NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat Di Ujung Malam.

Pagi ini, Hwi Sol Oppa menyiapkan sarapan untukku : sandwich hangat dan segelas susu cokelat.

Seperti biasanya, setelah sarapan bersama, aku bersiap berangkat bekerja. Namun, hari ini bukan Oppa yang akan mengantarku, melainkan Minseo.

Kesibukan masing-masing membuat kami tidak bertemu selama beberapa minggu terakhir. Karena itu, rasa rindu yang kami simpan seolah tak terbendung.

"Silakan naik, Nona Owner," ujar Minseo sambil bercanda dari balik kemudi.

Aku terkekeh pelan sebelum masuk ke dalam mobil.

"Kamu yakin akan menemaniku di bakery seharian?" tanyaku penasaran.

Minseo segera mengangguk.

"Ya, tentu saja. Aku sudah mengambil cuti sejak dua hari lalu, dan aku sangat bosan jika hanya diam di rumah. Jadi, aku memutuskan untuk mengganggumu seharian ini. Lagi pula, kita sudah lama tidak bertemu," balasnya.

"Memangnya kamu serindu itu padaku?" godaku sambil mencubit pelan pipinya.

Minseo hanya tertawa.

Sepanjang perjalanan, mobil dipenuhi tawa dan obrolan ringan yang terasa hangat. Tanpa terasa, sekitar dua puluh menit berlalu hingga kami akhirnya tiba di bakery milikku.

Aku meminta Minseo menunggu di ruanganku, sementara aku harus memeriksa persediaan bahan baku, memastikan seluruh pegawai bekerja dengan baik, serta menghadiri rapat bersama tim produksi.

Setelah semua kesibukan hari itu selesai, aku kembali ke ruanganku.

Siapa sangka, Minseo ternyata tertidur pulas di sofa.

Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, ia langsung terbangun dan menatapku dengan wajah terkejut.

"Dasar. Bisa-bisanya kamu tidur saat sahabatmu sedang sibuk bekerja," godaku sambil menyilangkan tangan di dada.

Minseo hanya tertawa kecil tanpa merasa bersalah.

"Ayo keluar. Kita cari makan siang. Aku sudah sangat lapar," ujarku.

"Aku juga lapar! Ayo!" sahutnya penuh semangat.

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.

***

Aku dan Minseo memutuskan untuk makan siang di sebuah kedai kaki lima yang tidak jauh dari bakery milikku.

Kedai itu cukup ramai. Berbagai jajanan ringan hingga makanan berat tersedia di sana, lengkap dengan aroma masakan yang menggoda selera.

Saat kami menikmati makanan masing-masing, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Ya! Apa kamu sudah mendengar berita tentang pembunuh berantai yang sampai sekarang masih menjadi buronan itu?" tanyaku dengan nada serius.

Minseo mengangkat kepalanya dan menatapku bingung.

"Apa? Pembunuh berantai? Benarkah? Aku tidak tahu," balasnya santai sambil menyuapkan tteokbokki ke mulutnya.

"Tidak tahu? Berita itu sedang viral akhir-akhir ini. Kemarin malam Oppa bahkan sampai menelepon Eun Dam dan memintanya menjagaku. Aku juga dilarang pulang lebih dari jam sepuluh malam," sahutku.

Minseo berhenti mengunyah sejenak.

"Memangnya apa yang dilakukan pembunuh itu kepada para korbannya?" tanyanya penasaran.

Aku merapatkan jaketku tanpa sadar.

"Aku mendengarnya dari teman Hwi Sol Oppa yang bekerja sebagai detektif. Katanya, si pembunuh melakukan kekerasan seksual terhadap korbannya sebelum membunuh mereka. Setelah itu, ia selalu meninggalkan bekas ciuman di leher korban. Ih... mengerikan sekali. Aku sampai merinding setiap kali mengingatnya," jawabku pelan.

Minseo tampak bergidik.

"Menyeramkan sekali. Aku harap dia segera ditangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal," ujarnya dengan nada kesal.

Aku mengangguk setuju.

Namun, ada sesuatu yang aneh.

Saat kami sedang membicarakan pembunuh berantai itu, seorang pria berhoodie hitam yang duduk tepat di sebelah meja kami tiba-tiba mengeluarkan desis tawa pelan.

Sangat pelan.

Tetapi cukup jelas untuk membuatku menoleh.

Tawanya terdengar seolah-olah percakapan kami hanyalah sebuah lelucon yang menghiburnya.

Aku mengernyit.

Entah kenapa, perhatianku justru tertuju pada hoodie hitam yang dikenakannya.

Aku menatap pria itu lebih lama.

Jantungku mendadak berdebar.

Eoh...?

Bukankah pria itu orang yang menabrakku di apotek semalam?

Aku memicingkan mata, berusaha memastikan.

Ya... aku tidak mungkin salah.

Aku masih ingat hoodie hitam itu.

Persis sama.

Namun, aku tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh.

Setelah sekitar empat puluh menit menikmati makan siang sambil mengobrol, aku dan Minseo kembali ke bakery.

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sore pun tiba.

Perlahan, langit mulai dihiasi semburat jingga yang hangat. Cahaya matahari yang meredup menandakan berakhirnya hari kerja yang cukup melelahkan.

