NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: GENCATAN SENJATA TIGA FRAKSI

Markas bawah tanah milik Ratu Kegelapan itu sejatinya dirancang demi menahan gempuran sihir kaliber militer. Dinding-dindingnya telah dilapisi baja mithril serta jajaran mantra penangkal tingkat tinggi. Akan tetapi, di hadapan dua anomali dunia yang tengah meradang karena kehilangan "jangkar" mereka, pertahanan sekuat itu tak ubahnya kertas basah.

JDHAAARRR!

Langit-langit beton di atas singgasana Valeria meledak hebat hingga hancur berantakan. Bongkahan batu raksasa berjatuhan, namun seketika lumat menjadi debu hijau akibat badai elemen yang berputar ganas di dalam ruangan.

Berkas cahaya keemasan yang menyilaukan menerobos masuk dari lubang menganga tersebut. Reynarda Vance mendarat dengan dentuman keras yang meretakkan seluruh lantai ruangan. Pedang raksasanya berpendar merah oleh aura kemarahan suci. Di belakangnya, Elysia Whisperwind melayang turun perlahan. Sepasang mata hijau zamrud miliknya menyala terang, sementara akar-akar berduri raksasa mulai meremukkan pilar-pilar penyangga markas.

"Valeria Crowley..." Suara Reynarda menggelegar, penuh dengan hawa membunuh murni yang membuat udara terasa seberat timah. "Serahkan asisten pribadiku, atau akan kumurnikan seluruh distrik kumuh ini menjadi abu."

Di sisinya, Elysia menatap dengan pandangan sedingin es. "Tikus tanah berbau selokan. Beraninya kau mencuri keheninganku. Akan kutanam benih pohon kematian di dalam paru-parumu."

Melihat dua pahlawan terkuat kekaisaran menjebol markasnya, bawahan Valeria yang tersisa langsung mundur ketakutan. Namun, Valeria sang Ratu Dunia Bawah justru tersenyum miring. Kepalanya tak lagi sakit dan rasa percaya dirinya kembali utuh berkat sentuhan Axel. Valeria berdiri, lalu menarik Axel agar berada di belakangnya secara protektif. Bayangan hitam pekat meletup dari bawah kakinya, membentuk puluhan tombak bayangan yang melayang siap menyerang.

"Perisai Kekaisaran dan Penyihir Agung," kekeh Valeria dengan nada mengejek. "Kalian terlambat. Pria ini sudah menjadi milikku sekarang. Dia lebih memilih duniaku yang gelap daripada dunia kalian yang palsu."

Mata Reynarda terbelalak melihat tangan Valeria yang menggenggam erat lengan Axel. Zirah peraknya bergetar hebat. Rasa cemburu yang menggelap mulai menelan sisa kewarasannya.

[PERINGATAN KRITIS: BENCANA TINGKAT S AKAN TERJADI!]

[Sanity Reynarda Vance: 52% -> 10% (Hasrat Membunuh Mutlak)]

[Sanity Elysia Whisperwind: 50% -> 12% (Hasrat Membinasakan Mutlak)]

[Sanity Valeria Crowley: 40% -> 15% (Paranoia Defensif Mutlak)]

Axel menatap panel sistem yang layarnya nyaris sepenuhnya tertutup warna merah darah yang berkedip-kedip. Ketiga wanita ini tengah menghimpun energi pamungkas mereka. Jika benturan ini terjadi, bukan hanya markas ini yang musnah, melainkan seluruh kota di atas mereka akan lenyap dari peta dunia.

"Ini benar-benar gila," gumam Axel. Dia sadar tidak boleh berdiam diri saja.

Tepat saat Reynarda mengayunkan pedangnya dan Elysia memanggil badai, Axel menyentak tangan Valeria dengan keras hingga terlepas, lalu berlari maju ke tengah ruangan—tepat di titik pertemuan tiga energi mematikan tersebut.

"HENTIKAN!" teriak Axel sekuat tenaga, menggunakan suara perutnya.

Gerakan ketiga wanita itu mendadak terhenti di udara. Mata mereka terbelalak ngeri melihat Axel secara sukarela menceburkan diri ke garis bidik. Jika mereka melepaskan serangan itu sekarang, Axel, seorang manusia tanpa sihir yang sangat rentan, bakal hancur menjadi partikel atom.

"Axel! Mundur!" teriak Reynarda panik sembari menarik kembali pedangnya sekuat tenaga hingga energi sucinya berbalik menghantam tubuhnya sendiri. Ia terbatuk darah, namun matanya tetap fokus pada Axel.

