Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Feng Wu tersadar dari kekaguman sekaligus rasa takutnya, ini bukan waktunya terpaku. Ia harus pergi, sebelum siapa pun tahu ia diam-diam keluar dari kediaman Wen. Tanpa banyak bicara lagi, ia berbalik hendak melompat turun dari menara itu.
"Aku tak ada urusan denganmu!" serunya pelan, melangkah cepat ke arah tepi menara.
Namun baru saja kakinya melangkah, tangan pria itu bergerak secepat kilat menangkap pergelangan tangan Feng Wu dengan cengkeraman kuat namun tidak menyakitkan. Dengan satu tarikan, tubuh Feng Wu kehilangan keseimbangan dan DUG!, ia menabrak dada bidang pria itu dengan keras.
Feng Wu terperangah, tangannya tanpa sadar menempel di dada pria itu. Jantungnya berdegup kencang bukan karena perasaan, melainkan karena kaget sekaligus kesal. Namun sebelum ia sempat protes, sesuatu terjadi yang membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Pria itu tiba-tiba tersentak, bahunya terguncang hebat. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, dan detik berikutnya
"UKH!"
Darah memancur keluar dari bibirnya bukan darah merah seperti biasanya, melainkan darah berwarna hitam pekat dan kental, bahkan sedikit berbau menyengat yang samar. Tubuhnya yang tegap seketika melemas, wajahnya yang tampan dan dingin berubah menjadi pucat pasi, seakan semua darah di tubuhnya telah tersedot keluar. Kakinya gemetar hebat, dan ia hampir berlutut ke tanah.
"Kau..." Feng Wu terbelalak, keterkejutannya menghapus rasa kesal tadi. Ia melihat darah hitam itu jatuh ke lantai batu, dan hatinya yang ahli dalam hal racun langsung berteriak ini bukan luka biasa. Ini racun yang sangat kuat dan berbahaya.
"Kau diracun!" ucap Feng Wu tegas, bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang pasti.
Tanpa menunggu izin, Feng Wu segera meraih pergelangan tangan pria itu tepat di titik nadi utama. Jari-jarinya yang lentik dan terbiasa meracik obat langsung menekan titik-titik tertentu, merasakan detak nadi yang tak beraturan, berpacu terlalu cepat namun lemah, seakan ada sesuatu yang menghambat aliran energi di dalam tubuhnya.
Pria itu mencoba menepis tangannya, namun tubuhnya terlalu lemah. Tatapannya masih tajam, namun kini bercampur rasa sakit yang luar biasa. "Jangan sentuh aku..." suaranya serak dan berat.
"Diamlah! Kalau kau ingin hidup, biarkan aku memeriksanya!" bentak Feng Wu tegas, tidak melepaskan tangannya sedikit pun. Ia menutup mata sejenak, merasakan setiap denyut nadi, mencoba melacak jejak racun yang menyebar di dalam tubuh pria itu.
Dalam benaknya, ribuan jenis racun dan ciri-cirinya berputar cepat membandingkan, menganalisis, mencocokkan dengan gejala yang ia lihat. Darah hitam, kelemahan mendadak, nadi yang terhambat... ada sesuatu yang familier di sini.
"Ini bukan racun biasa..." gumamnya pelan, matanya terbuka lebar karena menyadari sesuatu yang mengerikan. "Racun ini... menyebar perlahan namun pasti, dan akan menghancurkan organ dalam dalam waktu singkat jika tidak segera diatasi. Siapa yang begitu kejam melakukan ini padamu?"
Pria itu tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa sakit, keraguan, dan sedikit rasa terkejut melihat gadis muda yang begitu tenang dan berwawasan di hadapannya.
Feng Wu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata pria itu. "Aku bisa membantumu. Tapi kau harus percaya padaku sekarang. Tidak ada waktu untuk curiga."
Feng Wu tidak membuang waktu lagi. Tanpa banyak bicara, tangannya bergerak cepat seketika, sebotol air jernih yang memancarkan cahaya samar muncul dari udara tipis, diambilnya dari Ruangan Ajaib di dalam cincinnya. Ia langsung mendekatkan mulut botol itu ke bibir pria itu, meminumkan air tersebut dengan sigap.
"Minum! Jangan menolak kalau masih ingin bernapas!" bisiknya tegas namun rendah.
