NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 #Merusak Kemeja

​Atmosfer di sekitar meja makan penthouse itu mendadak mengental, dipenuhi oleh ketegangan yang begitu pekat hingga oksigen seolah enggan mengalir. Posisi Anya yang condong ke depan dengan kedua telapak tangan yang masih menempel di dada bidang Bara yang basah membuat jarak di antara mereka terkikis habis.

​Bara Fernandez menatap lekat-lekat pada bibir ranum Anya yang sedikit terbuka, memancarkan rona merah alami yang selalu berhasil memicu sisi posesif di dalam dirinya. Tangan kokoh Bara perlahan bergerak naik dari pinggang Anya, jemari panjangnya menyusuri leher jenjang gadis itu, memberikan usapan lembut yang membuat bulu kuduk Anya meremang. Bara menundukkan kepalanya perlahan, memiringkan wajahnya sedikit demi sedikit untuk memulai sebuah ciuman menuntut yang sudah sejak tadi ditahannya.

​Anya mematung. Sepasang matanya yang bulat menatap lurus pada pahatan wajah tampan di depannya yang kian mendekat. Sentuhan hangat tangan Bara di lehernya seolah memiliki kekuatan magis yang menghipnotis seluruh sendi tubuhnya. Otak Anya mendadak lumpuh, logikanya menguap entah ke mana, digantikan oleh debaran jantung yang bergemuruh gila-gilaan. Dia benar-benar terhipnotis oleh pesona maskulin dan aura matang yang memancar kuat dari paman tunangannya sendiri. Tubuhnya menolak untuk menghindar, pasrah menanti sentuhan bibir yang terasa kian dekat.

​Bzzzt... Bzzzt... Drrrrt!

​Suara getaran nyaring disertai lagu nada dering bawaan ponsel yang melengking keras dari atas meja kaca seketika memecah keheningan magis tersebut. Suara itu bagai hantaman gada besar yang langsung menyentak kesadaran Anya kembali ke bumi.

​Anya tersadar sepenuhnya. Mata bulatnya membelalak panik saat menyadari bibir Bara hanya berjarak kurang dari dua sentimeter dari bibirnya. Dengan gerakan impulsif yang sangat cepat, Anya mendorong dada bidang Bara menggunakan kedua tangannya, lalu melangkah mundur beberapa tindak hingga tubuhnya menubruk pinggiran kursi kayu.

​Napas Anya memburu berantakan, wajahnya memerah padam bagai kepiting rebus. Dia langsung menyambar ponselnya yang masih berputar di atas meja. Begitu melihat nama yang tertera di layar digital tersebut, jantung Anya serasa merosot hingga ke lambung.

​[ PAPA CALLING ]

​Anya menelan ludah dengan susah payah, melirik ke arah Bara yang kini sedang menatapnya dengan sepasang mata elang yang menyipit tajam, memancarkan kekecewaan dan kekesalan yang mendalam karena aktivitasnya diganggu.

​Anya segera menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponselnya ke telinga sembari berjalan menjauh beberapa langkah ke sudut ruangan, membelakangi Bara.

​"H-halo, Pa?" sapa Anya, mencoba menstabilkan nada suaranya agar tidak terdengar bergetar atau gugup.

📞 ​"Anya? Kamu di mana sekarang?" suara berat Tito Sanjaya terdengar menggelegar dari seberang telepon, sarat akan nada menyelidik. "Pelayan di rumah bilang kamu belum pulang dari kampus. Ini sudah lewat jam tiga. Apa kamu sedang pergi bersama Calvin?"

​Mendengar nama Calvin disebut, Anya refleks melirik ke belakang melalui sudut matanya. Dia melihat Bara masih berdiri diam di tempatnya, menatapnya dengan senyum sinis yang sangat menyebalkan.

​"T-tidak, Pa. Aku... aku tidak sedang bersama Calvin," jawab Anya berbohong, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Aku sekarang ada di apartemen Alena. Iya, di tempat Alena! Kami sedang ada tugas kelompok besar yang harus dikerjakan bersama untuk presentasi minggu depan. Nanti... nanti aku pasti pulang ke rumah sebelum jam makan malam, Pa. Tenang saja."

