NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Tamat
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Gavin

Sebelum ke kantor, Gavin berjanji akan menjemput Azalia di jam makan siang. Sialnya hingga jam 11 siang pekerjaannya belum bisa ditinggalkan. Dia sengaja memajukan seluruh jadwal pekerjaannya satu pekan ini untuk mengejar waktu. Gavin akan menemani Azalia operasi di LN.

Hal itu sudah di putuskan.

Dia merogoh ponsel di kantongnya dan menghubungi Alvin.

Di tempatnya, Alvin baru saja keluar dari gedung Anugrah Sukses Marine ketika ponselnya berdering.

"Dimana?" tanya Gavin to the point.

"Baru keluar dari cek barang, kenapa?" tanya Alvin. Matanya tertuju pada mobil yang baru saja berhenti tak jauh darinya. Tak lama Renata keluar dari mobil itu dan mendekatinya.

"Tolong jemput Azalia, aku sudah janji menjemputnya sebelum jam makan siang, tapi aku benar-benar belum bisa pergi untuknya."

"Baiklah, kemana dia harus ku antar?"

"Kantor. Aku akan membawanya kencan hari ini."

"Oke!" jawab Alvin memutus panggilan lebih dulu.

Di kantor, Gavin kembali berkutat pada berkas-berkas di mejanya. Dia ingin menyelesaikan kekacauan ini sebelum istrinya datang.

"Alvin!" Renata yang cantik tersenyum Anggun. Perempuan yang mengenakan lace dress katun dengan potongan yang flowy yang menampilkan detail ruched neckline dengan garis tepi ruffle yang mencolok sebagai statement menarik.

Dalam balutan busana bernuansa putih itu menampilkan Renata terlihat begitu timeless. Pada bagian bawah rok dressnya model A line, sehingga memberikan kesan begitu anggun. Perpaduannya dengan tulle, menambah sisi girly yang membuat penampilan Renata semakin memesona.

Hari ini, Renata sangat ceria. Wajah perempuan itu berseri-seri dan matanya bercahaya.

Namun, seindah apa pun tampilan Renata, tak bisa menahan Alvin sedetik pun.

"Alvin, aku ingin bicara." Merasa diacuhkan, dia meraih tangan Alvin.

"Aku masih ada urusan, Ren." timpal Alvin, tangannya melepas tangan Renata yang menggenggam pergelangan tangannya.

"Nggak lama, kita ke kafe..., "

"Aku harus pergi menjemput Azalia." potong Alvin yang membuat senyum di bibir Renata surut.

Wanita itu lagi?

"Vin, ini sama sekali nggak lucu, kalian... kalian benar-benar di perdaya oleh wanita itu." Marah, kecewa, muak, semua jadi satu Renata rasakan. Kepedulian Gavin dan Alvin pada Azalia sudah benar-benar di luar batas menurutnya.

"Terserah kamu mau bilang apa, atau mau berpikir bagaimana. Terahir kali aku sudah memberimu kesempatan, nyatanya apa? Kamu tidak benar-benar simpati. Kamu hanya ingin memanfaatkan ketulusanku untuk melancarkan rencanamu mencelakai Azalia."

Mata Renata membulat.

Dia tahu?

"Sepasang kekasih yang datang di restoran malam itu. Mereka sudah mengakui segalanya. Bersyukurlah Gavin tidak menghukummu, Renata." Tangan Renata terkepal kuat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Alvin meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.

Sikapnya berubah dingin, jauh dari sosok Alvin yang dia kenal.

Tanpa Alvin sadari, tangan Renata mengepal kuat. Begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Renata belum pernah merasa dadanya sesesat ini seumur hidupnya. Hati Renata tak pernah sesakit seperti sekarang.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Alvin menjemput Azalia di rumahnya. Gadis itu sudah siap dengan kotak bekal makan siang untuk Gavin.

"Dia tidak datang?" raut kecewa tergambar nyata di wajah Azalia.

"Dia memintaku menjemputmu. Katanya kalian akan pergi berbelanja." ujar Alvin sembari meraih kotak bekal yang berada di atas meja.

"Itu untuk Gavin, jika kau mau aku bisa membuatkan untukmu." tawar Azalia.

"Aku tidak akan merebutnya, aku sudah makan tadi."

Owh!

Azalia mengangguk pelan.

Azalia tengah duduk di kursi penumpang yang dikemudikan Alvin.

Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan dan Alvin menyeret Azalia pada satu toko sepatu kenamaan.

"Kita ngapain?" Alvin tak menjawab, laki-laki itu mengisyaratkan Azalia mencoba setiap sepatu yang disiapkan pramuniaga.

Alvin sibuk memilih beberapa buah sepatu. "Tolong bungkuskan semua ini yang sesuai dengan ukuran kakinya!" Alvin menunjuk deret memanjang sepatu pada display yang tertangkap matanya. Beberapa pramuniaga mulai sibuk melayani keinginannya.

Azalia terperangah dengan sikap Alvin, beberapa pramuniaga mulai berbisik-bisik. Mengira mereka pasangan suami istri.

"Alvin, kakiku cuma sepasang, kamu tidak perlu membelikan begitu banyak untukku."

"Anggap saja hadiah." jawab Alvin masih melihat-lihat sepatu khusus wanita.

Azalia menghela napas panjang. "Sesungguhnya, ke mana aku harus memakai semua sepatu ini?"

Azalia tak tahu berapa lama waktu yang mereka habiskan dalam toko itu, Gadis itu mulai mengeluh lagi dan memaksa Alvin akhirnya setuju mengakhiri acara belanja mereka.

"Kirimkan ke alamat ini." Alvin mengeluarkan black car dan menyerahkan pada manajer toko yang tampak begitu sumringah.

