NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi pun tiba. Zulfa terbangun dari tidurnya di sofa berbentuk letter L yang semalam menjadi tempatnya beristirahat. Pandangannya langsung tertuju pada Arslan yang masih terlelap di ranjang khusus penjaga pasien.

Mereka tertidur hampir bersamaan karena sama-sama dilanda kelelahan—lelah oleh pertempuran semalam yang cukup menguras banyak energi, lalu dikejutkan lagi dengan kabar Farah yang mendadak dilarikan ke rumah sakit.

Zulfa menoleh ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu masih pagi. Ia pun tergerak untuk pergi ke kantin dan membelikan sarapan untuk suaminya.

Sebelum keluar, Zulfa menuju toilet terlebih dahulu. Ia membasuh wajahnya yang masih sembap akibat kantuk berat dan tidur yang tak nyenyak. Air dingin sedikit banyak menyegarkan tubuhnya. Namun saat ia keluar dari toilet, Arslan ternyata sudah bangun.

Pria itu duduk di tepi ranjang sambil memutar tengkuknya perlahan, seolah berusaha mengusir pegal yang mengendap sejak semalam.

"Hari ini kamu mau ke kantor?" tanya Zulfa sambil menghampirinya.

"Kayaknya enggak," jawab Arslan serak. "Aku masih mau nunggu Mama siuman dulu."

Zulfa mengangguk paham.

"Kalau begitu, aku mau beli sarapan dulu ke kantin. Sekalian beli kopi. Pasti kamu masih ngantuk, kan?"

Arslan menoleh, lalu meraih jemari Zulfa dan menariknya pelan hingga duduk di pangkuannya. Gerakan itu membuat Zulfa sedikit terkejut.

"Iya," ucap Arslan lirih sambil menatap wajah istrinya. "Belikan aku kopi sama roti saja, ya. Aku belum mau makan yang berat-berat."

"Baik," jawab Zulfa singkat, berusaha menahan debar aneh di dadanya.

"Jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ini rumah sakit bukan kamar hotel, nanti gimana kalau mama siuman terus ngeliat kita dengan posisi seperti ini?" Zulfa yang tadi berada di pangkuan Arslan berangsur pindah. 

"Biarin aja mama tahu." Sambil melirik ibunya yang masih terbaring lemah, "biar cepet siuman." Lanjutnya lagi.

"Terus liat mama pingsan lagi gara-gara liat posisi kita kayak tadi." Sungut Zulfa.

"Ih ... kok gitu mikirnya." 

"Ya habis kamu, pagi-pagi udah  ngeselin. Ya sudahlah aku mau ke kantin dulu." 

Ia pun segera keluar dari ruangan, meninggalkan Arslan yang sedang tersenyum gemas dengan tingkah istrinya. Zulfa berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih tampak lengang. Udara pagi terasa dingin, sementara suara langkah kakinya menggema pelan di lorong panjang itu.

Karena tak tahu letak kantin, Zulfa menghentikan langkah dan bertanya kepada seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai. Dari petugas itu, ia mendapat informasi bahwa kantin berada di lantai dasar.

Zulfa pun bergerak menuju lift. Namun saat pintu lift terbuka, ia berpapasan dengan Fathiya.

"Hai, selamat pagi. Kamu mau ke mana sepagi ini?" sapa Fathiya lebih dulu dengan senyum ramahnya.

"Ke kantin. Mau beli sarapan," jawab Zulfa singkat, bibirnya hanya tertarik tipis.

Fathiya melirik ke arah kamar Farah yang tak jauh dari sana.

"Arslan masih di kamar menemani ibunya?" tanyanya lagi.

Ada jeda sesaat sebelum Zulfa menjawab.

"Masih."

Hanya satu kata keluar dari bibirnya, pendek dan dingin.

"Apa Tante Farah sudah sadar?" tanya Fathiya lagi. Nada suaranya tetap ramah, namun Zulfa tak mampu menyembunyikan ketidaksukaannya.

"Belum."

