Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: VIDEO CCTV PALSU DAN JEBAKAN TANTE MIRA
Pesan dari Tante Mira itu membuat suasana hangat di balkon penthouse langsung berubah menjadi dingin mencekam.
Arga menatap layar ponselnya dengan tatapan yang sangat mengerikan. Tatapan CEO Rogue yang siap menghancurkan siapa pun yang mengancam keluarganya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal sampai layar ponselnya retak sedikit.
"Tante Mira... berani-beraninya dia ancam saya pakai video palsu..." geram Arga pelan, tapi setiap katanya penuh amarah yang tertahan.
Aku yang berada di pelukannya langsung merinding ketakutan melihat perubahan ekspresi Arga. Dari suami yang lembut menciumku, kembali menjadi monster bisnis yang ditakuti satu Indonesia.
"Mas, video CCTV apa? Bukannya ayah saya tidak bersalah? Kenapa Tante Mira punya videonya?"
Arga tidak langsung menjawab, dia langsung menarikku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu balkon, dan menelepon tim IT dan pengacara terbaiknya dengan mode loudspeaker.
"Hendra, saya mau kamu lacak nomor Tante Mira sekarang juga. Dia ada di mana. Dan siapkan tim IT forensik, saya mau mereka cek keaslian video CCTV yang akan dia sebar. Video kebakaran pabrik Bandung 2016. Saya yakin itu video editan!"
"Siap Tuan! Tim sudah standby di lobi tower dari tadi sejak Bapak suruh bekukan aset Tante Mira!"
Arga menutup telepon, lalu menatapku dengan tatapan yang berusaha dilembutkan.
"Sinta, dengarkan Mas baik-baik. Tante Mira itu wanita licik. 10 tahun lalu dia bisa bikin laporan polisi palsu yang menuduh ayahmu, sekarang dia pasti bisa bikin video CCTV palsu juga. Jangan takut, Mas ada di sini, Mas tidak akan biarkan ayahmu dipenjara."
Aku mengangguk, tapi air mataku sudah mulai jatuh lagi. Aku takut, sangat takut ayahku yang baru saja kami temukan dan sedang sakit di rumah sakit, harus kembali menderita karena fitnah.
Jam 11 malam, tepat 1 jam setelah pesan ancaman itu, semua media online besar di Indonesia tiba-tiba memposting berita yang sama dengan judul yang mengerikan.
"TERBONGKAR! SOPIR PRIBADI KELUARGA WIJAYA ADALAH DALANG KEBAKARAN PABRIK 500 MILIAR YANG TEWASKAN 2 PEMILIK! BUKTI CCTV DITEMUKAN!"
Di video itu, terlihat seorang pria yang mirip sekali dengan ayahku dari belakang, membawa jerigen bensin masuk ke gudang kain dan menyulut api dengan korek. Wajahnya tidak terlihat jelas karena kualitas CCTV yang sengaja dibuat buram, tapi postur tubuhnya dibuat mirip ayahku.
Komentar netizen langsung meledak, menghujat ayahku sebagai pembunuh.
Aku yang melihat video itu di iPad langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai.
"Tidak... itu bukan ayah saya... ayah saya tidak merokok... ayah saya tidak pernah bawa jerigen... itu bukan ayah saya Mas..."
Arga langsung memelukku erat dan mengambil iPad itu lalu membantingnya ke dinding sampai pecah berkeping-keping.
"JANGAN LIHAT VIDEO SAMPAH ITU! ITU BUKAN AYAHMU! ITU EDITAN TANTE MIRA!"
Arga menggendongku dari lantai dan mendudukkanku di ranjang, dia menyeka air mataku dengan kasar tapi penuh cinta.
"Dengar saya, Sinta. Itu video palsu. Saya kenal postur tubuh ayahmu, ayahmu jalannya agak pincang kaki kirinya karena pernah kecelakaan 15 tahun lalu. Pria di video itu jalannya normal, tidak pincang. Ini bukti jelas video itu palsu, orang suruhan Tante Mira!"
Detail kecil itu membuatku sedikit lega. Benar, ayahku memang jalannya agak pincang.
"Tapi Mas, netizen tidak akan tahu detail itu, mereka akan percaya video itu asli dan ayah saya akan dibenci satu Indonesia..."
"Biarkan mereka benci 1 jam saja. Setelah itu, saya akan buat Tante Mira yang dibenci satu Indonesia seumur hidupnya."
Arga berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya yang ada di dalam penthouse. Dia menyalakan 3 layar komputer besar dan mulai mengetik dengan kecepatan yang sangat tinggi, wajahnya sangat fokus dan menyeramkan.
Aku mengikutinya dari belakang dengan selimut menutupi tubuhku.
Selama 2 jam, Arga tidak tidur. Dia menelepon puluhan orang, tim forensik, polisi, media, dan bahkan hacker.
Jam 1 pagi, tim forensiknya datang ke penthouse dengan membawa laptop dan bukti.
"Tuan Arga, benar seperti dugaan Tuan, video itu 100% editan AI Deepfake. Kami sudah analisa. Bayangan pria itu tidak sinkron dengan cahaya gudang, dan timestamp CCTV nya juga editan, font nya beda dengan CCTV asli pabrik tahun 2016. Dan yang paling penting, kami menemukan video CCTV asli yang disembunyikan Tante Mira selama 10 tahun di server lama pabrik!"
Tim IT itu memutar video CCTV asli yang mereka temukan.
