NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Suasana kantor pagi itu terasa sangat kontras. Sheila melangkah masuk dengan perasaan menang yang belum hilang dari semalam. Ia menyapa satpam dengan senyum lebar, melambaikan tangan pada Nilam yang baru saja meletakkan tas, bahkan sempat memuji tanaman hias di meja resepsionis. Baginya, melihat wajah frustrasi Jeremy yang "tersandera" perhatian Alena semalam adalah kemenangan telak.

"Pagi, Nilam! Cantik banget hari ini!" seru Sheila ceria.

"Pagi, Shei! Wah, yang habis menang perang auranya beda ya," bisik Nilam sambil terkikik.

Sheila tertawa kecil. Ia merasa beban denda penalti itu sedikit terangkat dari pundaknya selama ia punya Alena sebagai tameng. Namun, saat Sheila baru saja hendak menarik kursinya dan meletakkan tas kerja kulitnya yang berwarna cokelat di atas meja, sebuah tangan kekar dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku tiba-tiba menyambar tali tasnya.

Sret!

"Aduh, aduh! Pak! Apaan sih?!" pekik Sheila kaget. Tubuhnya hampir limbung karena tarikan yang cukup kuat itu.

Ia menoleh dan mendapati Jeremy berdiri di sana dengan wajah yang... berantakan. Matanya sedikit merah, rambutnya yang biasanya tertata rapi dengan pomade mahal kini terlihat agak acak-acakan, dan yang paling mencolok: rahangnya mengeras seperti batu karang.

"Kamu. Ikut. Aku. Sekarang!" desis Jeremy. Suaranya rendah, berat, dan mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk karyawan di sekitar mereka meremang.

"Eh, eh! Kenapa sih? Aduh, pelan-pelan dong, Pak! Tas saya bisa putus ini!" Sheila meronta, mencoba melepaskan tali tasnya, tapi Jeremy justru menariknya semakin kuat, memaksa Sheila melangkah cepat mengikuti langkah lebarnya menuju ruang CEO.

Beberapa karyawan pura-pura sibuk dengan komputer mereka, tapi mata mereka melirik tajam ke arah drama pagi itu. Nilam hanya bisa melongo dengan mulut terbuka, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun melihat "singa" kantor sedang mengamuk.

BRAK!

Jeremy menutup pintu ruangannya dengan tendangan kaki, lalu menguncinya dari dalam. Ia melepaskan tas Sheila begitu saja ke atas sofa kulit.

"Bapak apa-apaan sih?! Kasar banget tahu nggak!" omel Sheila sambil mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah. "Ini kantor, Pak, bukan sasana tinju!"

Jeremy berbalik, menatap Sheila dengan tatapan yang seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Ia berjalan mendekat, menyudutkan Sheila hingga punggung gadis itu membentur pintu jati yang kokoh.

"Siapa yang kasih Alena nomor telepon pribadi aku?" tanya Jeremy dengan nada yang sangat tenang, tapi justru itu yang menakutkan.

Sheila menelan ludah, mencoba tetap terlihat berani. "Aku. Memangnya kenapa? Dia kan teman aku, dia cuma mau kenalan lebih jauh."

"Lebih jauh kamu bilang?!" Jeremy tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis. "Gara-gara kamu, semalam aku harus dengerin dia ceramah soal khasiat jahe merah selama dua jam di mobil! Dia nggak mau turun dari mobilku kalau aku nggak janji bakal angkat teleponnya! Kamu tahu nggak betapa tersiksanya aku?!"

Sheila hampir saja menyemburkan tawa, tapi ia menahannya sekuat tenaga. "Ya itu kan namanya perhatian, Pak. Harusnya Bapak bersyukur ada cewek cantik yang peduli sama kesehatan Bapak. Daripada jomblo, pemarah, terus hobi nindas asisten sendiri."

