NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi buta sosok Bibi Inah, asisten rumah tangga paruh baya yang sebelumnya dikontrak Rian sudah datang, dia sedang sibuk merapikan alat-alat masak. Sesuai janji Rian, Bi Inah akan datang setiap pukul tujuh pagi dan pulang pada sore hari, khusus untuk mengurus kebersihan rumah dan membantu urusan dapur.

​Di sudut lain meja dapur, Nadia sedang menyeduh secangkir kopi hitam manis favorit suaminya. Aroma biji kopi yang khas menguar, memenuhi ruangan. Sesuai pesanan Rian tadi malam, Nadia kini fokus memanjakan suaminya saja. Ia tidak membuatkan teh hangat untuk Bu Ratna maupun Sarah.

​"Pagi, Sayang," sapa Rian yang baru keluar kamar dengan setelan jas rapi. Ia melangkah mendekati Nadia, lalu mengecup kening istrinya hangat.

​"Pagi, Mas. Ini kopinya," ujar Nadia seraya menyerahkan cangkir keramik tersebut dengan senyuman tulus.

​Tapi, kebahagiaan kecil itu mendadak buyar saat Bu Ratna dan Sarah berjalan masuk ke area meja makan. Mata Bu Ratna langsung tertuju pada meja yang hanya menyajikan satu cangkir kopi.

​"Loh? Mana teh untuk Ibu?" tanya Bu Ratna dengan suara melengking. "Lalu Sarah minum apa pagi ini? Nadia, kamu ini gimana sih?!"

​Nadia menghentikan gerakannya, menatap ibu mertuanya tenang. Belum sempat Nadia menjawab, Rian sudah lebih dulu meletakkan cangkir kopinya dan pasang badan.

​"Aku yang suruh, Bu," potong Rian tegas. "Mulai hari ini, Nadia cuma perlu mengurus kebutuhanku saja. Ada Bi Inah di dapur yang bisa Ibu suruh buatkan teh, atau Sarah bisa bikin sendiri di dispenser. Kan cuma tinggal tuang air panas."

​"Rian! Kamu ini benar-benar ya!" Bu Ratna menunjuk anak kandungnya dengan wajah memerah menahan amarah. "Istrimu kamu manjakan sampai membuatkan teh untuk ibu mertua saja sudah tidak mau?!"

​"Bukan tidak mau, Bu. Tapi aku ingin Nadia hanya melayani ku saja. Ibu minta Bi Inah yang melayani ibu, karena aku sudah membayarnya." balas Rian santai. Ia meraih tas kerjanya, lalu mengecup pipi Nadia sekali lagi. "Aku berangkat kerja dulu ya, Nad. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku."

​"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Nadia lembut.

​Rian melangkah keluar, sama sekali mengabaikan tatapan sengit dari ibunya dan sorot mata kecewa dari Sarah yang gagal menarik perhatiannya pagi itu.

​Setelah keberangkatan Rian dan Bi Inah yang sedang sibuk membersihkan area belakang rumah, Nadia memilih duduk di sofa ruang tengah. Ia membuka sebuah buku seni yang sudah lama tidak dibacanya, menikmati ketenangan sejenak.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bu Ratna dan Sarah sengaja duduk di sofa tepat di depan Nadia. Sarah menyilangkan kakinya yang mulus, sementara Bu Ratna bersidekap dada.

​"Dulu ya, Sar..." Bu Ratna membuka suara dengan nada tinggi yang disengaja. "Zaman Tante muda, menantu itu bangun subuh, nyapu, ngepel, masak buat mertua. Nggak ada tuh cerita duduk santai baca buku gaya-gayaan kayak ratu begitu."

​Sarah tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu renyah namun menyindir. "Iya nih, Tante. Jaman sekarang kok ada ya istri yang nggak tahu diri. Sudah nggak bisa ngasih keturunan cepat, eh sekarang malah jadi pemalas karena berlindung di balik ketiak suami."

​Nadia menggenggam pinggiran bukunya lebih erat. Kalimat Sarah sangat tajam, menusuk tepat di ulu hati. Ia tahu betul, Sarah memiliki perasaan terpendam pada Rian sejak dulu, dan kehadiran wanita itu di rumah ini jelas untuk menggoyahkan posisi Nadia sebagai istri Rian.

