Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Undangan dari Adele
Tuk... tuk... tuk...
Suara denting pisau yang beradu dengan talenan stainless steel menggema nyaring, menciptakan simfoni mekanis di dalam Ruang Teater Kelas Le Cordon Bleu. Pagi ini, udara di dalam ruangan terasa lebih tajam, seolah-olah aroma seledri yang baru saja diiris telah melepaskan zat kimia yang memicu adrenalin sekaligus kecemasan.
Kiandra Zanitha berdiri kaku di stasiun kerjanya. Jemarinya mencengkeram gagang pisau dengan ritme yang tidak stabil. Matanya terus melirik cemas ke arah podium, tempat di mana "Tuhan Dapur" biasanya berdiri mengawasi mangsanya. Namun, pagi ini, sang predator memilih untuk turun ke lapangan.
Duk... duk... duk...
Suara sepatu pantofel kulit itu terdengar sangat berwibawa, menghentak lantai dengan irama yang tenang namun mendominasi. Kiandra menahan napas. Bahunya menegang seketika saat sebuah bayangan besar jatuh menutupi permukaan meja kerjanya, menghalangi cahaya lampu neon yang terang.
Enzo Romano berhenti tepat di sampingnya. Pria itu melipat tangan di depan dada bidangnya yang terbungkus seragam Chef putih bersih. Kancingnya tertutup rapat, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan.
Enzo tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan irisan seledri Kiandra dalam diam selama lima detik penuh. Lima detik yang bagi Kiandra terasa seperti lima abad di dalam ruang interogasi.
Kiandra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sudah bersiap mental untuk menerima kritikan pedas, atau mungkin melihat nampannya berakhir di tempat sampah seperti insiden saus Hollandaise kemarin. Ia menunggu suara bariton itu menghakiminya, menyebutnya amatir, atau menyuruhnya mengulang dari awal.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Enzo mengangkat wajahnya sedikit, menatap mata cokelat gelap Kiandra sekilas melalui tatapan hazel-nya yang tajam. Lalu, dengan gerakan yang sangat minimalis, ia memberikan satu anggukan pelan. Hanya satu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Enzo kembali melangkah, melewati stasiun kerja Kiandra untuk memeriksa mahasiswa berikutnya.
Kiandra terpaku. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di kerongkongan, membuat bahunya merosot lega. Pisaunya terhenti sejenak di atas talenan.
"Gila, kamu baru saja dapat anggukan persetujuan dari Sang Iblis!" Mei Ling menyikut lengan Kiandra, berbisik heboh dari stasiun kerjanya di sebelah. Wajah sahabatnya itu tampak seolah baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan.
Kiandra tersenyum tipis, merasakan beban seberat satu ton baru saja terangkat dari dadanya. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di perutnya—sebuah kebanggaan kecil yang terasa sangat manis.
"Apa karena tadi pagi aku memasangkan dasinya, ya?" batin Kiandra absurd. "Kekuatan simpul dasi maut itu ternyata manjur juga buat melunakkan hati singa galak."
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran konyol itu sebelum senyumnya berubah menjadi cengiran lebar yang tidak profesional.
***
Pukul 12:15.
Suara bising obrolan mahasiswa dari berbagai negara memenuhi kantin Le Cordon Bleu, menciptakan hiruk-pikuk yang akrab. Aroma mentega, bawang putih yang ditumis, dan kopi espresso yang kuat menari-nari di udara, menggoda selera makan siapa pun yang masuk.
Kiandra mengaduk saladnya tanpa minat, mendengarkan tawa menggelegar Jaxson Cole di seberang meja. Jaxson sedang menceritakan bagaimana ia hampir saja mengiris jarinya sendiri saat Enzo berdiri di belakangnya tadi.
"Serius, aura pria itu benar-benar bikin tangan gemetar," Jaxson tertawa sambil menyuap potongan besar steak-nya.