📞 ​"Oh, begitu. Ya sudah, kerjakan tugasmu dengan benar. Jangan keluyuran. Papa tutup teleponnya."

​"Iya, Pa. Dah..."

​PIP.

​Anya segera mematikan sambungan telepon tersebut, lalu mengembuskan napas panjang yang sangat lega. Dia menyeka keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan. Selamat. Setidaknya untuk saat ini, papanya tidak mencurigai apa pun.

​Anya membalikkan tubuhnya kembali ke arah meja makan, bersiap untuk memberikan omelan pada Bara karena situasi gila tadi. Namun, begitu tubuhnya berputar sempurna, kata-kata yang sudah tersusun di ujung lidah Anya mendadak lenyap tak berbekas. Tenggorokannya mendadak kering kerontang untuk yang kesekian kalinya hari ini.

​Di depannya, Bara Fernandez ternyata sudah melepas kemeja sutra hitamnya yang basah kuyup akibat tumpahan iced taro. Pria itu kini berdiri bertelanjang dada, menampilkan dengan sangat jelas bentuk tubuhnya yang luar biasa proporsional untuk ukuran pria berusia tiga puluh lima tahun. Dada bidangnya yang kokoh, dipadukan dengan deretan otot perut kotak-kotak yang sangat kencang dan indah dipandang mata. Ditambah lagi dengan urat-urat lengan yang menonjol seiring pergerakan tangannya.

​Anya melongo sempurna, matanya tidak bisa dialihkan dari pemandangan erotis di depannya. 'Demi apa pun... paman si Calvin ini bentuk tubuhnya kenapa bisa se-sempurna ini?!' batin Anya menjerit histeris, merasa matanya baru saja mendapatkan asupan visual yang terlalu berdosa. Anya merasa ingin pingsan di tempat karena hawa di dalam ruangan itu mendadak kembali memanas.

​Anya semakin panik saat melihat Bara mulai melangkah mendekat ke arahnya sembari membawa kemeja hitam yang basah di tangan kanannya. Anya refleks mundur satu langkah, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan protektif. Dia mengira Bara akan melanjutkan tindakan ciuman yang sempat tertunda karena telepon papanya tadi. Anya memejamkan matanya pasrah saat tubuh tegap tanpa busana bagian atas itu sudah berhenti tepat di hadapannya.

​Namun, alih-alih pelukan hangat atau lumatan bibir, Anya justru merasakan sebuah kain basah yang dingin dilemparkan mendarat tepat diatas tangannya.

​Plak!

​"Aduh!" Anya memekik kaget saat menyentuh kemeja itu.

​Bara berdiri di depannya dengan kedua tangan yang kini bertumpu di pinggang celana bahan mahalnya, menatap Anya dengan senyuman menyebalkan. "Jangan melamun, Pelayan Kecil. Ini tugas pertamamu hari ini. Cuci kemeja sutraku itu sampai bersih tanpa ada noda yang tersisa. Dan ingat... cuci dengan tangan, jangan pakai mesin."

​Anya menatap kemeja di tangannya, lalu menatap dada telanjang Bara dengan pandangan tidak percaya. "Hah?! Cuci pakai tangan?! Om, seriously?! Zaman sekarang ini sudah tahun berapa? Teknologi mesin cuci sudah canggih, bahkan ada yang bisa mengeringkan sekaligus! Di rumahku saja, semua baju dicuci pakai mesin cuci pintar asal Jerman! Kenapa di penthouse semewah ini aku harus mengucek pakai tangan seperti cucian di pinggir kali?!" Protes Anya berapi-api, wajahnya cemberut maksimal.

​"Karena itu kemeja sutra murni buatan desainer Italia, Zevanya. Serat kainnya akan rusak kalau dimasukkan ke dalam mesin cuci biasa," jawab Bara santai dengan nada meremehkan yang sangat kentara. "Dan karena kamu yang mengotorinya, maka tanganmu sendiri yang harus bertanggung jawab menguceknya sampai bersih. Kamar mandi pelayan ada di sebelah dapur. Lakukan sekarang."

