NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pagi Baru di Ruangan Megah dan Secangkir Kopi Satu Sendok Gula

Matahari pagi menyinari gedung Vanesha Group dengan hangat. Di lantai sepuluh, suasana kerja sudah kembali normal setelah insiden menegangkan beberapa hari lalu. Vanesha duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap tumpukan berkas dengan ekspresi jauh lebih santai dari biasanya.

Pintu ruangannya diketuk tiga kali dengan sopan.

"Masuk," ucap Vanesha pelan.

Pintu terbuka lebar, menampakkan sosok Dika yang mengenakan seragam satpam rapi sambil membawa nampan kecil.

"Laporan pagi, Nona Bos!" ucap Dika setengah bercanda sambil memberi hormat singkat. "Situasi lantai bawah aman terkendali, bebas dari penjahat berdasi."

Vanesha terkekeh pelan mendengar tingkah konyol pengawalnya itu. "Bawa apa itu? Dari tadi saya perhatikan kamu senyum-senyum sendiri sejak dari lorong," tanya Vanesha penasaran.

"Kopi hitam racikan khusus tangan dewa," ucap Dika bangga sambil meletakkan cangkir dan piring kecil di atas meja. "Gulanya pas satu sendok teh. Dijamin manjur mengusir rasa ngantuk habis lembur."

Vanesha menatap cangkir itu dengan sebelah alis terangkat. "Tahu dari mana kalau saya suka takaran gula segitu?" tanya Vanesha dengan tatapan menyelidik.

"Insting seorang prajurit sejati tidak pernah meleset," sahut Dika cepat dengan cengiran lebar tanpa dosa.

Vanesha menggelengkan kepala, lalu menyeruput kopi tersebut perlahan. Hangatnya cairan pekat itu langsung menyegarkan tenggorokannya. "Enak. Rasanya beda dari buatan sekretaris saya," ucap Vanesha pelan.

"Jelas beda, karena diseduh pakai cinta dan ketulusan abdi negara," ucap Dika sambil nyengir lebar.

Vanesha tersenyum tipis, matanya menatap Dika lekat-lekat. "Soal Raka... tadi pagi dia sudah kirim surat resmi pencabutan klaim dan cuti panjang ke luar kota. Semuanya sudah beres, Dika," ucap Vanesha lembut.

"Syukurlah kalau begitu," ucap Dika merasa lega. "Tapi kalau dia berani muncul lagi buat ganggu Nona Bos, panggil saya langsung. Siap pasang badan lagi sampai titik darah penghabisan."

"Jangan kebanyakan pasang badan, nanti badan kamu sendiri yang rontok," ucap Vanesha, nadanya menyiratkan kekhawatiran. "Mulai hari ini, tugas kamu bukan cuma jaga pos di bawah. Kamu saya angkat jadi pengawal khusus pribadi saya."

Dika tertegun sejenak, jantungnya berdegup lebih kencang mendengar tawaran itu. "Siap, Nona Bos! Ke mana pun, saya kawal sampai ujung dunia!" ucap Dika mantap.

Vanesha berdiri dari kursinya, merapikan blazer abu-abunya dengan elegan. "Kalau begitu, jam sepuluh nanti kita ada kunjungan kerja ke cabang Sidoarjo. Siapkan mobil di basement sekarang," ucap Vanesha tegas namun hangat.

"Siap laksanakan, Kapten!" ucap Dika penuh semangat sebelum berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan hati berbunga-bunga.

Dika berlari menuju ruang satpam, langkahnya ringan seakan melayang. Hatinya berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena senang banget. Pengawal khusus pribadi Vanesha! Itu bukan sekadar kenaikan tugas, itu tanda kepercayaan yang luar biasa.

Dia merapikan seragamnya sekali lagi, pastikan kancing rapi, sepatu mengkilap, lalu bergegas ke garasi bawah tanah. Mobil mewah hitam itu sudah siap, Dika memeriksa semuanya — bensin cukup, ban baik, kemudi nyaman. Dia duduk di kursi pengemudi, napasnya diatur tenang, senyum tak bisa hilang dari wajah.

Tepat pukul sepuluh, pintu lift terbuka. Vanesha melangkah keluar — gaun blazer anggun, rambut tertata rapi, wajahnya tenang dan cantik. Dika langsung turun, membukakan pintu belakang untuknya.

"Mobil sudah siap, Nona Bos!" ucap Dika semangat sambil memberi hormat kecil.

Vanesha tersenyum masuk ke dalam mobil. "Terima kasih, Dika. Duduklah, kita berangkat," ucap Vanesha lembut.

