Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Api Benci kian membara
Lanjut...
Aroma cairan antiseptik dan obat-obatan yang tajam menusuk hidung, seolah mempertegas ketegangan yang merayap diam-diam di antara empat insan yang berdiri di sekeliling ranjang Moana.
Gadis kecil itu baru saja tertidur kembali setelah cairan obat pereda nyeri masuk melalui selang infus di punggung tangan mungilnya.
Napasnya terdengar teratur, meski perban putih yang melingkar kencang di pelipis kanannya masih menjadi saksi bisu atas insiden mengerikan di tempat wisata tadi sore.
Tangan kecil Moana masih erat menggenggam dua jemari Ayu, seolah-olah dekapan sang ibu tiri adalah satu-satunya benteng pertahanan yang membuatnya merasa aman dari rasa sakit.
Ayu bergeming dalam posisinya. Ia duduk membungkuk di kursi kayu kecil samping ranjang, menatap wajah polos Moana dengan pendar mata yang berkaca-kaca.
Hatinya luluh oleh kepolosan Moana yang justru mencarinya saat pertama kali terbangun, namun di saat yang sama, rasa bersalah yang menggerogoti hatinya belum surut sedikit pun.
Namun, kehangatan dan kepolosan Moana yang begitu menyayangi Ayu bukannya mengetuk pintu hati Kenzo dan Lea. Justru sebaliknya, pemandangan itu bagaikan bensin yang disiramkan ke atas kobaran api cemburu dan dendam yang sudah lama membara.
Di sisi lain ranjang, Kenzo dan Lea berdiri mematung. Wajah kedua remaja itu mengeras. Tatapan mata Lea yang sembab tidak memancarkan penyesalan sedikit pun atas amukan histerisnya di lorong IGD tadi, yang ada justru pancaran kebencian yang makin pekat, makin tajam, dan penuh dengan niat memojokkan.
Bagi Lea dan Kenzo, keakraban Moana dengan Ayu di tengah musibah ini bukanlah bukti ketulusan, melainkan bukti betapa mahirnya wanita muda itu memanipulasi adik bungsu mereka.
Kecelakaan Moana kini bertransformasi menjadi senjata paling ampuh dan alasan paling sah untuk mendepak Ayu dari kehidupan mereka selamanya.
Lea bersedekap dada, lalu menyandarkan punggungnya pada lemari es kecil di sudut kamar. Ia mendengus pelan, sebuah suara remeh yang sengaja ditiupkan untuk merusak keheningan.
"Hebat ya," bisik Lea dengan nada suara yang sangat dingin, dan cukup keras untuk terdengar di seluruh penjuru ruangan. "Udah bikin kepala orang bocor dan masuk rumah sakit, masih sempat-sempatnya pencitraan jadi ibu idaman."
Ayu tersentak kecil. Jemarinya yang digenggam Moana gemetar halus. Ia menoleh pelan, dan menatap Lea dengan pandangan memohon agar gadis itu tidak membuat keributan yang bisa membangunkan Moana.
"Lea... tolong, Moana baru saja tidur..." bisik Ayu sangat lirih, dan hampir berupa bisikan napas.
"Gak usah ngatur-ngatur aku!" potong Lea menajam, matanya membelalak penuh permusuhan. Ia lalu melangkah satu tapak mendekati sisi ranjang, sambil menunjuk Ayu dengan telunjuk yang bergetar. "Tante gak usah sok perhatian sama Moana di depan Papa! Kalau Tante beneran sayang sama Moana, Moana gak bakal terkapar dengan lima jahitan di kepalanya gara-gara kelalaian Tante!"
"Lea, cukup!" suara Yoga terdengar berat dan memotong dari sudut sofa panjang.
Yoga berdiri dari duduknya. Wajah pria empat puluh tahun itu tampak sangat lelah, garis-garis kerutan di keningnya makin dalam, dan matanya merah akibat panik seharian. Ia kemudian melangkah mendekati kedua anak remajanya.
