Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 | DO YOU WANT TO KUIL ME?
Elara mematikan sambungan telepon dengan tangan yang bergetar hebat. Kebohongan Dave atau mungkin kebenaran yang baru saja terungkap terasa seperti racun yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Ia menatap kotak makan pemberian Dante di atas meja perpustakaan dengan tatapan penuh kebencian. Benda itu bukan lagi sekadar makanan; itu adalah simbol dari pengkhianatan yang paling dalam.
Tanpa ragu, Elara menyapu kotak makan itu hingga jatuh ke lantai. Sisa makanan berserakan, mengotori lantai perpustakaan yang sunyi. Ia tidak peduli. Hatinya telah mati rasa, digantikan oleh bara amarah yang menuntut balas dendam.
" Kau pikir kau bisa mendekapku dengan topeng kepedulianmu, Dante?" bisik Elara dengan suara yang dingin, lebih dingin dari salju yang tak pernah turun di kota ini. "Kau telah membunuh satu-satunya alasan yang membuatku tetap waras."
Ia segera membereskan barang-barangnya dengan gerakan patah-patah, lalu melangkah keluar dari perpustakaan dengan kecepatan yang hampir seperti berlari. Ia tidak ingin kuliah, tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun. Ia hanya ingin konfrontasi.
Lorong kampus yang ramai terasa kabur di mata Elara. Setiap langkahnya diikuti oleh bayangan gelap; ia bisa merasakan tatapan mata yang tak kasat mata mengawasinya dari kejauhan. Anak buahnya, pikir Elara. Mereka selalu ada di sana, seperti parasit.
Saat ia hampir mencapai pintu keluar gedung fakultas, ia berpapasan dengan Kasey, sahabatnya yang selalu ceria.
" Elara ! Tunggu!" Kasey berlari kecil mendekatinya, tampak bersemangat seperti biasanya. "Siapa pria yang menjemputmu kemarin? Dia terlihat sangat dominan, aku hampir pingsan melihat auranya!"
Elara menghentikan langkahnya, namun ia bahkan tidak mampu memberikan senyum palsu.
" Kasey, tolong. Tidak sekarang."
"Oh, ayolah! Jangan menjadi membosankan," Kasey tertawa kecil, namun tawa itu berhenti saat ia melihat ekspresi wajah Elara. Tatapan Kasey beralih ke belakang bahu Elara, ke arah pintu keluar. "Oh, astaga Elara, aku rasa pria itu benar-benar terobsesi padamu. Dia berdiri di sana, di balik pilar sejak tadi, menatapmu seolah kau satu-satunya orang yang ada di dunia ini."
Bulu kuduk Elara berdiri. Tanpa menoleh, ia tahu itu Dante atau setidaknya, anjing penjaga Dante yang dikirim untuk memastikannya tetap berada dalam pengawasan.
"Aku harus pergi, Kasey. Jangan ikuti aku," desis Elara sebelum ia melesat pergi menuju parkiran.
Di tengah deretan mobil yang sepi, ia berhenti di sudut yang gelap. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan diri. Ia berbalik, menatap tajam ke arah sosok pria berjas hitam yang berdiri di bawah lampu jalan yang remang-remang. Itu adalah sopir pribadi Dante yang selalu muncul seperti bayangan.
"Berhenti membuntutiku," suara Elara menggelegar, memecah kesunyian parkiran.
Pria itu melangkah keluar dari balik pilar, wajahnya datar tanpa emosi. "Tuan Moretti hanya khawatir Anda melewatkan kelas, Elara. Tugas Anda adalah belajar, bukan berlarian seperti buronan."
Elara tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga pria itu berada dalam jangkauan Pukulannya. " Khawatir? Itu hal paling lucu yang pernah kudengar hari ini."
"Apa yang Anda inginkan?" tanya pria itu waspada.
Elara mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, rasa dendam terhadap pembunuh neneknya membakar setiap inci sarafnya.
" Katakan pada tuanmu, aku tidak akan lari. Sebaliknya, aku akan langsung mendatanginya. Aku harus bertemu dengannya terlebih dahulu. Aku harus bertemu dengannya sekarang juga," ucap Elara sambil mengepalkan tangannya.
●●●●