NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan Pagi

Pagi itu, atmosfer di ruang makan kediaman Laurent terasa ganjil bagi Zira. Keheningan yang biasanya menemaninya sarapan, kini terusik oleh keberadaan Raka yang duduk tenang di kursi kebesarannya. Sebuah pemandangan langka, mengingat biasanya pria itu sudah melesat pergi ke apartemen Ivy bahkan sebelum matahari benar-benar naik.

"Morning, Sayang," ucap Raka lembut, bangkit sejenak untuk meng3cup hangat kening Zira.

Zira tidak menghindar, namun ia juga tidak membalas. Matanya hanya menatap datar pada hidangan nasi goreng dan omelet yang tersaji di atas meja. "Tumben sekali kamu minta bibi menyiapkan sarapan di rumah," gumamnya pelan sembari menarik kursi.

Raka tersenyum, mencoba menampilkan wajah suami idaman yang penuh kasih. "Hanya ingin sarapan bersamamu. Aku kangen momen kita berdua, tanpa gangguan siapapun," jawabnya sembari meraih cangkir kopinya.

"Kamu sendiri yang membuat momen itu tiada, Raka," balas Zira tanpa emosi. Kalimat singkat itu telak meruntuhkan senyuman di wajah Raka, menyisakan kecanggungan yang mencekam di antara denting sendok dan piring.

Zira mulai menyuap makanannya. Sebenarnya, selama bertahun-tahun tinggal di London, ia tidak terbiasa menyantap nasi di pagi hari. Namun, perutnya butuh energi untuk menghadapi hari yang panjang. Di sela-sela makannya, ponsel Zira berdenting berkali-kali. Ia meraih benda pipih itu, membacanya, dan tanpa sadar sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya saat membalas pesan tersebut.

Raka yang sejak tadi memperhatikannya mulai merasa panas. Rasa cemburu yang tidak beralasan membakar dadanya. Puncaknya, ia membanting sendoknya ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring.

PRANG!

"Bisa kamu singkirkan ponselmu itu?" nada suara Raka menyentak, penuh dengan otoritas yang dipaksakan.

Zira mendongak, menatap suaminya dengan kerutan di dahi yang menunjukkan kebingungan sekaligus rasa muak. "Ada apa denganmu sejak semalam? Kamu cemburu dengan sebuah ponsel? Oh, ayolah, ini hanya benda mati, Raka."

Raka memegangi kepalanya, mencoba meredam emosi yang bergejolak. "Jangan membahas ke mana-mana! Aku sedang membahas ponselmu itu! Sekarang kita nikmati waktu berdua kita, please. Aku hanya minta satu hal itu saja."

Zira mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. Ia kembali melahap makanannya meski nafsu makannya telah menguap. Ada rasa jengkel yang luar biasa setiap kali ia berhadapan dengan Raka. Seolah-olah perasaan cinta yang dulu begitu tebal dan kokoh, kini terkikis perlahan hingga nyaris habis tak bersisa.

Baru saja suasana kembali tenang, tiba-tiba ponsel Raka berdering nyaring. Nama 'Ivy' terpampang jelas di layar. Zira menarik satu sudut bibirnya, sebuah senyum sinis yang penuh arti. Ia terus mengunyah makanannya sembari menatap Raka yang tampak bimbang dan ragu di kursinya.

"Angkat saja. Aku tidak sekecil itu sepertimu yang mempermasalahkan ponsel," ucap Zira tajam, membuat Raka tercekat.

Raka berdehem, mengusap wajahnya dengan gusar. Ia mencoba mengabaikan panggilan itu dan mematikan ponselnya, lalu berusaha kembali tersenyum pada Zira. "Ini waktu kita, aku tidak ingin ...,"

Sayangnya, ponsel itu kembali berbunyi dengan gigih. Zira mengambil tisu, membersihkan mulutnya dengan tenang, sementara matanya tetap mengunci pandangan pada Raka yang makin terlihat gelisah.

"Sebentar saja, Sayang. Aku takut terjadi sesuatu yang darurat. Kamu tahu sendiri kan Ivy sedang mengandung anak kita? Oke, ini hanya demi anak kita," ucap Raka dengan nada memohon yang terdengar sangat ironis di telinga Zira.

Raka mengangkat telepon itu. Zira tetap terlihat santai, meraih cangkir kopinya dan menyesapnya pelan sembari mengamati suaminya yang mulai berbicara dengan nada panik di ujung telepon. Tak lama, Raka mematikan ponselnya dan berdehem canggung.

Zira sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia meletakkan cangkirnya, beranjak berdiri dengan tenang, lalu meraih tas dan ponselnya.

"Pergilah. Aku sudah hafal skenarionya setelah ini," ucap Zira dingin sembari melangkah pergi.

Raka terkejut dan segera berlari mengejar istrinya ke arah pintu depan. "Sayang, Sayang, dengarkan dulu! Ivy mengalami flek, aku harus membawanya ke rumah sakit segera. Ini tentang anak kita, Zira. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Sebentar lagi wishlist kita akan terwujud, impian yang kita nantikan selama sepuluh tahun akan tercapai!" ucap Raka sembari menahan tangan Zira.

"Wishlist?" Zira menarik tangannya dengan kasar, menatap Raka dengan tatapan yang menghunus jantung. "Melihatmu bersama wanita lain, saling berbagi ranjang bahkan selimut, tak pernah ada dalam wishlist-ku, Raka! Jangan pernah menggunakan kata 'kita' untuk kesalahan yang kamu lakukan sendiri."

