Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Part 33
Setelah turun dari mobil, Alfan melangkahkan kakinya ke arah kantornya. Ekspresi wajahnya tampak lebih cerah dari pagi biasanya, itu karena kemarin Alfan bermain dengan Ella di ruangannya, banyak waktu yang ia habiskan untuk menemani bocah perempuan itu. Sore harinya, Alfan mengantarkan Tina dan adiknya itu ke rumahnya, Alfan sempat berbincang-bincang dengan Tante yang ia tahu bernama Laily dan juga papanya Tina. Mereka begitu hangat padanya dan bahkan mengajaknya makan malam bersama.
Sebenarnya Tina sudah menyuruhnya untuk pulang dan juga menolak permintaan tantenya untuk menawarkannya mampir, namun bukan Alfan namanya bila tidak dijadikan kesempatan untuk lebih dekat dengan mereka.
Meskipun suasana makan malam saat itu begitu sederhana, hanya dengan lauk seadanya, entah kenapa Alfan merasa nyaman berada di sana, ia bahkan hampir tidak bisa melupakan rasanya. Hal kecil bisa menjadi kebahagiaan, banyak tawa yang terukir tulus dari bibir mereka membuat Alfan sempat iri karena keluarganya jarang bisa bersama, namun keluarga Tina begitu melengkapi dengan indahnya meski suasananya tak bisa dikatakan mewah.
Tidak seperti biasanya, kali ini Alfan berjalan sembari tersenyum, memperlihatkan keramahan yang tidak pernah ia lakukan di depan banyak orang. Hatinya benar-benar bahagia sekarang, merasa sulit untuk diabaikan terlebih lagi disembunyikan.
Banyak tatapan keheranan dari para karyawannya, mereka seperti penasaran dan bertanya-tanya ada apa dengan bos mereka. Sedangkan Alfan yang menyadarinya bersikap tidak peduli, kalau biasanya ia mungkin akan menatap tajam dan bahkan menegur siapapun yang berani menatap tak sopan ke arahnya.
Sekarang Alfan seperti orang tidak peduli lagi, hatinya sedang berbunga-bunga kali ini, seolah harapannya untuk semakin dekat dengan Tina hampir menjadi kenyataan. Sampai saat kebahagiaannya itu terganggu oleh suara seseorang yang sedang memanggil namanya, seperti suara wanita yang sangat dikenalinya.
"Kak Alfan," teriak seseorang dari arah belakang, membuat Alfan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke asal suara, di mana ada Diandra di sana.
"Diandra. Kenapa dia ada di sini?" gumamnya lirih merasa tak mengerti kenapa wanita itu bisa berada di kawasan kantornya.
"Hai, Kak." Diandra menyunggingkan senyumnya ke arah Alfan setelah berada di depannya.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Kak Alfan enggak tahu ya? Mulai kemarin aku dan keluargaku pindah ke sini, jadi mulai sekarang kita satu kota." Diandra menjawab bersemangat yang tentu saja membuat Alfan terkejut mendengarnya.
"Pindah ke sini? Maksud kamu,sekarang kamu tinggal di kota ini?"
"Iya, Kak. Keren kan?"
"Untuk apa?" tanya Alfan tak habis pikir, sedangkan Diandra justru cemberut, seolah kecewa dengan pertanyaan Alfan yang terkesan tak peka.
"Ya enggak apa-apa sih, Kak. Memangnya harus ada alasan ya kalau kita mau pindah ke suatu tempat?"
"Tentu saja, Ra. Kamu dan keluargamu itu terlalu mendadak pindah ke sini, bagaimana mungkin kamu enggak punya alasan untuk itu?"
"Ada sih sebenarnya, tapi aku takut Kak Alfan enggak percaya." Diandra menyunggingkan senyum penuh artinya membuat Alfan penasaran dengan ulahnya.
"Apa?"
"Aku mau melamar kerja di perusahaan Kak Alfan. Boleh kan, Kak?" Alfan sempat terkejut mendengar jawaban Diandra, merasa tak mengerti saja kenapa wanita itu pindah ke kota ini hanya karena ingin melamar kerja di perusahaannya.
