Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Sang Arsitek
Suara dentang lonceng penanda berakhirnya jam pelajaran siang bergemerincing nyaring, memecah kesunyian di sepanjang koridor lantai dua gedung utama SMA Bina Bangsa. Para siswa berhamburan keluar dari ruang kelas menuju loker atau kantin, menciptakan gelombang suara tawa, obrolan ringan, dan langkah kaki yang bergemuruh di atas lantai porselen putih yang mengkilap.
Di dalam ruang guru yang luas dan berpendingin udara sejuk, suasana tampak jauh lebih tenang. Deretan meja kerja kayu mahoni tersusun rapi dengan tumpukan buku laporan dan kertas ujian di setiap sudutnya. Di meja paling sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah lapangan olahraga, Pak Darma duduk sambil merapikan setumpuk lembar jawaban tugas matematika kelas sebelas.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan terdengar di daun pintu ruang guru yang terbuka lebar. Pak Darma mendongak, lalu tersenyum tipis begitu melihat sosok remaja berambut hitam rapi dengan kemeja seragam putih bersih berdiri di ambang pintu.
"Masuklah, Rian," sambut Pak Darma ramah, melambaikan tangan menyilakan pemuda itu mendekat. "Aku tahu kau pasti akan datang ke sini sebelum jam istirahat berakhir."
Rian melangkah masuk dengan tenang, membawa selembar formulir pendaftaran olimpiade sains yang sudah terisi lengkap dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan presisi. Ia berhenti tepat di depan meja Pak Darma, lalu meletakkan formulir tersebut di atas permukaan meja kayu.
"Ini formulir pendaftaran olimpiade matematika dan fisika tingkat regional yang kemarin diberikan oleh Maya, Pak," kata Rian dengan nada suaranya yang tenang dan sopan. "Semua data sudah saya lengkapi."
Pak Darma meraih lembar formulir itu, membacanya sekilas, lalu mengangguk puas. Matanya berbinar kagum melihat kolom jawaban esai analitis tambahan di bagian belakang formulir yang diisi oleh Rian dengan menggunakan rumus pembuktian tingkat universitas.
"Luar biasa, Rian," puji Pak Darma sambil melepaskan kacamata pembacanya dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap lekat-lekat murid kebanggaannya itu. "Sejujurnya, dari sekian banyak siswa yang pernah kudidik selama belasan tahun mengajar di sekolah ini, kau adalah satu-satunya yang tidak pernah berhenti mengejutkanku. Apakah kau sadar bahwa soal esai di bagian belakang formulir itu bahkan sering kali membuat mahasiswa tingkat dua jurusan matematika murni kewalahan?"
Rian tersenyum tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Matematika bukan sekadar hafalan rumus atau angka mati, Pak. Itu adalah bahasa dasar alam semesta untuk membaca pola dari segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita."
Pak Darma tertawa kecil mendengar filosofi singkat yang diucapkan oleh remaja tujuh belas tahun di depannya. "Bahasa dasar alam semesta... Kalimat yang sangat dalam untuk anak seusiamu. Omong-omong, Rian, apakah akhir-akhir ini ada hal mengganggu di luar jam sekolahmu? Aku dengar dari beberapa guru pembina bahwa situasi di sekitar lingkungan luar kompleks sekolah akhir-akhir ini sedikit tidak kondusif."
Rian menggeleng pelan, menjaga ekspresi wajahnya tetap datar. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Lingkungan di sekitar rumah susun tempat tinggal saya cukup aman, dan saya tahu persis bagaimana cara menjaga diri."
Pak Darma menghela napas pendek, merasa ada sisi misterius dari diri Rian yang sengaja disembunyikan dari dunia luar. Namun, sebagai seorang guru yang menghormati privasi muridnya, ia memilih tidak mendesak lebih jauh. "Baiklah. Jika suatu saat kau membutuhkan bantuan atau sekadar tempat untuk berbicara di luar urusan akademik, pintuku selalu terbuka untukmu, Rian."
"Terima kasih atas perhatiannya, Pak," jawab Rian membungkuk hormat sekadarnya, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang guru.
Sementara itu, di tempat yang sangat kontras dengan dunia sekolah yang terang benderang, sebuah ruangan bawah tanah remang-remang di kawasan komersial distrik barat menjadi pusat ketegangan yang pekat.
Viktor Tan duduk di kursi kepalanya di balik meja marmer hitam, mengepulkan asap sigaret cerutu mahalnya ke udara. Di hadapannya berdiri dua orang agen berpakaian jas hitam yang kemarin siang dikirim untuk menemui Rian di taman belakang SMA Bina Bangsa—termasuk sang agen berkacamata hitam yang wajahnya masih menyisakan pucat pasi akibat sisa-sisa keterkejutan mental.
"Jadi..." suara Viktor terdengar dingin dan berat, memecah kesunyian ruangan yang hanya diterangi oleh lampu gantung tunggal. "Kalian mendatangi anak itu secara baik-baik, menawarkan kekayaan, perlindungan, dan posisi istimewa di dalam sindikat kita... dan jawaban yang kalian terima adalah penolakan mutlak disertai ancaman langsung?"
Agen berkacamata hitam itu menelan ludah dengan susah payah, merundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa malu dan gentar yang masih menyelimuti sekujur tubuhnya. "Maafkan kami, Tuan Viktor... Kami meremehkan kekuatannya. Anak itu... dia bukan sekadar remaja biasa yang pintar meretas data. Saat ia menatap mata kami, ada tekanan energi yang sangat mengerikan mengunci seluruh otot dan syaraf kami seketika tanpa ia menyentuh kami sedikit pun."
