NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - KOTA YANG TIDAK LAGI KOTA

Erangan para *infected* terdengar semakin merapat. Suara seretan kaki yang bergesekan dengan lantai porselen di tingkat bawah menggema, memenuhi seisi supermarket kosong itu bagai kidung kematian yang perlahan tapi pasti merayap naik. Damar bisa merasakan sebutir keringat dingin lahir di pelipisnya, lalu merosot jatuh melewati rahang.

Tepat di ujung koridor tangga utama, siluet-siluet ringsek itu mulai menampakkan diri. Satu, dua, lima, lalu mendadak menjadi sepuluh. Makhluk-makhluk itu terus merangsek keluar dari kegelapan dengan kulit yang membusuk ngeri, sepasang mata putih keruh tanpa bola, dan moncong yang tak henti-hentinya menyemburkan suara geraman lapar.

"Kontak visual!" teriak salah satu tentara di barisan depan.

*BRAK!*

Tembakan pertama menyalak dahsyat, memekakkan telinga. Kepala zombi yang berada di barisan paling depan pecah berantakan. Tubuhnya langsung terjungkal ke belakang, menabrak kawanan *infected* lain yang mengekor di belakangnya. Namun, rintangan itu sama sekali tidak menyurutkan niat mereka. Makhluk-makhluk itu bangkit lagi dan terus merayap maju, seolah rasa sakit dan kematian kedua sudah tidak ada artinya lagi bagi saraf mereka.

"Jangan habiskan peluru sembarangan!" bentak sersan yang memimpin tim dengan urat leher tegang.

Damar menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Kedua tangannya mencengkeram gagang linggis begitu erat, sampai-sampai buku-buku jarinya memutih. Di dalam rongga dadanya, jantung bertalu-talu bagai mau meledak. Situasi kali ini benar-benar berbeda. Sial, sangat berbeda. Dulu, saat masih berkelana sendirian, dia selalu punya ruang lapang untuk mengambil langkah seribu dan kabur. Tapi sekarang? Mereka terjebak di koridor sempit, memikul beban logistik yang berat, dan dihadang oleh puluhan *infected* lapar tepat di depan mata.

Mau tidak mau, mereka harus bertarung jika masih ingin melihat matahari terbit.

"Mundur ke tangga belakang! Sekarang!" perintah sang Sersan, tegas tanpa bantahan.

Seluruh rombongan langsung bergerak mundur dalam formasi panik yang tertata. Para tentara buru-buru membentuk garis pertahanan darurat demi menahan laju gelombang mayat hidup.

*DOR! DOR! DOR!*

Tiga *infected* tumbang seketika dengan dada dan kepala berlubang. Namun, peluru yang keluar tak sebanding dengan puluhan monster lain yang mendadak muncul dari belokan koridor. Suara hancurnya kaca-kaca besar dari lantai bawah menjadi sinyal buruk bahwa pertahanan gedung ini sudah jebol sepenuhnya. Monster-monster itu datang merubung dari segala arah.

"Sial! Mereka datang dari semua sisi!" umpat salah seorang tentara di dekat Damar.

Damar bergegas membantu, menyentak satu karung berisi bahan makanan ke atas pundaknya. Beratnya luar biasa, membuat lutut pemuda desa itu sempat gemetar. Namun, ia tahu betul bahwa sekarung logistik ini adalah penyambung nyawa bagi ratusan kepala di kamp pengungsian. Mereka tidak boleh, dan tidak akan pernah meninggalkan barang ini.

Tiba-tiba, seekor *infected* berhasil meloloskan diri dari barisan barikade tentara. Monster dengan rahang berlumur darah itu berlari beringas, mengincar seorang pengungsi pria berkumis tebal yang berada di dekat tangga. Pria itu seketika membeku, matanya membelalak ketakutan, kakinya mendadak lumpuh tak bisa digerakkan.

"Awas, Mang!"

Damar refleks bergerak. Ia menerjang maju, mengayunkan tangannya sekuat tenaga.

*BRAKK!*

Ujung linggisnya menghantam pelipis si monster dengan telak hingga mengeluarkan bunyi retakan jorok. Tubuh *infected* itu terlempar ke samping, menghantam rak pajangan yang sudah kosong. Namun, belum sempat Damar menarik napas lega, dua monster lain di belakangnya langsung melompat menerkam.

"Aduh, siah...!" Damar pasrah, buru-buru mengangkat linggisnya untuk menahan gigitan.

Beruntung, sebuah gerakan kilat melesat lebih cepat dari bayangan kematian itu.

*DUKK!*

Sebuah tongkat aluminium menghantam lutut zombi pertama dengan presisi tinggi. *CRAAKK!* Kakinya patah seketika ke arah terbalik. Tak berhenti di situ, *BRAKK!* Ayunan searah jarum jam berikutnya sukses menghancurkan rahang zombi yang satunya lagi hingga giginya rontok ke lantai.

