Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Bocah Pegasus Dari Planet Diamond
"Paman hanya terlihat memiliki struktur anatomi yang berbeda, bukan menakutkan," jawab Alan dengan nada suara yang pelan namun sarat akan ketegasan. "Di planet asalku, monster Typhon yang membantai klan kami memiliki belasan kepala ular yang menyemburkan lautan api hitam dan memakan jantung bangsa kami hidup-hidup. Mereka jauh lebih buruk dan mengerikan dari sekadar pria bertaring dan bermata merah seperti Paman."
Jacob tertegun di tempatnya. Keheningan menjalar di antara mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya sebuah tawa renyah dan keras keluar dari mulut sang Raja Vampir. Kali ini, itu bukan tawa mengejek atau merendahkan, melainkan tawa kekaguman murni yang keluar dari lubuk hatinya.
Jacob menegakkan kembali tubuhnya, menyembunyikan sepasang taring mematikannya, dan warna matanya perlahan memudar kembali menjadi hitam normal.
"Kau benar-benar makhluk yang unik, Alan dari Diamond," ujar Jacob, tangannya yang dingin menepuk pelan bahu kecil Alan yang tampak rapuh namun kokoh secara mental. "Ikutlah denganku masuk ke dalam. Kau tidak bisa terus-menerus berdiri di tepi danau malam dengan pakaian basah kuyup seperti itu. Energi tubuhmu bisa habis."
Jacob membalikkan badannya, melangkah dengan anggun menuju kastil megah yang menjulang tinggi di balik pepohonan tua yang meranggas.
Alan, tanpa ragu sedikit pun, mengikutinya dari belakang dengan langkah-langkah kecil namun mantap.
Saat mereka berdua melintasi gerbang utama yang terbuat dari besi hitam tempaan kuno, Gustav rupanya sudah berdiri menunggu di sana dengan ekspresi wajah yang sangat waspada dan menegang.
"Yang Mulia... Anda benar-benar berniat membawa... anak asing ini masuk ke dalam lingkungan inti kastil?" tanya Gustav dengan nada suara yang sarat akan keraguan.
Matanya melirik tajam, menilai Alan dari ujung rambut putihnya hingga ujung kaki, merasa heran melihat sesosok bocah yang tampak begitu rapuh tetapi mampu memancarkan aura wibawa yang tidak biasa.
"Gustav, perkenalkan dengan baik tamu baru kita di Luminara. Dia bukan ras manusia fana, dan jelas bukan berasal dari belahan planet ini. Dia adalah Alan, seorang Pegasus murni dari Planet Diamond," jelas Jacob singkat tanpa menghentikan langkah kakinya menuju aula utama yang megah.
Sepasang mata Gustav terbelalak lebar, memendam rasa terkejut yang luar biasa. Sebagai orang kepercayaan tertinggi Raja Vampir, dia telah menyaksikan banyak entitas aneh selama ratusan tahun, tetapi frasa "bangsa Pegasus dari planet lain" adalah seluruh informasi baru yang berada di luar nalarnya.
"Sapa dan perlakukan dia dengan tingkat kesopanan yang tinggi, Gustav. Bocah di belakangku ini... adalah penyintas terakhir dari kehancuran dunianya," tambah Jacob, nada bicaranya mendadak berubah menjadi teramat serius dan dingin, memberikan sinyal perlindungan mutlak.
Alan menghentikan langkahnya sejenak, lalu membungkukkan tubuh kecilnya sedikit ke arah tangan kanan sang Raja dengan sopan santun feodal khas bangsawan Diamond.
"Halo, Paman Gustav. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kedatanganku yang mendadak ini mengganggu ketenangan kalian semua di tempat ini."
Gustav, yang biasanya terkenal sebagai eksekutor vampir yang kaku, dingin, dan tak berperasaan, mendadak membeku di tempatnya. Perasaan kikuk dan canggung yang sudah ribuan tahun tidak dirasakannya kini mendadak muncul di dadanya.
Pria bertubuh kekar itu tidak pernah menyangka bahwa bocah asing yang memendam kekuatan misterius itu justru akan menyapanya dengan tata krama yang begitu santun dan dewasa di tengah atmosfer yang menegangkan ini.
"Apa kau benar-benar yakin ingin menaruh nyawamu dan tinggal di dalam kastil terkutuk ini, Bocah?"
Gustav menghentikan langkah kakinya secara mendadak di koridor kastil yang remang, berbalik dan menatap Alan seolah ingin menguliti isi kepala anak itu. Lorong tersebut dilapisi karpet beludru merah tua yang tebal, meredam setiap suara langkah, menciptakan atmosfer sunyi yang menekan.
