Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi merambat naik membawa semburat emas yang cerah dan hangat.
Di pelataran ruko, spanduk besar peresmian melambai ditiup angin pagi, menyambut harapan baru yang telah lama diimpikan.
Musa dan Laila tiba lebih awal dengan setelan yang rapi dan elegan.
Sejak jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, deretan kursi di bawah tenda peneduh luar sudah mulai dipadati oleh warga sekitar—para lansia yang datang dengan senyum ramah serta ibu-ibu yang menggendong balita mereka.
Kehangatan dan antusiasme warga membakar semangat Laila dan Musa.
Tak berapa lama, rombongan tamu penting mulai berdatangan.
Kyai Adam dan Umi Sinta hadir lebih awal, disusul oleh jajaran direksi serta rekan-rekan dokter dari rumah sakit tempat Laila bertugas.
Apresiasi dan ucapan selamat mengalir hangat untuk Laila dan Musa.
Acara puncak dimulai dengan prosesi pemotongan pita secara simbolis di depan pintu utama klinik.
Kyai Adam memimpin doa bersama yang khusyuk, memohon keselamatan, keberkahan, serta kedamaian bagi klinik gratis tersebut.
Tepuk tangan meriah dari warga dan tamu undangan mengiringi pengguntingan pita, menandai secara resmi dibukanya pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Begitu peresmian usai, kesibukan luar biasa langsung melanda klinik.
Laila segera mengenakan jas dokternya dan masuk ke ruang periksa utama.
Antrean pasien lansia dan balita mulai mengalir masuk secara bergantian.
Konsentrasi Laila tercurah sepenuhnya pada tugas medisnya—memeriksa denyut nadi, mendengarkan keluhan para sesepuh, serta memberikan pemeriksaan lembut bagi anak-anak balita.
Suasana riuh, padat, dan penuh lalu-lalang manusia membuat Laila benar-benar tenggelam dalam pengabdiannya, sama sekali tidak sempat mengawasi area sekitar atau memperhatikan keberadaan Musa.
Di tengah riuhnya suasana pelayanan, Kyai Adi, Umi Mina, dan Musdalifah tiba di lokasi.
Musdalifah tampil begitu anggun dengan balutan busana muslimah yang lembut dan wajah bersahaja.
Sikapnya tampak begitu santun dan ramah, seolah-olah telah berubah menjadi pribadi yang baru.
Tanpa menunggu diminta, Musdalifah tersenyum manis dan menawarkan diri dengan penuh kesopanan kepada Umi Sinta untuk membantu merapikan berkas di meja administrasi serta membagikan konsumsi kepada para warga yang sedang mengantre.
Di balik topeng kesantunan dan keramahan yang diperlihatkannya di tengah kerumunan itu, mata Musdalifah diam-diam mulai bergerilya—mencari celah dan mengincar Musa yang tengah sibuk mengurus logistik di area belakang.
Musa yang terus memantau pergerakan di area klinik tetap menjaga kewaspadaannya.
Meskipun sibuk mengatur lalu lintas warga dan membantu koordinasi keamanan bersama Yusuf di pelataran depan, mata tajam Musa tak pernah lepas memperhatikan sekeliling.
Setiap kali Musdalifah melintas membagikan konsumsi, Musa secara refleks menggeser posisinya, berusaha keras menjaga jarak aman agar tidak memberi celah sekecil apa pun.
Namun, Musdalifah jauh lebih licik dari yang diperkirakan.
Melihat Musa yang selalu menghindar di area terbuka, Musdalifah mulai menjalankan rencana jahatnya.
Saat perhatian warga dan para tamu undangan sedang terpusat pada pelayanan medis di ruang depan, Musdalifah melangkah perlahan menuju lorong belakang yang mengarah ke lantai dua ruko—area yang relatif sepi dari jangkauan kerumunan.
Tiba-tiba, Musdalifah bersandar di dinding lorong, merintih pelan sembari memegangi kepalanya seolah-olah hendak pingsan.
Seorang sukarelawan lokal yang melintas seketika panik melihat kondisi putri Kyai Adi tersebut.
"Mbak Musdalifah! Mbak kenapa? Sempat pingsan?!" tanya sukarelawan itu cemas.
"K-kepalaku sangat pusing, aku tidak kuat berdiri." bisik Musdalifah dengan suara sangat lemah yang dibuat-buat. "
"Tolong, panggilkan Musa, Kkatakan padanya aku butuh bantuan untuk naik ke atas."
Tanpa rasa curiga, sukarelawan itu bergegas lari ke area depan dan langsung memanggil Musa.
"Mas Musa! Itu Mbak Musdalifah lemas sekali di lorong belakang, hampir pingsan! Beliau minta tolong dibantu!"
Musa memicingkan mata, hatinya diliputi keraguan besar.
