NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DINGINNYA SUDUT KAMAR

DINGINNYA SUDUT KAMAR

​Rasa asin darah bercampur dengan dinginnya udara basement lantai lima seolah membeku di lidah Amira. Ia tidak mengeluarkan air mata, tidak juga mengerang. Matanya yang gelap hanya menatap lurus ke arah Aris yang kini sudah berbalik memunggunginya, mengangkat tubuh Lista ke dalam gendongannya dengan begitu protektif.

​"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lista atau berkas kantor, kamu yang akan membusuk di penjara, Amira!" desis Aris dengan suara rendah yang bergetar penuh ancaman. Pria itu melangkah lebar keluar dari ruang arsip, meninggalkan Amira sendirian di antara keheningan rak-rak besi yang berdebu.

​Amira perlahan menurunkan tangannya dari pipi yang membengkak. Setitik darah segar yang mengering di sudut bibirnya diseka dengan ujung daster cokelatnya. Sambil mencengkeram erat kantong plastik hitam berisi bayam dan dokumen korupsi raksasa di dalamnya, Amira berjalan gontai menuju pintu keluar. Setiap langkahnya terasa berat, namun di dalam dadanya, ada denyut api yang semakin mengeras. Ia harus bertahan. Demi janin yang ada di dalam rahimnya, malam ini ia harus menelan semua hinaan ini bulat-bulat sampai rantai jebakannya siap ditarik.

​Malam harinya, suasana di kediaman Pratama terasa begitu mencekam. Pasca insiden di ruang arsip, Aris mengamuk besar di depan Ibu Ratna. Atas hasutan Lista yang mengaku "trauma dan ketakutan" melihat Amira, Ibu Ratna dengan sukacita memerintahkan pengusiran Amira dari kamar utama.

​Semua pakaian kuno dan barang-barang pribadi Amira dilemparkan begitu saja ke dalam kardus mie instan bekas, lalu diletakkan di depan pintu kamar pelayan di lantai bawah tanah dekat area tempat cuci baju. Kamar berukuran tiga kali tiga meter yang lembap, dingin, dan hanya diterangi sebuah lampu bohlam kuning lima watt yang redup.

​"Ini tempat yang cocok untuk perempuan pembawa sial dan mandul seperti kamu!" ketus Ibu Ratna sore tadi sebelum mengunci pintu pembatas lantai atas.

​Pukul sebelas malam, seluruh rumah sudah senyap. Amira duduk di tepi ranjang busa kamar bawahnya yang tipis. Perutnya terasa sedikit mual akibat morning sickness yang coba ia tahan sejak sore, namun ia memaksa dirinya untuk tetap terjaga.

​Tiba-tiba, ia menyadari dispenser air di lantai bawah mati, sementara tenggorokannya terasa sangat kering dan panas. Mau tidak mau, Amira harus naik ke dapur lantai atas menggunakan tangga belakang khusus pelayan untuk mengambil segelas air hangat demi menenangkan lambungnya.

​Dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer, Amira melangkah naik ke lantai utama. Keadaan rumah sudah gelap gulita, hanya menyisakan pendar lampu koridor luar yang menembus kaca jendela.

​Namun, saat Amira baru saja melintasi lorong menuju dapur, langkah kakinya mendadak terkunci di tempat. Pintu kamar utama—kamar yang dulu merupakan miliknya dan Aris—terbuka sedikit, menyisakan celah selebar beberapa sentimeter yang memancarkan cahaya lampu tidur berwarna kuning temaram yang hangat.

​Dari dalam kamar itu, terdengar suara helaan napas yang berat, berbaur dengan desahan-desahan halus yang membuat darah Amira seketika berdesir hebat.

​Amira seolah tersihir. Kaki dan matanya bergerak di luar kendali, melangkah mendekat ke celah pintu itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Melalui celah sempit itu, pemandangan di dalam kamar langsung menghantam dadanya bagai gada raksasa.

​Di atas ranjang dengan sprei sutra abu-abu yang dulu Amira pilih dengan penuh cinta, dua tubuh sedang bergelut di bawah temaramnya lampu tidur. Aris, suaminya, bertelanjang dada, menampilkan punggung tegapnya yang berkeringat dan berkilat di bawah cahaya redup. Pria itu sedang mengukung tubuh Lista di bawahnya.

