Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tepat pada saat itu, ponsel Karin berdering. Layar menampilkan nama, Arlan (Suami CEO Dingin).
Karin menelan ludah, membesarkan hati, dan menjawab. "Halo, Kak Arlan!"
"Karin," suara Arlan terdengar berat dari seberang sana. "Citra baru saja meneleponku. Dia bilang kamu menghinanya di depan Vanessa. Dia bilang kamu membandingkannya dengan burung beo."
Jantung Karin berhenti berdetak sedetik. Sial. Citra melapor! Hancur sudah strategiku!
"Tapi, Kak Arlan..." suara Karin terdengar kecil dan ragu, sedikit bergetar. "Itu kan pujian. Burung beo itu hewan yang pintar, Kak. Bisa ngomong. Mbak Citra kan cuma bisa ngomong, nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Jadi aku bilang dia mirip beo, itu artinya aku nganggap dia pintar. Masa Kak Arlan marah kalau aku muji adik Kakak?"
Di seberang sana, terdengar keheningan yang panjang. Karin bisa membayangkan Arlan sedang memijat pelipisnya, mencoba mencerna logika terbalik istrinya.
"Karin," ucap Arlan akhirnya, suaranya terdengar lelah, tapi ada nada aneh yang tersembunyi di balik nada datarnya. "Pulang ke rumah. Jangan bicara dengan siapa pun sampai aku pulang."
"Siap, Komandan! Aku mau lanjut ngajarin anggrek bernapas ya, Kak!"
"Jangan disiram lagi. Kamu sudah menyiramnya sampai basah kuyup, daunnya malah kuning."
Karin menatap tanaman anggrek di tangannya yang memang terlihat agak layu karena kebanyakan air. "Oh... berarti pohonnya kekenyangan air ya? Makasih infonya, Kak Arlan!"
Sebelum Arlan bisa membalas, Karin sudah memutus panggilan. Ia menatap ponselnya dengan senyum miring. CEO dingin mulai peduli sama tanamanku. Langkah ketiga berhasil!
Namun, di kantornya yang berada di lantai paling atas gedung Dirgantara, Arlan menatap ponselnya yang sudah mati. Ia menatap biskuit dinosaurus penyok yang masih ada di mejanya.
"Citra bilang Karin menghina dia," gumam Arlan pada dirinya sendiri, sudut bibirnya kembali berkedut tipis. "Tapi logikanya... entah mengapa masuk akal."
Arlan menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh itu. Istrinya memang idiot. Tapi entah kenapa, hari ini rumah terasa jauh lebih... hidup.
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi kaca-kaca jendela besar di kediaman Dirgantara. Arlan tidak pulang tepat waktu. Ia membawa pulang tumpukan dokumen dan sebuah laptop yang menyala dengan kecerahan maksimal, meletakkannya di atas meja makan marmer yang biasanya hanya digunakan untuk menyajikan hidangan mewah.
Karin yang sedang duduk di sofa sambil menonton kartun kucing yang dikejar tikus, melirik ke arah ruang makan. Ia bisa melihat bahu suaminya yang tegang. Arlan sedang memijat pangkal hidungnya, tatapannya terkunci pada layar laptop dan beberapa cetak biru blueprint yang berserakan.
Proyek Dirgantara Bay Resort, batin Karin, mengingat-ingat plot novel. Ini adalah proyek terbesar Arlan di bab-bab pertengahan. Dalam cerita asli, proyek ini hampir bangkrut karena kesalahan desain struktural yang baru disadari saat konstruksi berjalan, membuat Arlan kehilangan miliaran rupiah dan membuatnya semakin stres, yang pada akhirnya berujung pada perceraian mereka.
Karin menggigit bibirnya. Sebagai transmigrator, ia tahu persis di mana letak kesalahan desain itu. Tapi jika ia langsung menunjukkannya, Arlan pasti akan curiga. Istri yang hanya bisa bermain dengan dasi sutra tiba-tiba mengerti teknik sipil dan arsitektur? Itu sama saja bunuh diri.
Harus ada cara yang lebih 'idiot', gumam Karin.
Ia melompat dari sofa dan berlari ke arah kamar penyimpanan. Setelah mengaduk-aduk selama lima menit, ia menemukan apa yang dicarinya yaitu satu set balok kayu bangunan building blocks milik keponakan Arlan yang pernah tinggal di sini setahun lalu.
Karin kembali ke ruang makan, membawa kotak balok kayu itu. Ia tidak duduk di kursi, melainkan meluncur turun dan duduk di lantai tepat di bawah meja makan, di mana Arlan bisa melihatnya jika menunduk.
"Kak Arlan," panggil Karin pelan, suaranya terdengar cemberut.
Arlan tidak menoleh, matanya masih menatap layar. "Ada apa, Karin? Aku sedang sibuk. Mainlah di kamar."
"Tapi Kak Arlan, rumah kertasnya sedang sakit kepala," ucap Karin, menunjuk tumpukan cetak biru di meja.
Arlan akhirnya menoleh, menatap istrinya yang sedang duduk bersila di lantai dengan kotak balok kayu di pangkuannya. "Rumah kertas? Maksudmu gambar arsitekturnya?"
"Iya!" Karin mengangguk serius. Ia mulai menyusun balok kayunya. "Rumah ini pusing, Kak. Soalnya atapnya kegemukan. Kalau atapnya kegemukan, kakinya pasti kesakitan. Nanti kalau ada angin, rumahnya jatuh deh.
Bruk Karin menjatuhkan satu balok besar ke atas balok kecil yang rapuh, memperagakan kehancuran.
Arlan menghela napas, mengira istrinya hanya sedang bermain-main. "Itu bukan rumah, Karin. Itu desain resor di tepi pantai. Dan atapnya tidak gemuk, itu fasad kaca."
"Kaca itu berat, Kak," bantah Karin cepat, matanya menatap balok kayu di tangannya. "Tadi aku coba bikin rumah dari kaca. Berat! Kakinya gemetar. Kalau aku jadi rumah, aku pasti minta tolong, 'Tolong, atapku kegemukan, aku mau pingsan!'"
Arlan terdiam. Tangannya yang memegang pena berhenti di udara.
Ia menatap cetak biru di hadapannya. Fasad kaca penuh yang dirancang oleh arsitek ternama itu memang terlihat megah, tapi... berat. Beban mati dari kaca tempered setebal 20mm yang membungkus seluruh sisi atas bangunan...
Arlan dengan cepat menarik salah satu lembar cetak biru, matanya menyipit saat melakukan perhitungan mental. Rasio beban terhadap kolom penyangga utama. Jika dikalkulasikan dengan tekanan angin pantai yang konstan...
Jantung Arlan berdegup lebih cepat. Ada anomali. Kolom penyangga di sisi utara tidak akan kuat menahan beban kaca tersebut dalam jangka panjang jika terjadi badai. Arsiteknya terlalu fokus pada estetika dan mengabaikan distribusi beban dinamis.
Kok aneh ya.. kenapa Karin bisa memperhatikan detail ini?
lanjut kn thor💪