Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.
Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.
apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24.
Teng.. Teng.. Teng.. Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan menuju kantin, seketika yang tadinya kantin sepi sekarang sangat ramai dengan suara keriuhan para murid.
" Bastian ke kantin bareng yuk." sela dengan percaya dirinya menggandeng tangan Bastian.
Bastian yang memang sedang terburu buru ke kelas 12 IPA2 langsung menepis tangan sela.
" maaf, lo sendiri aja ke kantin. gue ada urusan." langsung pergi begitu saja.
udah biasa dengan penolakan Bastian, sela hanya terdiam. tapi kakinya melangkah mengikuti Bastian pergi.
ternyata yang di bilang ada urusan itu Bastian menemui Bela. matanya memerah , tetesan air mata mulai turun.
" kenapa yang lo lirik Bela terus sih bas.. gue yang selalu ada buat lo ngga pernah di lirik sekalipun." suara lirih serak karena tangis. sela pergi meninggalkan kelas Bela dengan air mata yang terus mengalir.
Bastian yang mendengar bahwa Bela terluka langsung menemuinya.
" Bel lo ngga apa apa? mana yang sakit? mau bawa ke RS?" pertanyaan bertubi-tubi membuat Bela melongo.
reflek Bela mengulurkan tangannya ke jidat Bastian untuk mengecek lalu menempelkan ke bokongnya.
" ngga panas ko."
" Bel Jangan bercanda gue serius." langsung mendatarkan rautnya.
" nah ini baru Bastian yang gue kenal, kirain tadi lo kesurupan.. hampir serangan jantung gue ngedenger lo banyak omong."
Lula hanya cekikikan melihat tingkah bela, dia yang paham langsung menyauti pertanyaan Bastian.
" tenang bas, Bela ngga apa apa. dia udah di sembuhin sama dokter cinta." goda Lula, Bela langsung memalingkan wajahnya dengan muka yang memerah.
Bastian yang paham siapa dokter cinta langsung menggangguk kaku.
" oh syukur kalo begitu, lain kali hati hati." setelah berucap Bastian langsung pergi.
" La dia kenapa sih? tadi dateng dateng kaya reporter terus sekarang main pergi aja, kan ngga jelas."
" Lu nya aja yang beg*. makanya lihat sekeliling lo jangan cuma yang di lihat pak Arga." ucap Lula dan Bela hanya mengerucut kan bibirnya.
Galang datang , tangan kanan dan kirinya penuh dengan tentengan makanan. dia menaruh semua makanan di atas meja Bela dan Lula.
" nih makan, jangan sampe pas jam pelajaran lo ngereog."
Bela dan Lula melongo melihat banyak makanan di atas meja mereka.
" Lang, lo nyuruh kita buat jualan apa gimana?" protes Lula.
" buset banyak amat, surganya wanita ini." Gumam Bela yang matanya berbinar binar
sela kesal dengan keberadaan Bela, dia menuju ke ruangan kepsek niatnya ingin mengadu ke papihnya tapi saat pintu terbuka dia terkejut saat papihnya sedang menyu** di da** bu Ratna.
mereka berdua kelabakan, sela yang memang lagi kesal langsung membanting pintu untuk menutupnya.
" papih bisa ngga sih jangan mesum di sekolah. kurang puas emang kalo di rumah?"
wajah Ratna merah padam karena kesenangannya terganggu.
" diam kamu bocah kencur. ini urusan orang dewasa kamu ngga perlu ikut campur."
sela terkekeh sinis. " ini yang di maksud urusan dewasa? mesum di sekolah? gimana ya kalo para murid tau tentang kelakuan kalian berdua di sekolah ini."
baru saja Ratna ingin membuka suara, pak samsul atau ayah dari sela menyela.
" sudah cukup. ada apa kamu kesini."
sela langsung teringat dengan tujuannya.
