Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - RUMAH AMAN DI PINGGIR KOTA
Matahari pagi akhirnya benar-benar merobek awan mendung, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air sungai yang keruh. Udara masih terasa dingin menusuk tulang, sisa-sisa badai semalam yang sukses meluluhlantakkan kerajaan sang ratu mafia.
Speedboat hitam doff yang dikemudikan Kael kini memelankan lajunya, merayap masuk ke dalam muara sungai yang diapit oleh hutan bakau lebat di pinggiran kota sektor utara. Akar-akar pohon bakau yang menjuntai ke air dan kanopi daun yang rapat membentuk semacam terowongan alami, menyembunyikan kapal kecil itu dari pandangan udara maupun jalanan.
Valeria duduk memeluk lututnya di lantai kapal. Tubuhnya menggigil ringan. Pakaian taktisnya yang basah kuyup oleh air laut, darah, dan keringat mulai terasa berat dan tidak nyaman. Tapi rasa dingin di kulitnya nggak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di hatinya sejak membaca pesan pengkhianatan pamannya tadi.
"Kita harus jalan kaki dari sini, Val," ucap Kael pelan, mematikan mesin *speedboat* agar suaranya nggak menarik perhatian.
Pria raksasa itu meraih dayung kayu kecil dari bawah jok, lalu mulai mendayung kapal itu secara manual menembus celah-celah akar bakau menuju daratan yang berlumpur. Otot lengan kirinya menegang keras setiap kali dia mengayuh, sementara lengan kanannya dibiarkan menggantung kaku.
"Biar aku bantu," tawar Valeria beringsut maju, berniat mengambil dayung itu dari tangan Kael.
"Tidak usah, Nyonya. Simpan tenaga Anda. Jalanan di depan lumayan jelek," tolak Kael halus namun tegas.
Ujung *speedboat* akhirnya menabrak gundukan lumpur dan semak belukar. Kael melompat turun lebih dulu, air keruh setinggi betis langsung merendam sepatu bot tempurnya. Pria itu menambatkan tali kapal ke salah satu akar pohon bakau yang paling besar, lalu menarik jaring kamuflase berwarna hijau lumut dari dalam kompartemen kapal dan menutupinya hingga *speedboat* itu benar-benar menyatu dengan alam.
Setelah memastikan kendaraan darurat mereka aman, Kael berbalik dan mengulurkan tangan kirinya ke arah Valeria.
"Mari," ajak Kael.
Valeria menyambut uluran tangan itu. Genggaman Kael terasa sangat kokoh dan hangat, kontras dengan udara pagi yang beku. Kael membantu Valeria melompat turun dari kapal, memastikan wanita itu mendarat di bagian tanah yang cukup keras agar tidak terperosok ke dalam lumpur.
Mereka berdua berjalan menembus semak belukar lebat selama kurang lebih lima belas menit. Kael memimpin di depan, menggunakan tubuh besarnya untuk membuka jalan dan menyingkirkan dahan-dahan berduri agar tidak mengenai Valeria. Napas pria itu terdengar semakin berat. Sesekali, Kael menyeret kaki kanannya, tanda bahwa sisa-sisa tenaga monsternya mulai terkuras habis.
Valeria menatap punggung tegap di depannya itu dengan dada sesak. Pria ini sudah ditembak, terkena serpihan ledakan, bertarung tangan kosong melawan puluhan orang, berenang di laut lepas, dan sekarang masih memaksakan diri membukakan jalan untuknya di tengah hutan.
"Kael, istirahat bentar, ya? Kamu udah pucat banget," tegur Valeria setengah memohon, menarik pelan ujung kemeja pria itu.
"Sedikit lagi, Val. Kita sudah hampir sampai," balas Kael tanpa menoleh, terus memaksa kakinya melangkah.
Semak belukar itu akhirnya terbuka, mengarah ke bagian belakang sebuah kawasan industri rongsokan yang sudah lama ditinggalkan. Di depan mereka, berdiri sebuah bangunan bengkel tua yang tampak nyaris rubuh. Atap sengnya berkarat parah, dinding batanya ditumbuhi lumut dan ilalang liar, dan di halamannya berserakan bangkai-bangkai mobil rongsokan yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak tersentuh.
Sebuah plang kayu lapuk bertuliskan 'Bengkel Motor Abadi' tergantung miring di atas pintu garasinya yang terbuat dari rolling door besi berkarat.
"Ini tempatnya?" tanya Valeria mengernyitkan dahi, menatap ragu ke arah bangunan kumuh yang lebih mirip sarang hantu daripada tempat persembunyian.
