Lin Yuan hanyalah seorang satpam biasa yang ingin menikmati hidup tenang setelah meninggalkan gelarnya sebagai Raja Tentara Bayaran paling mematikan.
Namun, hari-harinya berubah menjadi kacau ketika ia terjebak kesepakatan menjadi pacar palsu seorang CEO wanita sedingin es bernama Shen Yuxuan demi menggagalkan pertunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mereka sedang menunggu momen yang tepat untuk menculik Mengyao saat suasana sepi.
"Kakak ipar ini benar benar tidak seru, pujianmu terlalu kaku."
Mengyao cemberut dan masuk kembali ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
Lin Yuan meletakkan botol minumnya dan mulai merencanakan sesuatu di kepalanya.
Dia tidak bisa menghabisi para pembunuh itu di tengah keramaian mal karena akan menimbulkan kepanikan massal.
Dia harus memancing mereka ke tempat yang sepi agar bisa diselesaikan dengan bersih.
Beberapa menit kemudian, Mengyao keluar dengan pakaian aslinya.
"Aku sudah lapar, ayo kita cari makanan penutup di lantai bawah."
Mengyao mengambil alih beberapa tas belanjaannya dari tangan Lin Yuan.
"Kebetulan sekali, aku tahu tempat makan yang sangat enak tapi kita harus melewati lorong servis di belakang."
Lin Yuan berbohong dengan wajah yang sangat meyakinkan.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita lewat sana, aku suka tempat rahasia."
Mengyao yang polos langsung setuju tanpa menaruh curiga sedikit pun.
Lin Yuan berjalan memimpin di depan, menuntun Mengyao menjauhi area ramai pengunjung.
Mereka masuk ke sebuah lorong panjang yang biasanya hanya digunakan oleh petugas kebersihan mal.
Lampu di lorong itu agak redup dan tidak ada kamera keamanan yang mengarah ke sana.
Suasana tiba tiba menjadi sangat sunyi, berbanding terbalik dengan keramaian mal beberapa meter di belakang mereka.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki mereka berdua menggema memantul di dinding lorong.
"Kakak ipar, tempat ini terlihat agak menyeramkan, apa kau tidak salah jalan?"
Mengyao mulai merasa takut dan memeluk lengan Lin Yuan dengan erat.
"Jangan khawatir, kita sudah hampir sampai di tempat tujuan."
Lin Yuan menjawab dengan tenang sambil menghentikan langkahnya di tengah lorong.
Benar saja, tepat setelah Lin Yuan berhenti, tiga pria berjaket hitam muncul dari ujung lorong depan.
Mereka memblokir jalan keluar dengan wajah yang ditutupi oleh masker hitam.
Mengyao terkesiap kaget dan langsung bersembunyi di belakang punggung lebar Lin Yuan.
Dari arah belakang, dua pria lainnya juga muncul menutup akses kembali ke area utama mal.
Lima orang pria bersenjata tajam kini telah mengepung Lin Yuan dan Mengyao dari dua arah.
"Serahkan gadis itu kepada kami dan kami mungkin akan mengampuni nyawamu."
Salah satu pria berjaket hitam yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu angkat bicara.
Dia mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis yang bilahnya bersinar dingin terkena cahaya lampu redup.
"Si siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?"
Mengyao bertanya dengan suara bergetar ketakutan dari balik punggung Lin Yuan.
Gadis yang biasanya genit dan agresif itu kini benar benar kehilangan keberaniannya.
"Tenanglah Mengyao, mereka hanyalah para lalat pengganggu yang salah memilih tempat bermain."
Lin Yuan menepuk pelan tangan Mengyao yang mencengkeram kemejanya.
Dia tidak melepaskan tas belanjaan dari tangan kirinya, menunjukkan betapa dia meremehkan kelima pria tersebut.
"Kau terlalu sombong untuk ukuran pria yang akan segera mati, Satpam."
Pria berjaket hitam itu mendengus kasar melihat ketenangan Lin Yuan.
"Bos kami Kalajengking Hitam sudah memesan nyawamu dan tubuh gadis itu."
Mendengar nama Kalajengking Hitam, Lin Yuan hanya mengangkat sebelah alisnya dengan bosan.
'Nama yang terlalu norak untuk kelompok pembunuh rendahan.'
Lin Yuan membatin sambil memutar lehernya hingga terdengar bunyi retakan kecil.
Krek. Krek.
"Tutup matamu dan hitung sampai sepuluh, Mengyao."
Lin Yuan memberikan perintah dengan nada lembut namun sangat tegas kepada gadis di belakangnya.
"Ta-tapi Kakak ipar, mereka membawa pisau."
Mengyao tidak mau menutup matanya karena terlalu mengkhawatirkan keselamatan Lin Yuan.
"Percayalah padaku, tutup matamu sekarang dan semuanya akan baik baik saja."
Nada suara Lin Yuan kali ini membawa semacam hipnotis yang membuat Mengyao secara refleks memejamkan mata rapat rapat.
Melihat gadis itu sudah menutup mata, Lin Yuan tersenyum dingin menatap kelima pembunuh di depannya.
Dia tidak ingin Mengyao melihat sisi gelap dan brutal dari dirinya yang sebenarnya.