"Ini rumah sakit, Lea. Jangan mulai keributan di depan adikmu yang sedang sakit," tegur Yoga dengan nada menekan, dan berusaha keras menjaga kontrol emosinya.
"Kenapa Papa selalu suruh Lea diam?!" tembak Lea histeris, dan tidak peduli lagi pada teguran ayahnya. Air mata amarah pun kembali merebak di pelupuk matanya. "Kenapa Papa selalu ngebela perempuan ini?! Papa buta ya?! Moana celaka itu karena dia! Karena dia sibuk tebar pesona sama Papa sampai lupa jagain Moana!"
"Lea! Jaga bicaramu!" bentak Yoga, dek napas yang memburu.
Kenzo yang sejak tadi diam berdiri di samping Lea tiba-tiba maju satu langkah, dan pasang badan membentengi adiknya. Wajah Kenzo sangat datar, namun aura dingin yang terpancar dari matanya jauh lebih berbahaya daripada histeria Lea.
"Papa gak usah bentak Lea," ujar Kenzo datar, suaranya rendah namun menusuk ulu hati. "Apa yang dikatakan Lea itu seratus persen bener, Pa. Kita gak lagi ngada-ngada."
Kenzo memutar pandangannya, dan menatap Ayu yang masih berlutut di samping ranjang dengan air mata yang mulai menetes perlahan membasahi pipinya.
"Tante Ayu," panggil Kenzo, menyebut nama ibu tirinya dengan nada paling dingin yang pernah ada. "Tante datang ke rumah kita dengan topeng wanita lembut, polos, dan penyabar. Papa luluh, Moana yang masih kecil dan gak tahu apa-apa juga berhasil Tante cuci otaknya. Tapi kecelakaan hari ini ngebuka mata kita berdua."
Kenzo menjeda sejenak, lalu melipat kedua tangannya di dada. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut remaja enam belas tahun itu disusun dengan begitu rapi dan kejam untuk memojokkan Ayu tanpa ampun.
"Tante itu gak becus. Tante cuma wanita egois yang cuma mikirin status Tante sebagai istri baru Pak Yoga, tapi gak punya tanggung jawab sedikit pun sebagai orang tua. Tante biarkan Moana manjat sendirian cuma demi ngambil hal sepele. Bagaimana kalau tadi Moana jatuh dari tempat yang lebih tinggi? Bagaimana kalau otaknya geser?! Apa Tante mau tanggung jawab dengan senyuman manis Tante itu?!"
Setiap kata yang dilontarkan Kenzo bagaikan pukulan godam yang menghantam dada Ayu. Ayu memejamkan matanya rapat-rapat, sambil menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin oleh darah dan air mata.
Rasa bersalah yang memang sudah membakar hatinya kini makin menyatu dengan vonis kejam dari Kenzo dan Lea.
"Kenzo... Demi Allah, Ibu tidak pernah berniat melalaikan Moana..." tangis Ayu pecah dalam bisikan pelan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Kenzo dan Lea dengan mata yang sembab. "Ibu tahu Ibu salah karena tidak memegang tangan Moana setiap detik... Ibu terima kalau kalian marah sama Ibu. Tapi tolong... jangan tuduh Ibu sengaja atau tidak sayang sama Moana..."
"Alasan!" potong Lea sinis, seraya memalingkan wajahnya dengan penuh jijik. "Semua penjahat juga bakal ngomong 'gak sengaja' kalau udah ketahuan! Dulu waktu Mama masih ada, mau kita jalan-jalan ke mana pun, mau tempatnya se ekstrem apa pun, Mama gak pernah biarkan kita lecet sedikit pun! Karena Mama tulus jaga kita! Beda sama Tante yang cuma akting!"
"Lea! Kenzo! Papa bilang cukup!" Yoga melangkah menengahi mereka, lalu berdiri tepat di antara Ayu dan kedua anak remajanya.
