sobek, di atas pondasi 20 persen, terbaring Bara Mahendra yang gagal ginjal dengan gelang 5 ribu dari anak yang dulu dia tinggalkan di sampingnya, dan di sampingnya berdiri Mandor Kecil Dari Puncak dengan rompi oranye kebesaran dan helm kuning yang sudah dia letakkan di tanah, yang baru saja memenangkan pertempuran tanpa berteriak, tanpa menangis, hanya dengan gelang 5 ribu dan buku Hello Kitty.

Hari itu, Bu Lastri pulang dengan map kosong, sertifikat palsunya beterbangan dan diinjak-injak Alesha tanpa sengaja saat Alesha mengambil kembali helm kuningnya. 2 laki-laki berbadan besar pulang tanpa dibayar. Bara dibawa Revan ke klinik Puncak terdekat dengan selang infus masih berdarah, bukan ke RS Darmo Surabaya lagi.

Dan malamnya, di ruang tamu, laporan mandor jam 8 malam tetap dilakukan. Tapi kali ini berbeda.

Alesha membuka buku Hello Kitty nya, mencoret DAFTAR INSPEKSI kemarin, dan menulis baru dengan crayon merah, dengan bantuan Mama:

LAPORAN MANDOR HARI INI:

1. BATU BATA PERTAMA AMAN, FOTO USG ADIK & GELANG 5 RIBU AMAN

2. BUNGA MATAHARI LIAR ROBOH, TAPI SUDAH DITANAM LAGI SAMA MANDOR

3. NENEK JAHAT & PAPA BARA SUDAH PULANG, GAK JADI GUSUR

4. MANDOR KASIH GELANG CADANGAN KE PAPA BARA BIAR CEPAT SEMBUH

Revan mencatat di laptop: Progres tetap 20%, pagar bambu diperbaiki, bunga matahari ditanam ulang oleh Mandor Kecil.

Aku, dengan perut 9 minggu 6 hari yang malam ini sudah tidak kram lagi, mencium helm kuning Alesha yang kotor tanah Puncak.

Di kulkas, tulisan LUNAS masih ada, tulisan PROYEK DIMULAI masih ada, tulisan KAKAK ALESHA SIAP JADI MANDOR masih ada, dan malam ini Revan menambahkan lagi dengan spidol hijau:

"MANDOR MENANG - SERTIFIKAT PALSU KALAH - 9 MINGGU 6 HARI - GELANG 5 RIBU CADANGAN DIBERIKAN"

1
Adira🍓
Akhirnya happy ending /Rose/ Semangat untuk cerita selanjutnya Thor 🫰
Adira🍓
Dari awal baca udah emosi banget sama Bara dan mertuanya! Kasian Arini 3 tahun diperlakukan kayak pembantu, dikatain mandul padahal suaminya sendiri gak pernah nyentuh. Plot twist-nya GILA, ternyata yang mandul Bara! Puas banget pas Arini balik jadi wanita elegan pemilik saham terbesar. Revan Aditya penyelamat terbaik! Wajib baca buat yang suka cerita balas dendam! Terima kasih Kak Mahrani 🙏🫰
Adira🍓
🙄🙄🙄🙄🙄
Adira🍓
Lanjut Thoorr 🫰
Adira🍓
Sudah bertahun-tahun,,, masih aja tentang si Bara yang berbuat ulah... 🤣🤣
Adira🍓
Konfliknya udah GK ada lgi ni Thor? 🤔
Mahrani: *tisu*
total 2 replies
Adira🍓
Lanjut Thoorr 🫰
Adira🍓
Hutangmu banyakk loh Bar 😝😝
Adira🍓
Lanjut Thoorr 🫰
Mahrani: tungguin ya kak bab selanjut nya, bara gagal ginjal beneran luna minta donorke arini menurut kak arini kasi gak?😭👇
total 1 replies
Adira🍓
Apa yang ingin kau lihat Bar /Slight/
Adira🍓
👏👏👏 si baby akhirnya melihat dunia 🫰🫰
Adira🍓
Kita... /Slight/ Revan ikut hamil.donk 🤣🤣🤣
Mahrani: wkwkwk iya kak revan ikut hamil, mualnya lebih parah dari arini
nnti di rumah bunga matahari dia yang ngidam rujak di jam 2 pagi😅😭
total 1 replies
Adira🍓
Mo bikin huru-hara apalagi ni si bara bere /Slight//Slight//Slight/
Mahrani: bara bere emng bikin huru hara kak
nnti di bab 28 dia muncul di klinik pas arini kontrol hamil adek alesha
kak tim revan atau tim bara ?😅
total 1 replies
Adira🍓
Mau mau mau 👏👏🤭🤭🤭
Adira🍓
Ape teriak^ lu bang 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
plus jadi partner sehidup semati donk Van 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Ngomong aja sama pintu sana Bar 😝😝😝
Adira🍓
Masih aja ni jalang satu 😒😒
Adira🍓
Gak ada kebohongan yang bisa ditutupi selamanya oon 😝😝😝😝
Adira🍓
Bicara apalagi buaya 😝😝😝😝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!