​Lista mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna merah marun dengan potongan dada yang sangat rendah, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang kini tampak merona akibat gairah. Jari-jari lentik Lista meraba kasar rambut hitam Aris, menarik kepala pria itu ke bawah untuk memperdalam ciuman mereka yang penuh dengan nafsu bergelora.

​"Ahhh... Mas Aris... perlahan, Mas..." desah Lista dengan suara serak yang manja di sela-sela pagutan bibir mereka. Matanya yang sayu menatap Aris dengan pandangan memuja yang membuat ego kelakian Aris melambung tinggi. "Nanti kalau Mbak Amira dengar bagaimana? Dia kan ada di bawah..."

​Aris tidak berhenti. Ciumannya turun ke rahang, lalu merayap ke leher jenjang Lista, membuat wanita itu melengkungkan tubuhnya ke atas seraya meremas sprei dengan erat. Sentuhan-sentuhan sensual Aris di lekuk tubuh Lista begitu intens dan menuntut, sebuah keintiman yang sudah lebih dari dua tahun tidak pernah lagi ia berikan kepada Amira.

​"Jangan sebut nama perempuan sialan itu di sini, Lista," bisik Aris dengan suara berat yang serak penuh gairah, napasnya memburu di ceruk leher Lista. Tangannya bergerak kasar meraba pinggang dan paha mulus Lista, menaikkan gaun satin itu hingga ke batas pinggul. "Dia sudah tidak ada artinya lagi di rumah ini. Tempat ini, dan semua yang ada di dalam rumah ini... sekarang adalah milikmu. Kamu yang membuatku merasa hidup kembali, Sayang..."

​"Mmmhh... Mas, aku mencintaimu... ahhh, Mas Aris..." Lista mendesah semakin keras, sengaja mengeratkan pelukan kakinya di pinggang Aris, membawa mereka berdua tenggelam semakin dalam ke dalam pergulatan dewasa yang panas dan penuh dosa di atas ranjang pernikahan Amira.

​Di balik celah pintu, Amira berdiri mematung di dalam kegelapan lorong.

​Pemandangan erotis dan menjijikkan itu tersaji jelas di depan matanya. Suara desahan manja Lista dan derit ranjang yang ritmis bergema di telinganya, merobek-robek sisa-sisa kenangan masa lalunya bersama Aris tanpa ampun. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia harus mencengkeram dadanya sendiri agar tidak berteriak. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang masih bengkak akibat tamparan Aris siang tadi.

​“Di atas ranjangku... di atas keringat pengorbananku selama tiga tahun, kalian bercinta dengan begitu menjijikkan,” batin Amira, giginya bergeletuk menahan amarah yang begitu pekat dan dingin.

​Rasa mual di perutnya mendadak naik ke hulu kerongkongan, bukan lagi karena bawaan janin, melainkan karena rasa jijik yang luar biasa melihat suaminya menyentuh wanita lain dengan begitu intim di dalam rumah mereka sendiri.

​Amira membalikkan badan dengan cepat. Dengan langkah kaki yang goyah namun tanpa suara, ia berlari kembali menuruni anak tangga menuju kamar bawah tanahnya yang dingin dan pengap. Ia membanting pintu kamar bawahnya pelan, lalu ambruk di atas lantai semen yang dingin, menangis dalam kesunyian yang menggigit.

​Ia meremas perutnya yang masih rata. Di tengah suara desahan gairah yang seolah masih terngiang-ngiang dari lantai atas, tekad Amira malam itu mengeras sekeras berlian.

​"Nikmatilah malam-malam panas kalian di atas ranjangku, Aris, Lista. Bergelutlah dalam dosa sesuka kalian," desis Amira di antara sisa tangisnya, matanya menatap tajam ke arah dinding kamar yang gelap dengan binar kebencian yang mematikan. "Karena dalam beberapa minggu lagi, aku yang akan memastikan ranjang itu, rumah ini, dan seluruh kekayaan yang kalian banggakan akan disita dan runtuh menjadi debu di bawah kakiku!"

​Amira bangkit, mengabaikan rasa haus dan mualnya. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dokter spesialis kandungan yang diberikan Pak Sanusi secara rahasia. Besok pagi, ia tidak hanya akan memeriksakan kandungannya, tetapi ia juga akan melakukan visum resmi atas luka tamparan di wajahnya sebagai senjata hukum tambahan untuk menghancurkan Aris di pengadilan nanti

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!