"Jangan tertipu dengan sampulnya, Val," seringai Kael tipis, ujung bibirnya berkedut menahan nyeri.
Kael berjalan mendekati sebuah tumpukan ban bekas di samping bengkel. Dia menggeser dua buah ban besar yang terlihat sangat berat itu dengan satu tangan, lalu menyingkap selembar terpal kotor yang menutupi bagian bawah dinding.
Di balik terpal itu, sama sekali bukan dinding bata lapuk, melainkan sebuah panel pintu baja tebal yang ditanam presisi ke dalam struktur beton. Kael membuka kotak kecil di samping pintu, menampilkan sebuah pemindai sidik jari dan *keypad* numerik yang menyala merah.
Valeria melongo. Di balik bangunan rongsokan ini, ternyata ada sistem keamanan tingkat tinggi militer.
Kael menempelkan ibu jarinya ke pemindai, lalu mengetikkan delapan digit kombinasi angka dengan cepat.
*BIP! KLIK!*
Terdengar suara pengunci mekanis yang berat terbuka dari dalam. Pintu baja itu bergeser ke samping tanpa suara bising sedikit pun, menampilkan lorong remang-remang yang mengarah turun ke bawah tanah.
"Silakan masuk, Ratuku. Selamat datang di duniaku," ucap Kael menundukkan kepalanya sedikit, mempersilakan Valeria masuk lebih dulu.
Valeria melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Begitu Kael ikut masuk dan menutup pintu baja itu dari dalam, lampu LED putih di sepanjang lorong otomatis menyala. Suara bising angin dan burung dari luar langsung terputus total, membuktikan bahwa ruangan bawah tanah ini kedap suara secara sempurna.
Mereka menuruni tangga beton yang pendek, lalu tiba di ruangan utama persembunyian itu.
Mata Valeria membelalak kagum. Ruangan bawah tanah ini luasnya kira-kira setara dengan apartemen studio. Dinding dan lantainya terbuat dari beton ekspos yang bersih dan kering. Udara di dalam sini terasa segar, menandakan adanya sistem sirkulasi udara yang tersembunyi dan terawat dengan baik.
Di sudut kanan, terdapat ranjang *king size* dengan seprai putih bersih. Di sudut kiri, ada dapur kecil dengan kulkas, *microwave*, dan rak berisi ratusan makanan kaleng serta air mineral yang cukup untuk menghidupi mereka berbulan-bulan.
Tapi yang paling mencolok adalah dinding di bagian ujung ruangan. Dinding itu dipenuhi rak besi yang menampung puluhan jenis senjata api, mulai dari pistol otomatis, senapan serbu, senapan *sniper*, hingga granat dan peledak C4. Di sebelahnya, berdiri sebuah lemari kaca besar yang berisi peralatan medis lengkap, sekelas dengan ruang UGD rumah sakit.
Ini bukan sekadar tempat sembunyi. Ini adalah markas komando untuk satu orang pasukan.
"Kael... kamu serius nyiapin semua ini sendirian?" gumam Valeria takjub, berjalan menyusuri ruangan dan menyentuh laras senapan M4 yang bertengger rapi di raknya. "Nggak ada satupun anak buah klan yang tahu tempat ini?"
"Tidak ada. Bahkan Bastian sekalipun," jawab Kael berjalan gontai ke arah sebuah meja baja di tengah ruangan.
Pria itu menyalakan beberapa monitor komputer yang menampilkan pantauan puluhan kamera CCTV yang disembunyikan di luar bengkel, menjangkau radius lima ratus meter dari tempat mereka berada.
"Sejak hari pertama saya bersumpah untuk melindungi Anda, saya tahu dunia mafia tidak pernah stabil, Val. Suatu saat, Anda mungkin akan dikhianati, atau klan akan runtuh. Saya membangun tempat ini sedikit demi sedikit selama delapan tahun terakhir. Menggunakan uang bayaran saya, menyicil peralatannya dari pasar gelap, dan memasang sistemnya sendirian di malam hari saat Anda tidur," jelas Kael panjang lebar. Matanya terus menatap layar monitor, memasukkan kode-kode keamanan untuk mengaktifkan sistem alarm perimeter.
Valeria tertegun. Pria ini... Kael sudah memikirkan skenario kiamat untuknya sejak delapan tahun lalu? Dedikasi macam apa ini? Ini bukan lagi sekadar kesetiaan seorang bawahan. Ini adalah obsesi yang sangat gila, sangat dalam, dan entah kenapa, sangat membuat Valeria merasa dicintai dengan cara yang paling brutal.
