Leonel Stevano_ CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat.
Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah merasa tertarik dengan lawan jenis. Tentu saja dia bukan Homo! tolong di garis bawahi. Karena menurutnya, wanita itu ribet! Segala apa yang Mereka lakukan nampak membingungkan. Itu sebabnya ia tidak begitu tertarik menjalin hubungan serius dengan perempuan. Leon tidak suka hal yang berbau ribet dan merepotkan.
Di dunia ini. Hanya ada satu orang yang mampu membuat nya mau di repotkan. Karna baginya justru itu adalah suatu kebahagiaan nya, membuatnya merasa Menjadi bagian penting dalam kehidupan wanita itu.
Shevana maurer_ Gadis biasa yang hidup seorang diri. Gadis manis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya. Ceroboh, keras kepala dan terkenal dengan sifat bodo amatan nya.
Bekerja menjadi salah satu pegawai di Perusahaan ternama. Selama hidup.. Dia belum benar-benar tahu apa yang menjadi tujuanya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan lelaki dingin yang arogan dalam suatu insiden karena kecerobohan nya. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, karena faktanya pria itu terus saja mengusik hidup tenang Shevana.
He is the Devil Teaser!
Tetapi siapa sangka, kemunculan pria itu di hidupnya justru membuat dia sedikit demi sedikit mengerti tujuan hidup nya. Kehidupan nya yang biasa saja berubah menjadi penuh kejutan. Karena di balik sifat dinginya, pria itu begitu senantiasa menjaga dan melindunginya.
Bagai duri bagi yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_Quella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tiga belas Piknik
Pagi yang cerah.
Beberapa pelayan terlihat berseliweran sembari membawa sesuatu ditangan mereka. Mala selaku pengurus penthouse memantau beberapa keperluan yang sudah ia tulis lalu mulai mengabsennya hingga selesai seperti yang sudah di perkirakan.
Shevana berjalan keluar kamar sembari menguap. Kemudian menuruni tangga menuju dapur ketika merasa dirinya haus. "Kalian sedang apa?" tanya Shevana mengernyit melihat para pelayan tengah menyiapkan banyak makanan di kotak makanan.
Mala yang menyadari kehadiran Shevana lalu berbalik dan tersenyum sopan menatapnya. "Menyiapkan bekal, Nona." balas Mala singkat.
"Bekal?" Beonya. Lipatan di dahi Shevana semakin terlihat.
Mala hanya mengangguk menanggapi.
Shevana kemudian mengambil segelas air putih lalu meminumnya hingga setengah. Meletakkannya kembali di atas meja dan kembali memerhatikan para pelayan yang masih menyibukkan diri. "Bekal untuk siapa?"
"Tentu saja kita." sahut Leon yang sudah berada di belakangnya.
Shevana menoleh, "Kita?" Shevana menatap Leon tidak mengerti. "Untuk apa? Dan kau.. Ada apa dengan pakaianmu?" tanya Shevana melihat Leon hanya mengenakan pakaian santainya.
Leon melangkah menghampiri Shevana dengan memberi kecupan singkat di pelipisnya. "Piknik. Hari ini weekend jika kau lupa."
Shevana mencebik, dia melayang kan tatapan protesnya pada Leon. "Aku tahu ini weekend. Tapi tidak biasanya kau meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengajak liburan. Demi Tuhan.. Ini bukan dirimu."
"I know."
"Lalu?"
"Tidak ada lalu. Kau tidak perlu memikirkannya. Ku yakin kau akan menyukainya." Leon menuntun Shevana untuk duduk di meja makan, "Kau membutuhkan refreshing, Ana. Dan setahuku, Piknik dapat membantu menenangkan pikiran. Kau harus lebih memperhatikan psikismu. Jangan memikirkan apapun yang tidak penting. Itu bisa memengaruhi tingkat emosionalmu. Mengerti?"
Shevana berkedip lugu. Ada apa dengan Leon? Mengapa dia berubah menjadi pria manis seperti ini? Sungguh.. Hal ini membuat Shevana kelimpungan mengatur perasaannya.
"Aku baru diam, apa yang kau lamunkan?" tanya Leon menjawel pipi kiri Shevana membuat sang empunya tersentak.
Shevana menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa," Shevana balas menatap Leon, "Kita akan piknik dimana?"
Leon mengendik. Mengambil buah anggur di atas meja kemudian menyuapkan ke mulutnya, lalu berganti mengarahkan ke arah Shevana membuat sang empunya mengernyit kan hidung.
"Apa?"
"Makanlah."
Shevana mencebik, meski begitu dia tetap menerima suapan Leon. Jika sudah begini, sudah di pastikan Leon tidak akan menjawab pertanyaannya.
