Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeruji Besi dan Api yang Menghitam
Waktu seolah berhenti berdetak saat mata Juwita menangkap kilat logam dari laras pistol di pantulan kaca jendela berdebu. Moncong mematikan itu terarah tepat ke punggung ibunya yang masih mendekapnya erat.
"Ibu, awas!" jerit Juwita dengan suara yang merobek pita suaranya.
Dengan gerakan refleks yang didorong oleh keputusasaan murni, Juwita memutar posisi tubuhnya, berusaha menjadikan dirinya tameng hidup untuk Dara. Namun di detik yang sama, Kevin yang sedari tadi mengerang kesakitan di lantai dengan wajah bersimbah darah, berusaha bangkit berdiri. Rasa sakit yang membutakan matanya dan kepanikan yang melanda membuat pemuda itu terhuyung ke depan, tepat melintas di antara laras pistol ayahnya dan pelukan Dara.
DOR!
Suara letusan senjata api memecah keheningan malam, bergema memekakkan telinga di dalam dinding beton gudang basement tersebut. Bau mesiu yang tajam dan menyengat langsung memenuhi udara yang lembab.
Bukan Dara yang tersungkur. Bukan pula Juwita.
Kevin mematung. Matanya terbelalak menatap kosong ke depan. Perlahan, tangannya meraba perut sampingnya, di mana sebuah lubang peluru menganga dan darah segar merembes dengan cepat menodai kemeja mahalnya. Pemuda itu menoleh ke arah ayahnya dengan ekspresi ketidakpercayaan yang menyayat hati, sebelum akhirnya lututnya lemas dan ia ambruk ke lantai beton dengan suara gedebuk yang berat.
Riko Aditama berdiri membeku. Pistol rakitan di tangannya bergetar hebat sebelum terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di lantai. Sorot mata pria bengis itu memancarkan kengerian yang murni. Ia baru saja menarik pelatuk yang menembus darah dagingnya sendiri—putra pewaris singgasananya.
"Kevin..." bisik Riko dengan suara serak, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.
Namun, kengerian di mata Riko hanya bertahan selama beberapa detik. Iblis di dalam diri konglomerat itu kembali mengambil alih. Suara deru sirene polisi mendadak terdengar meraung-raung memecah kesunyian bukit. Rupanya, petugas polisi yang sebelumnya didatangi Dara akhirnya mengirim unit patroli setelah mendapat laporan keributan dari warga sekitar yang melihat Dara mencegat mobil menuju area villa.
Otak licik Riko berputar dengan kecepatan iblis. Ia menatap Kevin yang terkapar sekarat, lalu menatap Dara yang masih terduduk memeluk Juwita dalam kondisi shock berat. Riko memungut pistolnya dengan sapu tangan dari sakunya, berjalan cepat ke arah Dara, dan dengan kasar menjejalkan senjata mematikan itu ke tangan Dara yang gemetar sebelum wanita itu sempat melawan.
"Dengarkan aku, wanita gila," desis Riko tepat di telinga Dara, matanya menyala penuh ancaman. "Kau yang mendobrak masuk. Kau yang memukulku dan anak buahku dengan linggis. Dan kau yang merebut senjataku lalu menembak anakku. Jika kau berani membantah... aku akan pastikan anak gadismu ini mati malam ini juga di tangan pengacaraku."
Pintu gudang didobrak terbuka dari luar. Belasan petugas polisi bersenjata lengkap merangsek masuk, menyapu ruangan dengan senter menyilaukan.
Pemandangan yang tersaji di depan mata para aparat hukum itu adalah sebuah manipulasi yang sempurna: Riko Aditama yang terluka parah di bahu, Kevin yang terkapar bersimbah darah dengan luka tembak, dan Dara Puspita—seorang wanita berpenampilan kacau balau, berlumuran darah, duduk di lantai dengan pistol rakitan berada tepat di sebelah tangannya.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak komandan polisi, mengarahkan moncong senjatanya ke arah Dara.
"Tolong anak saya!" Riko langsung menjerit dengan akting luar biasa, air mata palsu mengalir di pipinya saat ia memeluk Kevin yang merintih pelan. "Wanita gila ini... dia mendobrak masuk dan mencoba merampok kami! Dia memukul saya dengan linggis dan menembak putra saya! Tolong panggil ambulans!"
Dua orang polisi langsung menerjang maju, menarik Dara dengan kasar dan membantingnya ke lantai beton sebelum memborgol kedua tangan wanita paruh baya itu ke belakang punggungnya. Rasa sakit luar biasa mendera paru-paru dan pergelangan tangannya, namun Dara tidak melawan. Ia hanya menoleh menatap Juwita dengan air mata yang mengalir dalam keheningan yang menyayat hati. Pesan dari Riko terngiang jelas di telinganya. Jika ia menyangkal, nyawa Juwita yang akan menjadi bayarannya.
