NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Big bang (1)

Malam semakin larut, namun suasana di ruang pertemuan markas Big Bang terasa jauh lebih mencekam dibanding dinginnya angin di luar. Lampu bohlam tunggal yang menggantung di langit-langit ruangan itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding kusam.

Galang melangkah mendekati meja kayu bundar di tengah ruangan, tatapannya menyapu wajah satu per satu anak buahnya yang tertunduk takut.

Nama "Bang Indra" yang baru saja ia sebutkan seolah berhasil meredam ketegangan di ruangan itu, menggantinya dengan keheningan yang sarat akan rasa hormat, beban masa lalu, dan kerinduan yang mendalam.

"Kalian mungkin terlalu muda untuk tahu bagaimana semuanya bermula," suara Galang melunak, meski auranya tetap intimidatif dan penuh wibawa.

Ia menarik sebuah kursi kayu lalu duduk, mengenang masa-masa ketika kelompok yang kini ditakuti itu hanyalah sekumpulan anak muda pinggiran yang memegang prinsip hidup sederhana.

Beberapa tahun lalu, jauh sebelum ruko-ruko dan jalanan kota ini berada di bawah bayang-bayang tekanan kelompok lain, Big Bang lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari sisa-sisa idealisme anak muda.

Indra, sang pendiri sekaligus pemimpin pertama, adalah sosok pemuda bertangan dingin yang memiliki kharisma luar biasa. Saat itu, Indra dan beberapa temannya termasuk Galang yang masih menjadi junior ingusan kering menghabiskan malam di warung kopi pinggir jalan.

Mereka muak melihat bagaimana anak-anak muda seusia mereka kerap ditindas oleh preman-preman pasar dan geng jalanan yang semena-mena.

Indra memiliki sebuah filosofi sederhana yang menjadi fondasi kelompok tersebut: "Romantisme jalanan dan solidaritas tanpa batas".

Bagi Indra, Big Bang bukanlah wadah untuk mencari musuh atau memeras orang lemah.

Nama "Big Bang" sendiri tercetus dari keyakinan mereka bahwa sebuah ledakan kecil dari persahabatan yang tulus bisa mengubah kegelapan malam di kota ini.

Mereka menganut aturan tak tertulis: "Satu rasa sakit adalah milik bersama, satu piring nasi dibagi rata, dan pantang mengkhianati kawan demi kepentingan pribadi."

Berkat kepemimpinan Indra yang merangkul dan menjunjung tinggi kehormatan, Big Bang cepat berkembang. Mereka disegani bukan karena jumlah anggotanya yang banyak, melainkan karena loyalitas mutlak antar anggotanya yang terkenal tidak pernah luntur.

Namun, seiring berjalannya waktu dan kerasnya roda perekonomian kota, idealisme saja tidak cukup untuk bertahan hidup.

Tekanan dari sindikat jalanan yang lebih besar dan terorganisir mulai menghimpit wilayah kekuasaan mereka.

Di sinilah titik balik terjadi. Untuk melindungi anggota-anggotanya dari kehancuran total dan pembantaian kelompok lain, Indra terpaksa mengambil keputusan berat, Bergabung dengan Four Men Crew.

Four Men Crew adalah aliansi payung elit yang menaungi empat faksi terbesar di kota ini. Bergabung dengan aliansi tersebut memang memberikan perlindungan politis dan keamanan wilayah bagi Big Bang, namun ada harga mahal yang harus dibayar.

Mereka harus tunduk pada aturan aliansi, menyetor upeti bulanan yang tinggi, dan mematuhi perintah dari figur-figur sentral yang kejam di balik layar, termasuk Danu dan Dani dua sosok pengendali bayangan yang kini menjadi teror bagi Galang dan anak buahnya.

Selama Indra memimpin, beban berat di bawah naungan Four Men Crew masih bisa diatasi berkat negosiasi tingkat tinggi dan wibawa sang ketua yang dihormati bahkan oleh faksi lain di dalam aliansi.

Tragedi bermula pada suatu malam badai, beberapa tahun lalu. Tanpa sepatah kata, tanpa pesan perpisahan, dan tanpa jejak digital sedikit pun, Indra tiba-tiba menghilang.

