Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia dan Bumi
Angin sore itu menyapu dedaunan kering yang berserakan di halaman sebuah rumah bergaya Klasik Eropa, rumah yang berdiri kokoh di sebuah kompleks perumahan Elite Kota Jala. Kota pinggiran yang asri dan sejuk di Provinsi Agra.
Kala itu mendung, udara dingin menembus masuk perlahan lewat salah satu jendela kamar lantai 2 di rumah itu, di atas kasur empuk berseprai sutra tampak seorang gadis remaja sedang serius menatap layar handphonenya yang terus menyala, hatinya bimbang ingin mengangkat telepon itu namun ingin pula mengabaikannya, alhasil dia hanya menatap layar handphonenya dalam waktu yang cukup lama.
Gadis bermata coklat tua itu melihat dengan jelas di ponselnya terdapat 30 kali panggilan tidak terjawab.
Perasaan kesal, kecewa dan marah campur aduk menjadi satu, ia bergumul dengan perasaan yang kala itu tak dapat dijelaskan dengan gamblang oleh dirinya sendiri.
"Dion brengsek" Kutuk gadis itu sembari meremas bantal.
Berpacaran hampir setahun dengannya, sudah hampir 12 kali pula dia main gila dan berselingkuh.
Telepon tak hentinya berdering membuat gadis itu menjadi muak, dilemparkannya ponsel dengan buat apel tergigit itu ke karpet bulu tebal di bawah kasur mewahnya.
Hujan perlahan mulai turun disertai langit yang mulai menggelap.
Menyadari cuaca yang mulai berubah, Cherry panggilan gadis itu, berjalan perlahan ke arah jendela, angin membuatnya tak nyaman terpaksa ia bergegas segera menutup jendela itu.
Tiba tiba gerakannya terhenti ketika melihat seorang lelaki yang berdiri mematung di halaman rumahnya, lelaki itu tampak menyadari keberadaan Cherry, iapun memandangi Cherry dengan tatapan tak biasa.
Otomatis mata mereka saling bertatapan walau dari kejauhan, lelaki itu tersenyum hangat, Cherry sedikit terkejut melihat sosok yang seperti tak asing, namun sepertinya baru kali itu dia melihat lelaki itu di sekitar rumahnya, apa mungkin orang yang pernah dia kenal batinnya, tak lama kemudian dalam satu kedipan lelaki itu menghilang dari pandangannya.
Cherry menengok ke kanan dan kiri mencari sosok lelaki misterius itu, di arahkannya pandangan pada semua sudut halaman tapi tak ditemukannya.
"Siapa ya dia, kok kayak kenal" batin Cherry sambil menutup rapat jendela kamarnya.
"Dek Adek...."Teriak Kevin Kakak laki laki Cherry, suara Kevin terdengar kencang dari balik pintu kamar.
"Dek buka pintu!" Seru Kevin tak sabaran.
"Kenapa kak?" Tanya Cherry merasa sedikit kesal dengan gedoran kakaknya, ia terpaksa berjalan ke depan pintu lalu membukanya perlahan.
Saat pintu kamar terbuka terlihat Kevin yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut menunggunya tak sabar.
"Sini dulu bentar" Kevin menarik lengan Cherry dan menuntunnya ke Ruang Keluarga.
Di Sofa ruang keluarga Cherry melihat sosok lelaki yang tadi Cherry lihat di halaman. Gadis itu menelan air liurnya, karena cukup kaget melihat sosok itu, matanya ter bebalak.
Mereka bertatapan untuk kedua kalinya, lalu lelaki itu tersenyum lagi, tetap hangat namun Cherry hanya bisa terdiam tanpa reaksi, kebingungan.
Kevin beranjak dan mulai duduk di Sebelah pria itu. Sambil bertepuk tangan sekali membuyarkan lamunan Cherry.
"Duh duh malah ngelamun, mending buatin minum, buat gue sama dia!" Kevin menunjuk lelaki di sebelahnya.
Lelaki itu tampak tenang, dari atas kepala hingga ujung kaki, penampilannya sangat menawan dan memancarkan aura maskulin.
"Oia lupa gue kenalin, dia Bumi temen sekelas gue, gue tau dia cakep, jadi jangan sampe naksir!" Cerocos Kevin seakan bisa menebak isi hati Cherry.
Bumi yg mendengar kata kata Kevin meninju tipis bahu pria bekulit sawo matang itu, Ia beranjak dari duduknya, menghampiri Cherry dan menjulurkan tangannya ke arah Cherry.
Cherry tersenyum ramah, dengan sopan Cherry meraih tangan Bumi, tangan mereka bersentuhan, jari jemari Bumi sangat panjang dan terkesan kekar namun suhu tubuhnya yg hangat memberikan perasaan nyaman.
"Hai kak, salam kenal aku Cherry" ujarnya mencoba terlihat ramah, Bumi mengangguk dan kembali duduk.
