NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Rute Bayangan dan Bukti Investasi

Langit Hutan Besi sepekat tinta basah. Pepohonan baja menjulang berantakan, saling silang memblokir sisa cahaya bulan.

Di depan sana, punggung Lin Yu Yan bergerak lincah. Sepatu botnya mendarat membelah tumpukan daun karat nyaris tanpa bunyi. Tangan kirinya menggenggam silinder logam. Peta modifikasi itu memancarkan rute garis tipis berwarna hijau pudar ke retina matanya.

Wan Chen mengikuti dari belakang. Jaraknya stabil dua meter.

Langkahnya santai. Kedua tangan pria itu berdiam nyaman di dalam saku jaket. Sesekali ujung sepatunya menendang pelat besi rongsok di tanah, menimbulkan bunyi kecil yang tidak dihiraukan oleh si pengintai di depan.

'Investasi yang sangat murah,' batin Wan Chen. Matanya mengamati postur wanita itu.

Ia sudah membuktikan satu hal malam ini. Satu tetes ekstrak kotor dari sakunya berhasil membeli navigasi kelas atas. Rute yang mereka lalui benar-benar bersih. Tidak ada sensor faksi besar yang menyapu area ini. Radar di kepala Wan Chen tidak menangkap anomali apa pun selain keheningan Hutan Besi.

Lin Yu Yan tiba-tiba memperlambat langkah. Tangan kanannya meraba perut.

Ada kebingungan yang menetap di balik gestur itu. Kulit perutnya mulus. Bekas luka sabetan yang membelah organ dalamnya sepuluh menit lalu menguap begitu saja. Hanya tersisa sensasi hangat. Vitalitas asing kini memompa aliran darahnya lebih deras dari saat ia dalam kondisi puncak.

Wanita itu menoleh sedikit. Melirik lewat bahu.

Wan Chen tertangkap basah sedang menguap lebar. Pria itu mengusap sudut matanya yang berair akibat kantuk. Tidak ada ketegangan di wajahnya. Persis seperti pegawai magang yang berjalan lemas menuju stasiun kereta.

"Fokus ke depan," tegur Wan Chen pelan.

Suara datar itu memecah sepi. Lin Yu Yan tersentak pelan. Kepalanya kembali menghadap lurus ke lorong tebing.

"Kau tidak memasang aura pelindung," bisik wanita itu, memaksakan suaranya tetap rendah. "Angin tebing di zona transisi ini beracun. Bisa merusak paru-paru orang awam dalam setengah jam."

"Bukan urusanmu."

"Aku hanya..." Lin Yu Yan menelan ludah. Jari-jarinya mencengkeram silinder peta lebih kuat. "...memastikan majikanku tidak mati konyol sebelum misi ini selesai."

Wan Chen mendengus geli. Langkahnya tidak melambat sedikit pun.

"Terus jalan," instruksi pria itu. "Aku butuh kasur sungguhan sebelum matahari naik. Bukan ocehan omong kosong."

Mereka kembali terbungkam keheningan. Lin Yu Yan tidak berani menoleh lagi. Namun pikirannya berdengung kencang. Orang asing di belakangnya ini tidak peduli pada radiasi lingkungan. Pria itu berjalan menembus Zona Elit layaknya sedang keliling taman kota. Rasa takut yang sejak tadi mencekik leher Lin Yu Yan kini berlapis rasa kagum yang ganjil.

Peta di tangan Lin Yu Yan mendadak berkedip merah terang.

Wanita itu langsung menempelkan tubuh ke dinding batu. Tangan kirinya terangkat setinggi dada, memberi isyarat berhenti darurat. Matanya menyipit menembus kegelapan lorong tebing yang menyempit di depan mereka.

Di ujung celah sana, sebuah siluet raksasa berjongkok.

Terdengar suara kunyahan kasar. Tulang patah dihancurkan oleh rahang masif. Sisik tebal bergesekan dengan batu tebing setiap kali makhluk itu bernapas. Seekor Pemakan Besi tingkat menengah. Monster teritorial yang sangat merepotkan.

"Jalur ini tertutup," bisik Lin Yu Yan tegang.

Ia memutar tubuhnya perlahan, menghindari gesekan dengan dinding. Matanya menatap wajah Wan Chen.

"Kita harus memutar lewat jalur utara," sambung si pengintai cepat. "Kalkulasi waktunya bertambah tiga jam. Tapi itu satu-satunya rute bayangan yang kosong dari jangkauan sensor faksi."

Wan Chen menghela napas dari hidung.

'Tiga jam tambahan.' Dua kata itu merusak sisa toleransi mentalnya.

Pria itu mencabut kedua tangan dari saku jaket. Berjalan maju melewati bahu Lin Yu Yan begitu saja.

"Tunggu, kau gila?" Lin Yu Yan menahan lengan jaket Wan Chen. Matanya melebar protes. "Sisiknya setara pelat lapis baja. Senapan mesin ringan saja mental. Kau mau bunuh diri?"

Wan Chen menepis pegangan itu dengan satu tarikan pelan.

"Tiga jam itu menyita waktu tidurku," balasnya bosan. "Kau tetap diam di situ."

Pria itu melanjutkan langkah ke tengah lorong sempit. Suara sepatunya sengaja tak disamarkan.

Kunyahan di ujung sana berhenti seketika.