Keesokan paginya, kamar sewa Indra kosong. Jaket kebanggaannya tertinggal di atas kasur, dan ponselnya mati total. Berbulan-bulan pencarian yang dilakukan Galang dan para petinggi lama tidak membuahkan hasil. Indra seolah ditelan bumi, meninggalkan Big Bang yang seperti kehilangan arah kompas moralnya.

Kehilangan sosok Indra membuat fondasi Big Bang goyah. Tanpa pelindung kharismatik yang disegani kawan maupun lawan, posisi Big Bang di dalam Four Men Crew perlahan tergerus. Kelompok-kelompok faksi lain mulai meremehkan mereka, menganggap Big Bang kini hanyalah macan ompong yang tinggal menunggu waktu untuk runtuh.

Dan situasi itulah yang sedang dihadapi Galang sekarang.

Kembali ke ruang rapat markas, Evan menatap sang ketua dengan kerutan di dahi, menyuarakan keraguan yang juga dirasakan oleh anggota lainnya.

"Tapi bang... Bang Indra sudah menghilang bertahun-tahun. Kita bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Kenapa tiba-tiba Abang menyebut namanya lagi di situasi genting seperti ini?" tanya Evan penuh tanya, nada suaranya menyiratkan keputusasaan yang tertahan.

Galang menghela napas berat, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang sudah termakan usia.

Matanya menerawang jauh keluar jendela, menembus pekatnya malam dan gerimis yang mulai turun.

"Gue nggak tahu dia dimana, Van. Gue nggak punya petunjuk apa pun," jawab Galang dengan suara parau. "Tapi ada satu hal yang gue yakini, dan itu nggak akan pernah berubah..." Galang mengepalkan tangannya di atas meja dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"...selama prinsip romantisme dan solidaritas yang diajarkan Indra masih hidup di dada kita, roh Big Bang belum mati. Dan kalaupun kita harus jatuh menghadapi Danu dan Dani... kita bakal jatuh sebagai ksatria jalanan, bukan sebagai pengecut yang memohon belas kasihan!"

Suasana di dalam ruangan langsung terdiam. Kata-kata Galang menghujam hati setiap orang yang mendengarnya.

Namun, di tengah keheningan itu, suara decitan pintu kayu yang didorong terbuka mendadak membuyarkan konsentrasi mereka.

Seorang pemuda berbadan kurus dengan napas tersenggal-senggal berlari terburu-buru masuk ke dalam ruangan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Bang! Gawat, Bang!" teriak pemuda itu setengah berteriak, hampir tersandung karpet lantai.

Galang bangkit dari kursinya dengan cepat, matanya tajam menatap sang anak buah.

"Ada apa? Jangan bikin panik, ngomong yang benar!"

"Anak-anak buah Danu dan Dani... mereka datang ke pos penjagaan sektor timur!" lapor pemuda itu dengan suara bergetar ketakutan.

"Mereka bilang setoran kita telat dua hari, dan sebagai hukumannya, mereka merusak lapak milik pedagang yang dilindungi oleh kelompok kita!"

Mendengar berita itu, urat di leher Galang langsung menegang. Amarahnya yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak. Ia membanting meja di depannya hingga suara hantaman keras menggema ke seluruh ruangan.

"Sialan! Beraninya mereka menginjak-nginjak wilayah kita dan merugikan orang-orang lemah!" maki Galang dengan mata melotot merah.

Evan dan para petinggi Big Bang lainnya langsung berdiri tegak, merapikan jaket hitam berlogo besar di punggung mereka. Jiwa solidaritas yang selama ini menjadi darah daging kelompok tersebut terpanggil secara bersamaan. Tanpa perlu dikomando dua kali, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

"Bang, biarkan kami yang maju kali ini," ucap Evan dengan tatapan penuh tekad, melangkah maju mendekati Galang.

"Kita tunjukkan ke Danu dan Dani bahwa Big Bang belum mati. Kita buktikan kalau nilai-nilai yang ditinggalkan Bang Indra masih tertanam kuat di diri kita!"

Galang menatap Evan lekat-lekat, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman penuh keyakinan di tengah badai kehancuran yang mengancam. Ia mengambil jaket kebanggaannya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya dengan mantap.

"Bagus, Evan. Ambil besi kalian, kumpulkan semua anak buah yang tersisa di markas," perintah Galang dengan suara menggelegar, membangkitkan kembali semangat juang di ruangan itu.

"Malam ini, kita ingatkan mereka arti sebenarnya dari solidaritas jalanan!"

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!