Viktor menyipitkan matanya, menghentikan kepulan asap cerutunya. Alisnya berkerut tajam membentuk garis penat di dahinya. "Tekanan energi yang mengunci syaraf tanpa sentuhan fisik? Apa kalian sedang membual untuk menutupi ketidak kompetenan kalian?!"
"Kami tidak berbohong, Tuan!" sahut agen kedua yang berdiri di samping rekannya dengan suara bergetar. "Tekanan udara di sekitar anak itu mendadak berubah dingin secara drastis saat ia menolak tawaran kita. Rasanya seperti berdiri di hadapan predator puncak rantai makanan yang siap meremukkan tulang kita kapan saja."
Viktor terdiam cukup lama. Ia mematikan cerutunya di dalam asbak kristal dengan gerakan perlahan. Di dalam dunia bawah tanah yang dikuasainya selama puluhan tahun, ia pernah mendengar desas-desus tentang para praktisi seni bela diri internal tingkat tinggi atau para kultivator aliran sesat yang mampu menggunakan energi batin murni untuk melumpuhkan musuh tanpa senjata. Namun, berita tentang seorang anak SMA berusia tujuh belas tahun yang memiliki kemampuan setingkat itu adalah sebuah anomali yang di luar nalar akal sehat.
"Tampaknya kita tidak bisa memperlakukan anak ini sebagai pion kecil yang bisa disingkirkan atau dibeli dengan uang," gumam Viktor pelan, seringai dingin perlahan terukir di bibirnya. "Jika dia memilih untuk menjadi musuh, maka kita harus memastikan bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih besar lagi."
"Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Tuan? Apakah kita harus mengerahkan regu penembak runduk dari jarak jauh?" tanya agen berkacamata hitam itu dengan penuh harap.
Viktor menggeleng tegas, melambaikan tangannya. "Bodoh! Kalau regu penembak rundukmu gagal dan tertangkap, seluruh investigasi kepolisian federal akan langsung menyerbu markas kita dalam waktu dua puluh empat jam. Kita tidak boleh menggunakan cara-cara bar-bar murahan."
Viktor bangkit berdiri dari kursi mahalnya, berjalan pelan menghadap ke arah papan tulis besar di sudut ruangan yang dipenuhi dengan skema peta jaringan digital kota, dokumen yayasan sekolah, serta foto wajah Rian yang dilingkari garis merah tebal.
"Dua hari lagi, SMA Bina Bangsa akan mengadakan acara pameran sains regional tahunan yang dihadiri oleh seluruh pejabat tinggi dinas pendidikan kota dan para direktur korporasi besar, termasuk Direktur Utama Hartawan Kusuma," ucap Viktor dengan nada suara yang penuh perhitungan licik. "Di sanalah tempat pertunjukan publik yang sempurna. Kita tidak perlu membunuh anak itu secara fisik... kita cukup menghancurkan reputasinya di hadapan seluruh petinggi kota, membuktikan bahwa seluruh kecerdasannya adalah hasil dari pencurian data dan rekrutmen sindikat ilegal."
Kedua agen berjas hitam itu saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk paham dengan seringai mengerikan yang mulai mengembang di wajah mereka. "Rencana yang sangat cerdas, Tuan Viktor. Kita akan membuat dia jatuh dari puncak kejayaannya sendiri."
Kembali di SMA Bina Bangsa, jarum jam dinding menunjukkan pukul tiga sore ketika bel akhir sekolah berdering nyaring ke seluruh penjuru kompleks.
Rian berjalan keluar melalui gerbang utama sekolah dengan tas ransel tersampir di bahu kanannya. Udara sore berhembus lembut, membawa ketenangan sementara di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai dipadati oleh kendaraan pulang kantor.
Namun, di dalam tubuh Rian, inti energi Qi berputar dengan intensitas yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Melalui Mata Dewa Pengamat, ia dapat merasakan gelombang niat permusuhan yang terarah dan terorganisir dari arah distrik komersial pusat—sebuah tanda pasti bahwa Viktor Tan dan jaringan sindikatnya tidak akan tinggal diam setelah penolakan kemarin siang.
[ Pemberitahuan Sistem: Analisis ancaman eksternal meningkat ke level Siaga Kuning. ] [ Saran kultivator: Percepat stabilisasi energi internal dan manfaatkan pameran sains regional dua hari ke depan sebagai titik balik untuk membersihkan akar sindikat secara permanen. ]
Teks transparan berwarna keemasan itu berkedip pelan di retinanya sebelum memudar.
Rian berhenti sejenak di dekat halte bus umum, merogoh ponselnya untuk mengecek pesan singkat dari Bi Inah yang menanyakan apakah ia ingin dibelikan bahan makanan segar untuk makan malam nanti. Rian membalas pesan tersebut dengan senyuman tipis, mengetik bahwa ia akan pulang tepat waktu seperti biasa.
Bagi Rian, ancaman dari sindikat bawah tanah sebesar apa pun tidak lebih dari riak kecil di permukaan air danau yang tenang. Selama ia memegang kendali atas kekuatan spiritual kultivator purba dan kecerdasan analitis yang tak tertandingi, setiap langkah musuh yang datang justru akan menjadi batu loncatan baginya untuk menegakkan keadilan dengan caranya sendiri.
"Mari kita lihat seberapa jauh permainan catur ini bisa kalian mainkan," gumam Rian pelan pada angin sore, lalu melangkah mantap menaiki bus kota yang datang merapat ke tepi jalan.