" pih bisa ngga sih keluarin Bela dari sekolah ini. gara gara dia Bastian jadi menjauh dari aku."
pak samsul menghembuskan nafas kasar. " nak papih ngga bisa ngeluarin murid tanpa sebab, dia ngga punya kasus yang bisa di keluarkan dari sekolah."
Ratna hanya diam menyimak, dia ngga mau berurusan dengan ayah dan anak itu.
raut wajah sela di tekuk, tangan bersedekap dada. pak samsul lagi lagi menghembuskan nafas kasar, dia merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembaran merah langsung di sodorkan ke arah sela.
" udah ngga usah cemberut, nih ambil. tapi jangan bilang kesiapa siapa tentang apa yang kamu lihat."
matanya langsung berbinar melihat lembaran uang yang begitu banyak, dia mengambil dengan semangat. sampai dia lupa dengan tujuan untuk menghempaskan Bela.
" nah gitu dong pih, sering sering kasih aku duit yang banyak. tenang aja rahasia kalian aku simpan rapat rapat."
Ratna hanya berdecih sinis.
" giliran di kasih duit aja matanya hijau."
sela ngga menghiraukan omongan Ratna dia pergi berlalu begitu saja.
-----
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu tapi Bela masih menunggu jemputan di halte bus.
" ayah kayaknya telat deh, alamat nunggu lama." Gumam bela, dia duduk lemas.
selagi menunggu jemputan, bela scroll HP. sampai ngga sadar ada orang yang menghampiri nya.
" Bel ayo pulang." Ajak Arga yang sudah berdiri di sebelah nya.
kepala bela mendongak, dia terpesona dengan ketampanan Arga. matanya terus menatap tanpa berkedip.
" aku tau kalo aku ganteng, tapi jangan di liatin terus dong." kekeh Arga.
Bela tersadar lalu memalingkan wajahnya dengan pipinya sudah bersemu merah.
" apansih pak, kepedean banget."
" yaudah yuk pulang, aku anter." ajaknya lagi.
" pulang sama bapak?" cengo Bela.
" ya iya sama aku masa sama rumput yang bergoyang." Arga sudah naik ke motornya.
Bela menghampiri Arga yang sudah nangkring di atas motor, langsung aja dia menaiki motor mio sewaan Arga.
motor langsung melaju pelan sangat pelan.
" pak kita naik motor kan bukan naik siput?" kepala Bela tepat di bahu Arga.
Arga terkekeh. " iya kita naik motor bukan siput, aku sengaja bawanya pelan biar kamu tetep aman."
pipi Bela bersemu merah, dia menggigit bibir bawahnya menahan agar tidak kelepasan berteriak karena salting,
Arga yang melihat ekspresi Bela di spion di buat gemas sendiri.
Arga berdeham. " ekhm, Bel kalo kita mulai dari awal lagi gimana?"
" dari awal lagi gimana pak?"
" hubungan kita. tanpa ada perjodohan, tanpa ada campur tangan orang tua kita. gimana?" matanya sambil melirik spion untuk melihat wajah Bela.
Bela terdiam sejenak. "saya memang memaafkan bapak tapi saya masih belum lupa sakit yang bapak torehkan untuk saya. maaf pak, saya ingin begini saja. sebagai guru dan murid." rautnya mulai murung ngga seceria tadi, Arga yang memang sedari tadi melirik spion motor langsung merasa bersalah melihat wajah Bela jadi murung.
" maaf, seribu maaf pun sepertinya ngga bisa langsung sembuhkan luka kamu. jadi aku akan berusaha tetap mengobati luka kamu walaupun nanti aku yang akan terluka."
" apaan deh pak lebay banget." nyengir Bela.
" loh apanya yang lebay, aku serius kok. bahkan kalau di suruh menyebrangi lautan demi menyembuhkan luka di hati kamu, aku rela." Arga pura-pura tersungging.
" gini ya rasanya ngobrol sama gen milenial."
mereka tertawa dan bercanda gurau sambil menikmati angin sepoy sepoy di atas motor. ngga ada yang sadar kalo sedari tadi ada motor lain yang mengikuti mereka.