NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hatiku Hampa Tanpa,Anya

Chandra menyapa Bang Rahmat, tukang renovasi yang direkomendasikan Kakek Lubis.

"Bang Rahmat..." sapa Chandra santun sambil menjabat tangannya.

"Iya, Tuan. Kakeknya ada?"

"Ohh, barusan Paman keluar. Tapi tidak apa-apa, bisa sama saya kok."

"Baik kalau begitu, Tuan."

"Silakan masuk dulu, Bang Rahmat," Chandra mengarahkan jalan. "Sisi, buatkan kopi!" teriak Chandra.

"Teman-teman semua, sebentar ya, aku pergi duluan!" pamit Sisi pada anak-anak SMA di belakang.

"Siap, Kak Sisi!" serempak pasukan muda-mudi itu menjawab.

"Baik, Tuan!" Sisi berlarian dari arah halaman belakang menuju dapur.

"Jadi gimana, Tuan? Apa yang bisa saya bantu perbaiki?" tanya Bang Rahmat yang kini sudah duduk santai di ruang tengah galeri bersama Chandra.

"Ahh, begini Bang Mamat. Saya mau bikin studio lukis. Di depan kebetulan ada gudang yang masih bisa dipakai. Ini gambarannya," Chandra memberikan sketsa interior yang baru saja dia gambar.

"Siap, Tuan, dengan senang hati!" jawab Bang Rahmat sambil tersenyum meyakinkan.

"Panggil Chandra saja biar lebih nyaman."

"Siap, Tuan Chandra."

Sisi pun menghampiri mereka dan menaruh dua cangkir kopi di atas meja. "Silakan kopinya, Tuan."

Mata Bang Rahmat seketika terbelalak melihat wanita secantik bidadari menyajikan kopi untuk mereka.

"Gila, cantik sekali wanita ini! Hebat sekali Tuan Chandra bisa dapat istri secantik ini," batin Bang Rahmat berdecak kagum.

"Tuan Chandra, istri Anda cantik sekali seperti bidadari."

"Ah, Bang Mamat kenal istri saya?"

"Yang barusan bukan, Tuan?"

"Hehehe, bukan Bang Mamat. Itu pelayan saya," jawab Chandra sambil tersenyum tipis.

"Buset! Pelayannya saja secantik ini, apalagi istrinya?!" batin Bang Rahmat makin keheranan.

"Istri saya lagi di belakang. Sayang, sini!" teriak Chandra memanggil.

Yueji yang sedang mengobrol dengan para fansnya seketika terhenti. "Sebentar ya..."

"Baik, Kak Yueji!"

"Apa, Sayang?!" balas Yueji berteriak dari kejauhan.

"Ke sini dulu sebentar!"

Yueji berlarian kecil menuju ruang tengah. Wajah Bang Rahmat seketika cengong melihat wanita yang jauh lebih cantik melangkah mendekati mereka.

"Hah... Tempat macam apa ini? Sejak kapan Galeri Teratai Hitam dihuni para bidadari? Perasaan selama aku merenovasi tempat ini, yang paling cantik cuma Nona Sabrina," gumam Bang Rahmat kebingungan.

"Iya, Sayang?" ucap Yueji yang kini tanpa ragu memeluk leher Chandra dari belakang.

"Nah Bang Mamat, ini baru istri saya."

"Nyonya..." Bang Rahmat tersenyum canggung.

"Iya..." Yueji membalas ramah dengan senyuman anggun.

"Ini siapa, Sayang?"

"Ini Bang Rahmat, yang akan mengerjakan studio lukis aku, Sayang."

"Kok aku baru tahu?" tanya Yueji heran.

"Kan memang dadakan, Sayang."

"Ohhh... Kamu terganggu dengan fans aku, ya?"

"Bu-bu-bukan begitu, Sayang! Aku hanya ingin lebih fokus saja," jawab Chandra gelagapan takut istrinya tersinggung.

"Emmm... Bagus deh!" Yueji terlihat berpikir sejenak, lalu menyetujui keputusan suaminya.