Raka menjambak rambutnya frustrasi. "Oh, ayolah! Jangan bahas masalah yang sama berulang kali! Kita sudah sepakat untuk ini!" Ia mencoba menurunkan emosinya, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Zira dengan lembut, sebuah upaya manipulasi emosional yang biasa ia lakukan.

"Oke, aku minta maaf. Kebersamaan pagi kita harus berantakan lagi. Kamu mau ke toko, kan? Hati-hati di jalan ya, Sayang," ucap Raka. Namun, saat ia hendak menc1um pipi Zira, istrinya itu justru memalingkan wajah.

Hati Raka terasa seperti dicubit perih. Penolakan fisik dari Zira terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian. Zira pergi begitu saja tanpa menoleh, meninggalkan Raka yang berdiri mematung di teras rumah dengan napas kasar yang memburu. Ia pikir, selama Zira memutuskan untuk bertahan, semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak sadar bahwa bertahan tidak selalu berarti masih mencintai.

.

.

.

.

Di sisi lain kota, Ivy menatap ponselnya dengan amarah yang membara. Ia menghempaskan benda itu ke atas ranjang apartemennya yang mewah. Beberapa hari ini, ia merasa Raka mulai berubah. Pria itu terkesan cuek dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Zira. Segala drama ia mainkan, termasuk berpura-pura sakit agar Raka tetap di sisinya, namun ia merasa posisinya mulai terancam.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan Raka sepenuhnya, setelah bayi ini lahir, aku pasti akan dibuang begitu saja. Tidak ... itu tidak boleh terjadi," gumam Ivy panik sembari menggigit kukunya, sebuah kebiasaan saat ia merasa terdesak.

Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi nyaring. Senyum Ivy langsung merekah. Ia mengira itu adalah Raka yang datang dengan rasa cemas setelah teleponnya tadi. Ia lekas berlari menuju pintu dan membukanya dengan semangat.

Namun, senyum itu luruh seketika. Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap yang dihiasi tato di sepanjang lengannya. Wajah pria itu tampak sangar dengan bekas luka kecil di pelipis, menatap Ivy dengan seringai yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Enak sekali hidupmu di sini ya, Ivy? Sampai-sampai kamu melupakan papamu ini," ucap pria itu dengan suara berat yang penuh ancaman.

Ivy mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Masa lalu yang ia coba kubur dalam-dalam kini berdiri tepat di depan pintunya, mengancam kenyamanan yang baru saja ia bangun di atas penderitaan wanita lain.

"Pa ... Papa?" lirih Ivy dengan suara gemetar.

Pria itu melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu apartemen dengan dentuman pelan namun tegas. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang mewah itu dengan rakus. "Wah, nampaknya kamu menemukan bank berjalan yang cukup kaya, Ivy. Mari kita bicara tentang bagaimana caramu membagi keberuntungan ini dengan ayahmu yang malang ini."

___________________

1
Desi Belitong
si zira salah pilih suami thor
Suyudana Arta
wah, ketemu raya bisa gempar
Suyudana Arta
kalah 3-0😂😂😂
Suyudana Arta
ini ternyata gurunya😂
Mamah Dini11
gak terasa udh tamat aja , makasih author bagus ceritanya 🙏🙏🙏 terus berkarya thor semangat 💪💪💪💪💪💪💪 /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mamah Dini11
thor gimana kbr nya si raka lama gk di ceritain ,
Mamah Dini11
orkay kluarga raisa cuman kok anak2nya gk ada malandiri semua kumpul di situ xavier kaya pengusaha kayden juga pengusaha apa enakan gitu kumpul rame2 biar gk sepi mungkin
Mamah Dini11
emang gk ada nama lain ya zi , nanti ketuker kalau manggil , tuh kayden pinter pilih nama buat zayra singkatan dari namamu dn suamimu , tpiii itu pilihan kmu zira cepet nambah momongan lgi ya 🤭😄😄😄😄😄
Mamah Dini11
selamat zi kay kalian sudah menjadi ortu semoga tambah2 ke bahagiaan. nya
Mamah Dini11
xander. ortu yg bijak 👍👍
Mamah Dini11
semoga omongan si sofia gk bener. kalau bener aku marah sm kmu kay
Mamah Dini11
dengarkan duli zi ke benaran nya baru tebok jgn percaya dulu omongan sepihak itu baru benar , hmm bknnya kayden pria yg tak tersentuh ya sm kaum hawa ternyata playboy juga ngakunya cintanya untuk zira , naaahhh barusan sofia bilang apa , apa bener kay gitu .
Mamah Dini11
alhmdulilah akhirnya yg di tunggu2 hadir juga selamat ya zi di jaga ya kay istrinya jgn kecapean
Mamah Dini11
omongan zayra kayak orang desawa agak nyeleneh , dan bkn kata2 anak seusianya
Mamah Dini11
kay kmu itu tdk tau. tempat ya di. mana aja jadi dasar brondong karatan , emang di rumah blm cukup ya 🤭
Storyginal Finger
bagus banget tulisannya... andai aja ceritaku seramai ini 👍
Mamah Dini11
thor maaf bolehkan senggol si raka pengen tau kbrnya setelah bercerai dn kehidupan nya. gimana sekarang
Mamah Dini11
raisa ibu sambung terus ayah yg sekarang ayah sambung yg mana ibu kandung zira thor, asa lieur 🤭
Mamah Dini11
smua gk seperti yg kmu bayangkan tuan kayden pengganggumu keterlaluan
Mamah Dini11
barubaru aja menikah udh ada bibit racun masalalu kayden datang gk seru ah selalu kedepankan pebinor blm juga bln madu udh di munculkan perusuh , sabar ya zi semoga kmu kuat menghadapi nya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!