Lalu ia mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam pekat yang berbau harum menyengat. Tanpa menunggu izin, Feng Wu memaksakan pil itu masuk ke mulut pria itu.
"Telan! Ini penawar racun, beruntung sekali kau bisa bertemu denganku! Oh tidak, ini bukan pertemuan, kau membawaku dengan paksa" omelannya terus mengalir tanpa henti. "Orang macam apa kau ini, berlarian di tengah malam sambil membawa racun berbahaya? Kau tahu betapa berisikonya ini? Kalau aku tidak ada di sini, kau pasti sudah mati!"
Pria itu yang awalnya hendak menolak, merasakan kehangatan luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya begitu air dan pil itu masuk ke dalam kerongkongannya. Rasa sakit yang menyiksa perlahan mereda, napasnya mulai terasa lebih lega. Namun ia tak sempat berterima kasih karena dari bawah, suara langkah kaki dan suara teriakan mulai terdengar mendekat.
"Periksa menara itu! Dia pasti bersembunyi di atas sana!"
"Naik! Cari sampai ketemu!"
Suara itu semakin dekat. Feng Wu menegang, jantungnya berpacu kencang bukan untuk dirinya, tapi karena jika tertangkap di sini, segalanya akan berantakan. Identitasnya, rencananya, kediaman Wen semuanya bisa terancam.
"Ada orang... mereka datang!" bisiknya panik, matanya melirik ke arah tangga menara.
Belum sempat ia bergerak, tangan pria itu kembali bergerak, kali ini dengan lembut namun tegas, menutup mulut Feng Wu dengan telapak tangannya yang hangat. Ia menggeleng pelan, matanya menatap tajam namun tenang memberi isyarat agar tetap diam. Tubuhnya yang tadi masih lemah kini tegak kembali, bersiap menghadapi apa pun yang datang.
Feng Wu terdiam seketika, menahan napas. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu di dekatnya kuat dan teratur kembali. Mereka berdua berdiri diam di balik bayangan dinding tebal, menyaksikan dari atas bagaimana sekelompok orang bersenjata lewat di bawah menara, mencari ke segala arah namun tidak menyangka mereka berada di atas sana.
Hingga suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan hilang ditelan kegelapan malam.
Feng Wu menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu kencang. Ia melangkah mundur, menjaga jarak, lalu mengeluarkan dua botol porselen kecil dari saku jubahnya. Satu berisi air jernih dari Ruangan Ajaib, satu lagi berisi pil-pil kecil.
"Ini," ucapnya singkat, menyodorkan botol-botol itu ke arah pria itu. "Yang air minumlah satu teguk setiap pagi sebelum makan. Yang pil dua butir setiap malam sebelum tidur. Habis dalam tujuh hari, dan racun itu akan hilang sepenuhnya. Jangan makan makanan dingin dan jangan berlatih bela diri terlalu berat selama masa penyembuhan."
Pria itu menerima kedua botol itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menatapnya lekat-lekat, seakan ingin mengingat setiap detail wajah gadis itu agar tak pernah lupa. "Siapa namamu..." suaranya pelan namun dalam, penuh tanya.
Namun Feng Wu menggeleng, langkah kakinya mundur menuju tepi menara. "Tak perlu tahu. Dan jika kau ingin berterima kasih cukup satu hal saja." Ia menatapnya sekali lagi, tegas namun tenang. "Jangan pernah mencoba mencariku. Kita tidak ada urusan. Setelah racunmu hilang, anggaplah pertemuan ini tidak pernah terjadi. Kita berjalan di jalan yang berbeda, dan aku tidak ingin bertemu lagi denganmu."
Tanpa menunggu jawaban, Feng Wu berbalik. Dengan gerakan ringan dan cepat, ia melompat turun dari menara itu, menghilang ke dalam kegelapan malam sebelum pria itu sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Pria itu sendirian di atas menara tua, memegang erat kedua botol porselen itu di tangannya. Ia menatap ke arah kepergian gadis itu, matanya yang tajam dan dingin kini bercampur dengan sesuatu yang baru yaitu rasa penasaran, kekaguman, dan janji yang tak terucapkan.
"Aku pasti akan mencarimu...''batinnya dalam hati.
"Siapapun kau, gadis kecil yang penuh rahasia ini. Dan kita akan bertemu lagi bukan sebagai orang asing yang saling menolong, melainkan dengan nama yang pantas untuk diucapkan"