Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Lama yang Muncul Kembali
Raka menatap layar laptopnya lama, membaca ulang nama itu berkali-kali seolah berharap huruf-hurufnya akan berubah jika ia menatapnya cukup lama. *Dimas Aditya — direkomendasikan langsung oleh Alya Ramadhani.*
Ia mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Ini cuma rekomendasi profesional, katanya dalam hati. Alya pasti punya alasan kerja yang jelas untuk merekomendasikan orang ini, tidak lebih dari itu. Tapi bayang-bayang cerita yang pernah Alya ceritakan sekilas—tentang seorang rekan kerja lama yang pernah menyatakan perasaan padanya—terus mengganggu pikirannya sepanjang malam, membuatnya sulit tidur untuk pertama kalinya sejak mereka mulai membangun kembali hubungan mereka.
Keesokan paginya, Raka memutuskan untuk tidak menyimpan kecemasannya sendirian. Ia mengirim pesan ke Alya: *Ada waktu makan siang bareng hari ini?*
Alya membalas cepat: *Ada. Kenapa, ada yang mau dibahas?*
*Nanti aja pas ketemu,* jawab Raka.
---
Saat makan siang di sebuah restoran kecil dekat kantor, Raka mencoba mencari cara paling wajar untuk membicarakan hal yang mengganjal pikirannya tanpa terdengar seperti sedang cemburu berlebihan—meski jujur saja, itu memang yang sedang ia rasakan.
"Aku lihat nama Dimas Aditya di daftar kandidat tim baru kamu," kata Raka akhirnya, mencoba terdengar santai sambil mengaduk minumannya.
Alya mengangkat wajahnya dari menu, sedikit terkejut. "Oh, iya. Dia emang salah satu orang paling kompeten yang pernah aku kerja bareng waktu di kota sebelumnya. Kenapa?"
"Nggak apa-apa," jawab Raka, mencoba terdengar biasa saja. "Cuma... kamu pernah cerita soal dia kan? Yang pernah nyatain perasaan ke kamu?"
Alya terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, seolah baru menyadari arah pembicaraan ini. "Raka, itu udah lama banget. Dan waktu itu aku udah jelas-jelas nolak dia, karena aku emang nggak punya perasaan apa pun ke dia selain sebagai rekan kerja."
"Aku tau," kata Raka cepat, meski nada suaranya masih menyimpan sedikit kegelisahan. "Aku cuma... mikir aja, kalau dia sekarang bakal kerja deket sama kamu lagi, di tim yang sama, apa itu bakal jadi masalah?"
Alya menatap Raka lama, lalu meraih tangannya di atas meja, menggenggamnya lembut. "Raka, aku ngerti kamu khawatir. Tapi aku pikir kita udah sepakat buat saling percaya kali ini, kan? Aku merekomendasikan Dimas murni karena kompetensinya, bukan karena ada maksud lain."
Raka mengangguk, merasa sedikit malu dengan kecemasannya sendiri. "Kamu benar. Maaf, aku kebawa perasaan."
"Nggak apa-apa," jawab Alya, tersenyum pengertian. "Tapi buat catetan, kalau kamu punya kekhawatiran kayak gini lagi, tolong langsung ngomong kayak sekarang. Jangan dipendam sendiri sampai jadi masalah besar."
"Deal," jawab Raka, tersenyum lega.
---
Namun, kekhawatiran Raka tidak sepenuhnya tidak beralasan. Seminggu kemudian, Dimas Aditya resmi bergabung dengan tim divisi baru yang dipimpin Alya, dan dari hari pertama kedatangannya, jelas terlihat bahwa perasaannya terhadap Alya belum sepenuhnya hilang—meski ia berusaha menutupinya di balik profesionalisme kerja.
"Alya!" sapa Dimas hangat begitu memasuki ruang kerja baru mereka, senyumnya lebar dan tulus. "Udah lama banget nggak ketemu. Kamu makin sukses aja sekarang."
"Dimas, senang banget kamu mau gabung," jawab Alya, tersenyum ramah, meski tanpa maksud lebih dari sekadar menyambut rekan kerja lama.
