Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tiba-tiba mata Parman menangkap sebuah gundukan kecil berwarna biru tergeletak di tengah jalan raya.
"Astaga Tuan! Ada orang di tengah jalan!" teriak Parman panik sambil membanting setir mobilnya ke kiri.
Ciiittt!
Suara decitan ban mobil yang beradu dengan aspal basah terdengar sangat memekakkan telinga.
Brak!
Meskipun sudah berusaha mengerem mobil itu tetap menyenggol tubuh kecil Rio yang tidak berdaya.
Tubuh Rio terlempar sejauh dua meter dan berguling di atas aspal yang kasar.
Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya bercampur dengan air hujan.
Mobil mewah itu akhirnya berhenti setelah menabrak pembatas jalan hingga penyok.
"Gila kamu Parman! Kamu mau membunuhku?!" teriak Bramantyo sambil memegangi kepalanya yang terbentur sandaran kursi.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja, saya menabrak seseorang di depan sana," jawab Parman gemetar ketakutan menunjuk ke arah tubuh Rio.
Mata Bramantyo langsung membelalak lebar melihat sesosok tubuh kecil terkapar penuh darah di tengah jalan.
Rasa marah karena hampir celaka seketika berubah menjadi rasa panik yang luar biasa.
Bramantyo segera membuka pintu mobilnya dan berlari menembus hujan tanpa mempedulikan setelan jas mahalnya.
"Hei nak! Bangun nak!" panggil Bramantyo sambil membalikkan tubuh Rio yang tengkurap.
Jantung CEO tua itu seakan berhenti berdetak melihat wajah pucat Rio yang berlumuran darah.
Dia memeriksa denyut nadi di leher Rio dengan jari-jarinya yang bergetar.
"Nadinya sangat lemah! Cepat angkat dia ke dalam mobil Parman! Kita putar balik ke rumah sakit terdekat!" teriak Bramantyo panik.
"Tapi Tuan bagaimana dengan penerbangan ke luar negeri dan proyek ratusan miliar itu?" tanya Parman ragu-ragu.
"Persetan dengan proyek sialan itu! Nyawa anak ini jauh lebih penting dari uang berapapun!" umpat Bramantyo marah besar.
Parman buru-buru mengangkat tubuh Rio yang sudah tidak sadarkan diri itu ke dalam mobil mewah mereka.
Bramantyo duduk di kursi belakang sambil memangku kepala Rio yang terus mengeluarkan darah.
"Bertahanlah nak, jangan mati di mobilku," bisik Bramantyo menepuk pelan pipi dingin Rio.
Brum!
Mobil sedan penyok itu langsung melaju putar balik menuju rumah sakit terdekat yang kebetulan adalah rumah sakit elit milik Grup Sentosa.
Sementara itu di ruang perawatan darurat rumah sakit sebelumnya.
Santi berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar rawat anaknya dengan sekantung plastik berisi obat-obatan gratis.
Dia berhasil membujuk bagian administrasi untuk memberikan beberapa obat penahan rasa sakit untuk sementara waktu.
"Ibu bawakan obat buat kamu Rio, kamu harus kuat ya nak," gumam Santi membuka pintu kamar Rio perlahan.
Kriet.
Pintu terbuka dan ruangan itu tampak kosong melompong.
Hanya ada ranjang rumah sakit yang berantakan dan selang infus yang menjuntai meneteskan sisa darah ke lantai.
"Rio? Kamu di mana nak? Jangan main petak umpet sama Ibu," panggil Santi mulai panik mencari ke kamar mandi.
Kamar mandi juga kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Mata Santi lalu tertuju pada sebuah kertas lipat berbercak darah di atas meja kecil.
Tangannya bergetar saat meraih surat itu dan membaca setiap baris tulisan tangan anaknya yang jelek tapi sangat rapi.
"Ibu yang Rio sayangi, tolong jangan menangis baca surat ini..."
Kalimat pertama itu langsung membuat pertahanan Santi runtuh seketika.
Dia membaca surat itu dengan air mata yang mengalir deras membasahi kertasnya.
"Rio dengar semuanya dari balik tirai kamar, Ibu mau jual ginjal dan kasih jantung Ibu buat Rio ya?"
"Ibu itu bodoh banget, kalau Ibu mati yang jagain Rizky siapa? Yang cari uang buat makan siapa?"
Santi jatuh terduduk di lantai rumah sakit meremas surat itu kuat-kuat di dadanya.