Kepala monster yang dipenuhi tonjolan duri itu menoleh patah-patah. Sepasang pupil reptil kuning menyala di dalam gelap. Menemukan satu mangsa bodoh yang berjalan tegak ke arahnya. Auman rendah mulai menggetarkan bebatuan di dinding tebing. Udara mendadak bau karat dan darah busuk.

Langkah Wan Chen sama sekali tidak melambat. Jari telunjuk kirinya mengetuk ruang hampa di udara tepat di samping pahanya.

Antarmuka sistem transparan berkedip satu milidetik. Ruang dimensional terbuka senyap. Sebuah gagang pisau taktis karbon meluncur mulus, masuk ke genggaman tangannya yang sudah menanti.

Monster itu melompat. Rahang besarnya terbuka, siap meremukkan tulang rusuk manusia dalam satu gigitan telak.

Wan Chen hanya memiringkan badan setengah langkah ke kanan. Sangat presisi. Mengukur sentimeter jarak mati dengan kalkulasi malas.

Tangan kanannya mengayun naik. Pisau hitam itu bergerak memotong udara dalam garis lengkung pendek.

Tidak ada ledakan energi yang menyilaukan. Tidak ada auman tempur.

Hanya ujung bilah karbon yang melesak masuk ke celah terkecil di antara dua pelat sisik di leher monster tersebut. Otot, urat nadi, dan tulang rawan terbelah dalam satu sentakan bersih.

Makhluk seberat satu ton itu ambruk, tergelincir menabrak sisi tebing hingga menghancurkan batu menjadi serpihan kerikil. Cairan kental menyembur mewarnai dinding.

Mati.

Bahkan tidak ada ritme napas Wan Chen yang berubah.

Ia mengetuk udara lagi. Pisau karbon yang kotor itu hilang ditelan antarmuka dimensi dalam sekejap. Pria itu menepuk debu dari lengan jaketnya.

Lin Yu Yan berdiri membeku. Sendi-sendinya seolah terkunci.

Akal sehatnya menolak memproses adegan barusan. Membunuh monster lapis baja kelas menengah tanpa setitik pun fluktuasi sihir. Eksekusi yang begitu mentah dan mutlak. Monster sesungguhnya sedang berdiri di sana dengan raut wajah bosan tingkat dewa.

"Jalannya sudah lapang," panggil Wan Chen dari ujung depan. Kepalanya sedikit menoleh ke belakang. "Jalan."

Lin Yu Yan memaksakan kakinya melangkah. Loyalitanya kini terkunci mati. Pria ini bukan sekadar pembeli nyawanya. Ia adalah anomali berjalan.

Mereka melanjutkan perjalanan. Warna hitam pekat di atas langit mulai memudar. Rona abu-abu kotor mulai menggerus kegelapan Hutan Besi.

Puncak perbukitan berbatu mulai terlihat memagari horizon. Bangkai menara jaga yang runtuh menjadi tanda nyata. Mereka akhirnya masuk ke batas luar zona pinggiran kota.

Namun ujung sepatu Lin Yu Yan mendadak tertahan di udara. Ia menarik kakinya mundur satu sentimeter.

"Berhenti."

Suara wanita itu turun menjadi desisan sangat tipis. Kepalanya menunduk tajam.

Wan Chen menghentikan langkah. Berdiri santai menunggu hasil kerja matanya. Ia tidak protes.

Lin Yu Yan perlahan berjongkok. Tangannya tak lagi memegang silinder peta. Jari telunjuknya menunjuk ke arah tanah berdebu, menunjuk lekukan samar di bawah tumpukan kerikil yang terlihat sangat wajar bagi mata orang awam.

Ada pola gerigi karet dari sepatu taktis. Jejak tapak yang setengah dihapus menggunakan sapuan ranting. Masih baru.

Mata si pengintai bergerak naik ke arah formasi batu karang di sebelah kanan jalur. Ada kilatan ganjil tertiup angin. Sebuah benang monofilamen setipis rambut membentang melintang, dikaitkan pada pemicu mekanis yang tertanam di balik tanah.

"Jalur ini kotor," lapor Lin Yu Yan kaku. Ia menengadah menatap Wan Chen. Wajahnya pias.

"Kerja siapa?" respons pria itu.

"Tarikan simpul kawatnya sangat khas. Kelompok Serigala Hitam," urai wanita itu tanpa jeda, memuntahkan informasi. "Faksi kriminal kelas bawah. Mereka sering menunggu di rute masuk kota untuk menyergap pemburu yang kelelahan habis ekspedisi. Pasti ada belasan laras panjang yang membidik kepala kita dari balik batu itu sekarang."

Tangan Lin Yu Yan sudah merayap ke sabuk pinggangnya, mencari pisau lipat pertahanan terakhirnya. Otaknya menghitung opsi mundur. Melawan belasan penembak dari posisi terbuka begini sama saja minta dibor peluru.

Tapi Wan Chen tidak menunduk berlindung.

Pria itu justru membuang napas pelan. Ia mengusap rahangnya perlahan. Sudut bibirnya berkedut kecil, ditarik ke atas membentuk seringai tipis. Bukan senyum senang atau gila bertarung, melainkan kekesalan seorang pria yang waktu pulangnya diganggu.

Tangannya terangkat malas ke udara.

Satu ketukan pada sistem antarmuka memecah ruang hampa. Layar panel biru pucat terbuka tepat di samping wajahnya. Wan Chen menyapu jarinya pada deretan ikon senjata.

Puluhan bilah pisau taktis karbon cadangan bersiap meluncur dari dimensi penyimpanannya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!