Alya. Gadis itu kini sudah berdiri tegak di samping Damar, napasnya naik-turun memburu dengan rambut yang basah oleh keringat.

"Jangan bengong kalau masih mau hidup," cetus Alya, matanya tetap awas memindai sekitar.

Damar menyunggingkan senyum kecut, mengusap pelipisnya yang basah. "Hatur nuhun, Al. Terima kasih."

"Nanti aja terima kasihnya, kalau kita udah berhasil keluar dari sini hidup-hidup," sahut Alya cepat.

Mereka kembali memacu kaki. Pintu besi menuju tangga darurat bagian belakang akhirnya berhasil didobrak terbuka. Begitu mereka meloloskan diri keluar, embusan angin dan udara bebas langsung menyergap wajah. Namun, pemandangan di luar sana ternyata tidak menjanjikan keamanan yang lebih baik. Area parkir belakang mal dipenuhi oleh bangkai kendaraan yang melintang tumpang-tindih, dan beberapa *infected* yang berkeliaran di sekitar sana mulai memutar kepala mereka, terpancing oleh gema suara tembakan dari dalam gedung.

"Kita lari ke gang timur! Ikuti saya!" teriak salah satu tentara di barisan depan.

Rombongan itu langsung berhamburan lari membelah aspal. Karung-karung logistik di pundak mereka berguncang hebat, membuat napas terasa makin pendek dan panas di tenggorokan. Kaki-kaki mereka rasanya sudah berubah menjadi timah padat yang super berat untuk diangkat. Tapi ketakutan akan dikunyah hidup-hidup menjadi bahan bakar utama yang memaksa mereka untuk terus memacu langkah menuju kamp.

Di tengah pelarian yang menguras fisik itu, Damar sempat menolehkan pandangannya ke arah Alya yang berlari di sisinya. Anehnya, gadis itu tampak jauh lebih stabil ketimbang pengungsi lainnya. Wajahnya memang dibanjiri keringat, tetapi ritme langkah kakinya tetap konisten dan kuat. Seperti seseorang yang tubuhnya sudah ditempa bertahun-tahun untuk melewati batas ketahanan fisik manusia biasa.

"Capek... hhh... capek nggak sih, Al?" tanya Damar di sela-sela napasnya yang terengah-engah.

Alya melirik sekilas tanpa mengurangi kecepatan larinya. "Capek, lah."

"Lah, kok... kok masih kuat?"

"Gue atlet," jawab Alya singkat, padat, dan jelas.

Jawaban yang kelewat lempeng itu entah bagaimana berhasil memantik tawa kecil dari mulut Damar, sedikit mengikis ketegangan gila yang sedang mengepung mereka.

Perjalanan pulang ke kamp ternyata berkali-kali lipat lebih melelahkan dibanding saat berangkat tadi pagi. Jumlah *infected* yang berkeliaran di jalanan kota melonjak drastis secara misterius. Beberapa kali rombongan terpaksa memutar jalan tikus demi menghindari kerumunan masal, dan beberapa kali pula mereka harus menahan napas dalam-dalam, tiarap di balik reruntuhan beton saat sekelompok monster melintas dekat tempat persembunyian mereka.

Matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, memancarkan semburat jingga kemerahan yang muram, ketika mereka akhirnya tiba di kawasan pusat kota. Di sanalah, seluruh rombongan mendadak menghentikan langkah dan terdiam seribu bahasa.

Sebuah gedung perkantoran tinggi di hadapan mereka berdiri dengan posisi miring yang mengerikan, hampir roboh. Kobaran api masih melahap sisa-sifat lantai bagian tengah, mengirimkan gulungan asap hitam pekat yang membubung tinggi memedihkan mata, mengotori langit sore.

"Kapan... kapan itu terjadi?" bisik salah seorang pengungsi dengan suara gemetar.

Tidak ada satu pun yang bersuara untuk menjawab. Karena sejujurnya, memang tidak ada yang tahu. Kota ini berubah terlalu cepat, seolah sedang membusuk hidup-hidup. Setiap hari ada saja bangunan megah yang hancur, setiap hari ada jalan pintas yang tertutup reruntuhan, dan setiap hari pula dunia rasanya berjalan selangkah lebih dekat menuju titik nadir kehancuran total.

Damar memandangkan matanya ke sekeliling pasrah. Lampu lalu lintas bergelantungan mati, kabel-kabel optik menjuntai malang seperti akar gantung yang layu, dan beberapa deretan ruko tampak kosong melompong bagai kerangka raksasa. Pemandangan ini mendadak melempar ingatan Damar ke masa-masa sebelum wabah jahanam ini pecah. Masa-masa penuh kemacetan yang menyebalkan, bisingnya klakson kendaraan, riuh pedagang kaki lima di trotoar, dan tawa anak-anak sekolah yang berkerumun. Hal-hal sepele yang dulu sering dikeluhkan, kini menjelma menjadi kemewahan yang tak akan pernah kembali.