Selesai mengunyah Shevana berkata, "Kalau begitu aku akan mempersiapkan beberapa barang milikku."
Leon mengangkat satu alis, "Tidak perlu. Mala sudah mempersiapkan semua yang kau butuhkan nanti. "
"Kau itu selalu sesukamu sendiri." gerutu Shevana mulai mengomel.
Leon terkekeh pelan. "Ada apa?" tanyanya menggoda.
Shevana meliriknya sinis, "Tidak usah tanya aku. Kau 'kan terbiasa melakukan semaumu."
Leon tertawa kecil, dia mengacak surai Shevana yang panjang menjuntai dengan Shevana yang terlihat memajukan bibir kesal.
"Karena aku selalu tahu yang kau butuhkan, Honey."
"Ya, ya. Terserah kau saja." balas Shevana kesal sembari menjulurkan tangan mengambil buah apel lalu menggigitnya.
Leon terdiam beberapa saat, "Kau lebih suka apel dari pada anggur?"
Shevana hanya mengangguk santai tanpa menoleh kearahnya.
Leon mengulas senyum tipis - menatap Shevana dengan tatapan tak terbaca.
Melihat senyum aneh Leon Shevana merasa tidak nyaman, "Jujur saja. Kali ini apa yang kau pikirkan?" tandas Shevana membuat Leon menyeringai.
Dua sudut bibirnya melengkung, Leon balas menatap Shevana lekat, "Ku pikir, memiliki kebun apel sendiri sepertinya bagus juga. Bagaimana menurutmu?"
"Jangan aneh-aneh! Aku tahu apa yang ada di kepalamu sekarang."
"Kau bilang suka apel. Memiliki kebunnya sendiri kurasa bagus. kau bisa menikmati sendiri nantinya."
Shevana memutar bola matanya. Apa hanya karena Shevana mengatakan dia suka apel, lalu pria arogan itu langsung ingin memiliki kebunnya sendiri? Astaga.. Apa dia masih cukup waras?
Sedang Mala dan para pelayan lain yang mendengar niat absurd majikannya diam-diam terkekeh. Mereka mulai berpikir sebesar apa rasa yang di miliki majikannya untuk wanita sederhana yang berada di sisinya saat ini.
Well, siapapun yang melihat mereka pasti akan merasa iri dan ingin menjadi Shevana.
**
UNKNOW PLACE. AT 10:27 AM
"Oh my God!" pekik Shevana ketika mobil yang Leon kendarai berhenti di sebuah jembatan yang berada tidak jauh dari tepi pantai. Air jernih berwarna hijau perpaduan dengan air berwarna biru dihadapannya saat ini sangatlah membuat Shevana terpesona.
Ini sangat Indah.. Astaga.. Shevana benar-benar merasa seperti mimpi dapat melihat panorama cantik dari tempatnya berdiri saat ini.
"Kau menyukainya?"
"Sangat!" seru Shevana semangat. "Cantik."
Leon mengulas senyum lalu melingkarkan satu lengannya di pinggang Shevana dan satu lagi berada di leher Shevana. "Ya, cantik." sepertimu.
Shevana menoleh ketika Leon menyadarkan dagunya di pundak Shevana. "Dari mana kau menemukan tempat ini?"
"Kau sungguh ingin tahu?"
Shevana mengangguk antusias. "Tentu saja."
"Sayang sekali, aku lebih suka melihatmu penasaran." kekeh Leon menggoda Shevana.
"Menyebalkan!"
"Dan kau menyukai apa yang orang menyebalkan ini lakukan, bukan?"
Shevana tertawa pelan, "Yeah, sayang sekali aku harus mengakui ini." Shevana mengulas senyum tulus, "Ya. Aku menyukainya."
Akhirnya.. Senyum tulus dan sinar mata bahagia wanita di dekapannya sekarang benar-benar terpancar. Sangat cantik melebihi panorama di hadapanya saat ini. Leon ikut merasa senang untuk sesuatu yang dia sendiri tidak pahami. Namun, apapun itu Leon berharap pa yang dia lakukan bisa dapat membantu Shevana memperbaiki tekanan emosionalnya.
Semoga saja.
Beberapa menit berlalu. Shevana dan Leon sama-sama membungkam mulut mereka dan menikmati suasana juga pemandangan yang sangat asri ini. Kali Ini Leon benar-benar membuatnya bisa merasakan apa arti menenangkan pikiran.
Namun, Shevana menyadari sesuatu. Hanya butuh beberapa menit untuk Shevana menyadari seperti ada yang salah disini. Ah, ralat.. lebih tepatnya ada sesuatu yang menganjal dengan tempat ini.