Di video asli yang kualitasnya jauh lebih jernih, terlihat jelas Tante Mira dan seorang pria bertubuh besar membawa 2 jerigen bensin masuk ke gudang. Dan di belakang mereka, terlihat ayahku mencoba menghentikan mereka, tapi malah dipukul sampai pingsan oleh pria itu!
Itu bukti yang selama ini ayahku ceritakan! Ayahku benar-benar tidak bersalah! Dia adalah pahlawan yang mencoba menyelamatkan!
Arga tersenyum dingin, senyum kemenangan CEO.
"Bagus. Simpan video itu baik-baik. Besok jam 9 pagi, saya mau adakan konferensi pers di Wijaya Tower. Undang semua media yang tadi posting video palsu itu. Saya mau mereka lihat siapa pembunuh sebenarnya."
Aku memeluk Arga dari belakang, menangis bahagia.
"Terima kasih Mas... terima kasih sudah percaya sama ayah saya..."
Arga membalikkan badan dan mencium keningku lama.
"Dia ayahmu, berarti dia keluarga saya juga sekarang. Saya tidak akan biarkan keluarga saya difitnah."
Jam 3 pagi, kami baru bisa tidur, tapi Arga tidak tidur di ranjang, dia tidur sambil duduk di sofa ruang kerja sambil memelukku, karena dia harus standby menunggu pengacara.
Pagi harinya, jam 8 pagi, berita sudah berbalik 180 derajat.
Semua media yang semalam menghujat ayahku, pagi ini menghapus berita mereka dan mengganti dengan permintaan maaf, karena tim pengacara Wijaya Group mengancam akan menuntut 1 Triliun untuk setiap media yang menyebar hoaks.
Jam 9 pagi, konferensi pers dimulai di ballroom lantai 1 The Wijaya Tower. Ratusan wartawan datang.
Arga datang dengan setelan jas hitam termahal, menggandeng tanganku yang memakai dress putih elegan, dan di belakang kami ada ayahku yang sudah agak sehat, duduk di kursi roda didorong oleh suster.
Tante Mira juga datang, dengan wajah percaya diri dan senyum licik, dia pikir video palsunya berhasil.
"Terima kasih semua media sudah datang," kata Arga dengan suara dingin yang menggema di seluruh ballroom.
"Tadi malam ada video fitnah yang menuduh ayah mertua saya, Pak Herman, sebagai pembakar pabrik 10 tahun lalu. Hari ini saya akan tunjukkan video yang asli."
Layar besar di belakang Arga menyala dan memutar video CCTV asli yang menunjukkan Tante Mira membawa bensin.
Seluruh ballroom langsung heboh dan berisik, semua kamera wartawan langsung mengarah ke Tante Mira yang wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat.
"TIDAK! ITU TIDAK BENAR! ITU EDITAN! ARGA YANG EDIT VIDEO ITU! SAYA DIFITNAH!" Teriak Tante Mira histeris.
Arga berjalan pelan menghampiri Tante Mira yang sudah gemetar ketakutan.
"Tante, selama 10 tahun Tante hidup mewah dari uang asuransi pabrik 500 Miliar yang Tante bakar. Tante bunuh kakak kandung Tante sendiri, orang tua saya, demi uang. Dan Tante coba bunuh ayah mertua saya juga dengan fitnah. Tante pikir saya akan diam?"
Polisi yang sudah standby dari tadi langsung masuk dan memborgol tangan Tante Mira.
"Mira Wijaya, Anda ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana dan pemalsuan bukti!"
Tante Mira diseret polisi sambil berteriak-teriak memanggil nama Arga, tapi tidak ada yang peduli lagi.
Setelah polisi membawa Tante Mira, Arga mengambil mikrofon lagi.
"Dan satu lagi pengumuman. Saya, Arga Wijaya, CEO Wijaya Group, hari ini resmi mencabut status pernikahan kontrak saya dengan istri saya Sinta Maharani. Karena mulai hari ini, dia bukan istri kontrak 500 juta lagi. Dia adalah istri sah saya selamanya, pemilik 50% saham Wijaya Group senilai 1 Triliun. Jadi jangan pernah ada yang berani ganggu dia lagi."
Semua wartawan langsung bersorak dan bertepuk tangan, kamera mereka mengarah padaku.
Aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Akhirnya, setelah semua badai, fitnah, dan air mata, kebenaran terungkap dan nama ayahku bersih.
Arga berjalan menghampiriku, berlutut di depan ratusan wartawan, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin berlian 10 karat yang sangat besar dan berkilau.
"Sinta Maharani, maukah kamu menikah lagi denganku? Kali ini bukan karena 500 juta, bukan karena kontrak, bukan karena 2 Triliun, tapi karena saya mencintaimu?"
Air mataku tumpah ruah, aku mengangguk dengan sangat cepat sambil terisak.
"Mau Mas... Sinta mau..."
Arga memakaikan cincin itu ke jariku dan menciumku di depan ratusan kamera, ciuman yang sangat lembut dan penuh cinta, bukan ciuman paksa seperti dulu.
Hari itu, Jakarta menjadi saksi, CEO Rogue yang dingin dan kejam akhirnya luluh oleh cinta seorang gadis penjual gorengan yang dibelinya seharga 500 juta.
Tapi apakah ini akhir bahagia? Atau ada rahasia lain yang lebih besar yang masih disembunyikan ayahku tentang ibu kandungku yang sebenarnya?
(Bersambung...)
O_oO_o