Jawaban singkat itu membuat suasana sesaat terasa canggung. Namun Fathiya tetap mempertahankan senyumnya.

"Baiklah. Kalau begitu aku mau ke sana dulu, memeriksa keadaan Tante Farah."

Zulfa menyadari Fathiya tidak datang sendirian. Seorang perawat perempuan berdiri di samping dokter itu sambil membawa map dan alat pemeriksaan.

Zulfa hanya mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke lift ketika pintunya kembali terbuka. Saat pintu perlahan menutup, pandangannya sempat menangkap sosok Fathiya yang berjalan menuju kamar Farah.

Entah mengapa, dada Zulfa kembali terasa sesak. Dari sekian banyak dokter yang ada di rumah sakit ini, mengapa justru Fathiya yang harus menangani ibu mertuanya?

Pikiran itu berputar-putar di kepalanya selama lift bergerak turun menuju lantai dasar. Zulfa menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menepis rasa tidak nyaman yang sejak tadi mengusik hati. Ia tahu seharusnya ia bersyukur Farah ditangani dokter yang kompeten dan mengenal kondisi pasien dengan baik. Namun tetap saja, perasaan tidak mengenakan itu tak mudah diabaikan.

Setiap kali melihat Fathiya berbicara dengan Arslan, ada sesuatu yang membuat hati Zulfa mengeras. Cara mereka saling memahami tanpa banyak kata, kedekatan yang tampak begitu alami, serta tatapan cemas Arslan semalam saat mendengar penjelasan dokter itu—semuanya masih membekas jelas di benaknya.

Apa aku hanya terlalu sensitif? batinnya bertanya.

Pintu lift terbuka. Zulfa segera melangkah keluar, seolah ingin meninggalkan pikiran-pikiran buruk itu di dalam sana. Aroma makanan hangat dari arah kantin mulai tercium, bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh.

Kantin rumah sakit itu tampak begitu ramai. Bukan hanya keluarga pasien yang memenuhi ruangan, banyak pula pasien yang berjalan santai atau sekadar duduk berdampingan bersama orang-orang terdekat mereka. Suasananya jauh dari kesan kantin biasa—lebih menyerupai restoran modern dengan meja-meja rapi, pencahayaan hangat, dan aroma makanan yang menggugah selera.

Hidangan yang tersedia pun tidak disajikan sembarangan. Semua menu telah disesuaikan dengan standar kesehatan rumah sakit dan berada di bawah pengawasan ahli gizi. Pelayanan di rumah sakit bintang lima ini jelas berbeda dari rumah sakit pada umumnya.

Zulfa harus mengantre cukup lama hanya untuk membayar satu kotak nasi berisi ayam panggang untuk dirinya sendiri, dua gelas kopi hangat, serta beberapa roti isi daging dan keju untuk Arslan. Sesekali ia melirik jam tangan, khawatir terlalu lama meninggalkan kamar Farah.

Setelah pesanan diterima dan pembayaran selesai, Zulfa segera bergegas kembali menuju kamar tempat ibu mertuanya dirawat. Langkahnya cepat, sementara kedua tangannya sibuk membawa kantong makanan dan gelas kopi hangat.

Namun saat hendak masuk, langkah Zulfa mendadak terhenti.

Dari balik kaca pintu kamar, ia melihat ruangan itu sudah dipenuhi beberapa anggota keluarga Arslan yang datang menjenguk. Suara tawa kecil dan obrolan samar terdengar dari dalam.

Sekilas Zulfa juga menangkap sosok Farah yang kini telah sadar dari tidur panjangnya. Wajah wanita itu masih pucat, tetapi senyum tipis tampak menghiasi bibirnya. Seorang balita—cucu Tante Yevi—duduk di tepi ranjang sambil berceloteh lucu, membuat Farah sesekali tertawa pelan.

Namun pandangan Zulfa berhenti pada satu sosok lain.