Tak biasanya Kevin memperkenalkan temannya ke Cherry, biasanya jikalau ada teman yg main atau mampir kerumah, Cherry malah diminta untuk sembunyi di dalam kamar, dan jangan sampai mengundang perhatian.
Cherry memutuskan untuk buru buru pergi ke dapur tanpa memperdulikan reaksi Kevin maupun Bumi selanjutnya.
Sebenarnya jantung Cherry terasa hampir copot karena baginya Teman baru kakanya itu sangat mempesona, kulitnya kuning langsat, postur tubuhnya tegap proporsional terlihat sering berolahraga, rambutnya hitam lebat, tatapan matanya lembut, bola matanya coklat gelap dan memancarkan cahaya, hidungnya mancung mirip hidung aktor Drama china favorit Cherry, saat tersenyum terlihat sangat bersahabat.
*Penggambaran Bumi
Bagi Cherry melihat Bumi seperti sedang melihat Bias atau Idol Favorit, excited bercampur rasa histeris.
"Gila ganteng banget" batinnya lagi.
Tanpa disadari ia senyum senyum sendiri.
Baru kali ini Kevin membawa teman yang benar benar keren di matanya, biasanya Cherry melihat Kevin berteman dengan modelan yang under rated baginya.
"Duh mikir apa si Cher, bisa bisanya nge judge temen temen Kevin" katanya ke diri sendiri, ia tersenyum lagi dengan munculnya Bumi di hari ini mood Cherry seakan membaik.
Tadi ia ingat betul moodnya yang hanya bersisa sepersen karena telepon masuk tak henti henti dari Dion.
Bayangannya berpindah pada pacarnya Dion, Lelaki super populer di sekolah yang kini menjadi pacar rahasianya, jelas Dion tak kalah soal tampang dari Bumi, bedanya kalau Bumi berwajah asli Indonesia, sedangkan Dion blasteran Indo Belanda.
"Dion lagi Dion lagi kenapa sih inget terus sama manusia kurang bersyukur itu" gumam Cherry kesal sendiri.
Sesaat akhirnya Cherry tersadar dari lamunannya. Sedari tadi ia hanya mengelap gelas tanpa tau mau membuat minuman apa untuk tamu dan tuan muda kecil rumah itu.
"Mau minum apa kak?" Tanya Cherry sambil sedikit berteriak, suaranya masih terdengar karena jarak dapur dengan ruang keluarga mereka sangat dekat.
"Es Teh Manis yang manis semanis gue ya sayangku." Teriak Kevin tak tahu malu.
"Sinting, bisa bisanya di depan temen baru berlagak kayak gitu ck ck ck, dasar manusia gak tau malu huh" Oceh Cherry mengutuk kakaknya dari kejauhan.
Dengan cekatan Cherry langsung membuat pesanan Kevin, meskipun jiwa malasnya meronta ronta tak mau beranjak dari kamarnya, namun karena para ART sedang pulang kampung mau tidak mau pekerjaan mereka harus rela dia kerjakan, apalagi dia sadar betul posisinya sebagai satu satunya anak perempuan di rumah itu, mau tak mau dialah yang harus ikut turun tangan dalam urusan rumah tangga, itung itung belajar untuk kelak menjadi istri yang baik, selalu itu yang ia ingat dari ajaran Ibu mereka.
Setelah menyelesaikan permintaan Kevin, Cherry mengantar minuman itu dengan hati hati, Cherry agak ceroboh namun dia sangat paham dengan kebiasaan buruknya, jadi dia selalu menjaga gerakannya jikalau diperlukan.
"Ini Esnya Ka" seraya menyajikan minuman kepada Kakaknya dan Bumi.
"Okey thank you."
Kevin dan Bumi masih asik dengan dunianya di dalam gawai tampaknya mereka sedang main game.
"Huh, ngapain nge buru buru orang bikin minuman, orang minumannya dateng aja gak dilirik, dasar cowok iseng" Ujar Cherry dalam hatinya lagi.
Cherry berlalu kedapur untuk beres beres dan menyimpan nampan lalu masuk kembali ke Kamarnya.
Diam diam Bumi mencuri pandang berusaha melihat Cherry, hatinya seperti dicabik cabik ada rasa sakit dan rindu yang tak bisa dia jelaskan pada siapapun. Melihat Cherry ingin rasanya ia menarik dan memeluknya namun saat itu dia memilih diam dan menahan perasaannya. Kelak saat waktunya sudah tepat ia pasti bisa memeluknya lagi, seperti dulu.
Kevin menyadari temannya yg gusar. Dia menaruh hpnya lalu memberi kode ke Bumi untuk pergi keluar rumah. Bumi menurut, lalu mereka pergi keluar dan membicarakan sesuatu di lapangan basket pribadi Kevin, tak lama Bumi pamit pulang dan Kevin kembali ke dalam rumah.
***
Isi percakapan Kevin dan Bumi
"Gimana udah puas liatnya?" Tanya Kevin dengan raut wajah dingin.