​Anya menghentakkan kakinya kesal, namun karena tidak punya pilihan lain untuk melawan, dia akhirnya berjalan dengan langkah dihentak-hentak menuju kamar mandi belakang sembari menggerutu tiada henti. "Dasar om-om kolot! Kikir! Pelit! Sengaja banget mau menyiksa fisikku!"

.

.

​Di dalam kamar mandi, Anya menghidupkan keran wastafel dengan kasar. Dia menuangkan detergen cair ke atas kemeja hitam tersebut, lalu mulai mengucek kain sutra itu dengan penuh emosi. Di dalam kepalanya, Anya membayangkan bahwa kain kemeja yang sedang dia kucek dengan sekuat tenaga ini adalah wajah tampan Bara Fernandez yang sangat menyebalkan.

​"Rasakan ini! Mati kamu, Om-Om menyebalkan! Rasakan kucekanku!" gerutu Anya sembari mengerahkan seluruh tenaga di tangannya, mengucek dengan sangat bersemangat dan agresif.

​Namun, karena emosinya yang terlalu meluap-luap dan tenaganya yang tidak terkontrol...

​Kreeek! Pletakk!

​Dua suara mengerikan itu bergema hampir bersamaan di dalam kamar mandi yang sunyi. Anya seketika menghentikan gerakannya. Matanya membelalak horor saat mengangkat kemeja hitam itu ke atas.

​Di bagian dada kanan kemeja sutra mahal tersebut, kini terdapat sebuah lubang robekan yang cukup besar, sekitar sepuluh sentimeter, akibat tarikan yang terlalu kuat. Dan yang lebih menyedihkan lagi, saat Anya melihat ke arah tangan kanannya, kuku jari manisnya yang baru saja dipercantik dengan nail art minggu lalu kini sudah patah di bagian ujungnya, mengeluarkan sedikit rasa perih.

​"Aaaaa! Kukuku patah!" jerit Anya histeris, meratapi kuku cantiknya yang kini rusak total.

​Mendengar jeritan histeris dari arah kamar mandi, Bara dengan cepat melangkah mendekat. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar mandi yang terbuka, menatap Anya dengan dahi berkerut heran. "Ada apa? Kenapa berteriak?"

​Anya berbalik dengan dramatis, mengangkat kemeja hitam yang robek besar di satu tangan, dan memamerkan kuku manisnya yang patah di tangan yang lain ke depan wajah Bara. Wajahnya ditekuk penuh kemarahan.

​"Lihat ini, Om! Kemeja sutra Italia kesayangan Om ini robek! Dan yang lebih parah lagi, nail art-ku yang mahal ini patah sampai perih tahu!" semprot Anya galak, mencoba menyerang lebih dulu sebelum dituduh merusak barang.

​Bara menatap lubang besar di kemejanya, lalu menatap wajah Anya yang tanpa dosa. Pria itu menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut karena kelakuan ajaib pelayan barunya ini. "Zevanya... aku menyuruhmu mencuci kemeja, bukan mengajaknya bertarung sampai robek begitu."

​"Ya... berarti kualitas kemeja milik Om saja yang memang tidak bagus! Kain sutra kok tipis banget seperti tisu, dikucek sedikit saja langsung bolong!" bela Anya dengan argumen konyol yang sangat tidak masuk akal, mencoba memutarbalikkan fakta. Anya melipat tangannya di depan dada, menatap Bara dengan gaya menantang yang lucu. "Lagian... uang Om kan ada banyak, gunung uang Om tidak akan habis cuma karena satu kemeja ini rusak. Tinggal beli lagi saja yang baru ke Italia, simpel kan? Kenapa harus repot-repot memikirkan kain robek ini!"

​Bara tertegun sejenak mendengar pembelaan luar biasa ajaib dari mulut Anya. Bukannya marah karena kemeja berharga ribuan dolar miliknya dirusak, Bara justru harus sekuat tenaga menahan senyum kegelian di sudut bibirnya. Argumen konyol dan wajah menantang tanpa dosa dari gadis di hadapannya ini benar-benar hiburan baru yang sangat menyegarkan bagi hidupnya yang selama ini selalu kaku dan formal.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!