"Sheila!" bentak Jeremy, tangannya menumpu di pintu, tepat di samping telinga Sheila. "Jangan main-main sama kesabaranku. Kamu pikir dengan kirim Alena, aku bakal lepasin kamu? Kamu pikir aku bakal beralih ke dia?"

"Kenapa enggak? Alena itu tipe Bapak banget. Dia modis, dia pinter dandan, dan dia nggak bakal protes kalau diajak lembur," balas Sheila, menatap tepat ke manik mata Jeremy yang berkilat.

Jeremy mendekatkan wajahnya, hingga Sheila bisa merasakan embusan napas Jeremy yang memburu. "Aku nggak butuh asisten yang nggak protes, Sheila. Aku butuh kamu. Dan taktik murah kamu semalam... itu benar-benar bikin aku marah."

Jeremy menarik napas panjang, mencoba mengontrol emosinya. Ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah map biru tebal dan membantingnya ke depan Sheila.

"Mulai hari ini, aturan main berubah," ucap Jeremy dingin.

Sheila mengerutkan kening. "Aturan apa lagi?"

"Pasal tambahan dalam tugas asisten pribadi," Jeremy membaca dari selembar kertas dengan nada ketus. "Satu: Asisten pribadi dilarang memberikan informasi pribadi atasan kepada pihak ketiga tanpa izin tertulis. Dua: Selama jam kerja, asisten wajib mematikan semua notifikasi dari pihak luar—termasuk pacar. Dan tiga..."

Jeremy menatap Sheila dengan senyum kemenangan yang licik. "Karena kejadian semalam sudah membuang waktu istirahatku, kamu harus menggantinya. Mulai malam ini sampai akhir minggu, kamu harus menemani aku makan malam setiap hari untuk membahas laporan proyek yang terhambat gara-gara drama kamu semalam."

"Makan malam?! Itu kan sudah di luar jam kantor, Pak!" protes Sheila keras.

"Anggap saja itu denda tambahan karena kamu sudah melanggar privasi CEO," jawab Jeremy enteng. Ia kembali duduk di kursinya, seolah-olah kemarahan tadi sudah menguap berganti dengan kepuasan. "Dan jangan coba-coba ajak Alena atau Malik. Kalau aku lihat mereka muncul dalam radius seratus meter dari tempat makan kita... denda penalti kamu aku naikkan dua kali lipat saat itu juga."

Sheila merasa lemas. Rencananya menggunakan Alena ternyata menjadi senjata makan tuan. Jeremy justru menggunakan Alena sebagai alasan untuk "mengurung" Sheila lebih lama lagi.

"Bapak benar-benar licik," desis Sheila.

"Aku cuma belajar dari asistenku yang luar biasa cerdik ini," balas Jeremy sambil membuka laptopnya. "Sekarang, ambil tas kamu. Duduk di depan mejaku. Kita mulai kerja. Dan ingat... ponsel kamu, taruh di atas mejaku. Aku mau pastikan nggak ada 'Malik-Malik' lain yang ganggu konsentrasi kamu pagi ini."

Sheila menghentakkan kakinya dengan kesal, mengambil tasnya dari sofa, dan duduk di kursi depan Jeremy dengan wajah cemberut maksimal. Ia meletakkan ponselnya di atas meja Jeremy dengan kasar.

Jeremy hanya melirik ponsel itu, lalu tersenyum tipis. "Pilihan yang bagus, Baby. Sekarang, buka halaman empat puluh dua."

Di luar ruangan, Nilam dan karyawan lain hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi di dalam. Yang mereka tahu, "perang" antara sang CEO dan asistennya baru saja memasuki babak yang lebih ekstrem. Dan bagi Sheila, Senin ini benar-benar menjadi awal dari minggu yang paling menyiksa dalam hidupnya.

