Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Perjanjian tanpa nama
Hujan turun deras sekali membasahi kaca jendela ruang tamu yang luas dan mewah. Di dalam ruangan itu, suasana justru jauh lebih dingin dibandingkan cuaca di luar. Duduk di satu sisi sofa kulit berwarna hitam yang elegan adalah Arkan Dirgantara. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu memancarkan aura wibawa yang tak terbantahkan. Sebagai pemimpin utama Grup Dirgantara, salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini, Arkan terbiasa mengendalikan segalanya—mulai dari saham perusahaan hingga keputusan-keputusan besar yang bernilai miliaran rupiah. Namun hari ini, di ruangan yang sama, ia merasa kendali itu perlahan terlepas dari genggamannya.
Di hadapannya duduk sepasang suami istri, sahabat lama orang tuanya, dan seorang gadis muda yang duduk menunduk diam. Itu adalah Nara. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambut hitamnya diikat rapi ke belakang. Ia tampak kecil dan rapuh di tengah kemewahan rumah mewah milik keluarga Arkan.
“Arkan, Nak,” suara Ibu Arkan terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan. “Kamu sudah tahu maksud pertemuan ini. Ayah dan Ibu sudah sepakat dengan Pak Budi dan Bu Sari. Pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah pihak, baik secara hubungan kekeluargaan maupun bisnis.”
Arkan menghela napas panjang, jemarinya mengetuk pelan meja kaca di hadapannya—kebiasaan yang muncul saat ia sedang berusaha menahan emosi. Ia menatap tajam ke arah Nara. “Dan kalian berpikir aku akan setuju begitu saja? Menikah dengan seseorang yang bahkan belum pernah aku temui sebelumnya? Seseorang yang…,” Arkan berhenti sejenak, menahan kata-kata kasar yang hampir terucap. “Seseorang yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang duniaku?”
Ayah Nara, Pak Budi, tersenyum kikuk. “Nara gadis yang baik, Arkan. Ia cerdas, penurut, dan pandai mengurus rumah tangga. Ia akan menjadi istri yang sempurna untukmu. Kami tahu perbedaan latar belakang kalian cukup jauh, tapi justru itulah yang kami harapkan. Nara akan membawa ketenangan dalam hidupmu yang sibuk itu.”
Nara yang sedari tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang berwarna cokelat jernih bertemu dengan tatapan dingin Arkan. Di mata pria itu, ia melihat ketidaksukaan yang mendalam, seolah-olah kehadirannya adalah sebuah masalah besar yang harus diselesaikan. Hati Nara mencelos. Ia tidak menginginkan ini juga. Ia punya mimpinya sendiri, rencana untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, dan kebebasan yang selalu ia idamkan. Namun, demi membantu usaha keluarganya yang sedang terancam bangkrut, ia harus mengorbankan segalanya. Perjodohan ini adalah satu-satunya cara agar bisnis ayahnya selamat, dan Arkan adalah satu-satunya orang yang mampu menolong.
“Apakah Tuan Arkan keberatan dengan kehadiran saya?” tanya Nara pelan, suaranya terdengar lembut namun cukup jelas untuk didengar semua orang.
Arkan tertawa kecil, tawa yang penuh sarkasme. Ia bersandar ke sandaran sofa, menatap Nara dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan yang merendahkan. “Keberatan? Tentu saja aku keberatan. Kau pikir kau siapa? Kau pikir dengan menikahiku, hidupmu akan berubah menjadi dongeng? Kau salah besar, Nara.”
“Arkan!” tegur Ayahnya dengan nada keras. “Jaga ucapanmu. Nara adalah calon istrimu, hormati dia.”
“Calon istri?” Arkan bangkit berdiri, tubuh tingginya menjulang, membuat siapa saja yang melihatnya merasa seolah terancam. “Ini hanya transaksi, Yah. Jangan panggil ini dengan kata-kata indah seperti pernikahan. Aku setuju dengan perjodohan ini hanya karena menghargai permintaan terakhir Ibu dan Ayah. Tapi ada syaratku.”
Ia berjalan mendekati Nara, berhenti tepat di hadapan gadis itu. Arkan menatap lurus ke dalam mata Nara, menanamkan ketakutan sekaligus pesan tegas.