Tiba-tiba, Adele Moreau mencondongkan tubuh ke arah Kiandra. Gadis itu selalu terlihat lembut dan puitis, namun kali ini ada binar antusias di matanya. Ia menyodorkan sebuah undangan kecil berwarna hitam elegan dengan tulisan tinta emas yang berkilau.
"Kiandra, malam ini sahabatku di SMA, Aurelien, merayakan ulang tahunnya di Le Marais," ucap Adele dengan suara lembutnya yang khas. "Dia mengundang teman-teman kelas kita. Kamu juga harus datang."
Kiandra menerima undangan itu dengan ragu. Ia membaca nama 'Aurelien' yang tertulis dengan kaligrafi cantik. "Aurelien? Pesta? Di luar kampus? Aku... aku tidak yakin, Adele."
Bayangan wajah Papanya yang tegas langsung melintas di benak Kiandra. Di Jakarta, pergi ke pesta malam-malam adalah hal yang butuh negosiasi panjang, apalagi di kota asing seperti Paris.
"Kamu di Paris, Ki! Jangan cuma bolak-balik kampus dan apartemen terus," Mei Ling menepuk meja pelan, menatap Kiandra dengan tatapan mendesak. "Hidup itu butuh keseimbangan antara pisau dapur dan gelas pesta!"
Diya Kapoor memutar bola matanya, memperbaiki letak syal kasmirnya dengan gerakan anggun yang sangat terukur. "Benar. Lagipula semua orang di kelas kita akan hadir ke sana, Darling. Ini kesempatan bagus untuk networking. Siapa tahu ada anak bangsawan yang nyasar di sana."
Kiandra menoleh menatap Jaxson dan Juliette Laurent yang kompak memberikan anggukan pelan. Juliette tersenyum tipis, seolah memberikan jaminan keamanan.
Kiandra mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, menimbang-nimbang. "Bagaimana kalau pulang terlalu malam? Transportasinya aman?"
"Ada aku dan Jaxson," Mei Ling merangkul bahu Kiandra, tersenyum lebar meyakinkan sahabatnya. "Kita berangkat dan pulang sama-sama nanti. Bagaimana? Deal?"
"Kalau perlu, aku antar sampai depan pintu kamarmu, Ki. Menginap juga boleh kalau kamu takut sendirian," Jaxson mengedipkan matanya jahil.
"Itu sih mau kamu, dasar mesum!" Mei Ling menyambar, membuat Adele, Juliette, dan Jaxson tertawa serempak.
Kiandra ikut tertawa, merasakan kehangatan pertemanan yang mulai solid di antara mereka. Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Oke... jam berapa?"
"Setengah delapan malam aku jemput di kamarmu, kita berangkat sama-sama," Mei Ling memutuskan dengan semangat.
"Oke... aku tunggu," jawab Kiandra, meski ada sedikit rasa cemas yang mulai menggelitik perutnya.
***
Pukul 17:30.
Suara televisi yang menyiarkan berita berbahasa Prancis terdengar sayup-sayup di ruang tengah apartemen Rue de Rivoli. Cahaya senja yang berwarna oranye kemerahan masuk melalui jendela besar, menciptakan siluet panjang di atas lantai kayu yang mengkilap.
Kiandra membuka pintu depan, melangkah masuk sambil melepas syal lehernya. Ia tertegun sejenak saat melihat Enzo Romano sudah ada di rumah.
Pria itu duduk santai di sofa tunggal, membaca sebuah buku tebal dengan kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Penampilan itu—dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku—membuatnya terlihat sangat berbeda dari sosok Chef yang dingin di kampus. Ia terlihat... lebih terjangkau, namun tetap sangat tampan.
Kiandra berdiri kaku di ujung lorong, meremas tali ranselnya dengan cemas. Ia berdehem pelan, mencoba menarik perhatian pria Italia di depannya.