"Bukannya kamu akan menikah? Untuk apa kamu melamar kerja di sini?" tanya Alfan tak habis pikir, namun Diandra justru tersenyum dan menggeleng pelan.
"Aku enggak jadi menikah, Kak. Acara pertunangan kemarin itu hancur, aku juga mau berterima kasih dengan Kak Alfan, karena sudah menggagalkan perjodohanku dengan lelaki itu. Terima kasih, Kak." Diandra merengkuh lengan Alfan, yang tentu saja membuat Alfan tak nyaman.
"Apa maksud kamu? Aku enggak berniat menggagalkan apapun, jadi jangan berterima kasih." Alfan menarik lengannya dari tangan Diandra.
"Tapi tetap saja, Kak Alfan yang sudah membantuku." Diandra tersenyum manis, membuat Alfan tak nyaman berada di sekitarnya.
"Terserah kamu, aku harus pergi." Alfan melangkahkan kakinya, namun Diandra tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Tunggu, Kak!"
"Ada apa lagi?"
"Aku boleh kan kerja di sini?" tanya Diandra sembari memohon ke arah Alfan yang tampak bingung harus menjawab apa.
"Berikan saja surat lamarannya di bagian HRD, nanti kamu tunggu saja hasilnya. Sudah ya, aku harus pergi." Alfan kembali melangkahkan kakinya, yang kali ini membuat Diandra benar-benar merasa muak, merasa kecewa dengan sikapnya yang jauh berubah.
"Kenapa Kak Alfan kaya gini sih ke aku? Kak Alfan sudah berubah, Kak Alfan sudah enggak kaya dulu lagi." Diandra mengeluh kesal yang berhasil menghentikan langkah Alfan.
"Memangnya siapa yang sudah membuatku berubah? Kamu sendiri, Ra. Kamu yang mencintaiku, kamu juga yang sudah menghancurkan hubungan baik kita. Andai saja kamu bisa mengontrol perasaan kamu, semua juga enggak akan kaya gini." Alfan menoleh ke arah Diandra yang menggeleng pelan.
"Bukan, Kak. Bukan aku penyebabnya. Tapi wanita yang bernama Tina itu yang sudah membuat hubungan kita renggang, dia sudah menggoda Kak Alfan kan, sampai Kak Alfan mau menikah sama dia." Diandra menatap serius ke arah Alfan yang tampak lelah dengan sikap Diandra yang tidak pernah berubah.
"Jangan pernah kamu bawa nama Tina, karena sejak awal kita itu juga enggak ada apa-apa. Kamu itu sudah aku anggap sebagai adikku, enggak lebih. Jadi jangan pernah salahkan siapapun untuk kesalahan kamu sendiri, karena kamu yang sudah membuat semuanya berubah." Alfan menunjuk ke arah wajah Diandra yang masih merasa tak bersalah.
Di sisi lainnya, Tina yang baru sampai di kantor dibuat penasaran dengan apa yang sedang terjadi saat ini, di mana bosnya sedang bersama dengan wanita yang ia tahu bernama Diandra. Mereka tampak bersitegang oleh sesuatu hal, membuat Tina tidak bisa tinggal diam, ia harus merelai mereka semampu yang ia bisa.
"Enggak, Kak. Enggak. Sejak awal aku memang sudah suka sama Kak Alfan, enggak ada perbedaan apapun, hanya karena aku mengatakannya, bukan berarti Kak Alfan bisa menjauhi aku kan?" Diandra menangis, meminta jawaban atas sikap Alfan yang menurutnya berlebihan.
"Kamu enggak cuma mengatakannya, Ra. Kamu bahkan meminta orang tua kita untuk menjodohkan kita, sikap kamu itu yang membuat aku menjauhimu." Alfan kembali menunjuk ke arah Diandra yang masih menangis, menatap sendu ke arah Alfan yang masih belum melupakan semuanya.