Namun, melihat tatapan beberapa warga dan demi menjaga nama baik keluarga besar Kyai Adi di tengah acara peresmian yang dipadati tamu-tamu penting, Musa terpaksa melangkah menuju lokasi dengan ditemani rasa threw kewaspadaan yang amat tinggi.
Begitu Musa tiba di lorong belakang, Musdalifah tampak memegangi dinding sambil meringis kesakitan, perlahan memaksakan diri melangkah naik ke tangga lantai dua yang sepi.
"Musdalifah, kalau kamu sakit, mari ke ruang periksa Laila di depan," ujar Musa tegas dari jarak aman, menolak untuk mendekat.
"Tidak, di depan terlalu bising, Musa. Tolong ambilkan minyak angin di kamar atas." ratap Musdalifah penuh keputusasaan buatan.
Musa terpaksa melangkah naik ke lantai dua untuk memastikan situasi tetap aman.
Namun, saat Musa baru saja melangkah masuk ke dalam salah satu ruang penyimpanan di lantai atas untuk melihat keadaan, Musdalifah yang membuntutinya dari belakang dengan cepat bertindak.
Klek!
Dengan gerakan kilat dan terlatih dalam kegelapan niatnya, Musdalifah langsung mengunci pintu ruangan dari dalam! Musa terkejut dan berbalik cepat.
"Musdalifah! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Musa dengan suara rendah namun tajam, matanya menyalang marah.
Tanpa mengindahkan gertakan Musa, Musdalifah dengan kalap menarik kerah bajunya sendiri hingga terancak sobek dan berantakan.
Ia mengacak-acak rambutnya, lalu tanpa ragu sedikit pun meluapkan teriakan histeris yang menggelegar ke seluruh penjuru ruko!
"TOLONG!! LEPASKAN AKU, MUSA!! LEPASKAN AKU!!" jerit Musdalifah sekuat tenaga, suaranya melengking menembus keheningan lantai dua hingga terdengar jelas ke area pendaftaran di bawah.
Musa membelalakkan mata, menyadari perangkap jebakan yang sangat mengerikan sedang menghantamnya.
"Kamu gila, Musdalifah!"
Sebelum Musa sempat memegang gagang pintu, Musdalifah memutar kunci, membuka pintu lebar-lebar, dan berlari histeris turun dari tangga lantai dua dengan kondisi pakaian yang sedikit terbuka dan rambut terurai berantakan!
Jeritan histeris itu seketika menghentikan seluruh aktivitas di klinik gratis.
Warga, para dokter, Kyai Adam, hingga Laila yang baru saja keluar dari ruang periksa terpaku menatap ke arah tangga.
Musdalifah berlari menjatuhkan dirinya, menangis histeris dan langsung memeluk erat tubuh Umi Mina yang terpana syok di tengah kerumunan.
"Umi, tolong aku." tangis Musdalifah pecah meraung-raung, menunjuk ke arah lantai atas tempat Musa berdiri terpaku.
"Umi, Musa memperkosaku!"
Musa menyusul turun dari lantai dua dengan raut wajah memerah dipenuhi amarah yang bergejolak.
Urat-urat di lehernya menegang, dadanya naik-turun menahan emosi dan rasa tidak percaya atas fitnah keji yang baru saja dilontarkan di depan ratusan pasang mata.
"Musdalifah! Jaga mulutmu! Jangan melempar fitnah murah seperti ini!" bentak Musa dengan suara menggelegar, mencoba memberikan penjelasan kepada orang-orang di ruangan yang kini terpaku dalam keheningan yang mencekat.
Namun, di tengah hiruk-pikuk jeritan Musdalifah dan raut wajah syok dari keluarga besar, mata Musa seketika menangkap sosok Laila yang berdiri mematung di ambang pintu ruang periksa.
Pandangan Laila bergetar hebat; badai kehancuran dan rasa sakit yang mendalam terpancar jelas dari balik matanya yang berkaca-kaca.
"Laila, ini tidak seperti yang kamu lihat! Ini jebakan!" panggil Musa dengan suara serak, mencoba melangkah mendekati istrinya.
Laila menggelengkan kepalanya pelan. Rasa syok yang teramat sangat menutupi seluruh logika dan kekuatannya saat itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Laila membalikkan badan dan berlari keluar menembus kerumunan warga menuju halaman ruko.
Ia langsung melangkah masuk ke dalam mobil, mengunci pintu dari dalam, dan menyalakan mesin kendaraan tanpa mempedulikan teriakan orang-orang di sekitarnya.
"LAILA!!" teriak Musa histeris dari pelataran ruko.
Musa berlari sekuat tenaga mengejar mobil yang mulai melaju kencang meninggalkan area klinik gratis yang kini hancur berkeping-keping akibat perangkap dingin Musdalifah.
Mobil sedan itu berbelok cepat di ujung jalan, melesat pergi membawa Laila yang tenggelam dalam derai air mata dan kesedihan mendalam.
makasih buat cerita ny yx kak ,,
semoga ,,
lanjuuut kak ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