Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alaska Al Jordan Shinoda
"Jadi Thea sudah tahu?" tanya Susan setelah mereka hanya berdua dan duduk di teras sambil menyesap kopi.
"Aku tahu aku salah. Tapi ... Aku juga tidak mau terlalu obsesi lebih dalam ke gadis dalam lukisan aku jadi kutinggalkan di sini. Sepertinya, aku tidak bisa lepas dari kutukan mimpiku kan?" jawab Satoru.
"Kamu mencintainya? Thea, maksudku."
Satoru menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu ... belum tahu ini cinta atau hanya obsesi. Ada baiknya kami berpisah. Tujuanku adalah untuk lebih memahami perasaan aku."
Susan mengelus punggung Satoru. "Kamu sudah jatuh cinta dengan wanita dalam mimpimu, yang kamu tuangkan dalam kanvas tanpa tahu dia benar-benar nyata. Satoru, jika memang kamu suka padanya. Kenapa tidak kamu kejar dia? Toh dia bukan pacar atau suami orang. Aku rasa, Thea juga sedang bingung dengan dirinya sendiri."
Satoru menoleh ke Susan yang sudah seperti kakak baginya. "Menurutmu begitu?"
"Satoru Shinoda, kamu pria atau bukan?" balas Susan dengan wajah datar.
Satoru tertawa hingga lesung pipinya terlihat. "Well, aku tikus tanah kalau tidak berani maju kan?"
"Hah! Sadar juga kamu," kekeh Susan.
Satoru tersenyum. "Thank you Susan."
"Oh, kalau kalian akhirnya menikah, bulan madunya kesini saja ya?" pinta Susan.
"Absolutely. Karena Cedliff tempat kami pertama kali kami bertemu bukan?"
***
Washington DC
Jennifer akhirnya memberikan harga lukisan itu ke Alethea dan dia membayarnya saat itu juga. Alethea tahu harganya tidak murah tapi baginya, cukup membuat dirinya tidak kena dampak dari drama sosial media. Alethea membawanya pulang ke rumahnya dan memasangnya dekat dengan foto pernikahannya dengan Toshiro.
"Pantas saat itu kamu bilang "Sisakan sedikit buat foto aku." Apakah kamu sudah tahu soal ini, Anata?"
Alethea duduk di sofanya dan menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya. Dia menyesap sedikit dan menatap foto pernikahannya serta lukisan dirinya. Bagiamana wajahnya begitu ceria dan hidup di kedua gambar di dinding sementara sekarang? Dia seperti sedang mencari hal yang membuat matanya hidup ceria kembali.
"Dua tahun kamu pergi, dua tahun aku tidak tahu harus bagaimana dan hanya fokus bekerja. Tidak memikirkan kehidupan sosial aku, tidak berkencan dan kemarin ... Aku mencium bibir pria asing. Pria yang melukiskan wajahku dan jujur ... aku merasa hidup. Aku bisa mendapatkan sesuatu yang hilang. Apakah ... Aku mengkhianati kamu, Anata?" Alethea meletakan gelas anggur itu di keningnya. "Astagaaa, aku terlalu lama sendiri dan menjanda jadi ... Seperti ini."
Wanita itu membuka buku gambar yang ada di sebelahnya. "Satoru, ini aku dan Toshiro atau aku dan kamu?"
***
Alethea datang ke museum untuk bekerja dan melihat seorang wanita berusia sekitar empat puluhan akhir, sedang melihat-lihat lukisan yang ada disana. Alethea melihat sisi profilnya dan dia yakin wanita itu pasti cantik.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alethea.
Wanita itu menoleh dan Alethea terkejut melihat wajah. Wajah yang selalu muncul di banyak acara seni.
"Halo ...."
"Alaska Al Jordan?" bisik Alethea.
"Wah, kok tahu?" senyum Alaska. "Kamu Alethea kan?"
"Miss Al Jordan, siapapun yang tahu soal seni, pasti hapal wajah Anda. Benar, saya Alethea Ashford." Alethea mengulurkan tangannya ke Alaska.
"Ternyata kamu lebih cantik dari yang dilukis oleh Satoru," senyum Alaska.
"Satoru?" beo Alethea.
"Iya, Satoru. Dia putraku." Alaska menyalami Alethea yang terbengong-bengong.
"Seriously?"
***
Jennifer, Nina, Catherine dan Sandy ikut terbengong-bengong saat melihat Alaska Al Jordan datang ke ruangan mereka. Jennifer tidak menduga jika pelukis terkenal dan cukup sulit diajak hadir, malah dengan sukarela datang ke museumnya.
"Miss Al Jordan, ada acara apa Anda kemari?" tanya Jennifer sambil memberikan secangkir teh panas di depan wanita berambut coklat itu.
"Sejujurnya? Aku hanya mampir. Kebetulan aku cukup bosan di Eropa dan ingin jalan-jalan ke Amerika. Washington tidak sepadat New York jadi aku kemari," jawab Alaska sambil meraih cangkir teh panasnya.
