NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

BAB 13

CEMBURU

Begitu Rey masuk lift untuk pergi kuliah, Lani mulai berkemas.

Ia tidak membawa panci, pakaian kelas, atau tanaman yang hampir mati. Hanya paspor, KTP, kartu bank, obat, laptop, dan beberapa potong pakaian ke dalam koper kabin. Kunci baru akan dipasang siang nanti, tetapi Lani tidak mau menunggu untuk mengetahui apakah Rey bisa menemukan cara lain masuk.

Pukul delapan tiga puluh, ia sudah berada di dalam taksi menuju sebuah hotel di Kuningan.

Pesan Rey masuk saat proses check-in.

`Sudah sarapan?`

Lani mematikan notifikasi tanpa menjawab.

Kamar hotel berada di lantai lima belas. Tidak ada yang tahu nomor kamarnya. Ia mengunci pintu, memasang rantai pengaman, lalu duduk di tepi kasur sambil memegang paspor.

Seharusnya ia merasa lega.

Namun kalimat `Aku yang urus kamu` berulang di kepalanya seperti tuduhan.

Lani tetap pergi ke kelas merangkai bunga siang itu. Ia memaksa diri mengikuti instruktur, memotong batang mawar dengan sudut yang tepat, dan tidak memeriksa sebelas pesan baru dari Rey.

Menjelang malam, ia teringat undangan Gilang.

Tidak datang berarti menghindari masalah. Datang sebentar berarti menunjukkan kepada tetangga bahwa ia bukan perempuan aneh yang menutup diri, lalu ia bisa mengambil beberapa barang dari apartemen sebelum kembali ke hotel.

Lani memilih pilihan kedua dan langsung menyesal saat memasuki lift.

Ia tidak melihat Rey di balik dinding lobi.

Pemuda itu sudah menunggu hampir satu jam setelah pulang kuliah dan menemukan unit Lani kosong. Kartu tamunya memang tidak lagi berfungsi, jadi ia duduk di kedai kopi seberang meja keamanan sambil mengirim pesan yang tidak dibalas. Ketika Lani masuk membawa tas tetapi tanpa koper, Rey mengikuti lift berikutnya.

Dari ujung lorong, ia melihat Lani membuka pintu rumah Gilang.

Rey tidak mengetuk. Ia duduk di tangga darurat, menahan diri dengan keyakinan bahwa di dalam ada banyak tetangga. Satu jam berlalu. Orang-orang mulai keluar. Lima orang, lalu dua perempuan terakhir.

Lani tidak ikut keluar.

Saat itulah Rey berdiri di depan pintu seberang dan mendengar suara Lani menyuruh seseorang melepaskannya.

***

Unit Gilang dipenuhi suara tertawa dan aroma sate.

Ada lima laki-laki dan dua perempuan dari lantai yang sama. Salah seorang ibu membawa anaknya menginap di rumah nenek sehingga bisa makan lebih lama. Seorang pegawai bank mengeluh soal target. Pasangan muda di ujung meja bercerita tentang cicilan apartemen.

Gilang menyambut Lani dengan kemeja kotak-kotak dan senyum lebar.

"Saya pikir Mbak Lani nggak datang."

"Maaf terlambat. Aku ada kelas."

"Yang penting datang. Duduk di sini."

Ia menarik kursi di sebelahnya. Lani sengaja memilih kursi di antara dua tetangga perempuan.

Awalnya makan malam terasa biasa. Gilang bercerita bahwa ia berusia tiga puluh empat dan sudah dua tahun bercerai. Mantan istrinya pindah mengikuti pekerjaan ke Surabaya; pernikahan jarak jauh mereka bertahan kurang dari setahun.

"Sekarang saya menikmati hidup sendiri," katanya, tetapi matanya tertuju pada Lani.

Seorang tetangga menuangkan minuman keras lokal ke gelas kecil. Lani menolak sekali, lalu menerima karena semua orang bersulang menyambut penghuni baru. Gelas kedua datang ketika ia sedang mendengar cerita dan tidak sadar minumannya berbeda. Setelah itu Gilang memberinya anggur buah yang terasa manis.

Kepalanya mulai ringan.