***

Siang itu, kantin kantor Nasution Property Group terasa sangat gerah bagi Sheila—bukan karena pendingin ruangannya mati, tapi karena otaknya hampir meledak memikirkan kelakuan Jeremy pagi tadi. Ia duduk menyamping di bangku kayu panjang, bersembunyi di balik pilar beton besar agar tidak terlihat dari arah lift kaca, tempat biasanya sang CEO sesekali melintas.

Nilam, yang sedang asyik menyeruput es teh manisnya, hampir tersedak melihat wajah Sheila yang sudah ditekuk tujuh lipat.

"Tau nggak sih, Lam? Dia tuh bener-bener nyebelin banget! Level rewelnya tuh udah stadium akhir!" omel Sheila sambil menusuk-nusuk baksonya dengan garpu seolah-olah bakso itu adalah kepala Jeremy. "Masa aku sekarang tiap malem—iya, tiap malem, Lam—harus banget makan malem sama dia. Alasannya? Katanya bahas laporan proyek yang terhambat gara-gara drama Alena semalam. Padahal aku tahu itu cuma akal-akalan dia biar bisa ngerjain aku!"

Nilam meletakkan gelasnya, matanya membelalak. "Tiap malem, Shei? Gila, itu mah bukan asisten pribadi lagi namanya, tapi calon ibu negara Nasution!"

"Ih, amit-amit, Lam! Jangan ngomong gitu!" Sheila bergidik ngeri. "Mana sekarang HP aku disita lagi sama dia. Disimpen di laci mejanya, dikunci! Katanya biar fokus kerja dan nggak ada gangguan dari 'pihak luar'. Aku nggak bisa hubungin Malik dari tadi pagi, Lam. Aku takut Malik panik atau nyariin ke kantor."

Sheila melirik ke sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada mata-mata Jeremy (seperti sekretaris senior yang bermulut ember) di sekitar mereka. Ia kemudian mendekatkan kursinya ke arah Nilam, suaranya mengecil jadi bisikan penuh harap.

"Eh, tapi Lam... pinjem HP kamu dong. Bisa, kan? Ya, ya, ya? Pliss banget! Aku cuma mau kasih tahu Malik kalau aku baik-baik saja dan mungkin pulang telat karena 'diculik' makan malem. Cuma sebentar, Lam. Sumpah!" Sheila mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memasang wajah memelas paling maksimal yang ia punya.

Nilam tampak ragu, ia melirik tasnya. "Shei, bukannya aku nggak mau kasih. Tapi lo tahu kan si Bos kalau udah mode detective gitu? Kalau dia tahu aku pinjemin HP ke lo, bisa-bisa meja gue besok pindah ke gudang bawah tanah."

"Nggak bakal tahu, Lam! Janji! Aku bakal hapus log teleponnya, hapus chat-nya, pokoknya bersih! Ayo dong, Lam... kasihan Malik," rengek Sheila lagi.

Nilam akhirnya menyerah. Dengan gerakan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ia merogoh ponselnya dan menyerahkannya pada Sheila. "Cepetan ya, Shei. Dua menit saja! Gue mau ke toilet bentar, jangan sampai ada yang lihat."

"Makasih, Nilam sayang! Kamu emang malaikat!" Sheila segera menyambar ponsel itu dan bersembunyi di balik pilar lebih dalam lagi.

Jarinya dengan cepat mengetik nomor Malik yang sudah ia hafal di luar kepala. Jantungnya berdegup kencang. Ayo, Malik, angkat...

Baru saja nada sambung kedua berbunyi, sebuah bayangan tinggi besar mendadak menutupi cahaya matahari yang jatuh di meja mereka. Suasana kantin yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap bagi Sheila. Sebuah aroma parfum sandalwood yang sangat ia kenal—dan ia benci—tercium sangat dekat.

"Jangan coba-coba main api ya, Sheila Maharani Nasution," suara berat dan dingin itu menginterupsi tepat di samping telinga Sheila.

