Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keesokan harinya, rumah keluarga Dimas kembali diselimuti kesibukan.
Karin baru saja turun dari lantai atas ketika melihat beberapa pelayan sedang memindahkan vas bunga dan mengganti dekorasi ruang tamu.
Ia menghentikan langkah.
"Ada apa ini?"
Salah seorang pelayan tampak ragu menjawab.
"Maaf, Nyonya... kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
Belum sempat pelayan itu menjawab, suara Vina terdengar dari arah ruang keluarga.
"Perintahku."
Vina berjalan menghampiri sambil tersenyum puas. Ia memandangi hasil dekorasi itu seolah rumah tersebut benar-benar miliknya.
"Kak, ruang tamu ini sudah terlalu membosankan. Aku hanya ingin suasananya lebih segar."
Karin menatap seluruh ruangan.
"Itu semua tanpa seizinku?"
Vina mengangkat bahu.
"Aku pikir tidak perlu. Mas Dimas juga pasti lebih suka seperti ini."
Karin menatap tajam.
"Rumah ini masih menjadi tanggung jawabku."
Vina tersenyum tipis.
"Tapi Mas Dimas tidak pernah keberatan dengan apa yang kulakukan. Aku hanya ingin membantu."
Bu Ratna yang baru keluar dari ruang kerjanya langsung ikut berbicara.
"Karin. Vina hanya ingin membuat rumah ini lebih nyaman. Kamu tidak perlu membesar-besarkan masalah kecil."
Karin mengembuskan napas pelan.
"Masalahnya bukan seperti itu, Bu."
"Lalu apa?"
"Masalahnya, setiap keputusan di rumah ini mulai diambil oleh orang yang bukan pemilik rumah."
Suasana langsung hening. Beberapa pelayan menghentikan pekerjaan mereka.
Vina segera memasang wajah sedih.
"Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud mengambil alih. Aku hanya ingin membantu keluarga ini."
Bu Ratna langsung meraih tangan Vina.
"Sudahlah. Ibu tahu niatmu baik." Ia kemudian menoleh kepada Karin. "Karin, akhir-akhir ini kamu terlalu sensitif. Kamu selalu menganggap semua orang ingin menyakitimu."
Kalimat itu sengaja diucapkan cukup keras. Beberapa pelayan saling berpandangan.
Karin mengepalkan kedua tangannya. Ia sadar. Sekali lagi, Bu Ratna dan Vina sedang memainkan sandiwara yang sama. Dan sekali lagi... Mereka sengaja menunggu ada saksi sebelum berubah menjadi korban.
Vina berjalan menghampiri sambil tersenyum manis.
"Kak Karin."
Karin menoleh. Tatapannya langsung berubah dingin.
"Sejak kapan kamu berhenti memanggilku 'Nyonya'?"
Vina tampak pura-pura bingung.
"Lho? Kita kan sebentar lagi akan menjadi keluarga. Aku rasa lebih enak memanggil Kakak dengan sebutan 'Kak Karin'."
Karin melangkah mendekat.
"Selama aku masih istri sah Dimas, statusku di rumah ini tetap nyonya. Jadi panggil aku sebagaimana mestinya."
Vina menggigit bibirnya, lalu menundukkan kepala.
"Maaf, Kak Karin. Aku tidak bermaksud tidak sopan. Tapi menurutku memanggil 'Kak' terdengar lebih akrab."
Saat beberapa pelayan mulai melintas, Bu Ratna segera ikut berbicara.
"Karin. Hanya karena masalah panggilan saja, tidak perlu dibesar-besarkan. Vina tidak punya niat buruk. Ia hanya ingin lebih dekat denganmu."
Vina mengangguk pelan.
"Iya, Kak. Kalau Kakak tidak suka, nanti aku panggil 'Nyonya' lagi."
Nada suaranya terdengar lembut. Namun sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang hanya sempat dilihat Karin.