“Kau dengar baik-baik, Nara. Kita akan menikah, tapi ini hanya pernikahan di atas kertas dan di mata publik. Di luar itu, kau tidak berhak mengatur hidupku, kau tidak boleh mencampuri urusanku, dan kau tidak boleh berharap aku akan mencintaimu. Bagiku, kau hanya tamu yang tinggal di rumah ini. Kau boleh menikmati fasilitas yang ada, tapi ingat batasanmu. Jangan pernah bermimpi menjadi nyata di hatiku, karena tempat itu sudah tertutup rapat.”
Nara menelan ludah, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia mengangguk pelan, berusaha terlihat tegar meski hatinya terasa remuk. “Saya mengerti, Tuan. Saya tidak akan menuntut apa pun dari Anda. Saya di sini hanya karena perjanjian ini, dan saya berjanji tidak akan mengganggu kehidupan pribadi Anda.”
“Bagus,” jawab Arkan datar. Ia kembali duduk dan menatap ke arah orang tua mereka. “Pernikahan ini akan dilaksanakan secara sederhana, hanya akad dan saksi. Tidak ada pesta besar, tidak ada bulan madu. Begitu urusan ini selesai dan posisi perusahaan Ayah aman, kita lihat nanti kelanjutannya. Apakah itu cukup jelas?”
Meskipun terdengar kejam, tidak ada satu pun yang berani menentang. Kedua orang tua itu saling berpandangan, merasa lega setidaknya Arkan bersedia menerima perjodohan itu meski dengan syarat yang sangat berat. Bagi mereka, pernikahan ini adalah penyelamatan, meski bagi kedua anak muda itu, ini adalah awal dari penjara yang panjang.
Pertemuan itu pun usai. Orang tua Nara berpamitan pulang, meninggalkan putri semata wayang mereka di rumah besar milik keluarga Dirgantara. Kini, hanya tinggal Arkan dan Nara yang berada di ruang tamu itu. Hujan di luar masih turun, suasananya hening dan kaku.
Arkan mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan melemparkannya ke atas meja di hadapan Nara.
“Besok pagi jam sembilan, datang ke kantorku. Ada pengacara yang akan menjelaskan rincian kontrak pernikahan ini secara tertulis. Bacalah dengan teliti, tanda tangani, dan jangan sampai ada pelanggaran sekecil apa pun. Jika kau melanggar satu poin saja, kau akan kuusir dari sini dengan tangan kosong, dan keluargamu akan menanggung akibatnya.”
Nara menatap kartu nama itu, lalu mengangkat wajah menatap punggung Arkan yang mulai berjalan menuju tangga utama.
“Apakah bagi saya, ini hanya soal kontrak dan kewajiban, Tuan?” tanya Nara tiba-tiba, suaranya bergetar namun berani.
Arkan berhenti melangkah, ia tidak berbalik, namun suaranya terdengar dingin dan tajam. “Kau sadar itu sejak awal, bukan? Kau dijodohkan denganku bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan. Jadi jangan berharap ada perasaan di sini. Ingat posisimu, Nara.”
Pria itu pun menghilang di balik pintu lantai atas, meninggalkan Nara yang terduduk diam di sofa. Gadis itu menunduk, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipi. Ia tahu jalan yang dipilihnya tidaklah mudah, tapi ia tidak menyangka akan seberat ini. Di mata Arkan, ia hanyalah sebuah kewajiban yang harus ditanggung, beban yang harus dipikul.
Namun, di dalam hati kecilnya, Nara berjanji pada diri sendiri. Ia akan membuktikan bahwa ia bukan sekadar gadis lemah yang dijodohkan begitu saja. Ia akan menjalani peran ini dengan sebaik-baiknya, menjaga kehormatan keluarganya, dan entah bagaimana caranya—meski mustahil—ia berharap suatu hari nanti, dinding dingin yang membentengi hati Arkan itu akan runtuh perlahan.
Malam itu, di bawah atap rumah mewah yang sama, dua hati yang berbeda dunia mulai hidup bersama dalam satu ikatan yang dipaksakan. Sebuah kisah yang dimulai dengan kebencian dan kewajiban, tanpa ada yang tahu ke mana takdir akan membawa mereka berdua. Dan bagi Arkan Dirgantara, CEO yang dingin dan angkuh itu, ia belum menyadari bahwa gadis sederhana di bawah sana perlahan akan menjadi satu-satunya kekacauan yang tidak bisa ia kendalikan dalam hidupnya.
Bersambung...