Cantik dan indah. Tapi mengapa disini sepi? Bahkan Shevana baru sadar hanya ada mereka berdua disini.
Kuharap pikiranku salah kali ini.
"Apa?" tanya Leon menyadari tatapan Shevana yang tidak biasa.
"Mengapa disini sepi?"
"Apa aku boleh tidak menjawabnya?"
Shevana berdecak, "Oh, ayolah.."
Leon terkekeh pelan, "Tentu karena ini pulau pribadiku." jawab Leon singkat.
Shevana sudah menduga namun dia pikir dia salah. Shevana kemudian mendesah panjang, "Pulau pribadi mu .. Yeah, sebenarnya Seberapa kayanya dirimu, huh?" tanya Shevana tidak habis pikir.
Leon diam beberapa saat, "Aku tidak kaya. Aku hanya berkecukupan."
Shevana kembali berdecak, "Arogan seperti biasanya. Well, kata cukup versi mu itu yang seperti apa?"
Leon melirik Shevana sekilas lalu beralih memindahkan dagunya di puncak kepala Shevana. "Cukup bisa membeli apapun yang kau butuhkan. Cukup bisa mengajakmu berkeliling benua. Dan yang terpenting.. Cukup bisa membuatmu bahagia." jelas Leon membuat Shevana terdiam. "Itu.. Sudah lebih dari cukup bagiku."
"Aku tidak mengerti." Shevana mendonggakkan kepala, "Sebenarnya.. Apa yang sedang kau tunjukkan sekarang, Leon?"
"Kau tidak tahu?"
Shevana menggeleng pelan sebagai jawaban.
Leon mengulas senyum tipis, "Suatu saat kau akan mengerti, nikmati saja apa yang bisa aku lakukan untukmu sekarang. Jangan pikirkan apapun, Honey. aku mengajak mu kemari bukan untuk menambah pikiran mu. Tenang kan mindset mu, okay?"
"Leon.."
"Ana, come on.."
"Baiklah.." desah Shevana. Kemudian Shevana mengurai pelukan Leon dan berlari menuju mobil lalu kembali dengan membawa sebuah kamera.
"Kalau begitu, cepat foto aku. Aku ingin mengabadikan hari ini." ucap Shevana riang.
Leon terkekeh, mengambil alih kamera dan mulai berjalan menjauh dari Shevana. Shevana turut melakukan hal sama dan berpose di pesisir pantai.
"Okay, are you ready?" teriak Leon di kejauhan.
Shevana balas berteriak. "Yes!"
Leon mulai mengambil gambar dengan beberapa banyak gaya yang Shevana lakukan. Diam-diam Leon tersenyum. Kecantikan ini tidak boleh dia sia-siakan, bukan?
Leon kembali mengambil gambar Shevana yang tengah berlari di dalam air sembari merentangkan kedua tanganya dengan senyum yang tercetak di wajahnya. Leon tidak berhenti tersenyum melihat bayangan Shevana dari lensa kamera, "Pejamkan matamu, Ana!" teriak Leon mengarahkan yang di balas oke oleh Shevana.
Setelah beberapa kali Shevana berpose dengan gaya yang berbeda, kini dia menghampiri Leon kemudian menarik tangan besarnya, membuat sang empunya mengernyit. "Apa?"
"Tentu saja, Foto."
"Ini aku sedang memfotomu."
Shevana berdecak. "Aku tahu."
"Lalu kenapa menarik tanganku?"
"Kita foto bersama. Letakkan kameranya di sini dan atur waktunya."
Leon menggeleng.
"Kau bilang ingin menyenangkanku. Tapi hanya di ajak foto bersama saja kau tidak mau." komentar Shevana kesal.
Leon menghela nafas, "Aku tidak suka di foto. '' jelas Leon mencoba membuat Shevana mengerti.
Shevana tidak menjawab lalu memalingkan muka - sengaja mengabaikannya.
"Ana.."
Tidak ada jawaban. Leon yang melihat itu menghembuskan nafas panjang. Shevana sedang merajuk. Mau tidak mau Leon terpaksa menyetujuinya.
"Ku rasa.. Hanya sekali, aku bisa melakukan nya." ucap Leon membuat Shevana menoleh antusias.
"Baiklah, tidak apa-apa. Ayo cepat atur waktunya. Aku ingin makan cumi crispy setelah ini."
See.. Mood wanita memang benar-benar tidak bisa di tebak. Mudah merajuk, mudah juga untuk kembali ceria. Tetapi... Mau seperti apapun sikapnya, Leon sudah benar-benar jatuh pada pesona kelinci galak itu.
Ya, dia Shevana.
Wanitanya.
semoga segerah menikha 😃💪
semangat nulis terus ya thor!!!