NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 — Menuju Sungai Aldis

Mereka berangkat saat matahari belum sepenuhnya terbit, dalam barisan panjang yang membentang hampir satu mil di sepanjang jalan berbatu.

Resimen Ketiga terdiri dari sekitar delapan ratus prajurit, gabungan dari rekrut baru seperti Ardan dan prajurit veteran yang sudah bertugas bertahun-tahun.

Mereka berjalan kaki, diikuti gerobak logistik yang berderit di bawah beban perbekalan, dan beberapa penunggang kuda yang membawa pesan bolak-balik antara barisan depan dan belakang.

Ardan berjalan di antara Tobin dan Kael, tombak baru bersandar di bahunya, perisai bundar tergantung di punggung.

Sabit tua itu masih terselip di ikat pinggangnya, tersembunyi di balik kain, meski ia tahu tidak akan pernah benar-benar menggunakannya lagi di medan perang.

Ia menyimpannya untuk alasan lain, alasan yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami sendiri.

"Berapa lama sampai Sungai Aldis?" tanya Tobin pada seorang prajurit veteran yang berjalan di depan mereka.

"Sepuluh hari kalau cuaca bersahabat," jawab lelaki itu tanpa menoleh. Wajahnya sudah keriput oleh matahari dan angin, dan di sisi kanan wajahnya ada bekas luka panjang yang membuat matanya sedikit turun. "Dua belas kalau tidak."

"Kau sudah pernah ke sana?"

"Dua kali." Prajurit itu akhirnya menoleh, menilai mereka bertiga dengan tatapan yang sulit dibaca. "Rekrut baru?"

"Ya, Pak."

"Jangan panggil aku Pak. Aku Kornel, prajurit biasa, sama seperti kalian." Ia mengangkat bahunya.

"Sungai Aldis bukan tempat main-main. Ravharn sudah mendorong tiga kali dalam dua bulan terakhir. Kita menahan, tapi setiap kali menahan, jumlah kita berkurang."

"Seberapa buruk?"

Kornel diam sejenak, seperti menimbang berapa banyak kebenaran yang pantas diberikan pada rekrut baru.

"Buruk," katanya akhirnya. "Tapi kalian akan tahu sendiri. Tidak ada gunanya aku menakut-nakuti kalian sekarang. Simpan energi kalian untuk berjalan."

Ia mempercepat langkahnya, meninggalkan mereka bertiga dengan pertanyaan yang lebih banyak daripada jawaban.

---

Hari-hari perjalanan berjalan monoton namun melelahkan. Bangun sebelum fajar, berjalan sepanjang hari dengan istirahat singkat, mendirikan tenda menjelang senja, tidur beberapa jam, lalu mengulanginya lagi.

Kaki Ardan melepuh pada hari ketiga.

Ia mencoba menyembunyikannya, tetapi Kael menyadarinya ketika melihatnya berjalan pincang saat mendirikan tenda.

"Duduk," perintah Kael, dengan nada yang jarang ia gunakan.

"Aku baik-baik saja."

"Duduk, Ardan."

Ardan duduk. Kael melepas sepatu botnya dengan hati-hati dan mendesis melihat lepuhan yang sudah pecah dan berdarah di tumitnya.

"Kenapa tidak bilang?"

"Semua orang juga lelah."

"Semua orang tidak berjalan dengan kaki berdarah tanpa mengeluh." Kael mengeluarkan sepotong kain bersih dari tasnya dan mulai membalut kaki Ardan dengan gerakan yang mengejutkan telaten untuk seseorang yang biasanya terlihat sembrono.

"Dengar. Di medan perang nanti, kalau kau terluka, kau harus bilang. Bukan karena kau lemah. Tapi karena orang yang berjuang sendirian tanpa bilang siapa-siapa adalah orang yang mati sendirian juga."

Ardan menatapnya. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan."

"Aku hanya memanah dan berpikir terlalu banyak, ingat?" Tapi ada sesuatu di mata Kael, kelelahan yang jauh lebih dalam daripada perjalanan sepuluh hari ini, sesuatu yang belum pernah ia bagikan sepenuhnya bahkan pada Ardan dan Tobin.

Tobin datang membawa jatah air mereka dan duduk di sisi lain. "Apa yang kulewatkan?"

"Ardan mencoba jadi pahlawan dengan kaki berdarah."

"Klasik." Tobin menggeleng, tapi tangannya menepuk bahu Ardan dengan lembut. "Lain kali bilang, bodoh."