Pukul sepuluh, pasangan muda pulang lebih dulu. Dua perempuan lain menyusul. Satu per satu tetangga berpamitan sampai ruang tamu hanya menyisakan piring kotor, musik pelan, Lani, dan Gilang.

Lani berdiri. "Aku juga pulang. Terima kasih makanannya."

"Tunggu." Gilang memegang pergelangan tangannya. "Duduk sebentar lagi."

Lani menarik tangan. "Sudah malam."

"Unitmu di depan. Dekat." Senyum Gilang berubah. "Saya suka sama Mbak Lani sejak pertama lihat."

"Kita baru kenal."

"Suka nggak perlu lama. Kita sama-sama dewasa, sama-sama sendiri." Ia mendekat. Bau alkohol dari napasnya menusuk. "Malam ini nggak usah pulang. Nggak perlu ada yang tanggung jawab."

"Aku nggak tertarik, Bang."

"Belum mencoba sudah bilang nggak tertarik."

Gilang menunduk hendak mencium. Lani menahan dadanya dengan dua tangan dan memalingkan wajah.

"Jangan."

"Saya nggak akan kasar."

"Aku bilang jangan."

Lani mendorong lebih kuat. Gilang mundur setengah langkah.

"Karena anak muda yang tinggal sama kamu?" tanyanya. "Dia pacarmu?"

"Bukan."

"Kalau begitu masalahnya apa?"

Alkohol membuat lidah Lani lebih jujur dan lebih bodoh. "Kamu juga nggak seganteng Rey."

Wajah Gilang mengeras.

Lani mengambil tas dan berjalan ke pintu. Sebelum tangannya mencapai gagang, dua lengan besar melingkari tubuhnya dari belakang.

"Lepaskan!"

"Jangan jual mahal. Tadi minum sama-sama."

"Minum bukan izin menyentuhku."

Lani menghentakkan tumit ke kakinya. Gilang mengumpat, tetapi belum melepaskan.

Pintu apartemen terbuka dari luar.

Rey berdiri di lorong.

Kemeja kampusnya masih terpasang, lengan digulung sampai siku. Tidak ada senyum di wajahnya. Hanya dingin yang membuat sisa mabuk Lani menguap seketika.

"Lepasin dia," katanya.

Gilang menoleh. "Ini urusan orang dewasa. Anak kecil jangan ikut."

Rey tertawa pendek.

Ia menarik kerah Gilang dan melemparkannya menjauh dari Lani. Pukulan pertama mengenai rahang. Pukulan kedua menghantam perut. Gilang mencoba membalas, tetapi Rey menghindar dan menghantam tulang pipinya.

"Rey, berhenti!"

Tidak ada jawaban.

Gilang jatuh menabrak meja. Botol pecah. Rey menariknya berdiri hanya untuk memukul lagi.

Pintu-pintu di lorong mulai terbuka. Seseorang mengangkat ponsel. Seorang ibu berteriak memanggil satpam.

"Dua menit lagi dia bisa luka berat!" Lani memeluk lengan Rey dari belakang. "Kamu masih punya perkara di polisi. Mau penangguhanmu dicabut?"

Kalimat itu akhirnya menembus amarahnya.

Rey berhenti dengan tinju terangkat.

Gilang tergeletak di lantai, hidung berdarah dan bibir pecah. Ia masih sadar, tetapi tidak mampu berdiri.

Rey mencengkeram kerahnya sekali lagi. "Berani sentuh dia lagi, kupatahin tanganmu."

"Saya lihat semuanya," kata tetangga perempuan dari pintu. "Tadi Mbak Lani sudah bilang jangan."

Tetangga lain menelepon keamanan gedung. Omongan akan menyebar sebelum malam selesai. Jika Gilang melapor, Rey bisa kembali diperiksa. Mediasi dan surat perdamaian mungkin masih mungkin karena Gilang sadar dan luka tampak terbatas, tetapi bukan berarti perbuatannya tanpa akibat.

"Panggil petugas medis juga," kata salah satu tetangga. "Hidungnya mungkin patah."

Rey mengeluarkan dompet dan menjatuhkan kartu namanya di meja. "Kirim tagihan pemeriksaan ke alamat itu. Gue nggak lari."