Mereka keluar dari toko setelah pembayaran dilakukan.

Alvin kembali membawa Azalia ke supermarket. Ada yang ingin di beli laki-laki itu.

"Azalia aku ingin beli roll aromaterapi untuk sakit kepala."

"Alvin, kau sakit?"

Avin tertegun melihat raut khawatir dari Azalia untuknya. Seandainya dia tau lebih awal sakit gadis itu, mungkin dia tidak akan semenyesal ini.

Ini mungkin menjadi pertemuan terakhir untuk mereka, Alvin akan sangat merindukan sosok Azalia yang polos. Jika dia saja bisa sesedih ini, lantas bagaimana dengan Gavin.

Alvin tahu, sama halnya dengannya, Gavin pasti akan membuat kenangan indah untuk Azalia.

Dokter mengatakan, tanpa operasi Azalia mungkin hanya bisa bertahan kurang dari setengah tahun, operasi kemungkinan berhasilnya cuma 25% itu artinya, jika operasinya gagal, maka dua hari kedepan adalah sisa kebersamaan mereka bersama Azalia.

Waktu terus berjalan, hingga tepat jam satu siang, Azalia tiba di perusahaan suaminya.

"Kau bawa kemana istri ku?" omel Gavin saat Alvin baru saja melangkah masuk ruangannya.

"Aku membelikan kaka ipar sepatu."

"Kau pikir aku tidak mampu membelikannya?"

Alvin berdecak malas. "Aku lebih baik pulang. Kau cepat makan kotak bekal itu, dan siap-siap berkencan."

Kepala Azalia berputar menatap Gavin. "Kau akan berkencan?"

Gavin menaikkan satu alisnya, mendengar pertanyaan dari bibir istrinya tentang kencan mereka hari ini. "Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya.

"Kita? Aku dan kamu?"

Gavin menarik pinggang istrinya hingga tubuh mereka menyatu tanpa rumpang. Bola mata Azalia melebar saat jemari Gavin mengelus pipinya sebelum bergerak pelan ke belakang leher dan menarik wajah mereka mendekat. Gavin meletakkan kening mereka, menghembuskan napas hangat yang menyapu kulit wajah istrinya. "Tentu saja kita. Jangan berpikir berkencan dengan siapa pun, dan jangan menyukai laki-laki mana pun. Jangan biarkan seorang pun mendekatimu. Kau mengerti? Tidak ada satupun laki-laki yang pantas mendapatkanmu di dunia ini, Azalia," membisikkan isi hatinya sejelas itu di hadapan Azalia. Gavin tak bisa menahan diri untuk tak cemburu saat memikirkan ada laki-laki lain dalam hidup Azalia. Bahkan dengan Alvin pun, Gavin tetap cemburu.

Azalia menggigit bibir bawah dan memejamkan mata. Jantungnya serasa hampir meledak karena setiap sentuhan dan kata-kata Gavin untuknya. Dia menunduk karena tak kuasa melihat wajah laki-laki yang berstatus sebagai suaminya selama 2 tahun terakhir ini.

"Boleh aku meminta sesuatu?" bisik Gavin.

Azalia mendongakkan kepala dan menemukan Gavin masih menatapnya dengan pedar mata yang sama. Gadis itu mengerjap berkali-kali. "Apa itu?"

"Kisses."

1
Windha Ekky
yakin thor ini endingnya hahhh 😭😭😭
Sulati Cus
sad ending
Emi Sudiarni
kok mningal azalianya. kcwa bngat..
Dew666
Loh loh kok tamatnya sedih banget ya
Ila Latifah
ihhh bikin kesel🤣🤣🤣🤣 nyesel baca endingnya
Setyowati Setyowati
katakan ini PRENK kak ..ku mohon ..dan sy pengennya Heppy ending ..bukan sad ending ...
pasti ini akhirnya JD mimpi ..iya kannn
Marini Suhendar
thor..tegaaaaaaaaaa😭😭😭😭😭😭
Bela Viona
sad ending,ternyata tidak ad keajaiban. hanya penyesalan di akhir .
apakah mungkin gavin menduda seumur hidup ?
kisah alvin dan renata tidak ada .
Bela Viona
udah gitu aja ? TAMAT ? serius thor TAMAT ?!
TAAAAAMMMMAAATTTTTTT ????!!!!!!

GAK....gak..gak
aku gak bisa terimaaaaaaa 😢😭😭😭😭
Marini Suhendar
Teruslah Berdoa Gavin Yakin pada d atas ..Oprasinya lancar 🥰
ana
lanjut thor
Rahma Inayah
hanya outhor yg bisa jwb doa mu Gavin Karn dia yg nulis cerita ini azalia hidup dan mati ada di tangan nya 💪💪semangat Thor moga bisa up lgi
Vivo Y21: sad banget gila ceritanya, tapi saya suka😭
total 1 replies
Emi Sudiarni
semoga operasi azalia berhasil
Rahma Inayah
jadi melow /Sob//Sob//Sob/ andai waktu BS di ulang tp syg nya GK bisa .nasib azalia author yg menentukan 🤭🤭 klu pun azalia tiada mkn akan ada wanita yg mirip azalia nnt
Nie_Ayu
bagus ceritanya
Setyowati Setyowati
benar" menyesakkan dada
Jumi Saddah
aq nangis lho,,seakan2 nyata terjadi,,pada hal hanya cerita🥹🥹😭😭😭😭
Marini Suhendar
😭😭😭
Emi Sudiarni
nasib azalia di tangan author. tlong kak author berhasil kan operasi azalia.. ksihan pembaca pd nangis mlihat kisah azalia... jgn di tambah mewk lgi klw azalia di buat pergi. tlong kak sembuhkan azalia🙏🙏🙏
Dew666
Mewek hikzzzz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!