Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transfer Koin
Sambil bersandar di kursinya, Jia Li sengaja memejamkan mata, membiarkan otaknya bekerja ekstra keras memetakan setiap bidak catur yang harus ia gerakkan di perusahaan ini. Waktu adalah kemewahan yang tidak dimilikinya saat ini.
"Sistem, berapa koin emas yang aku miliki saat ini untuk membeli barang di toko sistem?" tanya Jia Li, suaranya menggema tegas di dalam alam pikirannya sendiri.
Ding! sebuah suara mekanis yang dingin namun jernih langsung menyahut di kepalanya.
(0 Koin, Nona. Anda belum memiliki koin apa pun saat ini. Perlu diingat, untuk mendapatkan koin sistem, Nona harus menggunakan pengetahuan medis Anda untuk menolong orang lain. Setiap kali Nona berhasil menyelamatkan hidup atau menyembuhkan seseorang, sistem akan memberikan hadiah berupa koin yang bisa digunakan untuk berbelanja di toko sistem.)
Mendengar penjelasan panjang lebar itu, bahu Jia Li seketika merosot. Menyelamatkan orang? Di saat dirinya baru saja mengundurkan diri dari rumah sakit? Yang benar saja, keluhnya dalam hati.
Namun, belum sempat kekecewaan itu mengakar, kata-kata sistem selanjutnya justru membuat tubuh Jia Li kembali menegak kaku.
(Namun, mendeteksi adanya situasi khusus yang mendesak, sistem akan melakukan transfer koin darurat terhadap Nona.)
Jia Li yang masih memejamkan mata hanya bisa mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Apa maksudnya? Transfer koin? Dari mana asal koin itu? batin Jia Li, dipenuhi rasa heran.
(Melakukan transfer koin dimulai. Koin akan diambil dan dialihkan dari akun pemilik sistem sebelumnya. Mengidentifikasi basis data pemilik sebelumnya: Lin Jia...)
Mendengar nama sang ibu disebut dengan begitu jelas, mata Jia Li langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Ibu? Jadi Ibu adalah pemilik sistem ini sebelum aku?
(Proses transfer sedang berjalan. 45%... 66%... 86%... 100%. Transfer selesai. Koin warisan telah berhasil ditambahkan ke dalam rekening sistem Nona. Total saldo koin sistem Anda saat ini adalah: 10.000.000 Koin Emas.)
Mendengar nominal fantastis yang diucapkan sistem tanpa nada tersebut, bola mata Jia Li nyaris melompat keluar. "Sepuluh juta koin emas?!" jeritnya histeris dalam hati.
Angka itu bukan lagi sekadar cukup, melainkan sebuah senjata pemusnah massal yang siap membantunya meruntuhkan semua musuhnya.
Setitik air mata haru menyelinap di sudut matanya yang memerah. "Ibu... bahkan meskipun kau tidak ada disini, kau masih tetap menyelamatkanku," gumam Jia Li dengan suara bergetar penuh kerinduan.
Mengubah kesedihan menjadi ambisi, Jia Li menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke depan dengan pandangan tajam. "Buka toko sistem sekarang!" titahnya tegas.
Wusss!
Sebuah layar hologram berwarna biru pudar mendadak muncul dan membentang tepat di depan wajah Jia Li. Di ruangan itu, hanya Jia Li yang bisa melihat pendaran cahaya magis tersebut.
Berbagai deretan item medis langka, formula obat penawar, hingga teknologi aneh terpampang jelas, lengkap dengan deskripsi fungsi dan harga masing-masing.
Melihat semua modal besar yang kini berada di genggamannya, seulas senyum puas dan dingin terukir di bibir manis Jia Li.
[Rekomendasi Item: Flashdisk Gaib]
[Deskripsi: Jika Flashdisk ini ditancapkan pada server utama yang menjalankan suatu perusahaan, maka secara otomatis, uang perusahaan akan tersedot sedikit demi sedikit ke dalam rekening legal milik sistem. Baik uang legal maupun ilegal, tersembunyi ataupun tercatat. Dan tidak akan ada sistem keamanan dunia fana yang mampu mendeteksinya.] suara sistem bergema datar namun mekanis di dalam kepalanya, menjelaskan fungsi alat tersebut.
Ini dia. Benda ini yang ku butuhkan, gumam Jia Li. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengetuk tombol beli virtual di udara.
Ding! Sebuah lonceng digital berdenting halus.
