Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Tabrakan di Lorong
Presentasi selesai pukul sepuluh lewat lima belas, dan Lia baru menyadari betapa dingin telapak tangannya setelah ia kembali duduk di kursi paling belakang.
Pak Harto membungkuk dari kursi depan dan berbisik tanpa menoleh, "Kamu gila. Tapi hebat." Dinda menyelipkan secarik kertas ke tangannya, bertuliskan huruf kapital: KAMU MEMBUAT CEO TIDAK BISA BICARA! Lia melipat kertas itu dan menyembunyikannya di saku blazer sambil menahan senyum.
Navin sudah keluar lebih dulu untuk istirahat sepuluh menit, dan begitu pintu tertutup, ruangan meledak dalam bisik-bisik. Ada yang memuji, ada yang mengkhawatirkan, ada yang sekadar menatap Lia seperti menatap orang yang baru selamat dari kecelakaan. Rangga, kepala divisi penjualan, menghampirinya dengan wajah campuran malu dan terima kasih.
"Tabel tadi," katanya pelan. "Kamu sengaja memulai sumbunya dari nol, kan?"
"Aku hanya kebetulan orang yang suka angka jujur."
"Terima kasih. Kalau kamu tadi ikut menyerangku..."
"Aku tidak menyerang siapa pun. Aku cuma menunjukkan lampiran ketiga."
Rangga tertawa canggung, lalu mengangguk dan pergi. Lia menghela napas. Sesungguhnya, ia sendiri tidak yakin kenapa ia menyusun tabel itu seperti tadi. Mungkin karena ia sudah muak dengan orang-orang yang bersembunyi di balik warna-warni. Mungkin juga karena ia tidak ingin terlihat seperti orang yang mencoba menyenangkan pria itu.
Ia teringat tatapan Navin tadi, sesaat sebelum mengumumkan istirahat. Bukan dingin seperti pagi hari, bukan pula marah. Seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu dan mendapati hasilnya tidak sesuai perkiraan. Lia mengibaskan pikiran itu. Ia tidak punya waktu menafsirkan mata siapa pun.
Tiba-tiba Bu Retno menghampirinya. "Lia, Pak Navin akan meminta rincian denda untuk sesi berikutnya. Kita butuh sepuluh salinan. Bisa kamu cetak sekarang? Mesin fotokopi di lantai tiga saja, jangan turun."
"Bisa, Bu."
Lia mengambil flashdisknya dan berjalan cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang fotokopi di ujung lantai. Lorong itu sepi. Karpet abu-abu meredam langkahnya, dan lampu-lampu langit-langit memantul di kaca jendela yang menghadap deretan atap kota Bandung yang basah oleh sisa gerimis pagi.
Sepuluh salinan, masing-masing dua belas halaman. Mesin fotokopi tua itu mendengkur lambat, dan Lia menunggu sambil bersandar ke dinding, mencoba menenangkan dirinya. Kamu hanya presentasi. Bukan menandatangani surat pemecatanmu sendiri.
Ia menghitung ulang angka di kepalanya: empat ratus dua belas juta, dua kuartal, tiga lampiran. Semuanya cocok. Semuanya selalu cocok. Angka tidak pernah berbohong padanya, tidak seperti manusia.
Ketika semua salinan selesai, ia menumpuknya di dada, menjepit dua map tebal di bawah lengan, dan berbalik cepat menuju ruang rapat.
Di tikungan lorong, ia tidak melihat siapa pun. Itu masalahnya.
Bruk.
Tubuhnya membentur sesuatu yang keras dan hangat. Kertas-kertas terlepas dari pelukannya dan berhamburan seperti kawanan burung putih. Lia oleng ke belakang, tumitnya tersandung ujung karpet, dan ia yakin ia akan jatuh dengan memalukan di depan seluruh lantai tiga.
Tapi ia tidak jatuh.
Sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya, kuat dan cepat, menariknya kembali tegak. Lia mengerjap. Ia menengadah. Dan yang ia lihat adalah kemeja putih, rahang tegas, dan sepasang mata gelap yang sama yang tadi menatapnya dari ujung meja rapat.
Navin Sundara.