Malam itu, mereka bertiga duduk di depan api unggun kecil, mendengarkan cerita-cerita prajurit veteran di sekitar mereka.

Beberapa cerita tentang pertempuran.

Beberapa tentang rumah yang mereka rindukan.

Seorang prajurit tua memainkan alat musik sederhana dari kayu, dan nadanya yang sederhana entah bagaimana membuat malam terasa sedikit lebih ringan.

---

Pada hari kelima, mereka melewati sebuah desa yang masih utuh.

Berbeda dari Elar, tempat ini belum tersentuh perang.

Anak-anak berlarian di antara barisan prajurit yang lewat, beberapa penduduk menawarkan roti dan air dengan harga murah, seorang nenek tua melambaikan tangan dari jendela.

Ardan berhenti sejenak, menatap pemandangan itu dengan perasaan aneh yang bercampur antara nyaman dan pedih.

Begini rupanya Elar dulu.

Begini rupanya dunia sebelum lonceng itu berbunyi.

"Kau melamun," kata Tobin, menyenggol lengannya.

"Aku hanya... mengingat."

Tobin mengikuti pandangan Ardan ke arah anak-anak yang tertawa. Wajahnya juga berubah, sesuatu yang berat menyelinap masuk. "Aku juga."

Mereka berjalan dalam diam beberapa saat, membiarkan desa itu berada di belakang mereka, semakin kecil di kejauhan.

"Kau pikir," kata Tobin pelan, "desa ini akan tetap seperti ini? Aman?"

"Aku tidak tahu." Ardan menggenggam gagang tombaknya lebih erat. "Tapi itu sebabnya kita di sini, kan? Supaya tempat-tempat seperti ini tidak berakhir seperti Elar."

Itu jawaban yang ia percaya, atau setidaknya ingin percaya.

Tapi jauh di dalam dirinya, sebuah pertanyaan kecil mulai tumbuh, pertanyaan yang belum bisa ia rumuskan dengan jelas: apakah perang ini benar-benar melindungi desa-desa seperti ini, atau hanya memindahkan kehancuran dari satu tempat ke tempat lain, menunggu giliran?

---

Malam kesembilan, mereka mendirikan kemah terakhir sebelum tiba di garis depan.

Dari kejauhan, mereka bisa melihat cahaya oranye di cakrawala, bukan matahari terbenam, melainkan api unggun dari ribuan kemah pasukan yang sudah berkumpul di sepanjang Sungai Aldis.

Suara samar terdengar dibawa angin. Bukan jeritan, bukan pertempuran, hanya gumaman ribuan orang, derap kuda, dan sesekali dentang logam dari seseorang yang mengasah senjata di kegelapan.

Kapten resimen mereka, seorang lelaki bernama Kapten Orwin dengan wajah tegas dan mata yang jarang berkedip, mengumpulkan seluruh resimen sebelum mereka beristirahat.

"Besok pagi, kita bergabung dengan pasukan utama," katanya, suaranya membelah kesunyian malam.

"Aku tidak akan berbohong pada kalian. Sungai Aldis telah merenggut banyak nyawa dari kedua belah pihak. Tapi setiap dari kalian di sini adalah bagian dari alasan mengapa Valdren masih berdiri."

Ia berhenti, menatap barisan wajah-wajah muda di depannya, banyak yang baru pertama kali akan melihat pertempuran sungguhan.

"Tidurlah jika kalian bisa. Berdoalah jika kalian percaya pada sesuatu. Dan ingat wajah orang di sebelah kalian, karena besok, wajah itu mungkin satu-satunya alasan kalian masih bernapas di penghujung hari."

Malam itu, Ardan tidak bisa tidur.

Ia berbaring menatap langit penuh bintang, mendengarkan napas Tobin yang sudah tertidur di satu sisi dan Kael yang masih terjaga, menatap langit yang sama, di sisi lain.

"Kau takut?" bisik Kael, tanpa menoleh.

"Ya."

"Aku juga." Kael menghela napas panjang. "Tapi entah kenapa, aku merasa sedikit lebih baik karena kau juga takut. Aneh, ya?"

"Tidak aneh," jawab Ardan pelan. "Mungkin itu maksud Brogan. Kita tidak harus tidak takut. Kita hanya harus tidak sendirian."

Kael tidak menjawab, tapi tangannya terulur dan menepuk bahu Ardan sekali, singkat, sebelum akhirnya keduanya jatuh dalam kesunyian, menunggu fajar yang akan membawa mereka ke pertempuran pertama mereka yang sesungguhnya.