"Belum, besok besok gue bakal nemuin dia lagi, gue harap lo gak keberatan."
"Sebenernya gue gak ada hak apapun buat ngelarang lo Bum tapi you know lah, gue cuma gamau dia terluka."
Bumi menarik nafasnya yang sedari tadi berat ia tersenyum miris. "Iya gue tau, keadaan ini diluar kehendak lo juga Vin."
Kevin mengepalkan tangannya mencoba menahan gejolak perasaan tak enak di hatinya "Gue tau Lo kangen sama dia, tapi gue minta Lo bisa sabar" Ujarnya sambil menatap bola mata Bumi lekat lekat.
Bumi tertunduk lemas ia tak bisa berkata apa apa lagi, perasaan yang berkecamuk di batinnya begitu kompleks.
"Gue ingetin sekali lagi, jangan sampe gue liat adik gue nangis, karena bakal gue hancurin siapapun orangnya, gak terkecuali elo." Ancam Kevin seraya menoyor bahu Bumi.
Entah mengapa mendengar kata kata itu Bumi menjadi sedikit lega ia bersyukur bahwa Kevin benar benar menyayangi Cherry sedalam itu.
Lidahnya yang sedari tadi kelu mulai berucap "Makasih Vin, makasih udah sayangin Cherry." Ujarnya lirih dengan raut wajah sangat sedih namun ada kelegaan di dalamnya.
***
Setiap malam selama bertahun tahun Cherry selalu bermimpi buruk, mimpi yang sama, mimpi yang terasa sangat nyata, mimpi mimpi yang sebenarnya ingin sekali ia skip dan enyahkan dari hidupnya jikalau bisa.
Mimpi mimpi buruk itu membuat Cherry kadang menangis sepanjang malam, seluruh tubuhnya menggigil, kadang ia demam, kadang ia mual sampai muntah dan pingsan, kepingan ingatan dan trauma masa lalu yang pernah dialaminya begitu berat, dan harus ia pikul sepanjang hidupnya.
Tapi dari keseluruhan mimpi mimpi buruk itu tak ada satupun benang merah yang bisa ia simpulkan, kejadian itu apa, siapa yang ada di dalamnya, dan sebenarnya cerita apa yang terjadi ia benar benar tidak dapat mengingatnya sama sekali. Didalam mimpi itu semua wajah yang ada terlihat ditutupi asap tebal atau kabut. Hanya beberapa suara yang bisa ia ingat dengan jelas.
Semakin berusaha mengingat dan menyambungkan kepingan puzzle puzzle mimpi buruk itu, ia semakin menderita dan kesakitan.
Ayah dan Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan psikolog dan psikiater terbaik untuk Cherry namun hasilnya nihil, tak ada satupun dari mereka yang bisa menyembuhkan Cherry dari PTSDnya. Sampai saat ini Cherry sangat ketakutan berada di ruangan gelap dan panas.
Baik Orangtuanya maupun Kevin sangat mengkhawatirkan Cherry, karena Mereka sangat tulus mencintainya, Cherry tau itu, oleh karenanya Cherry selalu berusaha sekuat tenaga untuk terlihat baik baik saja, terlihat senormalnya seperti gadis seusianya.
Ibu selalu bilang padanya "Menangislah nak jangan di pendam" tapi kata kata itu seakan menjadi rem baginya, ia sangat takut jikalau karenanya Ibu menjadi terbebani, bagi Cherry membebani Ibu lebih menakutkan daripada harus menghadapi mimpi mimpi itu.
10 tahun lalu gadis kecil murung yang sendirian di sudut gelap ruang makan sebuah panti asuhan di kota Nirwana itu, diselamatkan oleh pilihan tak terduga Ny. Nugraha, Ia memilih untuk mengadopsi Cherry.
Kepala Panti asuhan bilang kalau gadis itu sudah lama tidak pernah berbicara sepatah katapun, bahkan ia lupa nama dan asal usulnya, mendengar cerita itu Ibu menjadi sangat empati dan akhirnya memilih Cherry untuk dijadikan sebagai anak perempuannya.
Pada awalnya ia memang ingin mengisi kekosongan hatinya karena ditinggal pergi selamanya oleh anak perempuannya Lucy, namun kehadiran Cherry pada akhirnya malah mendapat tempat tersendiri di hatinya, bukan untuk menggantikan Lucy tapi sebagai penguat dan penghibur lara baginya.
Cherry ia sayangi dengan cara yang sama seperti putra semata wayangnya Kevin, apalagi setelah gadis itu ternyata di takdirkan untuk menyelamatkan nyawa putranya, sejak saat itu ia berjanji bahwa seumur hidupnya akan terus dan selalu menyayangi gadis kecil itu. Tak akan pernah menyakitinya apalagi punya niat untuk meninggalkannya.
*Penggambaran Cherry Nugraha
Itu tiap satu bulan, gonta-ganti terus dong?!
Ya Salaam... 🗿🗿🗿