Enzo menurunkan bukunya sedikit, melirik Kiandra dari balik lensa kacamatanya. Tatapannya tajam, namun ada kilatan rasa ingin tahu di sana.
"Ada apa? Kamu berdiri di sana seperti anak kucing yang minta makan," suara baritonnya memecah keheningan.
Kiandra melangkah maju dua langkah, memasang wajah serius dan formal yang ia buat-buat. "Sebentar malam aku mau pergi ke pesta ulang tahun teman sekelasku. Aurelien."
Enzo menutup bukunya perlahan, melepaskan kacamata baca, dan meletakkannya di meja kaca dengan gerakan elegan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Kiandra lurus-lurus.
"Lalu? Kenapa laporan kepadaku? Aku bukan ayahmu, Piccola," ucapnya datar, namun ada nada menggoda yang terselip di sana.
Kiandra mendengus kesal, menyilangkan tangan di depan dada. "Karena Papa titip aku ke kamu! Kalau aku tidak bilang dan terjadi sesuatu, kamu yang pasti akan ditanya Papa duluan!"
Enzo tertawa rendah, sebuah suara yang bergetar di udara dan entah kenapa membuat bulu kuduk Kiandra meremang. Ia menyilangkan kakinya yang panjang, menatap Kiandra dengan gaya dominan.
"Ah, benar juga. Aku adalah wali sementaramu di kota ini," Enzo mengusap dagunya yang dicukur rapi. "Hah... aku masih muda dan tampan, tahu-tahu sudah punya anak gadis yang cantik untuk diawasi."
Pipi Kiandra mendadak merona mendengar kata 'cantik' yang keluar begitu saja dari mulut Enzo. Ia membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merahnya.
Enzo bangkit berdiri, berjalan mendekati Kiandra. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, menatapnya dari atas ke bawah dengan sudut bibir yang menyunggingkan seringai jahil.
"Pergilah," ucap Enzo. "Tapi jangan pulang membawa bau alkohol murahan. Itu merusak selera makanku dan aroma apartemen ini."
Kiandra membelalakkan mata, tidak terima dengan hinaan halus itu. "Aku tidak minum alkohol murahan! Aku bahkan belum tentu minum!"
Enzo mengangkat bahu santai, lalu berjalan menuju meja pantry untuk mengambil gelas wine-nya yang sudah terisi setengah. "Bagus. Dan satu lagi..."
Ia berbalik, menatap Kiandra dengan kilatan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat intens dan menggoda.
"Jangan macam-macam sama laki-laki di sana. Jangan biarkan mereka menyentuhmu lebih dari sekadar jabat tangan."
"Kenapa? Kamu cemburu?" tantang Kiandra, meski jantungnya mulai berdegup kencang.
Enzo menyesap wine-nya perlahan, matanya tetap terkunci pada mata Kiandra. "Bukan cemburu, Piccola. Tapi kalau kamu pulang dengan masalah, aku yang harus repot melaporkannya ke ayahmu. Dan aku benci membuat laporan yang rumit."
Ia tersenyum miring, sebuah senyum yang terlihat sangat berbahaya. "Bersenang-senanglah di pestanya, anak baik."
Kiandra mengerucutkan bibir, pipinya menggembung menahan kekesalan yang memuncak. Pria ini benar-benar tahu cara merusak suasana hati sekaligus membuatnya berdebar di saat yang sama.
"Kamu benar-benar menyebalkan, Enzo! Aku benci kamu!" ketus Kiandra sambil menghentakkan kakinya ke lantai kayu.
Ia berbalik dengan cepat, berjalan menuju kamarnya dengan langkah-langkah besar yang penuh amarah. Namun, di balik rasa jengkel itu, ada sebuah getaran aneh yang menjalar di dadanya—sebuah desir tak karuan yang menolak untuk pergi.
Tawa rendah Enzo masih terdengar menggema di ruang tengah saat pintu kamar Kiandra tertutup dengan suara debuman keras.