​"Biasalah, Sar. Kalau perempuan nggak punya karier dan nggak punya prestasi, ya cuma bisa nempel sama uang suami. Kasihan Rian, banting tulang di luar cuma buat memanjakan wanita tak berguna," tambah Bu Ratna sinis.

​Nadia mencoba membalik halaman bukunya, berpura-pura tuli. Namun sindiran demi sindiran terus dilontarkan tanpa henti selama hampir satu jam. Suasana di dalam rumah mendadak terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di ruangan itu telah habis diracuni kedua wanita tersebut.

​Nadia akhirnya menutup bukunya dengan bunyi brik yang lumayan keras. Ia berdiri perlahan, menatap Bu Ratna dan Sarah dengan raut wajah dingin tanpa emosi.

​"Saya mau keluar sebentar," ucap Nadia singkat.

​"Mau keluyuran kemana kamu?! Nggak punya malu ya, jam segini malah mau keluyuran!" semprot Bu Ratna.

​Tanpa membalas sepatah kata pun ucapan ibu mertuanya, Nadia berbalik, mengambil tasnya dan melangkah keluar dari pintu depan. Ia butuh menghirup udara segar sebelum emosinya benar-benar meledak.

​Satu jam kemudian, Nadia sudah duduk di sebuah kafe berkonsep minimalis. Di hadapannya, duduk Amira—sahabat karibnya sejak zaman kuliah seni dulu—yang menatapnya dengan binar mata antusias.

​"Nadia! Ya ampun, akhirnya kamu mau dihubungi lagi dan diajak ketemu!" seru Amira seraya menggenggam tangan sahabatnya dan cipika-cipiki. "Gimana kabar kamu?"

​Nadia tersenyum tipis, mendapatkan kehangatan dari seorang sahabat yang sudah lama tidak ia temui. "Aku baik, Ra. Maaf ya, aku sibuk jadi nggak bisa hubungi kamu."

​"Nggak apa-apa, aku paham kok, kalau sudah rumah tangga kan pasti prioritas utama sudah pasti keluarga," Amira menyesap kopi lattenya, lalu menatap Nadia penasaran. "Terus, pesan singkat kamu tadi maksudnya gimana? Kamu serius mau nyari tempat buat bikin galeri?"

​Nadia mengangguk mantap. Sorot matanya yang tadi redup kini kembali menyala, memancarkan tekad yang kuat.

​"Aku serius, Ra. Aku nggak bisa terus-terusan mengurung diri di rumah dan membiarkan orang lain menginjak-injak harga diriku," ujar Nadia dengan suara tegas. "Mas Rian sudah berubah,tapi tidak afa kemungkinan seseorang itu bisa berubah begitu cepat. Aku harus menata masa depanku sendiri. Aku mau membangun karierku sendiri. Aku mau punya galeri lukisan sendiri dan toko bunga."

​Amira menepuk tangannya kegirangan. "Ini baru Nadia yang aku kenal! Seniman berbakat yang nggak pantas cuma nunggu di dapur! Beneran deh, Nad, karya-karyamu dulu itu punya karakter banget. Sayang banget kalau cuma disimpan di gudang."

​"Makanya, aku butuh bantuanmu, Ra. Kamu kan punya banyak relasi di bidang property dan pameran seni. Ada nggak tempat strategis yang kira-kira cocok buat aku sewa untuk galeri ku?" tanya Nadia penuh harap.

​Amira tampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Hmm... ada satu tempat punya temanku. Harganya juga masih masuk akal buat disewa."

​Mata Nadia berbinar mendengar penjelasan Amira. "Beneran, Ra? Bisakah kita lihat tempatnya sekarang?"

​"Tentu saja bisa! Yuk, aku antar kamu ke sana sekarang," sahut Amira bersemangat seraya merapikan tasnya.

​Nadia melangkah keluar dari kafe bersama Amira dengan satu tujuan, untuk masa depannya. Langkahnya hari ini adalah awal dari pembuktian bahwa ia sanggup berdiri di atas kakinya sendiri, membangun kembali impiannya yang sempat padam.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!