Elysia membatalkan badainya secara paksa, membuat akar-akar berdurinya layu seketika. Sementara itu, Valeria buru-buru melenyapkan tombak bayangannya. Ketiganya bernapas terengah-engah, bukan karena kelelahan, melainkan karena syok akibat nyaris membunuh orang yang paling mereka butuhkan.

Axel berdiri tegak di tengah ruangan yang hancur. Ia sengaja tidak mendekat ke salah satu dari mereka. Kecerdasan emosionalnya bekerja pada kecepatan maksimal. Ini adalah momen untuk menetapkan batasan, atau dia akan mati menjadi boneka tarik tambang selamanya.

"Dengar baik-baik kalian bertiga," suara Axel mendadak berubah dingin dan sangat tegas, persis seperti seorang ayah yang tengah menghukum anak-anak nakalnya. "Aku bukan piala, aku bukan barang curian, dan aku bukan boneka."

Axel menatap Reynarda. "Rey. Kau adalah simbol keadilan kekaisaran. Membakar satu distrik hanya karena cemburu? Itu bukan Ksatria Suci yang kukenal. Kau membuatku kecewa."

Reynarda tersentak. Kata-kata "membuatku kecewa" dari mulut Axel menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Dia langsung menunduk, meremas gagang pedangnya dengan rasa bersalah yang mendalam.

Axel lalu beralih pada Elysia. "Elysia. Kau benci kebisingan, bukan? Tapi kau baru saja menciptakan badai paling berisik yang pernah kudengar hari ini. Telingaku sakit. Hentikan sihirmu, sekarang."

Telinga runcing Elysia seketika turun. Sang peri dengan patuh menghentikan seluruh sisa aliran elemennya, kembali berlutut diam di lantai seperti anak kecil yang sedang dimarahi.

Terakhir, Axel menoleh ke arah Valeria. "Dan kau, Valeria. Kau baru saja merasakan damainya pikiran tanpa paranoia, kan? Jika kau melawan mereka berdua sekarang, kau mungkin akan mati. Dan tebak apa? Suara-suara di kepalamu itu akan menemanimu sampai ke neraka. Kau mau kembali ke sana?"

Valeria menggigit bibir bawahnya, tubuhnya sedikit gemetar membayangkan rasa sakit itu kembali menyiksa. Sang Ratu Kegelapan akhirnya menggeleng pelan.

"Bagus," Axel menghela napas panjang sembari merilekskan bahunya. Dia mengaktifkan Aura Penenang Jiwa miliknya secara pasif ke seluruh penjuru ruangan, membuat ketiganya merasakan kenyamanan yang samar namun pasti. "Mulai hari ini, kita buat aturan baru. Kalian tidak boleh memperebutkanku dengan kekerasan. Jika salah satu dari kalian mencoba membunuh yang lain, atau mencoba mengurungku... aku akan pergi, dan kalian tidak akan pernah melihatku lagi."

Ancaman itu adalah kartu as mutlak. Bagi ketiga heroine ini, kehilangan Axel sama saja dengan divonis mati secara perlahan.

"Lalu apa yang kau inginkan, Axel?" tanya Reynarda dengan nada memohon, aura merahnya perlahan kembali keemasan dan stabil.

"Sederhana," Axel menatap mereka bertiga secara bergantian. "Sebuah gencatan senjata. Aliansi harem. Kalian semua membutuhkan aku, dan sejujurnya, dengan musuh yang sekarang tahu keberadaanku, aku juga membutuhkan perlindungan kalian. Aku akan membagi waktuku untuk kalian bertiga secara adil. Tapi kalian harus berdamai."

Valeria mendengus kasar. "Aku harus berbagi dengan si ksatria kaku dan peri tua ini? Cih."

"Aku setuju," potong Elysia cepat, tanpa memedulikan ejekan Valeria. Bagi sang peri, selama dia mendapatkan jatah keheningannya, dia tidak peduli pada hal lain.

Reynarda menelan harga dirinya dan akhirnya mengangguk pelan. "Jika itu perintahmu, Axel... aku akan menoleransi keberadaan mereka."

[Ding! Krisis Bencana berhasil digagalkan.]

[Sanity Reynarda: 55%]

[Sanity Elysia: 55%]

[Sanity Valeria: 45%]

[Pemberitahuan Sistem: Terbentuk Fraksi Tiga Pilar. Host kini menjadi Pusat Rotasi Dunia.]

Axel mengusap wajahnya yang penuh debu dan darah kering. Dia berhasil selamat dari kiamat hari ini. Namun, saat melihat ketiga wanita perkasa itu kini menatapnya dengan tatapan posesif yang serempak, Axel sadar bahwa mulai besok, jadwal "asisten pribadinya" akan tiga kali lipat lebih mematikan.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!