NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Sejak pagi, Arin sudah sibuk dengan rutinitasnya sebagai Office Girl. Mulai dari menyapu ruang makan, mengepel lantai, mengelap meja pelanggan yang baru kosong, sampai membersihkan kaca depan restoran.

Meski badannya masih terasa pegal karena belum terbiasa dengan ritme kerja yang padat, Arin tetap menyelesaikan setiap tugasnya dengan teliti. Bagi Arin, pekerjaan ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan demi masa depan Zayyan.

Menjelang pukul sepuluh pagi, Arin sedang membersihkan kamar mandi karyawan. Ia tampak berjongkok di depan wastafel sambil menggosok lantai hingga mengilap.

"Mbak Arin," panggil seseorang dari balik pintu, membuat aktivitas Arin terhenti.

Arin menoleh. "Iya, Mbak Asri? Kenapa?"

Asri, rekan sesama pekerja kebersihan, berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. "Pak Manajer manggil Mbak ke ruangannya sekarang."

Arin mengernyit heran. "Saya, Mbak?"

"Iya, Mbak Arin."

Arin melirik ember dan sikat yang masih tergeletak di sampingnya. "Tapi ini dikit lagi selesai, tanggung."

Asri langsung melambaikan tangan, meminta Arin segera bangkit. "Udah, gak apa-apa. Biar aku yang lanjutin sisa dikit ini. Pak Manajer bilangnya suruh Mbak ke sana sekarang juga."

"Wah... jadi ngerepotin Mbak Asri nih," ucap Arin merasa tidak enak.

"Halah, santai aja. Asal jangan tiap hari aja ya!" canda Asri sambil terkekeh pelan. "Udah sana samperin."

Arin ikut tersenyum tipis. "Makasih banyak ya, Mbak Asri."

Arin segera melepas sarung tangan karetnya, mencuci tangan sampai bersih, lalu merapikan seragamnya sebelum melangkah menuju ruangan manajer. Sesampainya di depan pintu kayu kokoh itu, Arin mengetuknya perlahan.

Tok... tok... tok...

"Masuk," terdengar suara dari dalam.

Arin membuka pintu dengan sopan. "Permisi, Pak Fahri."

Fahri mendongakkan kepala, mengalihkan fokus dari berkas yang sedang dibacanya. "Oh, Mbak Arin. Sini, silakan masuk."

Arin melangkah masuk dan berdiri dengan sikap hormat di depan meja kerja Fahri. "Bapak memanggil saya?"

"Iya, Mbak. Duduk dulu aja, santai," ucap Fahri ramah sembari menutup map di hadapannya.

Arin pun duduk di kursi yang tersedia.

"Gimana? Udah beberapa hari kerja di sini, betah gak?" tanya Fahri membuka obrolan.

"Alhamdulillah, Pak, betah banget," jawab Arin tulus.

"Gak ada kesulitan, kan?"

"Sejauh ini belum ada, Pak. Teman-teman di sini juga baik semua dan banyak bantu saya."

"Syukurlah kalau begitu." Fahri mengangguk lega.

"Kalau nanti ada kendala atau ada yang kurang jelas, jangan sungkan buat langsung bilang ke saya atau Rania, ya."

"Baik, Pak. Terima kasih banyak."

Setelah berbincang santai beberapa saat, Fahri membuka laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal dan sebuah amplop putih berukuran sedang.

"Nah, ini buat Mbak Arin." Fahri menggeser kedua benda itu ke hadapan Arin.

Arin menerimanya dengan raut bingung. Begitu ia membuka map cokelat tersebut, matanya berbinar melihat lembaran dokumen di dalamnya. Seluruh berkas kepindahan sekolah Zayyan sudah tersusun rapi dan lengkap dengan stempel resmi.

"Pak... surat pindah sekolah Zayyan udah beres?" tanya Arin dengan suara bergetar lega.

"Iya, kemarin sore semua urusan administrasinya udah kelar diproses," jawab Fahri sambil tersenyum.

Wajah Arin langsung dipenuhi rasa syukur yang teramat sangat. "Terima kasih banyak ya, Pak. Saya gak tahu harus balas kebaikan Bapak gimana."

Fahri kemudian menunjuk amplop putih yang masih dipegang Arin. "Itu dibuka juga sekalian, Mbak."

Arin membuka amplop tersebut dan sedikit mengintip isinya. Begitu melihat tumpukan uang di dalamnya, ia langsung menutupnya kembali dan menggelengkan kepala dengan cepat.

"Pak, maaf... kalau yang ini, saya gak bisa terima. Ini terlalu banyak," tolak Arin sungkan.

"Kenapa mangganya? Terima aja, Mbak."

"Bapak sama Mbak Rania udah terlalu banyak bantu saya. Mulai dari kasih kerjaan, mes buat tinggal, sampai urus sekolah Zayyan. Saya bener-bener gak enak kalau harus nerima uang sebanyak ini lagi."

Fahri tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya. "Uang itu bukan dari saya, Mbak Arin."

Arin mendongak, menatap Fahri dengan bingung. "Bukan dari Bapak?"

"Bukan. Itu titipan langsung dari Ibu mertua saya, Bu Tini ," jelas Fahri. "Beliau kemarin telepon Rania, nanyain kabar Mbak Arin sama Zayyan, terus nitip amanah itu."

Mendengar nama Bu Tini , senyum haru langsung terbit di wajah pucat Arin. Wanita tua di kampung itu memang selalu memperlakukannya dengan sangat baik.