Semuanya lenyap tanpa bekas, disapu bersih oleh kiamat.

"Kota ini... udah kayak kuburan masal yang luas," celetuk Alya, memecah lamunan Damar. Gadis itu berdiri mematung, menatap lurus ke arah jalan raya yang sunyi berdebu.

Damar mengangguk pelan. "Iya."

Selama beberapa detik, mereka semua hanya melangkah dalam keheningan yang mencekam. Sampai kemudian, sebuah suara gemuruh tektonik yang maha dahsyat terdengar memekakkan telinga dari arah kejauhan.

*GRRRRMMM...*

Semua orang dalam rombongan spontan memasang posisi siaga, mencengkeram senjata mereka masing-masing. Begitu kepala mereka menoleh ke arah sumber suara, sebuah pemandangan mengerikan tersaji di depan mata. Sebuah kompleks apartemen tua di distrik sebelah ambruk. Gerakannya lambat namun mutlak; lantai demi lantai runtuh bertubrukan, kaca-kaca jendela pecah serentak menciptakan hujan beling, dan semenjak itu debu putih tebal membubung tinggi ke udara.

Lalu—

*DUAAAAARRRR!!*

Seluruh struktur bangunan itu roboh total rata dengan tanah. Gelombang angin bercampur debu pekat langsung menyapu sisa jalanan di sekitarnya. Bahkan dari jarak ratusan meter tempat mereka berdiri, getaran hebat di bawah pijakan kaki masih terasa begitu nyata, membuat beberapa orang goyah.

Senyap. Tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara setelahnya. Karena detik itu juga, sebuah fakta pahit menghantam kepala mereka secara paksa: peradaban manusia sedang runtuh berkeping-keping. Secara harfiah.

Menjelang sore hari yang temaram, rombongan akhirnya berhasil mendekati perimeter zona aman kamp. Namun, ada sesuatu yang janggal di udara. Bau hangus yang berbeda tercium, dan dari balik barikade kamp, tampak kepulan asap abu-abu tebal naik ke langit. Banyak sekali asap.

Melihat hal itu, langkah kaki para tentara pengawal langsung berubah menjadi lari cepat.

"Sialan..." desis sang Sersan.

Damar merasakan jantungnya mendadak melosot turun ke lambung. Pikiran-pikiran buruk langsung berkecamuk di kepalanya. *Tong nepi ka kajadian...* Jangan sampai. Jangan sampai kamp pertahanan terakhir mereka ini runtuh dijebol monster saat mereka pergi.

Mereka memacu sisa tenaga, berlari sekencang mungkin. Semakin dekat mereka dengan gerbang utama, semakin jelas pula pemandangan mengerikan yang tersaji. Pagar kawat berduri tebal di bagian luar tampak rusak parah, beberapa tiang penyangganya bahkan jebol terongkong ke dalam. Ceceran darah segar merembes di atas tanah, berbaur dengan selongsong peluru yang berserakan—menandakan sebuah pertempuran jarak dekat yang sangat brutal baru saja usai beberapa saat lalu.

"Astaga..." gumam Alya lirih.

Begitu mereka melangkah masuk melewati pintu gerbang, suasana di dalam kamp benar-benar kacau-balau. Orang-orang berlarian panik ke sana kemari, tim medis amatir sibuk menyeret tandu guna menangani korban luka yang mengerang kesakitan, sementara di sudut lapangan, beberapa jenazah tampak sudah rapi ditutupi selembar kain parut.

Damar terpaku di tempatnya. Jumlah korban jiwanya... tidak sedikit.

Kapten Rendra segera berjalan cepat menghampiri rombongan yang baru kembali. Wajah perwira paruh baya itu tampak jauh lebih kusut, lelah, dan menua dibanding saat mereka berpamitan tadi pagi.

"Kalian berhasil kembali," ucap Rendra dengan suara berat yang serak.

"Pak... apa yang terjadi di sini?" tanya Damar langsung, tak sabar.

Rendra menghela napas panjang, melepaskan topinya dengan tangan bergetar. "Sekitar satu jam setelah tim kalian berangkat ke sektor utara, gerombolan *infected* skala besar datang menyerbu dari sektor selatan. Mereka seolah tahu pertahanan kita sedang pincang."

Wajah Damar menegang sempurna. "Korban, Pak? Bagaimana kondisinya?"

"Belasan luka parah," Rendra menjeda kalimatnya sejenak, matanya menatap nanar ke arah tumpukan kain di sudut lapangan. "Dan lima orang meninggal dunia."