"Rio! Kenapa kamu lakuin ini nak?! Kamu mau ke mana anak bodoh!" jerit Santi histeris memecah keheningan rumah sakit.
Tangisan pilunya menggema di sepanjang lorong bangsal anak malam itu.
Beberapa perawat yang tertidur langsung terbangun dan berlarian mendatangi kamar Rio.
"Ada apa Bu? Loh di mana pasiennya?" tanya perawat itu kebingungan melihat ranjang yang kosong.
"Anak saya kabur Sus! Dia dengar saya mau jual ginjal buat bayar operasinya!" isak Santi menyerahkan surat Rio kepada perawat itu.
Perawat itu membaca surat Rio dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
"Astaga anak ini sangat pengertian, dia tidak mau membebani ibunya," gumam perawat itu sedih.
"Tolong bantu saya cari anak saya Sus! Dia belum minum obat jantungnya! Dia bisa mati di luar sana!" mohon Santi menarik-narik baju perawat itu.
"Ibu tenang dulu, saya akan laporkan ke pihak keamanan rumah sakit untuk mencari ke sekitar area ini," kata perawat itu segera bergegas keluar.
Santi tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia bangkit berdiri dan berlari keluar rumah sakit menembus hujan deras.
"Rio! Kamu di mana nak?! Ini Ibu nak!" teriak Santi di tengah jalanan yang sepi dan gelap.
Kakinya yang pincang terus diseret menyusuri trotoar jalan mencari sosok anak sulungnya.
Air hujan menyamarkan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.
"Maafin Ibu Rio! Ibu janji gak akan ngomong aneh-aneh lagi! Pulang nak!" jerit Santi memanggil nama anaknya berulang kali.
Hingga pagi menjelang dan matahari mulai terbit menyinari kota, Santi belum juga menemukan jejak Rio di mana pun.
Anak sepuluh tahun itu menghilang begitu saja tertelan gelapnya malam dan derasnya hujan.
Santi pulang ke rumah petaknya dengan tubuh basah kuyup dan hati yang hancur berkeping-keping.
Rizky yang baru bangun tidur menyambutnya dengan wajah kebingungan.
"Ibu kok sendirian? Kak Rio mana Bu? Kak Rio udah sembuh?" tanya bocah tujuh tahun itu polos.
Santi memeluk erat tubuh kecil anak bungsunya itu dengan tangis yang kembali pecah.
"Kakakmu pergi nak, Kakakmu pergi jauh ninggalin kita berdua," isak Santi menciumi puncak kepala Rizky.
"Kak Rio pergi ke mana Bu? Kenapa gak ajak Rizky main?" tanya Rizky masih tidak mengerti.
"Dia pergi mencari kesembuhannya sendiri nak, Ibu gagal jadi orang tua yang baik buat Kakakmu," tangis Santi semakin menjadi-jadi.
Hari itu adalah hari terburuk dalam hidup Santi dan Rizky.
Mereka kehilangan sosok anak dan kakak yang sangat mereka sayangi demi sebuah pengorbanan yang tragis.
Sementara itu di sebuah rumah sakit elit di pusat kota.
Bramantyo mondar-mandir dengan cemas di depan ruang operasi khusus VIP.
"Bagaimana keadaan anak itu Dokter?" tanya Bramantyo saat seorang dokter keluar dari ruangan.
"Tuan Sentosa, anak itu mengalami benturan cukup keras di kepalanya tapi itu bukan masalah utamanya," jelas dokter itu serius.
"Lalu apa masalahnya? Jangan bilang dia akan mati karena tertabrak mobilku!" ancam Bramantyo marah.
"Anak itu menderita penyakit jantung kronis yang sudah sangat parah, kondisinya saat ini koma," jawab dokter itu memberikan fakta menyakitkan.
"Satu-satunya cara menyelamatkan nyawanya hanya dengan operasi transplantasi jantung secepatnya."
Bramantyo terdiam mendengar penjelasan dokter itu, sebuah ingatan masa lalu tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Lakukan operasinya sekarang juga, berapapun biayanya akan saya tanggung semuanya, carikan donor yang cocok hari ini juga!" perintah Bramantyo tegas tanpa keraguan.
"Baik Tuan Sentosa, kami akan mengupayakan yang terbaik untuknya," angguk dokter itu kembali masuk ke ruang operasi.
Bramantyo menatap pintu ruang operasi itu dengan tatapan penuh arti.
"Anak ini mirip sekali dengan mendiang putraku saat dia masih seumuran itu," gumam Bramantyo pelan.
"Takdir membawanya kepadaku malam ini, aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja."