Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Jerat Pertama untuk Sang Tirani
Lampu gantung berbahan kristal di langit-langit aula pertemuan kediaman Duke Killian memantulkan cahaya temaram yang berayun pelan, memotong kegelapan malam yang kian pekat di luar jendela besar. Di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu pekat, seolah-olah udara sendiri enggan bergerak karena takut memicu kemurkaan sang pemilik takhta wilayah utara.
Elena berdiri tegak. Kedua tangannya terlipat dengan anggun di depan perutnya, menyembunyikan getaran halus yang sempat merayap di ujung jarinya. Di hadapannya, dipisahkan oleh sebuah meja kayu ek hitam yang diukir dengan lambang serigala bermahkota, duduk seorang pria berambut hitam legam sepekat malam tanpa bintang.
Duke Killian. Sang tirani berdarah dingin.
Mata pria itu, yang berwarna biru safir sedingin es kutub, menatap Elena tanpa berkedip. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada ketajaman yang mampu menguliti keberanian siapa pun yang berani menatapnya langsung. Elena tahu, dalam kehidupan pertamanya, pria di depannya ini adalah sosok yang memimpin pasukan besi menghancurkan tiga wilayah pemberontak hanya dalam waktu satu malam tanpa menyisakan satu pun tawanan hidup. Dia adalah monster yang dijauhi oleh seluruh bangsawan ibu kota.
Namun bagi Elena yang sekarang, monster ini adalah satu-satunya pedang yang cukup tajam untuk memotong leher Gavin.
"Sebuah aliansi?" Killian akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, berat, dan bergaung di ruangan yang luas itu seperti guntur yang tertahan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, salah satu jarinya yang panjang mengetuk permukaan meja dengan irama yang lambat namun menekan. Ketuk. Ketuk. Ketuk. "Nona Muda Elena dari kedalaman wilayah selatan, yang terkenal karena kelembutan dan sifat naifnya, datang menembus badai salju ke wilayah utara hanya untuk menawarkan aliansi kepada pria yang oleh ayahmu sendiri disebut sebagai iblis?"
Elena tidak mundur satu langkah pun. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya yang dilapisi pemerah merah delima. "Manusia berubah ketika mereka melihat tepi jurang kematian, Yang Mulia Duke," jawab Elena, suaranya terdengar jernih namun penuh penekanan. "Dan mengenai ayahku... dia hanya melihat dunia dari balik kacamata perdamaian yang semu. Dia tidak tahu bahwa pria yang dia anggap sebagai menantu ideal saat ini sedang bersiap untuk mengubur seluruh keluarga kami hidup-hidup."
Killian menaikkan satu alisnya. Ketukan jarinya berhenti. "Gavin?" ucapan nama itu keluar dari bibir Killian seperti sebuah kutukan yang menjijikkan. "Tunanganmu yang agung itu? Pria yang dipuji oleh kuil suci sebagai lambang kebajikan kekaisaran?"
"Kebajikan yang dibeli dengan emas dan darah," desis Elena. Kilatan kebencian yang murni menyala di mata indahnya untuk sepersekian detik sebelum dia berhasil menguasai dirinya kembali. Ingatan tentang api yang membakar kulitnya di penjara bawah tanah, jeritan putranya yang masih kecil saat pedang Gavin menembus dadanya, berputar hebat di kepalanya. Rasa sakit itu nyata. Rasa sakit itu adalah bahan bakar yang membuatnya tetap berdiri di sini.
Elena melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. "Gavin sedang mengumpulkan sekutu di ibu kota secara rahasia. Dia menggunakan pengaruh nama keluargaku untuk mendekati para menteri keuangan, dan di saat yang sama, dia sedang menjalin hubungan gelap dengan adik tiriku, Dara."
Mendengar nama Dara, sudut bibir Elena berkedut sinis. Dara, gadis yang selalu memasang wajah polos dan tersakiti di depan ayahnya, namun memiliki hati yang lebih berbisa daripada ular gurun. Dalam kehidupan lalu, Elena dengan bodohnya menganggap Dara sebagai adik yang malang. Ternyata, di belakangnya, Dara telah menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada Gavin demi mahkota permaisuri.
"Itu adalah urusan domestik keluargamu, Nona Elena," ucap Killian dingin, matanya menyipit penuh selidik. "Mengapa aku harus peduli dengan pengkhianatan seorang tunangan dan adik tiri yang ambisius? Wilayah utara tidak kekurangan hiburan hingga aku harus mencampuri drama percintaan ibu kota."
"Ini bukan sekadar drama percintaan, Duke Killian," serang Elena balik, matanya mengunci pandangan pria itu. "Gavin tidak hanya menginginkan harta keluargaku. Dia menginginkan takhta Kaisar. Dan untuk duduk di atas takhta itu, dia membutuhkan sesuatu yang saat ini berada di bawah kendali Anda. Jalur pasokan besi hitam di perbatasan utara."
Suasana di dalam ruangan langsung drop hingga ke titik beku. Penjaga bayangan yang bersembunyi di kegelapan sudut ruangan tampak menahan napas mereka. Informasi tentang besi hitam adalah rahasia militer tingkat tinggi yang hanya diketahui oleh Killian dan beberapa orang kepercayaannya. Bagaimana mungkin seorang gadis pinggiran dari selatan mengetahui hal ini?
Killian bangkit dari kursinya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap memancarkan aura intimidasi yang luar biasa. Dia berjalan mengitari meja, mendekati Elena hingga jarak di antara mereka tidak lebih dari dua jengkal. Elena bisa mencium aroma kayu cedar dan samar-samar bau besi dari jubah wol hitam yang dikenakan pria itu.
Killian menunduk, menatap Elena dengan pandangan yang seolah bisa menembus tengkoraknya. "Dari mana kamu mengetahui tentang besi hitam, Elena?" tanya Killian, suaranya kini sehalus sutra namun membawa ancaman kematian yang nyata. "Jika jawabanmu tidak memuaskanku, kamu tidak akan pernah bisa keluar dari gerbang kastil ini dalam keadaan bernapas."
Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena gairah kemenangan yang mulai terasa. Dia tahu Killian akan bereaksi seperti ini. Killian adalah pria yang paranoid, namun dia juga seorang oportunis yang sangat cerdas.
"Masa depan," jawab Elena tenang. "Saya melihatnya di dalam mimpi yang sangat panjang, atau mungkin... sebuah kutukan yang menjadi kenyataan. Dalam tiga tahun dari sekarang, Gavin akan memalsukan dokumen pengkhianatan wilayah utara menggunakan stempel besi hitam yang dia curi melalui mata-matanya di kediaman Anda. Anda akan dituduh melakukan makar, dan kaisar tua yang sekarat itu akan memberikan perintah untuk mengeksekusi seluruh klan serigala utara."
Killian terdiam. Matanya yang dingin meneliti setiap pergerakan wajah Elena, mencari tanda-tanda kebohongan atau manipulasi. Namun, dia hanya menemukan keteguhan yang mutlak dan kemarahan yang setara dengan kedalaman neraka di dalam mata gadis itu.
"Jika apa yang kamu katakan benar," Killian berbisik dekat di telinga Elena, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Mengapa kamu memilihku? Bukankah lebih mudah bagimu untuk pergi ke kuil atau mencari perlindungan dari pangeran kedua?"
Elena menolehkan kepalanya, menatap langsung ke manik mata safir Killian. "Karena pangeran kedua adalah seorang pengecut yang akan bertekuk lutut begitu Gavin menunjukkan taringnya. Sedangkan Anda... Anda adalah satu-satunya orang di kekaisaran ini yang memiliki kekuatan militer untuk mencabik-cabik Gavin hingga menjadi debu. Aku menginginkan kehancurannya, Duke. Aku ingin melihatnya kehilangan segala hal yang dia dambakan: takhta, reputasi, dan hidupnya."
Senyum tipis yang mengerikan mendadak muncul di wajah tampan Killian. Itu adalah senyuman seorang predator yang menemukan mainan baru yang sangat menarik. Pria itu mundur selangkah, menatap Elena dari atas ke bawah seolah sedang menilai sebuah komoditas yang sangat berharga.
"Kehancuran yang mutlak. Balas dendam yang indah," gumam Killian. "Lalu, apa yang ditawarkan oleh seorang Nona Muda yang telah kehilangan kepercayaan pada dunianya ini kepadaku? Aliansi membutuhkan pertukaran yang adil, Elena. Informasi tentang besi hitam saja tidak cukup untuk membuatku mengerahkan pasukan utara ke ibu kota."
Elena menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan kartu as terbesarnya. "Aku menawarkan seluruh jaringan perdagangan selatan milik keluargaku sebagai jalur logistik rahasia untuk pasukan Anda. Selain itu, aku akan menjadi matamu di ibu kota. Aku akan tetap memakai topeng sebagai tunangan Gavin yang bodoh dan penurut, mengumpulkan setiap informasi tentang pergerakannya, dan menyerahkannya kepadamu di atas piring perak."
Elena menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam. "Dan yang paling penting... aku menawarkan diriku sebagai tamengmu. Bukankah kaisar tua itu terus menekankan agar Anda segera menikah dengan putri menteri sebagai cara untuk mengendalikan Anda? Jika Anda menikahiku, putri dari keluarga bangsawan selatan yang tampak netral, Anda akan terlepas dari jerat politik kaisar, dan Anda mendapatkan kendali penuh atas wilayah selatan tanpa menumpahkan darah."
"Pernikahan kontrak?" Killian tertawa pendek, suara tawa yang kering dan tanpa humor. "Kamu benar-benar telah memikirkan semuanya, bukan? Kamu rela menjual dirimu sendiri demi membalas dendam?"
"Ini bukan menjual diri, Yang Mulia," koreksi Elena dengan nada dingin. "Ini adalah investasi. Aku menggunakan apa yang tersisa dari hidupku untuk memastikan musuh-musuhku mati dengan cara yang paling mengerikan. Jadi, bagaimana jawabannya, Duke Killian? Apakah Anda bersedia menjadi pedangku, atau aku harus mencari cara lain yang lebih berdarah?"
Killian menatap Elena untuk waktu yang lama, membiarkan keheningan kembali merayap di antara mereka. Angin malam di luar kastil melolong keras, melemparkan butiran salju ke kaca jendela, menciptakan suasana yang kian dramatis.
Perlahan, Killian mengulurkan tangannya yang besar dan berwujud kasar akibat latihan pedang bertahun-tahun. "Kontrak disetujui, Elena. Mulai malam ini, kamu adalah sekutuku. Tapi ingat satu hal..." Killian mencengkeram jemari Elena dengan lembut namun kuat, memberikan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Jika kamu berani mengkhianatiku, neraka yang kamu sebutkan tadi akan terasa seperti surga dibandingkan dengan apa yang akan aku lakukan kepadamu."
Elena tersenyum manis, sebuah senyuman yang tidak lagi memiliki kehangatan masa mudanya. "Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku sudah pernah merasakan neraka yang paling dalam. Dan aku tidak berencana untuk kembali ke sana sendirian."
Keesokan harinya, kereta kuda mewah dengan lambang keluarga Duke utara bergerak membelah badai salju yang mulai mereda, membawa Elena kembali menuju ibu kota. Di dalam kereta yang hangat karena penghangat sihir, Elena menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang dilapisi beludru. Tangannya menggenggam sebuah lambang kecil berbentuk kepala serigala perak—tanda pengenal resmi dari Killian yang memungkinkannya mengirim pesan rahasia kapan saja.
Langkah pertama telah selesai. Pedang terkuat di kekaisaran kini berada di tangannya. Sekarang, saatnya kembali ke sarang serigala dan mulai memasang jerat untuk Gavin dan Dara.
Perjalanan memakan waktu tiga hari. Ketika kereta kuda itu akhirnya memasuki gerbang ibu kota kekaisaran yang megah, matahari sore sedang tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah darah yang pekat. Elena menatap keluar jendela, melihat jalanan ibu kota yang ramai. Di sudut jalan, dia bisa melihat beberapa spanduk festival musim semi yang mulai dipasang—festival di mana dalam kehidupan lalunya, dia dengan bodohnya menerima cincin pertunangan dari Gavin di depan ribuan orang.
‘Nikmatilah sisa hari-hari bahagiamu, Gavin,’ bisik Elena dalam hati. ‘Karena setiap tawa yang kamu keluarkan sekarang akan dibayar dengan tetesan darah di masa depan.’
Kereta kuda itu tidak langsung menuju ke kediaman utama keluarga Elena, melainkan berhenti di sebuah rumah teh bergaya klasik di distrik bangsawan atas. Ini adalah tempat yang telah dijanjikan dalam surat yang dikirimkan oleh Gavin dua hari lalu melalui burung merpati. Gavin memintanya bertemu secara rahasia dengan alasan merindukannya setelah Elena pergi ke wilayah selatan untuk mengunjungi makam ibunya.
Elena turun dari kereta dengan anggun, dibantu oleh pelayan setianya, Yana, yang tampak cemas sejak mereka meninggalkan utara. Yana adalah satu-satunya pelayan yang ikut terbunuh bersamanya di kehidupan lalu, dan kali ini, Elena bersumpah akan melindungi gadis malang itu.
"Nona... apakah Anda benar-benar yakin ingin menemui Tuan Gavin sendirian?" bisik Yana dengan suara gemetar saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah teh yang sunyi.
"Jangan takut, Yana," jawab Elena tanpa menoleh. "Pria itu tidak bisa menyakitiku lagi. Justru dia yang harus takut padaku sekarang. Tetaplah di luar dan pastikan tidak ada orang yang menguping."
Elena berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang diukir indah. Dia menarik napas dalam-dalam, memasang topeng wajahnya yang lama: Elena yang naif, pemalu, dan sangat mencintai Gavin. Setelah memastikan ekspresi wajahnya sempurna, dia mendorong pintu itu perlahan.
Di dalam ruangan yang harum oleh aroma teh melati, seorang pria tampan dengan pakaian bangsawan berwarna biru muda sedang duduk dengan anggun. Rambut pirangnya yang tertata rapi berkilau di bawah cahaya lampu dinding. Wajahnya dipenuhi dengan senyuman lembut yang dulu selalu membuat jantung Elena berdegup kencang. Gavin.
Begitu melihat Elena masuk, Gavin langsung bangkit dengan wajah yang tampak penuh kebahagiaan. Pria itu melangkah cepat dan mencoba meraih kedua tangan Elena. "Elena! Akhirnya kamu kembali. Aku sangat mengkhawatirkanmu selama perjalanan ke selatan. Mengapa kamu tidak membiarkanku menemanimu?"
Elena menahan rasa mual yang hebat saat kulit Gavin menyentuh jemarinya. Di dalam benaknya, tangan lembut pria ini adalah tangan yang sama yang memegang obor untuk membakar sel penjaranya. Namun, dengan kemampuan akting yang luar biasa, Elena membiarkan Gavin menuntunnya duduk, sementara matanya berkaca-kaca seolah terharu.
"Gavin... maafkan aku," ucap Elena dengan suara yang dibuat sedikit bergetar. "Aku hanya ingin menghabiskan waktu sendiri di makam Ibu sebelum pernikahan kita. Aku tidak ingin membebani kesibukanmu di istana."
Gavin tersenyum, mengusap punggung tangan Elena dengan lembut. "Kamu tidak pernah membebaniku, Sayang. Bagiku, urusanmu adalah yang utama." Pria itu kemudian menuangkan teh ke cangkir Elena. "Bagaimana perjalananmu? Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Semuanya lancar, Gavin," jawab Elena, meminum tehnya sedikit untuk menyembunyikan senyum sinisnya. ‘Sangat lancar, bahkan aku sempat mampir ke utara untuk membeli peti mati untukmu,’ tambahnya dalam hati.
"Oh ya, Elena," Gavin mengubah nada suaranya menjadi sedikit lebih serius, meskipun wajahnya tetap terlihat ramah. Ini dia. Elena tahu bagian ini akan datang. Bagian di mana Gavin mulai meminta keuntungan dari keluarganya. "Ayahmu... apakah dia sudah menandatangani dokumen pengalihan dana untuk proyek pembangunan dermaga baru di wilayah selatan?"
Dalam kehidupan lalu, Elena akan langsung menjawab dengan antusias bahwa dia telah membujuk ayahnya untuk menandatangani dokumen tersebut, memberikan Gavin akses penuh ke dana tunai keluarga mereka yang berjumlah jutaan koin emas. Dana itulah yang digunakan Gavin untuk menyuap para ksatria kekaisaran dan membeli persenjataan.
Kali ini, Elena memasang wajah bingung dan sedikit bersalah. "Ah... dokumen itu. Maafkan aku, Gavin. Aku sudah mencoba membicarakannya dengan Ayah. Namun, Ayah mengatakan bahwa saat ini ada audit internal dari kekaisaran di wilayah selatan. Dia tidak bisa memindahkan dana dalam jumlah besar tanpa persetujuan dari dewan menteri keuangan."
Senyuman di wajah Gavin membeku untuk sesaat. Kilatan kekecewaan dan kemarahan yang sangat tipis muncul di matanya sebelum menghilang dengan cepat. "Begitukah? Tapi proyek ini sangat penting untuk masa depan kita, Elena. Jika dermaga itu berhasil diselesaikan atas namaku, posisiku di depan Kaisar akan semakin kuat, dan itu akan mempermudah pernikahan kita nanti."
"Aku tahu, Gavin. Aku sangat memahami niat baikmu," Elena menggenggam tangan Gavin balik, menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman yang palsu. "Oleh karena itu, aku memberikan saran kepada Ayah untuk mengalihkan proyek tersebut melalui jalur kerja sama dengan wilayah utara. Bukankah Duke Killian memiliki otoritas penuh atas distribusi bahan bangunan?"
Mendengar nama Duke Killian, wajah Gavin langsung berubah sedikit pucat. "Utara? Duke Killian? Elena, pria itu adalah monster! Mengapa kamu menyarankan hal berbahaya seperti itu kepada ayahmu? Kita tidak boleh berurusan dengan klan serigala itu!"
"Mengapa tidak?" Elena memiringkan kepalanya dengan polos. "Aku mendengar dari beberapa bangsawan di selatan bahwa Duke Killian sebenarnya sedang mencari mitra dagang untuk membuka jalur logistik baru. Jika kita bisa mendekatinya, bukankah itu akan menjadi keuntungan besar bagimu, Gavin? Kamu bisa memanfaatkan pengaruhnya untuk menekan pangeran kedua."
Gavin menatap Elena dengan pandangan menyelidik. Dia merasa ada yang aneh dengan pembicaraan ini, namun melihat wajah Elena yang tampak begitu lugu dan tanpa dosa, dia membuang kecurigaannya. Dia menganggap Elena hanya sekadar mendengar gosip tanpa memahami konotasi politik yang sebenarnya.
"Elena, urusan politik terlalu rumit untukmu," ucap Gavin sambil menepuk kepala Elena pelan, sebuah tindakan merendahkan yang dulu dianggap Elena sebagai bentuk kasih sayang. "Biarkan aku yang mengurus masalah Duke Killian. Kamu cukup fokus pada persiapan gaun pernikahan kita, mengerti?"
"Tentu saja, Gavin. Aku akan mendengarkan semua kata-katamu," jawab Elena dengan senyum paling manis yang bisa dia tunjukkan.
‘Ya, Gavin. Uruslah masalah Duke Killian,’ pikir Elena sambil menatap pria di hadapannya dengan pandangan dingin yang tersembunyi. ‘Karena aku sudah memastikan bahwa saat kamu mencoba menyentuh wilayah utara, Duke Killian akan langsung memotong tanganmu hingga tidak bersisa.’
Pertemuan di rumah teh berakhir setelah dua jam penuh kepura-puraan. Begitu keluar dari ruangan, Elena langsung menghapus senyumannya. Wajahnya kembali menjadi sedingin es. Dia berjalan menuju kereta kudanya dengan langkah cepat, enggan berlama-lama menghirup udara yang sama dengan Gavin.
Namun, kejutan lain rupanya sudah menunggu di kediaman utama keluarga Elena.
Saat kereta kuda memasuki halaman rumah besar keluarga Duke Selatan, suasana terasa sedikit berbeda. Beberapa pelayan tampak berbisik-bisik di dekat air mancur. Begitu Elena turun dari kereta, kepala pelayan tua, berlutut dengan wajah cemas.
"Selamat datang kembali, Nona Muda Elena," ucap kepala pelayan itu.
"Ada apa, Paman Hans? Mengapa semua orang tampak tegang?" tanya Elena sambil menyerahkan jubah luarnya kepada Yana.
"Itu... Nona Dara baru saja kembali dari istana permaisuri bersama dengan Nyonya Besar," jawab Hans pelan, merujuk pada ibu tiri Elena. "Dan saat ini, Tuan Besar sedang marah besar di ruang kerja karena sebuah masalah dokumen yang hilang."
Elena menyipitkan matanya. Dokumen yang hilang?
Dalam kehidupan lalu, ingatan Elena tentang masa-masa ini sangat kabur karena dia terlalu sibuk mengejar Gavin. Namun, mendengar nama Dara dan dokumen yang hilang dalam satu kalimat yang sama, insting tajamnya langsung berdenting. Ini pasti salah satu rencana Dara untuk menjatuhkan reputasinya di depan sang ayah.
"Aku akan menemui Ayah sekarang," ucap Elena tegas.
Dia berjalan menyusuri koridor rumah besar yang megah itu, menuju ke lantai dua tempat ruang kerja ayahnya berada. Sepanjang jalan, dia mengingat kembali detail tentang Dara. Dara adalah anak dari istri kedua ayahnya yang dinikahi setelah ibu kandung Elena meninggal karena sakit. Dara selalu bersikap sebagai anak yang tertindas, membuat semua orang berpikir bahwa Elena, sebagai putri kandung pertama, selalu menindasnya. Akibatnya, hubungan Elena dengan ayahnya sempat merenggang di masa lalu.
‘Kali ini, Dara, permainanmu tidak akan berjalan semudah dulu,’ gumam Elena.
Di depan pintu ruang kerja Duke Selatan, Elena bisa mendengar suara bentakan ayahnya yang berwibawa, diikuti oleh suara isakan tangis yang sangat akrab di telinganya. Suara tangis Dara.
Elena mengetuk pintu dua kali lalu mendorongnya terbuka tanpa menunggu izin.
Di dalam ruangan, Duke Selatan, seorang pria paruh baya dengan beberapa helai rambut beruban namun tetap memancarkan aura pemimpin yang kuat, sedang berdiri di balik mejanya dengan wajah merah padam. Di sudut ruangan, Dara sedang berlutut di lantai sambil menutupi wajahnya dengan saputangan, tubuhnya bergetar hebat karena menangis. Di sampingnya, ibu tiri Elena, Nyonya besar, sedang memeluk bahu Dara sambil menatap Duke dengan pandangan memohon.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Elena, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi tenang yang kontras dengan kekacauan di sana.
Melihat kedatangan Elena, tangisan Dara mendadak semakin keras. Gadis itu mendongak, memperlihatkan wajahnya yang memerah dan mata yang sembap—sebuah penampilan yang dirancang untuk memancing rasa iba dari siapa pun yang melihatnya.
"Kakak..." Dara memanggil dengan suara serak, seolah-olah dia adalah korban yang paling malang di dunia. "Maafkan aku, Kakak... aku tidak bermaksud menghancurkan reputasimu. Aku hanya ingin membantu..."
Elena menaikkan satu alisnya. "Membantu apa, Dara? Dan apa hubungannya denganku?"
Duke Selatan menghela napas berat, melemparkan sebuah map kulit kosong ke atas meja. "Elena, apakah kamu mengambil stempel segel perdagangan selatan dari laci meja Ayah sebelum kamu pergi ke makam ibumu?"
Elena menatap map kosong itu lalu menatap ayahnya langsung. "Tidak, Ayah. Mengapa aku harus mengambil stempel itu? Aku pergi ke selatan murni untuk berziarah, tidak ada urusan perdagangan yang aku bawa."
"Tapi Kakak!" Dara menyela dengan cepat, suaranya terdengar cemas dan penuh kepedulian yang palsu. "Aku melihat sendiri seorang pelayan pribadimu, Yana, keluar dari ruang kerja Ayah membawa sebuah kantong kain kecil pada malam sebelum Kakak berangkat. Dan hari ini, menteri keuangan dari faksi pangeran kedua datang membawa dokumen kontrak baru yang sudah distempel dengan segel keluarga kita! Dokumen itu menyatakan bahwa keluarga kita memberikan hak monopoli pelabuhan selatan kepada pihak mereka!"
Elena mendengarkan tuduhan Dara dengan ketenangan yang menakutkan. Di dalam hatinya, dia hampir ingin tertawa. ‘Rencana yang sangat rapi, Dara. Kamu mencuri stempel itu, menyerahkannya kepada Gavin untuk kesepakatannya dengan pangeran kedua, lalu melemparkan kesalahannya kepada Yana dan aku.’
Dalam kehidupan pertamanya, Elena yang panik akan langsung berteriak membela diri, memicu kemarahan ayahnya yang menganggapnya tidak sopan dan tidak bertanggung jawab. Ayahnya kemudian akan menghukum Yana dengan hukuman cambuk, dan hubungan Elena dengan ayahnya akan hancur total, membiarkan Dara mengambil alih posisi sebagai putri kesayangan.
Namun sekarang, Elena hanya tersenyum tipis. Dia berjalan mendekati Dara, menatap adik tirinya itu dari atas ke atas dengan pandangan yang membuat Dara tiba-tiba merasa merinding.
"Dara, kamu mengatakan melihat Yana membawa kantong kain malam itu?" tanya Elena lembut.
"I-iya, Kakak. Aku bersumpah aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," jawab Dara, mencoba mempertahankan aktingnya meskipun ada rasa tidak nyaman yang mendadak muncul di dadanya melihat ketenangan Elena.
"Menarik," Elena berbalik menghadap ayahnya. "Ayah, jika segel itu benar-benar digunakan untuk menandatangani dokumen kontrak hari ini di ibu kota, bukankah itu berarti segel tersebut harus berada di ibu kota selama beberapa hari terakhir ini?"
Duke Selatan menyipitkan matanya, mulai berpikir logis. "Benar. Proses penandatanganan kontrak dengan kementerian membutuhkan waktu verifikasi setidaknya tiga hari."