"Kalau begitu... tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya buat Bu Tini ya, Pak," ucap Arin, matanya berkaca-kaca menatap amplop di tangannya.

"Pasti saya sampaikan," kata Fahri hangat. "Bu Tini juga berpesan supaya Mbak Arin gak usah sungkan atau merasa gak enak. Anggap aja uang itu buat modal awal beradaptasi dan beli kebutuhan sekolah Zayyan yang baru di Jakarta."

Arin mengangguk pelan, mendekap map dan amplop itu di dadanya. "Baik, Pak. Saya bakal pakai uang ini sebaik mungkin buat keperluan Zayyan."

"Nah, itu baru bener," sahut Fahri sambil tersenyum lega, lalu merapikan kembali meja kerjanya. "Ya sudah, kalau gitu Mbak Arin bisa kembali lanjutin aktivitasnya."

"Baik, Pak. Saya permisi dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Pintu ruangan manajer menutup pelan begitu Arin melangkah keluar.

Klik.

Ruangan itu kembali sunyi senyap. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari balik lemari besar di sudut ruangan. Seorang pria bertubuh tegap perlahan keluar dari tempat persembunyiannya.

Regan.

Sedari tadi dia berdiri di sana, menahan napas sambil mengamati setiap gerak-gerik Arin tanpa disadari oleh wanita itu. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah pintu kayu yang sudah tertutup rapat.

Fahri menyandarkan punggungnya ke kursi kerja sambil melipat kedua tangan di dada, menatap sahabatnya dengan senyum meledek.

"Gimana? Udah puas ngintipnya?"

Regan tidak langsung menjawab. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menoleh ke arah Fahri.

"Kenapa lu musti kasih dia kerjaan jadi office girl sih?" keluh Regan, nadanya terdengar tidak suka.

Fahri terkekeh geli. "Ya mau gimana lagi? Di restoran yang lagi kosong cuma posisi itu, Gan."

"Emang gak ada posisi lain apa?"

"Gak ada."

"Resepsionis?" tanya Regan beruntun.

"Penuh."

"Kasir?"

"Juga penuh."

"Bagian administrasi?" desak Regan lagi.

"Udah ada orangnya, Regan. Lu pikir ini perusahaan bokap lu yang bisa main seloroh masukin orang?" cibir Fahri.

Regan mendecakkan lidahnya pelan. "Ck. Tetap aja... kerjaan kayak gitu kan berat banget buat dia."

Fahri mengangkat sebelah alisnya, heran melihat sisi protektif sahabatnya yang mendadak muncul. "Terus mau lu apa? Baru lihat lima menit aja protesnya udah kayak mandor pabrik."

"Gak gitu, Fahri. Tapi minimal kasih kerjaan yang gak bikin dia kecapekan kayak tadi," ucap Regan ketus.

Fahri hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kepanikan Regan. "Tahu gak, lu cerewet banget hari ini."

Regan mengabaikan sindiran itu. Pikirannya masih tertambat pada sosok yang baru saja keluar. "Dia... kelihatan kurus banget sekarang."

"Iya."

"Pucat juga."

"Huum."

"Kayaknya selama di kampung makannya gak teratur deh."

"Bisa jadi."

"Harusnya tadi lu suruh dia duduk agak lamaan kek, minumin teh atau apa gitu, jangan langsung disuruh balik kerja!" protes Regan lagi.

Fahri akhirnya tertawa lepas. "Reg, sadar! Yang kerja di sini bukan cuma mantan bini lu doang. Lagian dia sendiri yang mau kerja, gak pernah mengeluh sedikit pun dari hari pertama."

Regan terdiam. Pikirannya kembali terbayang pada wajah Arin beberapa menit yang lalu. Wanita yang dulu selalu tampak segar dan ceria, kini terlihat jauh lebih kurus dan rapuh. Meski begitu, sorot matanya yang lembut masih sama, hanya saja sekarang menyiratkan kelelahan hidup yang amat berat.

"Dia berubah banget, Fahri," gumam Regan lirih. "Beda banget sama sembilan tahun yang lalu."

"Ya jelas bedalah, namanya juga hidup di jalanan keras," sahut Fahri pelan. Ia lalu membuka laci mejanya dan mengetuk-ngetuk sisa amplop kosong di sana. "Oh iya, tahu gak?"

Regan menoleh. "Apaan?"

"Uang di amplop yang lu liat tadi... sebagian besar kan duit lu."

Regan hanya mengangguk singkat. "Gue emang sengaja nitip lewat lu pake nama Ibu mertua lu. Soalnya kalau dia tahu itu duit dari gue, jangankan disentuh, dilempar ke muka gue yang ada."

"Nah, lu paham," balas Fahri sambil tersenyum. "Yang penting sekarang duitnya mau dia simpan buat keperluan anaknya."

Fahri memperhatikan wajah Regan yang tampak sedikit lebih rileks dari kemarin. "Jadi, Reg... lu bakal lanjut cari tahu semua tentang dia dan anak itu?"

Regan mengalihkan pandangannya, menatap lurus keluar jendela kaca yang menampilkan hiruk-pikuk kota Jakarta. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna.

Melihat senyum itu, Fahri langsung paham. "Oke, gak usah dijawab. Gue udah tahu jawabannya."

Regan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berbalik menatap Fahri dengan tatapan matanya yang kembali tajam dan penuh tekad.

"Kalau selama sembilan tahun ini gue gak pernah sedetik pun berhenti nyari dia... sekarang, setelah gue tahu dia ada di depan mata gue, menurut lu gue bakal lepasin dia gitu aja?"

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!