Sepanjang minggu pertama, Dimas menunjukkan kompetensinya yang memang tidak diragukan—ide-ide segar, pendekatan strategis yang inovatif, dan kemampuan komunikasi yang membuatnya cepat disukai oleh anggota tim lainnya. Tapi di balik semua itu, ada momen-momen kecil yang tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitar mereka—cara Dimas selalu mencari alasan untuk duduk di dekat Alya dalam rapat, caranya memuji ide Alya dengan antusiasme yang sedikit berlebihan, dan tatapan yang kadang bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
Nadia, yang kebetulan sering berurusan dengan tim baru itu untuk keperluan koordinasi lintas divisi, akhirnya angkat bicara pada Alya suatu siang. "Alya, aku nggak mau ikut campur, tapi... kamu sadar nggak sih kalau si Dimas itu kayaknya masih ada rasa sama kamu?"
Alya menghela napas, sudah menduga hal ini akan menjadi topik pembicaraan cepat atau lambat. "Aku sadar," jawabnya jujur. "Tapi aku udah jelasin ke dia dari awal kalau aku cuma nganggap dia rekan kerja. Aku nggak bisa kontrol perasaan dia, yang penting aku udah jujur."
"Udah cerita ke Pak Raka soal ini?" tanya Nadia hati-hati.
"Udah," jawab Alya. "Dia sempat khawatir, tapi kita udah sepakat buat saling percaya."
Nadia mengangguk, meski ekspresinya masih menunjukkan sedikit keraguan. "Cuma... hati-hati aja, Alya. Kadang orang yang keliatan baik-baik aja di permukaan bisa jadi masalah besar kalau dibiarin terlalu lama."
---
Kata-kata Nadia itu terbukti mendekati kebenaran lebih cepat dari yang diduga siapa pun. Beberapa hari kemudian, saat tim sedang lembur menyelesaikan proposal besar untuk klien baru, hanya tersisa Alya dan Dimas di ruang kerja ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Makasih udah mau bantu proyek ini sampai selarut ini," kata Alya, meregangkan tubuhnya yang lelah setelah berjam-jam duduk di depan laptop.
"Nggak masalah," jawab Dimas, tersenyum. "Lagian, kerja bareng kamu lagi itu... rasanya kayak dulu lagi. Aku kangen momen-momen kayak gini."
Alya merasakan firasat tidak enak mendengar nada suara Dimas yang berubah menjadi lebih personal. "Dimas—"
"Aku tau kamu udah bilang cuma mau jadi rekan kerja," potong Dimas cepat, meletakkan pena yang ia pegang dan menatap Alya dengan sungguh-sungguh. "Tapi aku nggak bisa bohongin diri aku sendiri, Alya. Perasaan aku ke kamu nggak pernah bener-bener hilang, bahkan setelah tiga tahun kamu pindah kerja."
"Dimas, aku udah jelas dari dulu," kata Alya, mencoba tetap tenang meski situasi ini membuatnya tidak nyaman. "Aku sekarang lagi coba bangun hubungan sama orang lain. Aku nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita."
"Orang lain?" tanya Dimas, alisnya terangkat. "Maksud kamu Pak Raka? Atasan kamu itu?"
Alya terdiam, sedikit kaget bahwa Dimas sudah menyadari hal itu. "Iya," jawabnya akhirnya, jujur. "Kami lagi coba lagi. Dan aku harap kamu bisa menghormati itu."
Dimas menatap Alya lama, ekspresinya berubah dari kekecewaan menjadi sesuatu yang lebih sulit dibaca—mungkin frustrasi, mungkin juga penerimaan yang dipaksakan. "Oke," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Aku hormatin keputusan kamu. Tapi kalau suatu saat kamu berubah pikiran—"
"Dimas," potong Alya tegas namun tetap lembut, "aku nggak akan berubah pikiran. Aku harap kita masih bisa kerja sama dengan baik, sebagai rekan kerja profesional."
Dimas mengangguk pelan, meski Alya bisa melihat bahwa penolakan itu jelas menyakitinya lebih dari yang ia tunjukkan. Malam itu, mereka menyelesaikan pekerjaan mereka dalam keheningan yang canggung, dan ketika Alya akhirnya pulang, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal:
"Alya, ini Sarah lagi. Maaf mengganggu, tapi aku baru denger sesuatu dari temanku yang kerja di divisi HR—soal rekan kerja baru kamu, Dimas. Sepertinya ada yang perlu kamu tau sebelum ini jadi masalah besar."