"Dan aku berada di perjalanan menuju selatan selama empat hari terakhir bersama Yana," Elena menjeda kalimatnya, kilatan tajam muncul di matanya. "Jika Yana yang mengambilnya malam itu dan membawanya bersamaku ke selatan, bagaimana mungkin segel itu bisa berada di ibu kota untuk menyegel dokumen kontrak hari ini? Apakah Yana memiliki kemampuan sihir untuk membelah dirinya menjadi dua?"
Ruangan itu mendadak menjadi hening. Wajah Dara langsung memucat. Dia tidak memperhitungkan bahwa Elena akan menggunakan garis waktu perjalanannya sebagai pembelaan yang begitu akurat.
"I-itu... mungkin Yana menyerahkannya kepada orang lain sebelum berangkat!" Dara mencoba mencari alasan, suaranya mulai terdengar panik.
"Kepada siapa, Dara?" Elena melangkah mendekat, mengintimidasi Dara dengan kehadirannya. "Yana adalah pelayan yang setia dan tidak pernah keluar dari kediaman tanpa izin dariku. Sebaliknya... bukankah kamu, Dara, yang kemarin sore terlihat mendatangi distrik bangsawan atas dan bertemu dengan perwakilan dari kementerian keuangan?"
"K-Kakak! Apa yang kamu katakan?! Aku tidak pernah melakukan itu!" teriak Dara, wajahnya kini benar-benar memutih karena ketakutan.
Elena menoleh ke arah pintu. "Yana, bawa masuk saksi kita."
Pintu ruang kerja kembali terbuka. Yana masuk bersama dengan seorang kusir kereta kuda keluarga yang tampak gemetar. Kusir itu langsung berlutut di depan Duke Selatan.
"Tuan Besar... mohon ampun," ucap kusir itu dengan suara ketakutan. "Dua hari lalu, Nona Dara meminta saya untuk mengantarnya ke sebuah restoran rahasia di distrik atas. Saya melihat Nona Dara menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepada seorang pria berpakaian dinas kementerian keuangan. Nona Dara mengancam akan memecat saya jika saya menceritakan hal ini kepada siapa pun."
Brak!
Duke Selatan memukul meja kerjanya dengan keras, membuat Dara dan ibunya menjerit ketakutan. Wajah Duke kini dipenuhi dengan kemarahan yang luar biasa, namun kemarahan itu tidak lagi ditujukan kepada Elena, melainkan kepada Dara.
"Dara! Berani-beraninya kamu memfitnah kakakmu dan menjual aset keluarga kepada pihak luar?!" bentak Duke Selatan dengan suara yang menggelegar.
"Ayah! Ini tidak benar! Pria itu berbohong! Elena menjebakku!" Dara berteriak histeris, air matanya kini mengalir karena ketakutan yang murni. Dia menatap Elena, berharap melihat wajah kakaknya yang marah, namun dia hanya menemukan tatapan dingin dan senyuman kemenangan yang samar di bibir Elena.
‘Ini baru permulaan, Dara,’ bisik Elena dalam hati saat melihat adiknya diseret keluar ruangan oleh para penjaga atas perintah ayahnya untuk dikurung di kamarnya sampai waktu yang ditentukan. ‘Kamu dan Gavin telah mengambil segalanya dariku di kehidupan lalu. Kali ini, aku akan memastikan kalian saling menghancurkan satu sama lain sebelum aku memberikan pukulan terakhir.’
Elena berdiri di dekat jendela ruang kerja ayahnya, menatap langit malam ibu kota yang kian kelam. Di kejauhan, bayangan seekor serigala perak seolah melintas di balik awan malam—mengingatkannya pada aliansi gelap yang baru saja dia mulai dengan sang tirani utara. Roda balas dendam telah berputar, dan tidak ada yang bisa menghentikannya lagi.