"Ini bukan cuma soal tagihan," tegur Lani. "Kamu bisa dilaporkan."

"Biar."

Jawaban itu menunjukkan ia masih belum memahami apa pun tentang tanggung jawab yang dijanjikannya di tangga darurat.

Lani berjongkok hendak memeriksa Gilang.

Rey menangkap belakang lehernya dan menariknya berdiri.

"Dia butuh diperiksa."

"Satpam sama tetangga bisa urus."

"Kamu yang memukulnya!"

"Karena dia pegang lo."

Rey mengambil kunci baru dari tangan Lani, membuka unit di seberang, lalu mendorong Lani masuk. Ia menutup pintu di depan para tetangga, tetapi tidak mengambil kunci itu untuk dirinya sendiri.

Klik kunci terdengar.

Lani berdiri dengan punggung menempel pintu. Rey menahan kedua telapak di sisi kepalanya, tidak menyentuh tubuhnya tetapi mengurung jalan.

"Sekarang giliran kita yang hitungan," katanya.

"Aku nggak minta kamu memukul siapa pun."

"Gue sudah bilang jangan bukain pintu buat dia. Lo malah mabuk di rumahnya."

"Ada tetangga lain tadi. Aku nggak tahu semua akan pulang."

"Dia sentuh lo di mana?"

"Rey."

"Jawab."

"Dia cuma memegang tangan."

"Gue lihat dia peluk lo."

"Aku menolak!"

"Sebelumnya? Dia cium lo?"

Lani menggeleng. Air mata naik karena marah, malu, dan sisa takut. "Nggak."

Rey memegang dagunya, memeriksa wajah dan lehernya seolah mencari bekas yang tidak ada. Sentuhannya keras, tetapi berhenti ketika Lani memukul tangannya.

"Kamu tidak punya hak memeriksaku."

"Lo bilang mau pindah, terus hilang seharian." Tatapan Rey jatuh ke koper kabin dekat sofa. "Lo tinggal di hotel?"

Lani diam.

"Berarti pagi tadi lo bohong."

"Aku takut tinggal bersamamu. Kamu membongkar pintuku."

Untuk sesaat, kemarahan Rey goyah. Dari lorong terdengar suara satpam menanyakan siapa yang memulai perkelahian.

"Kuncinya sudah gue ganti," katanya.

"Kamu pikir masalahnya selesai karena ada kunci baru?"

"Gue nggak akan panggil tukang lagi."

"Aku juga pernah bilang jangan sentuh aku, tapi kamu terus mencari pengecualian. Menggendong bukan menyentuh, memegang dagu bukan menyentuh, mendorong bukan menyentuh. Kamu selalu punya alasan."

Rey menurunkan pandangan ke tangan yang tadi memegang leher Lani. Jarinya perlahan terbuka.

"Aku datang ke hotel karena di sana ada pintu yang nggak bisa kamu buka," lanjut Lani. "Kalau kamu benar-benar mau aku mengurusmu, berhenti membuatku takut."

Rahang Rey mengencang. Ia tidak meminta maaf, tetapi kali ini ia mundur setengah langkah dan memberi Lani ruang bernapas.

"Aku harus keluar dan jelaskan," kata Lani.

Rey tidak memberi jalan. "Nanti gue yang hadapi."

"Kamu bahkan belum bisa mengendalikan tanganmu."

"Tapi gue datang sebelum dia melakukan lebih jauh."

"Itu tidak menghapus semua yang kamu lakukan kepadaku."

Kalimat itu menghantam. Rey menatapnya lama, lalu menurunkan tangan dari dagu.

Namun tubuhnya tetap menghalangi pintu.

"Sudah," katanya pelan, lebih mengancam daripada bentakan. "Mulai sekarang kamu nggak bakal ke mana-mana lagi."

Lani mengangguk sambil menangis, karena berdebat hanya akan membuat mereka kembali meledak.

Di belakang punggungnya, jemarinya mencengkeram map tipis berisi paspor, KTP, dan kartu bank.

Rey melihatnya, tetapi tidak membantah.

Keheningan di antara mereka tidak pernah terasa benar-benar aman.

Keinginannya untuk pergi belum mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!