[Pembelian diproses. Saldo dikurangi 50.000 Koin Emas. Pembelian berhasil. Flashdisk Gaib kini berada di dalam inventaris sistem. Nona bisa mengambilnya kapan saja secara instan.]
Jia Li tersenyum puas. Namun, senyum kemenangan itu seketika luntur oleh hantaman keras yang mengejutkan meja kerjanya.
Brak!
Sebuah tumpukan dokumen tebal setinggi dagu dihempaskan tanpa perasaan.
"Heh anak baru, ini tugas untukmu. Pelajari semua dokumen ini tanpa terkecuali, lalu salin bagian-bagian yang penting," kata kepala tim dengan nada memerintah, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar staf lain.
Pria berkacamata kotak itu menatap Jia Li dari balik lensanya yang tebal, memamerkan senyum yang memuakkan. "Ingat, waktumu hanya 4 jam sebelum jam makan siang dimulai. Jangan buat saya melihat laporan yang cacat."
Tanpa menunggu jawaban, kepala tim membalikkan badan dan berlalu pergi dengan langkah angkuh. Rekan kerja di kubikel sebelah melirik Jia Li dengan tatapan kasihan yang terselubung.
Sementara itu, Jia Li hanya menatap tumpukan kertas di hadapannya dengan pandangan dingin dan datar. Cih, siapa juga yang mau mengerjakan sampah ini? batin Jia Li bersungut-sungut.
Meski begitu, ia tidak meledak. Dengan ketenangan yang terlatih, Jia Li menarik tumpukan dokumen itu mendekat, berpura-pura membuka halaman pertama dan mengetik sesuatu di komputernya. Padahal, di dalam kepalanya, roda rencana sabotase sudah berputar cepat.
Setelah beberapa menit menciptakan ilusi bahwa ia sedang sibuk bekerja, Jia Li tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gerakan mendadak itu langsung tertangkap oleh radar kepala tim yang rupanya terus mengawasi dari balik meja kubikel nya sendiri.
"Kau mau kemana? Tugasmu masih menumpuk!" tegur kepala tim dengan suara tajam, mencoba mengintimidasi.
Jia Li menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan mata yang begitu dingin, tajam, dan penuh dominasi tersembunyi. Sudut matanya seolah menyiratkan bahwa pria di depannya hanyalah serangga yang siap diinjak.
Ditatap seperti itu, nyali kepala tim mendadak menciut. Pria berkacamata itu tanpa sadar menelan salivanya sendiri, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk.
"Ke kamar mandi," kata Jia Li pendek dan dingin.
Tanpa menunggu izin atau reaksi lebih lanjut, ia langsung melengos pergi, meninggalkan kepala tim yang masih mematung dengan rasa kesal bercampur cemas yang tidak bisa dijelaskan.
Beberapa menit kemudian, suasana berubah. Di dalam toilet yang sepi, Jia Li tampak berdiri di depan cermin besar.
Pakaian formalnya kini telah berganti dengan seragam office boy (OB) yang sempat ia curi dengan cerdik beberapa saat lalu. Ia merapikan topi dan kerah bajunya, menatap pantulan dirinya yang tampak sangat berbeda.
Namun, Jia Li tidak bisa gegabah. Sebagai seorang profesional, ia melirik waspada ke setiap sudut koridor perusahaan melalui celah pintu.
Di sana, lensa-lensa kecil bermanik merah bertebaran—keamanan berupa kamera CCTV yang canggih. Ia tahu betul, setiap gerakannya di gedung ini pasti sedang diawasi ketat oleh Jia Ren.
"Sistem! Matikan seluruh fungsi CCTV di perusahaan ini sekarang!" titah Jia Li dalam hati.
Sebuah suara mekanis yang dingin langsung bergema di dalam kesadarannya.
Ding!
[Proses peretasan berjalan.... 30%, 70%, 100%. Berhasil. Seluruh CCTV di perusahaan telah dimatikan secara total. Peringatan: Sistem keamanan cadangan akan mendeteksi anomali ini. CCTV akan kembali hidup otomatis setelah 15 menit].
Jia Li membuka matanya kembali. Kilatan berbahaya terpancar dari kedua manik matanya yang gelap.
"Lima belas menit, ya? Itu waktu yang lebih dari cukup bagiku untuk menyelesaikan permainan ini," gumam Jia Li lirih.
Sebuah senyum penuh kelicikan dan kepuasan kini terukir jelas di wajahnya.