"Kami ini adalah bangsa Vampir. Monster penghisap darah. Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa takut setelah melihat taring Raja kami?" ucap Gustav, sengaja merendahkan suaranya hingga menciptakan desisan yang menyeramkan.
Dia sengaja memasang wajah paling dingin, mencoba menguji mental anak asing berambut putih itu. "Bangsa kami sangat suka mengoyak leher dan mereguk darah segar, terutama darah dari makhluk asing yang memiliki aroma magis sepertimu."
Sebenarnya, Gustav sedang membual. Sudah ratusan tahun lamanya dia dan seluruh anggota klan di bawah kepemimpinan Jacob berhenti memburu manusia atau makhluk cerdas lainnya. Mereka telah lama mengikat sumpah pasifikasi, beralih mengonsumsi darah hewan liar yang mereka buru di kedalaman hutan kabut Luminara demi menjaga kedamaian.
"Oh, begitu ya," tanggap Alan.
Bocah berambut putih itu hanya mengangguk-angguk kecil sembari bergumam pelan. Matanya yang ungu menatap Gustav datar tanpa ada binar ketakutan sama sekali.
Dalam struktur berpikirnya yang logis khas bangsa Pegasus, makhluk bernama vampir ini sama sekali tidak terasa menyeramkan, terlepas dari fakta bahwa mereka meminum darah.
Baginya, pemandangan monster Typhon yang meliuk di langit, menyemburkan api hitam, dan merobek dada orang-orang untuk memakan jantung mereka, berada di level kengerian yang tak tertandingi oleh apa pun di Bumi.
"Apa kau sama sekali tidak terkejut, panik, atau menangis setelah mendengar ancamanku, Anak kecil?" tanya Gustav lagi.
Dia merasa sangat tidak puas sekaligus heran melihat reaksi datar Alan. Manusia fana dewasa sekalipun biasanya akan mengompol jika diancam oleh panglima perang Luminara.
Alan menggelengkan kepalanya dengan mantap. Alih-alih mundur, bocah dari Planet Diamond itu justru memamerkan seulas cengiran luas yang teramat polos dan menggemaskan tepat di depan wajah kaku Gustav. Tindakan spontan itu sukses membuat sang panglima vampir terkejut bukan main.
"Tidak, Paman. Aku tidak takut sama sekali," ujar Alan dengan suara kekanak-kanakannya yang jernih. "Wajah Paman sama sekali tidak mengerikan. Malah... menurutku Paman terlihat sangat tampan. Aku jauh lebih takut pada monster di planetku karena wujud mereka benar-benar hancur dan menyeramkan."
Gustav membeku seketika. "Harus kuakui... ternyata nyali dan keberanianmu itu begitu besar, Anak kecil. Pantas saja Raja memperbolehkanmu melintasi gerbang besi kastilnya," ucap Gustav dengan wajah yang dipaksakan sedatar mungkin.
Pria tegap itu segera membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Alan dengan tergesa-gesa untuk kembali mengerjakan tugas-tugas administratifnya sebagai tangan kanan Raja.
Sementara itu, Alan berdiri sendirian di tengah koridor, didera rasa bingung yang asing. Dia memandangi punggung Gustav yang menjauh.
Sejujurnya, dia tidak tahu harus melangkah ke mana dan tidak memiliki tujuan sama sekali di planet asing ini.
Setelah cukup lama terdiam menatap lukisan-lukisan kuno di dinding koridor, Alan memutuskan untuk memutar tubuh dan melangkah cepat mengikuti arah perginya Jacob tadi.
Baginya, satu-satunya jangkar yang bisa dia pegang saat ini adalah pria berwibawa yang pertama kali dia temui di tepi danau.
"Kenapa kau terus mengikutiku, Bocah?"
Jacob tiba-tiba menghentikan langkah panjangnya di dekat pilar batu besar tanpa repot-repot menoleh ke arah Alan yang berjalan kecil di belakangnya.
Alan menghentikan langkahnya, refleks menggosok tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dia merasa canggung, namun akal sehatnya memaksa untuk terus menempel pada Jacob.
Dia tidak tahu apa pun tentang geografi, hukum, atau budaya di planet Bumi. Meskipun Jacob adalah entitas vampir yang berbahaya, bagi Alan, pria itu memancarkan aura perlindungan yang kuat, bukan aura jahat pembantai seperti Typhon.
Sangat mustahil baginya untuk nekat keluar dari kastil sekarang dan menggelandang di hutan kabut yang liar.
"Aku tidak tahu harus ke mana lagi, Paman," tutur Alan jujur, matanya menatap jubah beludru Jacob. "Aku tidak tahu apa-apa tentang planet ini. Jadi... bolehkah aku diizinkan untuk tinggal di sini?"