Fathiya masih berada di sana. Perempuan itu berdiri dekat ranjang sambil berbicara hangat dengan beberapa anggota keluarga. Sesekali ia tersenyum, sesekali menunduk mendengarkan Farah berbicara. Ia tampak begitu menyatu di tengah keluarga itu.

Zulfa tercekat. Entah mengapa, pemandangan itu menusuk hatinya. Seolah Fathiya lebih pantas berada di sana daripada dirinya sendiri. Seolah perempuan itu lebih dikenal, lebih diterima, lebih dianggap bagian dari keluarga ketimbang ia yang menyandang status sebagai istri Arslan.

Tanpa sadar, jemari Zulfa mencengkeram erat kantong makanan di tangannya hingga plastiknya berkerut. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di depan pintu seperti orang asing yang ragu memasuki tempat yang seharusnya juga menjadi bagiannya.

Tetapi Zulfa tak ingin bersikap egois. Ia tak mau terus-menerus dikuasai pikirannya sendiri yang hanya membuat hati semakin gelisah. Dengan menarik napas panjang, Zulfa memilih tetap masuk, menyapa keluarga Arslan yang datang, sekaligus memberikan makanan dan minuman yang dibelinya untuk sang suami.

"Assalamualaikum..." sapa Zulfa begitu pintu kamar dibukanya.

Suasana sempat hening sesaat. Beberapa pasang mata menoleh ke arahnya, sebelum kemudian mereka serempak menjawab salam itu.

"Waalaikumsalam..."

Belum sempat Zulfa melangkah lebih jauh, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun turun dari pangkuan ibunya lalu berlari kecil ke arahnya. Bocah itu langsung memeluk kaki Zulfa erat-erat.

"Tante Zulfa, Renan kangen!" serunya polos.

Seketika wajah Zulfa melunak. Ia berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan sang bocah.

"Hai, Renan. Lama sekali kita nggak jumpa," ucapnya sambil mengusap rambut halus anak itu.

"Eh... Renan, sini. Jangan ganggu Tante Zulfa."

Hanna, istri Rian, segera mendekat sambil menarik lembut tangan putranya. Wajah wanita itu terlihat sedikit sungkan.

"Itu lihat, Tante Zulfa bawa banyak makanan dan minuman. Nanti kalau tumpah gimana?" katanya lembut kepada Rayyan.

"Nggak apa-apa kok, Hanna," jawab Zulfa sambil tersenyum manis kepada perempuan yang selama ini selalu bersikap hangat padanya.

Ia lalu membuka kantong belanjaannya dan mengambil satu bungkus roti.

"Renan mau roti? Tante Zulfa punya banyak sekali roti."

Mata bocah itu langsung berbinar.

"Mauuu!" jawab Renan riang.

Zulfa menyerahkan roti itu, dan Renan menerimanya dengan wajah berseri-seri seolah baru mendapat hadiah besar.

"Makasih, Tante Zulfa!"

"Iya, sama-sama."

Suasana yang sempat terasa canggung perlahan mencair berkat tingkah polos Renan. Beberapa anggota keluarga bahkan tersenyum kecil melihatnya.

Zulfa kemudian melangkah mendekati Arslan yang berdiri di sisi ranjang ibunya. Ia menyerahkan gelas kopi dan kantong berisi roti kepada suaminya.

"Ini kopi sama rotinya," ucap Zulfa pelan.

Arslan menerima sambil menatap istrinya sejenak. "Makasih." Lalu pandangan Zulfa tertuju pada ibu mertuanya yang sudah siuman, namun wajahnya masih terlihat pucat. Zulfa tersenyum lembut, dan berkata,  "syukurlah mama sudah siuman."

Namun ucapan Zulfa hanya dibalas dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Entah karena kondisi Farah yang masih lemah, atau memang ada sesuatu yang tak mampu ia sembunyikan dari menantunya.

Setelah itu, perhatian Farah justru kembali tertuju pada Fathiya yang tengah sibuk memeriksa catatan medis di ujung ranjang.

"Makasih ya, Fath. Kamu sudah nyelamatin nyawa Tante," ucap Farah lirih.