Keheningan yang pekat langsung menyelimuti mereka. Lima nyawa melayang. Mungkin angka lima terdengar sepele sebelum peradaban dunia runtuh. Tapi di zaman edan seperti sekarang? Setiap satu kepala manusia yang hilang adalah kerugian masal yang tak tergantikan. Jumlah manusia semakin menyusut, sementara populasi monster di luar sana justru berkembang biak bagai jamur di musim hujan.

Logistik yang dibawa oleh Damar dan tim segera diturunkan dan langsung menjadi pusat perhatian seisi kamp. Para pengungsi yang kelaparan menatap kardus-kardus makanan itu seolah-olah baru saja melihat mukjizat turun dari langit. Beberapa ibu-ibu bahkan tampak terisak menangis sambil memeluk anak mereka. Melihat pemandangan itu, Damar baru benar-benar menyadari betapa kritis dan putus asanya situasi mereka saat ini. Jika saja misi pencarian logistik tadi pagi gagal total... mungkin dalam hitungan tiga hari ke depan, seluruh manusia di kamp ini akan mati kelaparan sebelum sempat digigit zombi.

Malam akhirnya turun perlahan, membungkus kota dengan kegelapan yang pekat. Untuk pertama kalinya sejak fajar menyingsing, Damar akhirnya bisa mendudukkan pantatnya dengan tenang, melepas penat walau hanya untuk sesaat.

Dia memilih duduk di atap gedung utilitas yang agak tinggi, berdua bersama Alya. Di bawah sana, suasana kamp masih tampak sibuk; senter-senter bertenaga baterai bergerak dinamis mengiringi proses perbaikan pagar pembatas yang jebol. Angin malam bertiup cukup kencang, membawa hawa dingin yang mengangkut aroma jelaga, asap, dan bau debu besi yang pekat.

"Kamp ini... lumayan juga sistemnya," ucap Alya membuka obrolan, memecah sunyi sambil meluruskan kedua kakinya yang jenjang.

"Daripada sendirian." sahut Damar pelan.

"Gue setuju," Alya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Mungkin, itu adalah senyuman pertama yang tulus yang dilihat Damar dari wajah gadis itu sejak hari pertama mereka bertemu di jalanan. "Kalau boleh jujur, Mar... gue udah hampir kehabisan stok makanan di tempat persembunyian lama sebelum akhirnya ketemu rombongan kalian."

Damar tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Jadi ternyata manusia super berkaki besi kayak kamu juga bisa kelaparan toh?"

"Banget, kali," sahut Alya tergelak pelan.

Setelah itu, keduanya kembali tenggelam dalam diam. Sepasang mata mereka kompak menatap hamparan pemandangan kota di depan sana yang kini gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar lampu merkuri, tidak ada tanda-tanda kehidupan urban. Yang ada hanyalah lautan bayangan hitam siluet gedung-gedung mati yang mengerikan.

Tiba-tiba, dari arah distrik barat yang agak jauh, suara gemuruh runtuhan kembali terdengar meremukkan malam.

Mereka berdua menoleh serentak. Sebuah gedung apartemen tua yang siangnya sudah ringsek, akhirnya menyerah pada gravitasi dan ambruk total. Debu tebalnya membubung tinggi, mengotori langit malam yang tanpa bintang. Pemandangan tragis itu terlihat persis seperti visualisasi dari akhir sebuah zaman kemanusiaan.

Damar menatap puing-puing jauh itu dengan pandangan kosong. Entah kenapa, dadanya mendadak terasa begitu sesak dan nyeri. Dulu, kota ini begitu bising dan hidup. Kota ini pernah menjadi tempat jutaan manusia menggantungkan mimpi-mimpi besar mereka. Sekarang? Yang tersisa tak lebih dari sekadar tumpukan puing, reruntuhan semen, dan jutaan mayat hidup yang berjalan tanpa arah.

Alya mengubah posisi duduknya, menatap Damar dari samping. "Kamu... lagi mikirin apa, Mar?"

Damar mengembuskan napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari mulutnya karena udara malam yang dingin. Matanya tetap enggan beralih dari garis cakrawala yang hancur.

"Kota ini... udah nggak bisa diselamatkan lagi."

Alya tidak membalas ucapan itu. Gadis itu hanya kembali melempar pandangannya ke depan dengan tatapan sendu. Karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu persis bahwa kalimat yang diucapkan Damar adalah sebuah kebenaran yang mutlak.

Mereka berdua, dan seluruh manusia yang tersisa di dalam kamp ini, bukan lagi sedang bertahan hidup di sebuah kota yang sekarat. Mereka sedang menyaksikan proses pemakaman dari sebuah peradaban yang perlahan-lahan mati total.

Dan proses kematian itu... baru saja dimulai.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!