"Mari kita selesaikan ini dengan cepat, aku masih harus kembali bekerja sebelum bos ku yang cantik mengamuk."
Lin Yuan menjatuhkan tas belanjaan di tangan kirinya ke lantai.
Brak.
Suara jatuhnya barang belanjaan itu menjadi aba aba dimulainya pertarungan tidak seimbang tersebut.
Kelima pembunuh itu menerjang maju secara serempak dengan pisau terhunus mengarah ke titik vital Lin Yuan.
Mereka adalah profesional, gerakan mereka cepat dan terkoordinasi dengan baik.
Namun di mata Lin Yuan, gerakan mereka sama lambatnya dengan siput yang merayap di atas daun.
Wushhh.
Lin Yuan menghindari tebasan pisau pertama hanya dengan memiringkan kepalanya sedikit.
Tangan kanannya melesat secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan si penyerang.
Krak.
Tanpa belas kasihan, Lin Yuan mematahkan pergelangan tangan pria itu ke arah yang berlawanan.
Jeritan tertahan terdengar saat pria itu jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang bengkok.
Lin Yuan tidak berhenti di situ, dia menggunakan lututnya untuk menghantam dada pria kedua yang datang dari arah kiri.
Bugh.
Bunyi tulang rusuk patah menggema di lorong sempit itu.
Tubuh pria kedua terlempar ke dinding dengan keras dan langsung pingsan sebelum menyentuh lantai.
Sisa tiga penyerang mulai menyadari bahwa target mereka bukanlah manusia biasa.
Mereka ragu ragu sejenak, dan keraguan itu dibayar mahal dengan rasa sakit yang luar biasa.
Sring.
Lin Yuan merebut salah satu pisau yang jatuh di lantai menggunakan ujung sepatunya dan menendangnya ke udara.
Dia menangkap gagang pisau itu dengan sempurna dan langsung bergerak maju bagaikan hantu.
Dua garis merah tipis seketika muncul di pergelangan tangan dua penyerang tersisa yang memegang senjata.
Crat.
Urat nadi mereka terpotong dengan akurasi bedah yang mengerikan, membuat mereka menjatuhkan pisau masing masing.
Lin Yuan mengakhiri perlawanan mereka dengan dua pukulan keras ke arah tengkuk belakang.
Hanya dalam waktu kurang dari tujuh detik, kelima pembunuh profesional itu sudah terkapar tidak berdaya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mati, karena Lin Yuan tahu tempat ini terlalu terbuka untuk sebuah pembunuhan.
Namun dia memastikan tidak satu pun dari kelima pria itu bisa menggunakan tangan mereka untuk memegang pisau lagi seumur hidupnya.
Suasana lorong kembali menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara napas Mengyao yang terengah engah karena ketakutan.
"Delapan, sembilan, sepuluh."
Mengyao menghitung angka terakhir dengan suara bergetar dan perlahan membuka matanya.
Gadis itu membelalakkan matanya melihat kelima pria berjaket hitam itu sudah tergeletak di lantai.
Darah segar berceceran di beberapa bagian lantai, menciptakan pemandangan yang cukup mengerikan bagi orang awam.
Lin Yuan berdiri dengan tenang sambil merapikan kerah seragam satpamnya yang sama sekali tidak terkena noda darah.
Dia telah menendang pisau pisau itu menjauh agar tidak terlihat oleh Mengyao.
"Apa yang terjadi Kakak ipar? Kenapa mereka semua tertidur di lantai?"
Mengyao bertanya dengan wajah pucat dan kebingungan yang luar biasa.
"Aku memukul perut mereka sedikit keras dan ternyata mereka semua pingsan, mereka sangat lemah."
Lin Yuan berbohong dengan wajah datar yang sangat meyakinkan.
Dia memungut kembali tas belanjaan Mengyao yang jatuh di lantai.
"Ayo kita pergi dari sini, sepertinya mereka ini sedang mabuk dan salah mencari sasaran."
Lin Yuan menggandeng tangan Mengyao yang masih gemetar dan menuntunnya keluar dari lorong servis tersebut.
Mengyao menoleh ke belakang sekali lagi menatap pria pria yang mengerang kesakitan di lantai.
Dia tidak bodoh, dia tahu Lin Yuan menutupi kebenarannya, namun dia memilih untuk percaya pada pria di sebelahnya ini.
Rasa takut di hatinya perlahan digantikan oleh rasa kagum dan aman yang belum pernah dia rasakan dari pria mana pun.
Genggaman tangan Lin Yuan terasa begitu kuat dan hangat, seolah bisa melindungi dirinya dari bahaya apa pun di dunia ini.
Di balik sifatnya yang santai dan suka bercanda, pria ini ternyata menyembunyikan kekuatan yang luar biasa menakjubkan.
'Kakak ipar ini, sepertinya aku benar benar mulai jatuh cinta padanya.'
Mengyao membatin sambil menatap profil samping wajah Lin Yuan dengan rona merah di pipinya.
Gadis genit itu kini tidak hanya ingin menggoda, tapi benar benar ingin memiliki Lin Yuan untuk dirinya sendiri.
Shen Yuxuan tidak tahu bahwa keputusannya menyewa pacar palsu justru mendatangkan saingan berat dari adiknya sendiri.