"Anda ... lukisan Anda ada beberapa di sini dan memang not for sale. Jadi ... Anda ada rencana untuk memberikan lukisan ke kami?" tanya Jennifer.
"Belum. Karena aku masih ada even bulan depan di Sapporo. So, siapa kurator di sini?" tanya Alaska.
Keempat wanita itu menunjuk ke arah Alethea. "Thea. Dia kurator kami," jawab Jennifer.
Alaska menoleh ke arah Alethea. "Begitu. So, bagaimana kita makan siang berdua. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Alethea menoleh ke arah Jennifer dan teman-temannya. Keempatnya kompak mengatakan, "Go!"
***
Restoran high-end itu dipenuhi suasana tenang. Alunan piano terdengar samar dari sudut ruangan, sementara cahaya matahari siang menembus jendela-jendela besar yang menghadap jalanan kota Washington.
Alaska duduk berhadapan dengan Alethea, dengan tatapan menyelidik. Di atas meja, hidangan makan siang tersaji dengan rapi, tetapi perhatian Alaska tampaknya lebih tertuju kepada perempuan muda di hadapannya.
Sejak tadi, Alaska mengamati Alethea dengan senyum kecil. "Jadi..." Alaska meletakkan garpunya perlahan. "Sejauh apa hubunganmu dengan Satoru?"
Alethea sedikit terdiam. Dia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Kami..." Alethea tersenyum tipis. "Berteman."
"Teman?" Alaska mengangkat alisnya.
Alethea mengangguk. "Ketika di Cedliff, Irlandia, kami sering berbicara. Satoru orang yang menyenangkan untuk diajak bicara."
"Sesering itu?" tanya Alaska.
"Ya."
"Dan kalian hanya berbicara?"
Alethea terdiam sebentar, kemudian tersenyum kecil. "Untuk saat ini, saya rasa begitu."
Alaska memperhatikan ekspresi Alethea. Tidak ada jawaban yang berlebihan. Tidak ada pula usaha untuk menyembunyikan sesuatu.
Namun justru itu yang membuat Alaska semakin penasaran. "Kalau begitu, aku ingin menanyakan sesuatu yang mungkin sedikit lebih pribadi."
Alethea menatapnya. "Silakan."
Alaska menarik napas pelan. "Bagaimana perasaanmu menjadi objek lukisan Satoru?"
Pertanyaan itu membuat Alethea terdiam. Suasana di meja mereka seolah berubah. Alethea menundukkan pandangan pada cangkir di depannya. Jemarinya perlahan menyentuh gagang cangkir, tetapi ia tidak segera mengangkatnya.
Dia teringat lukisan itu. Wajah yang selama ini hanya dia lihat sebagai sebuah karya seni.
Wajahnya sendiri. Wajah yang sekarang tergantung di tembok rumahnya. Dan semakin banyak hal yang dia ketahui tentang Satoru, semakin sulit baginya memandang lukisan itu hanya sebagai sebuah lukisan.
"Saya ...." Alethea berhenti.
Alaska menunggu tanpa mendesak.
Alethea akhirnya mengangkat wajahnya. "Saya tidak tahu." Jawaban itu sederhana, tetapi terdengar sangat jujur. "Saya benar-benar belum tahu bagaimana harus merasa tentang itu."
Alaska tidak langsung menjawab. "Apakah kamu marah?"
Alethea menggeleng perlahan. "Tidak."
"Kecewa?"
Kali ini Alethea kembali terdiam. "Saya juga tidak tahu." Dia menarik napas panjang. "Mungkin saya masih mencoba memahami kenapa Satoru melukis saya sebelum dia bahkan mengenal saya."
Alaska tetap menunggu kelanjutannya. Dia tahu tidak akan mendesak wanita muda di depannya.
Alethea melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Dan sekarang setelah saya mengenalnya... saya justru semakin sulit memahami perasaan saya sendiri."
Alaska tersenyum tipis, tetapi tidak berniat menggoda atau memaksanya menjawab. "Berarti kamu belum menemukan jawabannya."
Alethea menggeleng. "Belum."
Alaska mengangguk perlahan. "Kalau begitu, tidak apa-apa."
Alethea menatapnya bingung. "Excuse me?"
"Perasaan memang tidak selalu harus segera diberi nama." Alaska mengambil gelas berisikan air putih dan meminumnya.
Kalimat itu membuat Alethea terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak makan siang dimulai, di merasa Alaska tidak sedang berusaha mencari tahu hubungan mereka.
Wanita itu mungkin hanya ingin memastikan satu hal. Bahwa apa pun yang terjadi antara dirinya dan Satoru, Alethea tidak sedang berpura-pura.
Alethea kemudian tersenyum kecil. "Mungkin suatu hari nanti saya bisa menjawab pertanyaan itu."
Alaska membalas senyumnya. "Aku akan menunggu sampai saat itu. Dan semoga baik."
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia