PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.
Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.
Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?
Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.
Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Razia
"Ghea, bangun dong. Ya ampun, anak gadis kok bangunnya kesiangan mulu sih? Bangun, Ghe! Udah siang ini, nanti telat loh berangkat ke sekolahnya!"
Yang dibangunin bukannya bangun, eh ini malah semakin asyik dengan dunia mimpinya sambil senyum-senyum sendiri. Mimpiin Pak Gery, mungkin.
Percayalah, setelah Pak Gery mengantar pulang Ghea sore itu, Ghea masih tidak percaya kalau yang akan menjadi calon suaminya adalah Pak Gery, cowok yang beberapa hari ini selalu mengganggu otak Ghea. Terlebih kala Ghea sedang beraktifitas.
"Gery udah di bawah tuh. Jemput kamu katanya."
"Mama serius? Pak Gery jemput aku? Kenapa Mama gak bilang dari tadi, sih? Kan kalau Mama ngomongnya dari tadi aku langsung bangun, kan," kelakar Ghea yang mendapat toyoran di kepala dari mamanya. Ia sudah bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan ogahnya. Muka bantalnya masih terlihat jelas begitu juga dengan suaranya yang serak ciri khas bangun tidur.
"Ishh ... Mama, serius gak nih?" Menatap Mama Sora setengah tak yakin. Jangan-jangan ini akal-akalannya Mama Sora agar Ghea bangun.
"Kamu itu, giliran dengar nama Gery aja langsung melek tuh mata. Cepet bangun! Lihat tuh udah jam berapa!"
"Baru juga jam enam lewat, Ma. Masih pagi banget kalau berangkat sekolah sekarang." Ghea menjawab seraya melirikan matanya ke arah jam karakter micky mouse yang menggantung di dinding kamar sebelah kananya.
"Jam enam? Astaga, kamu itu belum mandi, belum sarapan. Belum juga nantinya kalau kamu nunggu busnya, Ghe. Keburu telat kamu, tuh, dateng ke sekolahnya. Ujung-ujungnya dihukum Terus dapat surat lagi. Malu Mama, tuh, Ghe, sering-sering silaturahmi ke ruang BP sekolah kamu."
Pada kenyataannya kebanyakan seorang Mama ini memang seperti itu kali, ya? Bawel. Tapi sayang.
Ghea hanya memutar bola matanya malas kala Mama Sora terus berceloteh menceramahi Ghea. "Kamu dengar gak, sih, kalau Mama ngomong itu? Jangan malu-maluin Mama sama Papa dong, Ghe! Apalagi kamu udah punya calon tunangan. Jangan kaya anak kecil terus, Ghe! Bisa kan? Nanti kalau calon mertua kamu tahu, sikap kamu kaya gini, bisa-bisa mereka menggagalkannya lagi. Mau?"
"Ya jangan dong, Ma. Aku udah happy banget, ih, jadi calon istri Pak Gery. Tahu gak sih, Ma, aku tuh kemaren ngotot nolak untuk dijodohin karena, ya itu, aku maunya sama Pak Gery." celetuk Ghea. Ia berkelakar dengan wajah jemawa.
Mama Sora hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, "makanya kamu harus bisa merubah sikap dan sifat kamu! Biar Om Dika dan Tante Dian gak urung menjodohkan kamu sama Gery. Ngerti kan kalau Mama Kasih tahu?"
"Iya, Ma, iya. Astaga ... udah, ah, ceramahnya jangan diterusin! Aku mau mandi dulu. Harus dandan cantik aku ini, Ma. Biar Pak Gery gak berpaling dari aku." celetuk Ghea. Ia buru-buru menurunkan kakinya dari atas kasur lalu melangkah penuh semangat ke kamar mandi. Siap untuk Ghea tebar pesona pada Pak Gery. Eh-
"Dasar! Kamu itu kalau dikasih tahu ngeyel banget. Ya udah, mandinya cepet, ya, Ghe. Jangan lama-lama, entar telat sekolahnya!" teriak Mama Sora agar Ghea dapat mendengarnya.
"Siap, Ma, siap." balas teriak Ghea menutup kamar mandinya. "Astaga, punya nyokap bawelnya minta ampun banget, sih." Yang jelas kalimat terakhir, Ghea ucapkan di kamar mandi dengan suara pelan.
**
"Tumben, nih, cewek cantik tapi jomblo gak telat?" Ah, si Reza ini selalu saja buat gara-gara pada Ghea. Mana masih pagi lagi. Malas banget. Ghea memutar bola matanya dengan jengah.
"Paan, sih, cowok buluk. Gak jelas banget tahu gak. Minggir ah, gue mau masuk!" ucap Ghea sembari mendorong bahu Reza ke pinggir.
"Eh ... gak bisa masuk dulu. Lo harus digeledah dulu! Hari ini ada razia dadakan," larang Reza menarik tali tas belakang Ghea. Tak lupa ia menekan kata terakhirnya.
"Eh ... jangan rese dong, lo, Rez!"
"Lo gak punya seragam lagi apa, ya, Ghe? Ngetat banget. Kaya baju kurang bahan. Gaya lo kaya yang mau fashion show aja. Ini juga, rambut lo, kenapa ada warnanya gini?" cecar Reza menilik seragam Ghea yang memang sangat menyetak pinggangnya. Juga roknya yang di atas lutut lebih tinggi. Lalu menarik ujung rambut Ghea yang ujungnya itu di cat berwarna merah kecoklatan.
"Dih, gak usah pake mata jelalatan gitu dong! Ini juga rambut gue cat dikit doang kali. Gak usah lebay napa, sih! Udah, ah, gue masuk!"
"Eh ... gak bisa!" Reza kembali menarik tali tas Ghea. "Mau gue bilang ke Pak Ghani lagi biar loe dihukumnya lebih berat? Heuh?" ancam Reza. Duh si ketua OSIS ini memanglah sangat dan terlalu tertib. Seperti Pak Ghani kedua saja.
Ck!
Ghea berdecak kesal. Ia merotasikan bola matanya ke atas. "Oke, oke. Berhubung gue siswi paling taat peraturan, gue terima hukuman dari lo. Sekarang gue harus apa? Lari, bersihin toilet, gudang atau apa, nih?"
"Emm ..." Reza bergumam sembari menyimpan kedua tangannya di atas dada. Ia melipatnya. Seolah Reza sedang berpikir keras.
"Buruan napa, sih, Za! Lama lu." pinta Ghea tidak sabar ketika melihat Reza yang terus bergumam.
"Makan siang bareng gue!" perintah Reza. Ia tersenyum miring. Entahlah, ada apa dengan cowok itu. Ini sangat bertolak dengan hukuman yang biasa digunakan di sekolah. Nyambung gak sih, kalau Ghea dihukum harus makan siang bareng Reza. Ah, apa razia ini juga cuma akal-akalan Reza doang?
"Gak nyambung. Lo pikir gue mau? Ogah!" tolak Ghea. Ia berlalu dari hadapan Reza cepat. Makin tambah ngaco nantinya kalau Ghea terus meladeni si ketua OSIS itu.
"Ghea-Ghea, dari dulu gak berubah lo. Ck!" Reza geleng-geleng kepala seraya pikirannya menerawang jauh pada saat Reza dan Ghea masih mengenakan seragam merah putihnya. Dimana Reza yang kerap kali menjahili cewek itu.
"Ghea!" panggil seseorang dari arah belakang Ghea. Ghea menoleh. "Eh Bapak guru kesayangannya Ghea, kenapa, Pak panggil saya? Rindu, ya, sama saya? Jangan Rindu, Pak! Takut nantinya gak kuat nahan beban beratnya." kelakar Ghea. Ia tersenyum canggung. Jujur saja, Ghea takut sekali kalau udah melihat wajah Pak Ghani yang memancarkan aura yang sesungguhnya. Tapi Ghea sebisa mungkin menyembunyikan ketakutannya itu.
"Kok Reza gak razia kamu sih?" tanya Pak Ghani. Ia melipat tangannya di depan dada. Tapi sebelum itu, Pak Ghani terlebih membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Mana saya tahu, Pak. Mungkin karena saya cantik kali, ya, Pak? Tapi ngomong-ngomong emang beneran di depan ada razia, Pak?"