Tangan Yoga gemetar menahan amarah dan kekecewaan yang luar biasa. "Kalian berdua sudah sangat melampaui batas! Musibah bisa terjadi pada siapa saja! Dokter sendiri sudah bilang ini kecelakaan dan Moana sudah aman. Kenapa kalian terus-menerus memakai musibah adik kalian sendiri cuma buat melampiaskan kebencian kalian pada Ayu?!"
Kenzo menatap ayahnya dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Karena Papa udah berubah. Papa lebih milih ngebela orang asing yang baru beberapa bulan masuk rumah kita, daripada mendengarkan anak kandung Papa sendiri yang hampir kehilangan adiknya."
"Kenzo!"
"Udah lah, Bang," sela Lea seraya menarik lengan baju hoodie Kenzo. Matanya menatap Yoga dengan tatapan dingin dan asing. "Percuma kita ngomong sama Papa. Papa udah sepenuhnya kena sihir perempuan itu. Ayo kita keluar aja. Aku mual di kamar ini."
Tanpa menunggu balasan dari Yoga, Lea berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar rawat.
Kenzo menatap Ayu sekali lagi, sebuah tatapan penuh peringatan dan ancaman yang tersirat, sebelum akhirnya berbalik menyusul adiknya, dan membanting pintu kamar VIP itu hingga menimbulkan suara dentuman keras yang bergema di sepanjang koridor rumah sakit.
BAM!
Suara pintu yang terhempas meninggalkan keheningan yang sangat pekat dan menyiksa di dalam kamar.
Yoga menghembuskan napas panjang yang patah-patah. Pria tegap itu tampak mendadak rapuh. Ia memegang kepala dengan kedua tangannya, lalu perlahan terduduk lesu di tepi ranjang Moana. Rasa malu, bersalah, dan frustrasi membebani dadanya hingga rasanya sulit untuk bernapas.
"Ayu..." bisik Yoga dengan suara parau yang amat dalam, dan menatap istrinya yang masih berlutut di lantai dengan bahu berguncang hebat oleh tangisan. "Ayu... maafkan anak-anak... Maafkan saya..."
Ayu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mengusap air matanya yang terus mengalir menggunakan ujung jilbabnya, dan mencoba menguasai suaranya yang serak.
"Tidak, Mas... Mas tidak boleh minta maaf," bisik Ayu dengan nada pasrah yang amat menyayat hati. "Kenzo dan Lea benar... Ini semua memang salah saya. Saya yang kurang hati-hati... Saya yang lalai..."
"Tidak, Ayu! Ini musibah!" tegas Yoga, seraya meraih kedua bahu Ayu dan memaksa istrinya untuk berdiri. Yoga menatap lurus ke dalam mata Ayu yang basah. "Jangan masukkan kata-kata kejam mereka ke dalam hatimu. Mereka cuma emosi dan mencari kambing hitam..."
"Tapi mereka terluka, Mas..." potong Ayu, suaranya bergetar hebat. "Mereka makin membenci saya... Dan yang paling membuat saya takut... musibah Moana ini dijadikan alasan oleh mereka untuk semakin menghancurkan keluarga ini. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana cara meruntuhkan tembok benci di hati mereka, Mas..."
Yoga membawa tubuh Ayu ke dalam pelukannya, dan merengkuh wanita muda itu dengan sangat erat di samping ranjang putri bungsu mereka.
Ayu menyandarkan dadanya pada kemeja Yoga, menangis menumpahkan seluruh rasa tertekan, terintimidasi, dan kekecewaan yang telah menumpuk sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah megah tersebut.
Sementara itu di luar pintu kamar yang tertutup rapat, di lorong rumah sakit yang dingin dan temaram, Kenzo dan Lea duduk berdampingan di atas kursi besi. Keduanya membisu, namun pandangan mata mereka mengeras.
Kecelakaan Moana tidak sedikit pun melembutkan hati mereka. Justru, kejadian hari ini telah memberi mereka tumpuan baru yang kokoh, sebuah alasan yang akan terus mereka gaungkan untuk menyudutkan, menyalahkan, dan menyingkirkan Ayu dari hidup sang ayah untuk selamanya.
Bersambung...