Sheila tersentak kaget sampai ponsel Nilam hampir saja meluncur ke lantai. Ia menoleh dengan patah-patah dan mendapati Jeremy sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja biru navy dengan kancing atas terbuka, tangannya masuk ke saku celana, dan matanya menatap tajam ke arah ponsel yang masih menempel di telinga Sheila.

Sheila buru-buru mematikan sambungan telepon dan menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya. Wajahnya pucat pasi, namun rasa kesalnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

"Heh! Ngapain nambah-nambahin nama saya! Nama saya cuma Sheila Maharani, nggak ada Nasution-Nasutionnya ya!" protes Sheila dengan nada tinggi, mencoba menutupi kegugupannya. "Bapak ngapain sih di sini? Bukannya CEO punya ruangan makan privat sendiri di lantai atas?"

Jeremy tidak menjawab protes soal nama itu. Ia justru mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar di depan wajah Sheila. "Berikan ponselnya."

"Ini bukan punya saya! Ini punya Nilam!"

"Aku tahu. Dan Nilam bakal dapet SP 1 kalau kamu nggak serahkan ponsel itu sekarang juga," ancam Jeremy tanpa ekspresi.

Nilam, yang baru saja kembali dari toilet, langsung mematung di tempat melihat Bos besarnya sedang "mengintimidasi" sahabatnya. Ia hanya bisa memberikan isyarat tangan pada Sheila untuk memberikan ponsel itu daripada urusannya makin panjang.

Dengan geram, Sheila menyerahkan ponsel Nilam ke tangan Jeremy. Jeremy memeriksanya sejenak, melihat layar panggilannya, lalu mengembalikan ponsel itu ke Nilam yang berdiri gemetar.

"Nilam, kembali ke meja kamu. Dan jangan pernah pinjamkan apa pun pada asisten pribadiku tanpa izinku. Mengerti?" perintah Jeremy tegas.

"Me... mengerti, Pak! Permisi!" Nilam langsung lari tunggang langgang meninggalkan Sheila sendirian menghadapi sang tiran.

Jeremy kembali menatap Sheila. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Sheila yang berkilat marah. "Nasution itu nama masa depan kamu, Shei. Jadi biasakan saja dari sekarang. Dan soal ponsel... kamu pikir aku nggak tahu trik lama asisten yang lagi 'disandera'?"

"Bapak beneran gila ya? Posesif banget! Aku cuma mau kabari Malik biar dia nggak khawatir!" teriak Sheila, tidak peduli lagi kalau mereka jadi pusat perhatian orang-orang kantin.

"Dia harus mulai terbiasa kalau kamu nggak selalu ada buat dia, Sheila. Karena mulai sekarang, waktu kamu lebih banyak buat aku," Jeremy menarik kursi di samping Sheila dan duduk dengan santai, seolah-olah ia baru saja memesan makanan. "Sekarang, karena kamu sudah mencoba melanggar aturan, makan malam kita nanti dimajukan. Kita berangkat jam empat sore."

"Jam empat?! Itu kan masih jam kerja!"

"Iya, dan sebagai CEO, aku memutuskan kalau rapat lapangan sore ini diadakan di restoran. Ayo, ikut aku sekarang kembali ke ruangan. Ada berkas yang harus kamu bawa," Jeremy berdiri, tangannya secara alami meraih pergelangan tangan Sheila, membimbingnya (atau lebih tepatnya menyeretnya pelan) menuju lift.

Sheila hanya bisa menggerutu sepanjang jalan. "Dasar diktator! Egois! CEO paling nggak laku sedunia!"

"Aku denger, Sheila Nasution," sahut Jeremy sambil tersenyum miring saat pintu lift tertutup, hanya menyisakan mereka berdua di dalam kotak besi yang sempit itu.

Sheila membuang muka ke arah cermin lift, mencoba mengabaikan pantulan wajah Jeremy yang tampak sangat puas dengan kemenangannya siang ini. Di dalam hatinya, Sheila bersumpah akan mencari cara yang lebih cerdik untuk membalas dendam pada makan malam nanti.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!