Mereka tiba di perkemahan utama saat matahari masih rendah, dan Ardan langsung memahami apa yang dimaksud Kornel dengan "bukan tempat main-main".

Sungai Aldis membentang lebar dan cokelat keruh, memisahkan dua dataran.

Di sisi mereka, ribuan tenda Valdren berjajar tak beraturan, dikelilingi parit pertahanan dan pagar kayu runcing.

Di seberang sungai, samar-samar terlihat perkemahan Ravharn, lebih rapi, lebih teratur, dengan bendera burung hitam berkibar di sepanjang garis mereka.

Bau di sini berbeda dari Karhold.

Lebih tajam.

Ardan tidak butuh waktu lama untuk menyadari kenapa: di sisi timur perkemahan, deretan tenda perawatan berdiri berjajar panjang, dan dari dalamnya terdengar erangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

"Resimen Ketiga, lapor ke sektor selatan!" teriak seorang perwira, menunjuk ke arah sekelompok tenda yang belum didirikan.

Mereka mendirikan tenda baru dengan cepat, gerakan yang sudah mereka latih ratusan kali di Karhold.

Ardan baru saja menancapkan pasak terakhir ketika seorang prajurit veteran lewat sambil membawa tandu kosong, wajahnya kotor oleh lumpur dan sesuatu yang lebih gelap.

"Serangan tadi malam," kata Kornel, yang entah dari mana muncul di samping mereka, menyaksikan prajurit itu lewat. "Ravharn mencoba menyeberang lewat dangkalan utara. Kita menahan mereka, tapi Resimen Kelima kehilangan banyak orang."

"Berapa banyak?" tanya Tobin, suaranya kecil.

Kornel tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap deretan tenda perawatan sejenak, lalu berjalan pergi.

---

Sore itu, mereka dipanggil untuk briefing pertama di garis depan. Kapten Orwin berdiri di depan peta kasar yang digambar di atas kain, dikelilingi para perwira dan sersan resimen.

"Posisi kita di sini," katanya, menunjuk sebuah titik di peta.

"Ravharn menahan sisi timur sungai. Selama dua bulan, mereka mencoba menyeberang di tiga titik berbeda. Tugas kita malam ini adalah memperkuat parit di dangkalan utara, tempat serangan tadi malam terjadi."

Seorang perwira muda mengangkat tangan. "Apakah kita menyerang balik, Kapten?"

"Belum. Jenderal Roderic memerintahkan kita bertahan sampai bala bantuan dari selatan tiba." Orwin menatap seluruh perwira di depannya.

"Bertahan terdengar mudah. Tidak mudah. Ravharn punya pemanah yang bisa menjangkau parit kita dari seberang sungai. Mereka juga punya penyihir yang sesekali mengirim bola api. Jaga formasi kalian, jangan berdiri terlalu lama di tempat terbuka."

Briefing berakhir dengan pembagian tugas.

Resimen Ketiga akan berjaga di parit utara sepanjang malam, bergantian dengan Resimen Ketujuh setiap empat jam.

Ardan, Tobin, dan Kael ditempatkan dalam satu regu bersama delapan prajurit lain, dipimpin seorang sersan veteran bernama Halric, lelaki pendek namun berotot dengan suara serak akibat teriakan bertahun-tahun.

"Dengar baik-baik," kata Halric ketika mereka berjalan menuju parit.

"Kalau kalian dengar peluit tiga kali, itu tanda serangan. Kalian lari ke posisi, bukan lari menjauh. Aku tahu rekrut baru sering bingung membedakan keduanya."

Tidak ada yang tertawa. Lelucon itu terlalu dekat dengan kenyataan.

---

Malam turun, dan dengan itu datang dingin yang menusuk.

Ardan berjaga di parit, tombak tergenggam erat, matanya menatap kegelapan di seberang sungai.

Sesekali cahaya obor berkelap-kelip di sisi Ravharn, dan bayangan-bayangan bergerak yang tidak pernah cukup jelas untuk dikenali.

"Kau dengar itu?" bisik Tobin di sampingnya.

"Dengar apa?"

"Diam. Dengarkan."

Ardan menajamkan pendengarannya.

Di antara suara air sungai dan angin, ada sesuatu yang lain.

Suara dayung, pelan dan hati-hati.

"Sersan," bisik Ardan cepat, "ada sesuatu di sungai."