"Tumben enggak marah?"

"Justru bagus! Tadinya aku juga mau nyuruh kamu begitu. Soalnya aku bakal mengadakan gathering setiap hari, hehehe!" jawab Yueji kegirangan.

"Sudah kuduga..." Wajah Chandra mendadak datar dengan mata menyipit pasrah.

"Sudah kan? Aku mau balik lagi ke anak-anak!" ucap Yueji tidak sabar.

"Iya, sana-sana."

"Dih, ngusir!" ucap Yueji cemberut.

"Lah, katanya mau ke anak-anak?"

"Huuu!" Yueji menjelurkan lidahnya lalu berlari kembali ke halaman belakang.

"Hehehe, maaf Bang Mamat, ada iklan sebentar barusan."

"Tidak apa-apa, Tuan Chandra."

"Jadi bagaimana, bisa mulai kapan?"

"Besok juga bisa. Hari ini saya ukur dulu lalu menghitung kebutuhan materialnya, nanti saya kasih catatannya ke Tuan Chandra."

"Oh, baik. Kalau begitu mana nomor Bang Rahmat?"

"Ini, Tuan Chandra."

Mereka pun saling bertukar kontak.

Di bawah terik matahari yang menyengat, Kakek Lubis berjalan sambil memangku Anya. Seharian mereka menyusuri kota untuk menemukan keluarga balita tersebut.

"Lumayan melelahkan juga... Tapi aku bingung, di sini kan jarang sekali ada turis asing, bahkan bisa dibilang tidak ada kecuali di Bali. Terus anak ini kok bisa ada di sini ya?" ucap Kakek Lubis keheranan memandangi Anya.

"Sayang, kamu capek tidak?" tanya Kakek Lubis lembut.

Anya hanya tersenyum manis memandangi wajah Kakek Lubis.

"Senyuman anak ini membuatku tenang dan rasa capekku hilang... Apa dia ada hubungannya dengan kekuatan Chandra, ya?" batin Kakek Lubis penuh tanya.

"Kakek!" terdengar teriakan dari arah belakang.

"Sabrina...?"

Terlihat mobil Sabrina melaju pelan mendekat ke arah mereka.

"Kakek ngapain panas-panasan kayak gini? Terus itu anak siapa? Kakek nyulik anak orang, ya?!" tanya Sabrina sambil mengerutkan dahi.

"Sembarangan kamu! Justru aku mau mengantarkan dia ke keluarganya. Tapi sedari tadi aku berputar-putar tidak menemukan turis asing," jawab Kakek Lubis kebingungan.

Sabrina menatap anak kecil di pangkuan kakeknya. "Lucu sekali anak ini... What's your name?" tanya Sabrina sambil memanyunkan bibirnya.

"A-A-Anya!"

"Wihh, bisa jawab!" Sabrina kegirangan. "Kakek, sudah, anak ini titip Sabrina saja. Kakek balik sana ke galeri!"

"Tidak! Aku yang pertama menemukannya!"

"Apa-apaan sih Kakek ini?! Itu anak orang! Yang ada nanti Kakek masuk penjara gara-gara tidak bisa bahasa Inggris! Mau dianggap penculik?!"

Mendengar penjelasan cucunya yang sangat masuk akal, Kakek Lubis langsung mengalah. Dia berpikir keras dengan mata yang sesekali melirik curiga ke arah Sabrina.

"Apa sih, Kakek!" bentak Sabrina risih.

"Baiklah, baiklah... Ini..." Kakek Lubis akhirnya menyodorkan Anya.

Anya memandangi Sabrina, lalu mengulurkan tangannya sambil berseru riang, "Cablina!"

"Heh! Tuh kan, dia maunya sama aku!"

"Ayoyoy... Baru saja aku bahagia..." Kakek Lubis meratapi nasibnya dengan wajah dramatis.

"Bahagia, bahagia! Yang ada tuh sakit pinggang Kakek kambuh! Mau aku tempelin koyo panas seluruh badan?!"

"Jahat banget sih..." Kakek Lubis memelas.