"TIDAK! IBUKU TIDAK BERSALAH!" jerit Juwita histeris, meronta-ronta sekuat tenaga saat seorang petugas menahannya. "Riko yang menembak anaknya sendiri! Dia yang menculikku! Lepaskan ibuku, kumohon! Dia sedang sakit!"
"Bawa wanita ini ke mobil tahanan, dan amankan senjata buktinya!" perintah sang komandan, sama sekali mengabaikan jeritan Juwita. Di mata hukum yang buta dan berpihak pada kekuasaan, kesaksian seorang gadis miskin tidak ada artinya dibandingkan dengan tubuh bersimbah darah dari keluarga konglomerat Aditama.
Dara diseret berdiri secara paksa. Wanita malang itu terbatuk hebat, memuntahkan darah ke lantai, namun langkah kakinya dipaksa menyeret keluar dari gudang tersebut. Sebelum melewati ambang pintu, Dara menoleh untuk terakhir kalinya ke arah Juwita. Tidak ada ketakutan di mata Dara, yang ada hanyalah cinta yang begitu besar dan pengorbanan tanpa batas.
"Jaga dirimu baik-baik, Nduk..." bisik Dara parau, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk sirene dan bentakan polisi. "Ibu tidak apa-apa... Ibu mencintaimu."
"IBU! JANGAN BAWA IBUKU!"
Juwita berteriak hingga tenggorokannya berdarah, meronta hingga lututnya tergores aspal saat ia mencoba mengejar mobil patroli yang membawa ibunya pergi. Namun tangannya hanya bisa menggapai angin kosong. Di bawah guyuran hujan badai malam itu, Juwita jatuh berlutut di halaman villa, menangis meraung-raung menyayat langit, menyaksikan mobil polisi yang membawa satu-satunya alasan ia hidup menjauh dan menghilang ditelan kegelapan.
Sementara itu, di atas tandu ambulans yang bersiap berangkat, Kevin yang setengah sadar dan menahan rasa sakit luar biasa di perutnya, melihat siluet Juwita yang hancur di tengah hujan. Hati kecil Kevin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Ia melihat sendiri ayahnya menarik pelatuk itu. Ia tahu Dara tidak bersalah. Namun, ketakutannya pada sang ayah membungkam pita suaranya. Ia memilih memejamkan mata, membiarkan kebohongan itu hidup di atas penderitaan orang lain.
Tiga hari berlalu, dunia Juwita runtuh sepenuhnya. Berita di media massa dan televisi nasional memelintir kebenaran dengan keji. Dara Puspita, wanita miskin dari bantaran rel, ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana, perampokan, dan penyerangan brutal terhadap keluarga konglomerat Riko Aditama. Kevin dilaporkan berhasil melewati masa kritis setelah operasi pengangkatan peluru, namun kebohongan Riko telah menjadi kebenaran mutlak yang diamini oleh seluruh sistem peradilan.
Di dalam sel tahanan wanita yang dingin dan lembab, Dara duduk bersandar pada dinding beton yang berjamur. Tubuhnya semakin kurus, batuknya semakin parah tanpa penanganan medis yang layak. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah sempit ventilasi besi di atas kepalanya. Tidak ada rasa sesal di wajahnya. Ia tahu keadaannya kini adalah harga yang harus ia bayar agar Juwita tetap bernapas di luar sana. Bagi Dara, dinding penjara ini bukan lagi hukuman, melainkan benteng terakhir cintanya untuk sang putri.
Di luar dinding penjara, Juwita berdiri di bawah derasnya hujan kota Jakarta, memandang gedung kantor kepolisian pusat dengan tatapan kosong yang perlahan berubah mengeras. Air mata kesedihan telah mengering, digantikan oleh kehampaan yang menakutkan. Gadis remaja polos yang dulu hanya ingin belajar dan membanggakan ibunya kini telah mati. Di dalam hatinya, lahir entitas baru yang ditempa oleh ketidakadilan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang melampaui batas manusiawi.
Juwita merogoh saku jaketnya yang basah, menggenggam flashdisk hitam berisi seluruh dosa digital Riko Aditama.
Riko pikir memenjarakan ibunya akan mematahkan semangatnya. Riko pikir hukum yang dibelinya bisa menutup rapat kebenaran. Pria itu tidak sadar, dengan merampas Dara dari sisi Juwita, ia baru saja melepaskan segala batasan moral yang menahan kecerdasan mematikan gadis itu.
Juwita tidak akan lagi bermain di atas papan catur sekolah. Ia tidak akan menunggu sistem pengadilan yang korup untuk memberinya keadilan. Ia akan masuk ke dalam jantung kegelapan Riko Aditama, memutus setiap urat nadi perusahaannya, menghancurkan kewarasan sekutu-sekutunya, dan membakar seluruh dinasti Aditama menjadi abu, hingga Riko sendiri yang akan merangkak di bawah kaki ibunya untuk memohon pengampunan.