Entah mengapa, dada Zulfa kembali terasa ngilu mendengar ucapan terima kasih itu ditujukan kepada perempuan yang akhir-akhir ini, menjadi beban pikirannya.

"Ini memang sudah tugas saya, Tante," jawab Fathiya tenang sambil melangkah mendekat. "Menyelamatkan pasien dalam kondisi darurat adalah tanggung jawab saya."

Farah tersenyum tipis.

"Nggak sia-sia ya, kamu bela-belain kuliah kedokteran sampai jadi dokter spesialis begini, kalau pada akhirnya bisa nyelamatin nyawa saya."

Kalimat itu terdengar biasa di telinga orang lain, tetapi bagi sebagian orang di ruangan itu, maknanya lebih tajam dari yang tampak. Terutama bagi Arslan.

Yevi melanjutkan kalimat Farah dengan suara sinisnya.

"Coba kalau dulu laki-laki yang pernah ngelamar kamu itu sabaran dikit nunggu kamu lulus kuliah, pasti..."

"Mah... nggak usah mancing-mancing deh."

Bukan Arslan yang menyela, melainkan Rian yang lebih dulu menegur ibunya. Ia paham betul bagaimana ibunya itu.

Suasana pun mendadak menegang.

Rahang Arslan mengeras. Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh. Ia paling membenci momen kumpul keluarga yang selalu berujung pada pembahasan masa lalu.

Rian yang menangkap perubahan wajah sepupunya segera berdiri.

"Sudah, sebaiknya sekarang kami pulang dulu," ujarnya sambil menggendong putra kecilnya. "Rian juga harus balik ke kantor buat gantiin Arslan mimpin rapat."

Rian lalu meraih jemari sang istri dan mengajaknya bersiap pergi.

"Kalau Mama nggak mau pulang bareng Rian, Mama pulang naik gojek aja, ya!" serunya setengah bercanda kepada Yevi.

Namun sebelum Yevi sempat menanggapi, suara Arslan yang terdengar dingin bersahut, "mending mamamu  diajak pulang sekalian. Biar nggak ngeracunin otak Mama-ku."

Tatapan tajam Arslan mengarah lurus kepada Yevi.

Yevi yang biasanya paling banyak bicara langsung terdiam. Wajahnya pucat seketika.

"Iya... Mama ikut kalian pulang aja," ucapnya gugup.

Farah hanya diam. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk menanggapi keributan kecil itu. Napasnya saja masih terdengar berat.

Suasana kamar kembali canggung setelah Rian, Hanna, Renan, dan Yevi berpamitan keluar.

Beberapa detik kemudian, Farah kembali memandang Fathiya. Sorot matanya dipenuhi kebanggaan.

"Semoga kamu betah ya kerja di rumah sakit ini," katanya pelan. "Rumah sakit ini butuh dokter seperti kamu."

Setiap kata itu terdengar seperti pujian yang tulus. Namun bagi Zulfa, tiap kalimat justru terasa seperti bilah tipis yang mengiris perlahan.

Sejak tadi Farah terus memuji Fathiya, seolah lupa bahwa di ruangan itu ada menantu yang diam-diam menahan sesak di dada.

"InshaAllah Fathiya betah kerja disini." Senyum senang terukir di wajah Fathiya, "Makasih sudah bantu Fathiya untuk mendapatkan perkerjaan disini." 

"Tidak usah megucapkan terimakasih kamu layak mendapatkan pekerjaan ini." Balas Farah tanpa memperdulikan perasaan menantunya yang kian berdenyut nyeri.

Zulfa menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan luka yang semakin renggang di hatinya. Ia sadar, jika bertahan lebih lama di ruangan itu, mungkin air matanya akan jatuh di depan semua orang.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, jujur ceritanya seru banget🥹😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
ciber ara
rekomen banget 👍👍
ciber ara
nexxtt💪💪💪
ciber ara
oalah sedihnya 😭
ciber ara
awalnya udh kek nya udh sedih 😭
Vitamaya: terimakasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!