"Sudahlah, ayo masuk mobil biar aku antar Kakek ke galeri!"

"Iya Sayang, iya..."

Kakek Lubis pun pasrah masuk ke dalam mobil Sabrina.

"Anya sayang, kamu ikut Mama Sabrina dulu ya, cari keluarga kamu," ucap Sabrina yang kini menggendong Anya di pangkuannya.

"Mama~" Anya mendekap leher Sabrina erat-erat.

"HUAAA! Jadi pengin punya anak!" teriak Sabrina dengan wajah terharu campur sedih.

"Makanya nikah! Jangan jomblo mulu!" timpal Kakek Lubis cepat.

"KAKEKKK!" Mata Sabrina menatap tajam Kakek Lubis.

"Iya maaf, maaf, Sayang..."

Dengan cepat mobil Sabrina mengantarkan Kakek Lubis sampai di depan galeri.

"Sayang, ingat Kakek ya!" teriak Kakek Lubis dramatis dari pintu galeri kepada Anya yang kini duduk manis di samping Sabrina.

"Sudah, masuk sana! Anak ini biar aku yang urus!" ketus Sabrina lalu menancap gas mobilnya.

VROOOM!

"TIDAKKK! ANYAAA!" teriak histeris Kakek Lubis yang kini sengaja menjatuhkan badannya meliuk-liuk di lantai.

"Paman lagi casting film kah? Bagus banget sedihnya," ucap Chandra santai yang mendadak sudah berdiri di belakang Kakek Lubis.

"Hah! Kamu ini!" Kakek Lubis bangkit dengan wajah kesal lalu ngeluyur masuk ke galeri.

"Kok marah sih, hahaha! Paman, tunggu!" teriak Chandra berlari menyusul Kakek Lubis.

Kini mereka sudah berada di dalam ruangan milik Kakek Lubis.

"Gimana Chandra, Rahmat sudah ke sini?"

"Sudah, Paman. Dia juga sudah kasih aku catatan material yang harus dibeli."

"Syukurlah, semakin cepat kan semakin bagus, Chandra."

"Paman terlihat tidak bergairah? Kenapa?" tanya Chandra heran melihat tingkah aneh Kakek Lubis.

"Entah kenapa, setelah memangku anak tadi, aku jadi kepikiran dia terus..." ucap Kakek Lubis sambil menghela napas panjang.

"Anak bule tadi?"

"Iya..."

"Aneh banget ya, bisa-bisanya ada anak turis yang nyasar ke dalam ruangan."

"Mana aku tahu, Chandra! Seandainya Sabrina mentok tidak menemukan keluarganya, biar aku adopsi saja dia," ucap Kakek Lubis penuh keyakinan.

Tiba-tiba terdengar riuh suara para fans Yueji di ruang tengah. Mereka sedang berpamitan kepada Yueji dan Sisi.

"Wah, kita banyak dapat hal bagus banget hari ini!" ucap salah satu anak SMA dari kelompok tersebut.

"Lain kali kami mampir lagi ya, Kak Yueji!"

"Dengan senang hati, Teman-teman!" jawab Yueji sambil tersenyum manis.

"Paman, sepertinya gathering-nya sudah selesai. Aku keluar dulu ya."

Kakek Lubis tidak menjawab, hanya memberikan isyarat melambaikan tangan. Saking merasa hampa, bicaranya pun jadi tidak bergairah.

Anak-anak sekolah itu pun tertib keluar galeri, diiringi Yueji dan Sisi yang mengantar hingga ke depan pintu.

"Wah, bahagia sekali ya istriku..." gumam Chandra tersenyum.

"Sayang~" Yueji membalikkan badannya lalu langsung memeluk Chandra erat-erat.

"Sayang, nanti aku izin gathering di luar, ya?" Yueji merayu Chandra sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Memangnya mau gathering di mana artis kita ini?"

"Aku mau bawa mereka semua ke Jepang! Hehehe~"

"Hah?! APA?!" Chandra terkejut setengah mati.

Seketika lututnya lemas tak berdaya. "Mati aku!!!"

1
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!