Karin menatap Vina beberapa saat. Tatapan itu begitu tajam hingga membuat senyum tipis di bibir Vina hampir menghilang.
Namun Karin tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengembuskan napas pelan, lalu berbalik hendak meninggalkan ruang keluarga.
Melihat Karin tidak terpancing, Vina langsung melirik Bu Ratna.
Bu Ratna memahami isyarat itu.
"Karin."
Langkah Karin terhenti.
"Ada apa lagi, Bu?"
Bu Ratna tersenyum lembut.
"Ibu hanya ingin memberitahumu. Mulai besok, Vina yang akan membantu mengurus kebutuhan Dimas."
Karin perlahan membalikkan badan.
"Maksud Ibu?"
Bu Ratna tetap memasang wajah tenang.
"Vina sudah hafal kesukaan Dimas. Mulai dari makanan, pakaian, sampai jadwal hariannya. Kasihan dia kalau terus dibiarkan menganggur di rumah."
Vina pura-pura menggeleng.
"Bu, jangan begitu. Aku tidak enak sama Kak Karin."
Bu Ratna mengusap tangan Vina dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tidak usah sungkan. Sebentar lagi kalian juga akan menjadi satu keluarga."
Kalimat itu membuat tangan Karin perlahan mengepal. Ia masih berusaha menahan emosinya.
Vina menatap Karin dengan wajah seolah merasa bersalah.
"Kak, aku tidak pernah berniat mengambil posisi Kakak. Aku hanya kasihan melihat Mas Dimas. Dia akhir-akhir ini terlihat sangat lelah. Kebetulan aku punya waktu luang. Jadi aku ingin meringankan bebannya."
Ucapan itu terdengar begitu tulus. Beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu mulai memperhatikan.
Bu Ratna kembali menambahkan.
"Karin, kamu juga akhir-akhir ini sering keluar rumah. Kalau ada yang membantu mengurus Dimas, bukankah itu justru meringankanmu?"
Karin tersenyum tipis. Senyum itu membuat Bu Ratna dan Vina saling berpandangan. Mereka mengira Karin akan marah besar. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Kalau memang Vina ingin mengurus Dimas..." Karin mengangkat bahu santai. "Silakan."
Jawaban itu membuat senyum di wajah Vina membeku.
"Kak... maksud Kakak?"
Karin menatapnya datar.
"Kalau ada yang begitu bersemangat mengurus suamiku, kenapa harus kuhalangi?"
Ruangan mendadak hening. Bu Ratna mulai merasa ada yang tidak beres.
"Karin, kamu serius?"
"Tentu."
"Aku bahkan berterima kasih."
Vina mulai kehilangan arah. Rencana mereka adalah memancing kemarahan Karin. Namun perempuan itu justru menyerahkan semua peran yang selama ini ingin direbut Vina.
Karin melangkah mendekat.
"Mulai hari ini pakaian Dimas. Kamu yang siapkan. Makannya. Kamu yang urus. Kalau dia pulang larut malam... Kamu juga yang menunggu."
Wajah Vina perlahan menegang.
Karin tersenyum semakin lebar.
"Jangan setengah-setengah. Buktikan kalau kamu memang lebih pantas mengurusnya daripada aku."
Setelah berkata demikian, Karin berbalik hendak pergi.
Namun langkahnya kembali terhenti.
"Oh iya."
Ia menoleh kepada Bu Ratna.
"Kalau nanti Dimas marah karena kemejanya salah disetrika... atau dasinya tidak sesuai warna jasnya... jangan salahkan aku. Sebab tadi Ibu sendiri yang menyerahkan semua urusan itu kepada Vina."
Selesai berkata demikian, Karin melangkah pergi menuju lantai atas. Meninggalkan Bu Ratna dan Vina yang hanya bisa saling menatap. Untuk pertama kalinya, mereka merasa permainan yang mereka susun tidak berjalan sesuai rencana.