"Heuh?"
"Eh saya kira boongan, Pak. Abisnya Reza aneh banget, masa mau hukum saya dengan saya harus menemaninya makan siang. Lah saya pikir itu cuma akal-akalan Reza doang, Pak. Abisnya ngaco banget. Masa hukuman sekolah enak kaya gitu. Kalau gitu tadi saya mau aja. Daripada nantinya saya bakal di-"
"Bersihin semua kaca jendela setiap kelas di lantai dua, Ghea! Sekarang!"
"Heuh? Saya baru aja mau bilang-"
"Sekarang, Ghea. Atau saya tambah-"
"Kebiasaan banget sih, si Bapak. Astaga ... iya, Pak, iya. Sekarang nih?"
"Tahun depan!"
"Yaudah kalau tahun depan mah, saya mau ke ruang Pak-"
"Sekarang, Ghea!" teriak Pak Ghani, sungguh geram.
**
Setelah Ghea menyimpan tasnya di dalam kelas, seperti biasa jika sudah kena hukuman Pak Ghani, Ghea akan cepat melaksanakan hukumannya. Saat ini, tangan mulus itu tengah mengelap kaca jendela di kelas unggulan. Tak lupa, mulut merahnya bergerak naik turun. Tepatnya ia mengumpat Pak Ghani.
"Aneh gue sama Pak Ghani, kenapa sih demen banget hukum gue bersih-bersih kaya gini? Kalau gue tahu, mending gue iyain aja ajakan Reza. Enak, kan, tuh hukumannya. Makan siang. Udah dapet gratisan, perut kenyang pula." Tangan Ghea bergerak naik turun mengelap kaca jendela dengan kanebo.
"Ini kalau sampai calon imam gue lihat, bisa malu kan, gue. Masa ketemu calon imam dengan wajah kucel, dekil kaya gini. Oh astaga naga, gak banget, sumpah." rutuk Ghea pada dirinya sendiri sembari celingukan kanan kiri. Takutnya ada Pak Gery lewat dan melihatnya.
Untung saja, di sana gak ada anak-anak. Entah kemana perginya semua makhluk itu, koridor dan kelas-kelas pun terlihat sangat sepi. Kalau ada, bisa jadi bahan olok-olok mereka Ghea itu.
"Astaga, kenapa lagi ini jendela dibuat jangkung kaya gini." Ghea terus mengumpat tidak jelas. Ia berjinjit untuk menggapai kaca jendela bagian atas yang terlihat kotor. "Ini kacanya yang tinggi apa guenya yang pendek, ya?" Menghela sebentar seraya menengadahkan wajahnya menatap kaca jendela yang lumayan tinggi dari jangkauannya.
"Musti pake tangga ini, mah, shit!" Ghea celingukan mencari sesuatu untuk alat menjangkau kaca yang akan ia lap. Tapi sayang, benda yang sedang ia pikirkan tidak ada. Dan terpaksa Ghea mengambil kursi dari dalam kelas.
Menaiki kursi tersebut, Ghea berusaha menggapai kaca untuk ia lap. Tapi tangannya masih tidak menjangkau kaca jendela itu. "Astaga, ini siapa sih, yang pasang jendela tinggi kaya gini? Bikin kesel aja, sumpah!" Entah berapa kalimat umpatan yang sudah keluar dari mulut Ghea itu.
Tangan Ghea terus berusaha menggapai kaca itu. Sampai beberapa kali ia berjinjit. Tapi percuma saja, tangannya masih tak menepi. Sampai kaki Ghea semakin menepi ke pinggiran kursi lalu tubuhnya tidak terkendali lagi. Ghea kehilangan keseimbangannya dan akhirnya ia terjatuh.
TBC
Terjatuh ke dalam pelukan babang teacher. wkwkwk
Makasih BTW yang udah pada sumbangin like dan komennya. Tayang kalean aku, tuh. Sengaja ya aku buat kosa katanya yang santai kaya gini. Biar kalean juga bacanya rileks gak lari-lari. Wkwkwk
mengecewakam
Sukses bwt karyanya