Sesaat, tak ada yang bergerak. Tangan pria itu masih melingkar di pergelangan Lia, dan Lia bisa merasakan hangatnya menembus kulit, dan denyut nadinya sendiri yang mendadak liar. Di lantai, ponsel Navin tergeletak dengan layar menyala menampilkan nama Mama dan panggilan yang belum dijawab.
Navin menunduk menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar apa yang ia lakukan. Ia melepaskan Lia dengan cepat, terlalu cepat, seperti orang yang tersengat.
"Kalau jalan pakai mata," katanya dingin.
Rasa terima kasih yang tadi sempat muncul di dada Lia langsung menguap. "Bapak juga sedang menatap ponsel," jawabnya. Suaranya tenang, tapi tajam. "Saya tidak melihat Bapak, dan Bapak tidak melihat saya. Kita berdua sama-sama bersalah, Pak."
Sunyi tiga detik. Lia tidak mengalihkan pandangan. Ia sudah berjanji tidak akan menunduk pada pria ini, dan janji kecil itu terasa penting.
Rahang Navin bergerak sedikit. Ia tidak membalas. Aneh, tapi ia tidak membalas.
Lia berlutut dan mulai memungut kertas-kertas yang berserakan. Kertas-kertas itu ada di mana-mana: di bawah kursi tunggu, di depan sepatu Navin, sebagian meluncur jauh sampai dekat lift. Ia bekerja cepat dan menunduk, dan karena itulah ia tidak melihat ekspresi pria di atasnya.
Beberapa detik berlalu. Lalu bayangan bergerak di sisi matanya. Navin, CEO perusahaan terkaya di negeri ini, berjongkok dan memungut satu lembar kertas di dekat sepatunya.
Lia membeku. Ia pernah mendengar cerita tentang bos yang menyuruh staf memungut kertas mereka sendiri. Tapi tidak pernah sebaliknya. Tidak pernah ada cerita tentang CEO yang berjongkok di lantai lorong dan memunguti salinan kontrak dengan wajah kaku, seakan itu tugas paling penting sedunia.
Pria itu tidak bicara. Ia mengambil beberapa lembar lagi, menyusunnya asal, lalu berhenti pada satu halaman dan membacanya. Halaman tujuh. Tabel dengan sumbu dimulai dari nol.
"Empat ratus dua belas juta," katanya, tanpa mengangkat mata. "Kamu yakin?"
"Saya sudah menghitungnya tiga kali, Pak."
"Hitung yang keempat kali."
Ia berdiri dan menyodorkan tumpukan kertas itu. Jemarinya tidak sengaja menyentuh jemari Lia, hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Lia menarik tangannya lebih cepat daripada seharusnya. Navin mengambil ponselnya dari lantai, menatap layar yang masih menampilkan nama Mama, lalu menolak panggilan itu dengan sentuhan kasar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya panjang dan cepat, seperti orang melarikan diri dari sesuatu.
Lia tetap berlutut di lantai dengan tumpukan kertas di pelukan. Ia menatap punggung yang menjauh itu dan tidak paham kenapa dadanya masih berdebar keras.
Adrenalin, pikirnya lagi. Ini pasti adrenalin.
Tapi tangannya yang tadi ditangkap masih terasa hangat, dan itu yang paling menjengkelkan.
Ia berdiri, merapikan blazer, dan berjalan kembali ke ruang rapat. Di depan pintu, Dinda sudah menunggu dengan mata melebar.
"Lia! Barusan Dimas keluar dan bilang..." Ia menelan ludah. "Pak Navin minta kamu menghadap di ruangan Bu Retno pukul dua siang. Sendirian."
"Menghadap?"
"Menghadap."
"Dimas bilang apa lagi?"
"Cuma itu. Dia kelihatan pucat, dan aku juga." Dinda meremas tangannya. "Kamu tidak akan dipecat, kan?"
"Kalau aku dipecat karena angka yang benar, berarti perusahaan ini pantas bangkrut."
Jawaban itu terdengar berani, tapi jantung Lia berdegup tidak karuan.
Lia menatap tumpukan kertas di tangannya. Empat ratus dua belas juta. Ia menghitungnya tiga kali. Ia yakin. Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak yakin akan apa pun.