Dika melompat ke kursi depan, menyalakan mesin, lalu mobil melaju perlahan keluar dari gedung. Jalan menuju Sidoarjo pagi itu lumayan ramai, tapi Dika menyetir dengan tenang dan hati-hati — bukan cuma karena aturan, tapi karena ada orang paling berharga di kursi belakang.

"Kamu sudah pernah ke cabang Sidoarjo?" tanya Vanesha pelan dari belakang.

"Belum pernah, Nona Bos. Tapi sudah pelajari peta, jalannya jelas, nggak akan nyasar!" ucap Dika sambil menoleh sedikit. "Percaya sama saya ya?"

Vanesha tertawa kecil. "Aku percaya. Kalau sama kamu aku nggak percaya, sama siapa lagi?" ucap Vanesha lembut.

Kata-kata itu membuat dada Dika terasa hangat sekali. Dia tersenyum sendiri, menatap jalan di depan dengan makin semangat. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol — soal rencana kerja, soal suasana di kantor, soal hal-hal kecil yang sederhana. Vanesha bercerita tentang masa kecilnya, tentang impian membangun perusahaan ini, dan Dika mendengarkan dengan saksama, sesekali menyahut dengan candaan yang bikin Vanesha tertawa.

Tak terasa mobil mulai masuk kawasan industri Sidoarjo. Udara di sini agak beda — lebih terbuka, angin berhembus bebas. Vanesha menatap ke luar jendela, wajahnya tenang tapi ada yang berubah.

"Kamu tahu, Dika... dulu aku sering ke sini sama ayah," ucap Vanesha pelan. "Dia yang ajarkan kalau mau bangun sesuatu yang kokoh, harus mulai dari fondasi yang kuat."

"Dan Nona Bos sudah buktikan itu sendiri," ucap Dika lembut. "Fondasinya kuat — kerja keras, kejujuran, dan orang-orang yang setia di sampingnya."

Vanesha tersenyum tipis, menatap punggung Dika di kursi depan. "Termasuk kamu," ucap Vanesha pelan.

Dika tersipu sedikit, menahan senyum lebar. "Saya cuma orang yang kebetulan berdiri di tempat yang benar," ucap Dika tulus.

Mobil akhirnya berhenti di depan gedung cabang — bangunan bersih dan modern, karyawan sudah menunggu di depan pintu menyambut kedatangan mereka. Dika turun duluan, membukakan pintu Vanesha, berdiri tegak di sampingnya saat mereka berjalan masuk.

Seharian penuh Vanesha memimpin rapat, mengecek laporan, berbicara dengan staf dan klien. Dika menunggu di luar ruangan, tetap siaga, sesekali berjalan memeriksa lingkungan, memastikan semuanya aman. Saat rapat selesai sore harinya, Vanesha keluar dengan wajah puas.

"Semuanya berjalan baik. Tim di sini hebat," ucap Vanesha sambil berjalan menuju mobil. "Terima kasih sudah menunggu, Dika."

"Senang bisa menemani, Nona Bos," ucap Dika sambil membukakan pintu.

Perjalanan pulang lebih tenang. Langit mulai jingga, lampu jalan menyala satu per satu. Vanesha duduk di belakang, tapi kali ini dia memajukan kursi sedikit, berbicara lebih dekat.

"Dika... sejak kejadian rumah tua itu, aku merasa makin tenang kalau ada kamu di sampingku," ucap Vanesha pelan. "Bukan sekadar dijaga. Tapi dipahami."

Dika menatap cermin depan sebentar, bertemu mata Vanesha. "Saya senang bisa bikin Nona Bos merasa begitu," ucap Dika lembut. "Karena Nona Bos juga bikin saya merasa berguna, dihargai, dan punya tempat."

Vanesha tersenyum lembut, tangannya menyentuh sandaran kursi depan tempat Dika duduk. "Kamu bukan sekadar berguna, Dika. Kamu penting," ucap Vanesha pelan.

Jantung Dika berdebar pelan, tapi dia tetap menyetir tenang. "Terima kasih. Itu pujian terindah yang pernah saya dengar," ucap Dika tulus.

Mobil melaju membelah senja, membawa mereka pulang — bukan cuma ke tempat tinggal, tapi ke tempat di mana hati mereka makin merasa di rumah. Di antara percakapan hangat dan keheningan yang nyaman, satu hal sudah jelas: hubungan mereka bukan lagi sekadar bos dan penjaga. Ada sesuatu yang tumbuh pelan, indah, dan kokoh — sama seperti fondasi yang dibangun Vanesha.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!