Aku meregangkan tubuh sambil mengembuskan napas lega.

"Sebelum pulang, aku akan mentraktirmu berbelanja hari ini!" kataku pada Minseo.

"Wah! Benarkah?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Anggap saja ini hadiah karena hari ini kamu sudah menjadi sopir pribadiku," ujarku, lalu tertawa kecil sebelum berjalan lebih dulu keluar ruangan.

Minseo segera menyusul dengan wajah penuh semangat.

Tak lama kemudian, kami tiba di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Seoul. Kami langsung menuju salah satu butik ternama yang terkenal dengan desain pakaian yang elegan dan kualitas bahan yang mewah.

"Pilih apa pun yang kamu suka," kataku.

Mata Minseo langsung berbinar lebih terang.

"Serius?"

"Tentu."

Dengan antusias, ia berlari kecil menyusuri deretan pakaian sambil memilih satu per satu yang menarik perhatiannya.

Aku yang awalnya berniat hanya menemani pun akhirnya tergoda.

Sebagai pecinta dress, pandanganku langsung tertuju pada sebuah gaun bermotif bunga berwarna merah muda dan kuning pastel.

Warnanya lembut, motifnya cantik, dan sangat sesuai dengan seleraku.

Tanpa berpikir panjang, gaun itu pun masuk ke dalam keranjang belanja.

Setelah selesai berbelanja, kami memutuskan untuk pulang.

"Aku pulang naik taksi saja. Jadi, kamu tidak akan terlalu malam sampai di rumah," ujarku kepada Minseo.

Namun, Minseo langsung menggeleng.

"Tidak. Aku akan mengantarmu sampai rumah."

"Tapi—"

Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatku ketika ia sudah menarik tanganku menuju mobil.

Aku hanya bisa pasrah sambil tertawa kecil.

Perjalanan pulang berlangsung tenang.

Saat mobil berhenti di depan rumah, aku melirik jam di ponselku.

Pukul 21.50.

"Terima kasih untuk hari ini, ya. Kabari aku kalau sudah sampai rumah," ucapku sambil tersenyum.

Minseo mengangguk pelan.

"Tentu. Hati-hati."

Setelah itu, ia menekan pedal gas dan mobilnya perlahan menjauh dari halaman rumahku.

Aku pun segera masuk ke dalam rumah.

"Seolhwa... dari mana saja kamu?" tanya Hwi Sol Oppa yang ternyata sudah menungguku sejak tadi di ruang keluarga.

Aku langsung melirik jam dinding.

Masih ada sepuluh menit sebelum pukul sepuluh malam.

"Aku masih punya waktu sepuluh menit," jawabku sambil menunjuk jam tersebut.

Hwi Sol Oppa menghela napas kecil.

"Hmm, baiklah."

Lalu ia menunjuk meja makan.

"Oh ya, sebelum naik ke kamarmu, minumlah teh barley yang ada di meja makan. Teh itu bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya juga tinggi dan masih banyak manfaat lainnya."

Aku tersenyum.

"Baik, Oppa."

Aku segera berlari kecil menuju meja makan dan meminum teh yang sudah disiapkannya.

Rasa hangatnya langsung menyebar ke seluruh tubuh.

"Terima kasih, Oppa. Aku tidur dulu. Selamat malam!" seruku sambil berlari menaiki tangga menuju kamar.

"Selamat malam," balasnya.

Senyum kecil terukir di wajahku.

Meski terkadang terlalu protektif, perhatian Hwi Sol Oppa selalu membuatku merasa aman.

Di sisi lain...

"Ahh! Kenapa harus mogok di jalan sesepi ini sih?" gerutu Minseo kesal sambil menendang pelan ban mobilnya.

Malam semakin larut.

Lampu jalan yang berjajar di sepanjang jalan tampak redup, sementara kendaraan yang melintas bisa dihitung dengan jari. Suasana sepi itu membuat Minseo merasa sedikit tidak nyaman.

Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi layanan darurat asuransi mobil yang tersedia selama dua puluh empat jam.

Namun, sebelum panggilannya tersambung, layar ponselnya lebih dulu menampilkan nama seseorang.

Seolhwa.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Tanpa ragu, ia segera menerima panggilan tersebut.

"Halo?"

"Minseo, kamu sudah sampai rumah?" tanya Seolhwa dari seberang telepon.

Minseo mengembuskan napas panjang.

"Belum. Mobilku mogok di tengah ja—"

Kalimatnya terhenti.

Sebuah suara benturan keras tiba-tiba terdengar.

BUGH!

Ponsel yang berada di tangan Minseo terlepas dan jatuh ke atas aspal.

"Minseo?" suara Seolhwa terdengar panik dari dalam telepon.

Tidak ada jawaban.

"Minseo...?"

Hanya keheningan.

Jantung Seolhwa mulai berdegup lebih cepat.

"Minseo! Ada apa? Kamu kenapa? Minseo!"

Namun, sebelum ia mendapat jawaban, panggilan itu tiba-tiba terputus.

Tut...

Tut...

Tut...

Seolhwa membeku di tempatnya.

Entah mengapa, firasat buruk mulai memenuhi dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!