"Sistem keamanan aktif. Radar bersih. Tidak ada yang mengikuti kita," lapor Kael pelan.
Begitu kata "bersih" keluar dari mulutnya, sisa-sisa adrenalin yang sejak semalam menahan tubuh monster Kael akhirnya menguap tak bersisa.
Kaki Kael mendadak lemas. Tubuh besarnya terhuyung ke depan, menabrak meja baja dengan keras. Monitor komputer sampai sedikit berguncang. Kael mencengkeram tepi meja dengan tangan kirinya, napasnya berubah menjadi embusan-embusan pendek yang serak dan menyakitkan. Darah menetes deras dari ujung jarinya, menggenang di lantai beton.
"Kael!" jerit Valeria panik, langsung berlari menghampiri pria itu.
Valeria menyelinap di bawah lengan kiri Kael, menopang tubuh raksasa itu dengan bahu kecilnya agar Kael tidak benar-benar ambruk ke lantai. Hawa panas langsung terasa dari kulit Kael, suhu tubuhnya naik drastis.
"Udah, udah, cukup sok jagoannya," omel Valeria dengan suara bergetar, setengah memapah dan setengah menyeret Kael menuju ranjang di sudut ruangan. "Kamu bilang aku yang ambil kendali sekarang, kan? Kalau gitu, diam dan nurut."
Kael cuma bisa meringis pelan, membiarkan dirinya dijatuhkan ke atas kasur yang empuk. Rasa sakit yang bertubi-tubi akhirnya menagih bayaran. Pandangannya mulai berkunang-kunang, tapi dia masih memaksakan matanya terbuka untuk menatap Valeria yang kini berlutut di lantai samping ranjangnya, sibuk melepaskan perlengkapan taktisnya.
"Maafkan saya... membawa Anda ke tempat seperti ini, Val," bisik Kael parau, napasnya berat. "Seharusnya Anda... berada di penthouse mewah."
Valeria mendongak, menatap pria yang sedang meregang nyawa di depannya itu dengan tatapan tajam.
"Jangan mulai lagi, Kael. Tempat ini lebih dari cukup. Ini istanaku sekarang, dan kamu penjaganya. Jadi kamu nggak boleh mati," desis Valeria, tangannya dengan cekatan membuka ritsleting jaket Kael yang bersimbah darah.
Valeria melepaskan rompi anti peluru Kael yang sudah hancur, membuangnya ke lantai. Wanita itu lalu bergegas menuju lemari medis, mengambil gunting, perban, antiseptik, infus, dan obat bius lokal dengan kecepatan yang terlatih. Hidup di dunia mafia membuatnya hafal di luar kepala cara menangani luka tembak darurat.
Saat Valeria kembali ke sisi ranjang, dia memotong kemeja hitam Kael karena kainnya sudah menempel pada luka-lukanya. Dada bidang pria itu penuh dengan goresan, lebam, dan luka jahit yang jebol.
Melihat seberapa parah kerusakan pada tubuh pelindungnya ini, air mata Valeria kembali menetes tanpa bisa ditahan. Tapi tangannya sama sekali tidak gemetar.
"Aku bakal ngejahit ulang bahumu dan ngeluarin serpihan peluru di lenganmu," ucap Valeria tegas, menyedot cairan bius ke dalam jarum suntik. "Tahan sedikit, Kael. Begitu ini selesai, kita berdua bisa tidur."
Kael menatap wajah cantik Valeria yang cemong dan basah oleh air mata. Tangan kiri pria itu bergerak pelan, menyentuh pergelangan tangan Valeria yang sedang memegang jarum suntik.
"Di dunia luar... Anda mungkin sudah bukan ratu lagi, Val," bisik Kael dengan sisa-sisa kesadarannya, senyum tulus mengembang di bibir pucatnya. "Tapi di dalam ruangan ini... Anda adalah satu-satunya penguasa saya."
Kata-kata itu meruntuhkan semua dinding pertahanan Valeria. Ratu mafia itu mengangguk cepat, menyuntikkan bius itu ke bahu Kael sambil terisak pelan.
Di dalam bunker beton yang terkubur di bawah rongsokan besi ini, jauh dari gemerlapnya dunia mafia dan pengkhianatan keluarganya, Valeria akhirnya menyadari satu hal. Kerajaannya mungkin telah lenyap, tapi selama dia memiliki Kael, dia tidak akan pernah kehilangan takhtanya.