Halric mendekat, matanya menyipit ke kegelapan. Beberapa detik berlalu, hening yang mencekam.

Lalu peluit berbunyi. Satu. Dua. Tiga.

"POSISI!" teriak Halric.

Seluruh parit meledak dalam gerakan.

Ardan merasakan jantungnya melompat ke tenggorokan saat ia mengambil posisi di belakang perisai, tombak terangkat.

Di kegelapan, ia mulai melihat bentuk-bentuk perahu kecil mendekat, dan di dalamnya, siluet-siluet prajurit Ravharn.

"TAHAN SAMPAI ADA PERINTAH!" teriak Halric.

Panah pertama melesat dari sisi mereka, dilepaskan oleh para pemanah Valdren yang berjaga di belakang parit.

Salah satu perahu terguncang, seseorang jatuh ke air dengan teriakan yang cepat tenggelam dalam derasnya arus.

Tapi perahu-perahu lain terus mendekat.

"Kael," bisik Ardan, "kau bisa menembak dari sini?"

"Sedang kucoba." Kael sudah membidik, wajahnya berubah total dari yang biasa Ardan kenal, matanya fokus dan dingin.

Panahnya melesat, dan sebuah teriakan singkat terdengar dari salah satu perahu.

Perahu pertama mencapai tepi sungai.

Prajurit-prajurit Ravharn melompat turun, berlari menuju parit dengan pedang dan tombak terangkat, meneriakkan sesuatu dalam bahasa mereka yang terdengar seperti amarah dan ketakutan sekaligus.

"SEKARANG!" teriak Halric.

Ardan mendorong tombaknya ke depan bersama barisan, mengikuti gerakan yang sudah ia latih ratusan kali.

Ujung besi bertemu dengan perisai musuh, memantul, dan untuk sesaat semuanya hanya kekacauan: teriakan, dentang logam, lumpur yang terciprat, dan bau tajam keringat serta ketakutan.

Seorang prajurit Ravharn menerobos di sisi kirinya, dan sebelum Ardan sempat bereaksi, Farin—yang berdiri di sampingnya—mendorongnya mundur dengan perisai, memberi Ardan waktu untuk mengarahkan tombaknya.

Ia tidak sempat berpikir. Tubuhnya bergerak dari latihan, bukan dari keberanian. Tombaknya menemukan sasaran, dan prajurit itu roboh.

Pertempuran itu berlangsung tidak lebih dari sepuluh menit, tapi bagi Ardan terasa seperti berjam-jam.

Ketika akhirnya perahu-perahu yang tersisa mundur ke seberang sungai, meninggalkan beberapa yang terbalik dan kosong mengambang di air, keheningan yang datang setelahnya terasa lebih berat daripada pertempuran itu sendiri.

---

Halric memerintahkan penghitungan.

Resimen mereka kehilangan tiga orang, dua terluka parah. Di antara nama yang disebutkan, tidak ada Ardan, Tobin, atau Kael.

Tapi ketika Ardan berbalik untuk melihat regu mereka, ia menghitung wajah satu per satu, seperti kebiasaan yang mulai tertanam sejak Karhold.

Denny tidak ada di sini—ia ditempatkan di Karhold. Aman.

Tapi seorang prajurit lain dari tenda mereka dulu, seorang lelaki bernama Pell yang jarang bicara, tergeletak di tepi parit, tidak bergerak.

Ardan berlutut di sampingnya.

Ia tidak mengenalnya sebaik Denny atau Farin, tapi ia ingat—Pell suka bersiul pelan saat bekerja, melodi yang sama berulang-ulang.

Tidak ada lagi siulan malam ini.

"Ardan." Tangan Tobin di bahunya, menariknya berdiri. Wajah Tobin sendiri pucat, tapi matanya keras, seperti sedang memaksa dirinya untuk tidak runtuh.

"Kita harus kembali ke posisi. Mungkin masih ada gelombang kedua."

Ardan mengangguk, meski setiap bagian dari dirinya ingin berhenti sejenak, ingin memberi penghormatan lebih lama pada seseorang yang baru saja mati beberapa langkah darinya.

Tapi perang tidak memberi waktu untuk berduka.

Di sampingnya, Kael berdiri dengan busur masih di tangan, matanya menatap sungai gelap di depan mereka, mencari tanda-tanda gelombang berikutnya.

"Ini baru permulaan, ya?" bisik Kael, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.

Tidak ada yang menjawab. Malam masih panjang, dan fajar di tepi Sungai Aldis masih jauh dari cahaya.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!