Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALANG KABUT
"Nanti jika urusannya sudah selesai, jangan langsung kembali ke Desa Maju Bersama, kalian istirahat dulu di rumah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan pulang", pesan umi Sholicha begitu melihat Vallery dan Dirga bersiap akan berangkat ke kota kabupaten.
"Ini, ada camilan yang bisa kalian santap selama perjalanan.", ucap umi Sholicha lagi sambil memberikan paper bag ke tangan Vallery.
Umi Sholicha pagi-pagi sudah membuatkan beberapa kue lemper dan juga risol untuk Vallery setelah ia tahu jika calon menantunya itu tak biasa sarapan nasi sehingga ia memberikan bekal yang sedikit berat untuk mengisi perut Vallery.
Vallery yang melihat ada beberapa kotak kue dan juga minuman didalam paper bag yang umi Sholicha berikan kepadanya, merasa hangat. "Terimakasih, umi. Kami berangkat dulu ya umi", ucapnya sambil mencium tangan umi Sholicha dengan takzim.
"Kami berangkat dulu, umi", sambil berkata Dirga juga mencium punggung tangan uminya sebelum masuk kedalam mobil.
Melihat putra sulung dan juga calon menantunya sudah berada dalam mobil, umi Sholicha pun melambaikan satu tangannya, "Hati-hati di jalan dan jangan lupa nanti mampir ke rumah", umi Sholicha kembali berpesan kepada keduanya yang direspon anggukan dari Vallery dan Dirga sebelum mobil hitam tersebut melaju dan menghilang di balik pagar rumah Dirga.
Beberapa warga yang kebetulan akan berangkat ke ladang atau sawah mereka, melihat keberadaan umi Sholicha, mereka pun menyapa dengan ramah
Setelah cukup berbasa-basi dengan beberapa warga yang kebetulan menyapanya, umi Sholicha pun masuk kedalam rumah dan bersiap untuk pulang karena pagi ini, Fitri ada kuliah pagi sehingga mereka pun harus segera bergegas.
Ketenangan yang terjadi di Desa Maju Bersama tak dirasakan oleh beberapa desa lain, terutama Desa Gotong Royong dan Desa Sukolilo dimana Rofik dan Wandi serta keluarganya tinggal.
Pagi-pagi buta, agar para pelaku tak menghilangkan petunjuk penting serta membungkam saksi, para petugas pengawas penyaluran bantuan bersama tim penyidik segera mengamankan camat kecamatan Tentrem dan beberapa kepala desa yang di duga melakukan korupsi dana bantuan warga kurang mampu.
Penangkapan ini jelas menggegerkan desa, beberapa orang yang aktiv menggunakan media sosial merasa bingung kenapa orang nomor satu didesa mereka ditangkap.
Baru setelah mendapatkan penjelasan dari warga yang lainnya yang sudah melihat video Liana pun mulai paham dan merasa geram karena tak menyangka jika kepala desa yang mereka percayai untuk menjadi pimpinan agar desa mereka menjadi maju dan sejahtera malah menyalahgunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk memperkaya diri sendiri.
Hal tersebut tentunya membuat marah warga yang langsung menghujani anggota keluarga mereka dengan caci maki dan hinaan sebagai bentuk protes dan luapan kekecewaan yang mereka rasakan membuat keluarga sang kepala desa tak berani keluar karena takut akan mendapatkan amukan dari warga.
Apa yang terjadi di beberapa desa juga terjadi di kediaman Rofik, bahkan lebih parah lagi, melihat Rofik dan istrinya di tangkap warga segera melempari mereka dengan berbagai macam barang yang pagi ini mereka bawa disertai caci maki sebagai luapan kekecewaan mereka terhadap kinerja camat tersebut selama ini.
Beberapa warga yang sudah sejak lama tak menyukai gaya kepemimpinan Rofik yang seperti preman dimana siapapun yang tidak sejalan dengannya, lansung dibungkam sehingga membuat banyak warga yang dirugikan akibat ulah premanisme camat kecamatan Tentrem tersebut.
Kini setelah ada peluang untuk mendapatkan keadilan, semua orang yang pernah dirugikan oleh Rofik pun berbondong-bondong mendatangi para penyidik untuk melaporkan kasus kecurangan dan kekerasan yang dilakukan camat kecamatan Tentrem tersebut beserta bukti-bukti yang mereka miliki dan simpan selama ini.
Para petugas yang menangani kasus korupsi dana bantuan warga kurang mampu ini tentu saja merasa senang karena bukti dan saksi sudah datang menghampiri tanpa perlu susah payah mereka untuk mencari sehingga semua aduan warga di tanggapi secara profesional dan ramah.
Di desa Sukolilo, Janu yang bersembunyi di balik pohon pisang yang tumbuh bergerombol di kebun samping rumah Wandi, menatap tajam para petugas yang menggeret pak leknya itubkedalam mobil yang petugas bawah.
Untungnya semalam ia bergerak cepat dan berhasil menghubungi beberapa kepala desa yang Wandi perintahkan sehingga begitu semua orang yang terlibat kasus korupsi dana bantuan ini tertangkap, ia tinggal menyediakan beberapa bukti yang mengarah kepada Rofik sehingga semua kejahatan tersebut akan di limpahkan kepada Camat Kecamatan Tentrem tersebut.
"Aku harus bergerak cepat agar pak lek Wandi bisa segera dibebaskan", batin Janu, sebelum pria itu menghilang dibalik bayangan pohon pisang.
Dirga yang tak tahu kekacauan yang terjadi dibeberapa desa saat ini tengah menikmati suapan demi suapan kue basah yang Vallery berikan kepadanya.
Dalam hati Dirga memberikan dua jempol akan kecerdasan umi nya membekali mereka kue yang bisa menciptakan suasana romantis bagi diri nya.
Tentu saja apa yang Dirga pikiran tak sama dengan yang Vallery pikirkan karena baginya, menyuapi Dirga sudah sewajarnya dilakukan karena pria tersebut tengah menyetir.
Hal sama juga sering ia lakukan ketika tengah berkendara dengan rekan-rekan kerjanya dimana ia akan membantu mereka untuk makan dan membukakan air minum selama perjalanan akibat mereka tak memiliki waktu berhenti untuk makan ditengah-tengah jadwal pekerjaan yang padat.
Vallery yang tak tahu jika tindakan dan perhatian kecil yang sudah biasa ia lakukan disalah artikan oleh Dirga masih sibuk membalas beberapa chat dari rekan kerjanya karena tujuannya datang ke kantor pak bupati pagi ini juga berkaitan dengan pembicaraan Vallery dengan Andreas sebelumnya, mengenai masalah memajukan kabupaten Santosa agar para investor besar mau menanamkan modalnya disini.
"Mas, berhenti sebentar di pon bensin depan. Aku perlu ke toilet", ucap Vallery sambil menghabiskan sisa riso di tangannya.
Merasa sebentar lagi akan kekamar kecil, Vallery yang sedari tadi berusaha menahan untuk tak minum terlalu banyak pada akhirnya, iapun secara acak mengambil botol air mineral yang ada didekatnya.
Dirga yang melihat Vallery menghabiskan air mineral dari botol yang baru saja diminumnya merasa terkejut dan ingin berkomentar, tapi segera ia urungkan ketika ia melihat bagaimana bibir tipis gadis cantik itu menyentuh ujung botol air mineral.
"Apa ini yang dinamakan dengan ciuman tidak langsung", batin Dirga gembira.
Pria itupun mulai membayangkan hal-hal indah dalam benaknya, membuat wajahnya tanpa sadar mulai tersipu malu disertai senyum tipis yang membuatnya terlihat lebih tampan beberapa kali lipat, tapi sayangnya hal tersebut tak bisa Vallery lihat karena begitu mobil Dirga berhenti di depan toilet SPBU, Vallery segera keluar dengan cepat tanpa menoleh karena kandung kemihnya sudah terasa sangat penuh.
Dirga yang masih sibuk dengan fantasinya, melihat botol air minum yang tadi Vallery ambil masih tersisa sedikit, iapun segera mengambil dan membukanya.
Cukup lama Dirga menyangkan air dalam botol yang tinggal sedikit tersebut, seolah ia tengah membayangkan jika ujung botol yang tadi sempat bersentuhan dengan bibir Vallery adalah bibir gadis itu sehingga iapun minum dengan penuh penghayatan.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA