NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusup

"Kalian semua yang lolos untuk bekerja di mansion keluarga Erlangga... kalian sudah mengerti bagian kalian masing-masing, bukan? Kalau begitu, mulai besok kalian resmi bekerja di sini. Silakan bubar, kecuali tiga nama yang aku sebutkan, tetaplah di tempat." Zoe menjeda kalimatnya sejenak, matanya menyisir barisan dengan tatapan yang mengintimidasi. "Alexander Jordan, Nana Sofyan, dan Zio Jovan. Selain mereka, silakan undur diri."

Para calon pekerja lainnya menunduk hormat sebelum beranjak pergi, menyisakan keheningan yang mencekam di ruangan besar itu. Alex, Nana, dan Zio saling melempar pandang sesaat, gurat kebingungan sekaligus kewaspadaan terpeta jelas di wajah mereka.

"Kalian tahu kenapa aku meminta kalian tetap di sini?" tanya Zoe, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang tak bisa dibantah.

"Tidak, Nona!" jawab mereka serempak, berusaha menutupi kegugupan masing-masing.

Zoe perlahan menggeser layar tablet di tangannya, menampilkan barisan data digital yang terenkripsi rapat. "Alexander Jordan," ucap Zoe sambil menatap tajam pria itu." mantan hacker dan sniper handal yang pernah bergerak di bawah bayang-bayang organisasi mafia besar. Nama samaranmu A3. Saat ini kau sedang bersembunyi dari kejaran mereka karena mencoba 'pensiun' dari dunia bawah tanah, benarkah?"

Tanpa menunggu jawaban, mata Zoe beralih pada sosok wanita di sebelah Alex. "Nana Sofyan. Mantan dosen dan ahli matematika jenius. Sayangnya, tujuh tahun lalu sebuah fitnah keji menjebloskanmu ke penjara selama 3 tahun atas kasus penggelapan dana di sebuah universitas ternama."

Terakhir, Zoe menatap Zio dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Dan Zio Jovan... sang arsitek penghancur. Ahli merakit bom, senjata, hingga alat penyadap mutakhir. Kau sempat menguasai situs jual beli senjata ilegal sebelum akhirnya memutuskan untuk menghilang."

Ketiganya membeku. Ruangan itu seolah kekurangan oksigen. Zoe kemudian menyilangkan kaki dan bersedekap, menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran keluarga Erlangga. "Heemm, aku penasaran. Orang-orang dengan kemampuan 'mengerikan' seperti kalian... kenapa mendadak rendah hati dan memilih bekerja sebagai pelayan serta penjaga keamanan di mansion ini?"

Zio menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menjawab. "Kemampuan itu hanyalah bagian dari masa lalu yang ingin kami kubur, Nona. Pernah dengar pepatah bahwa hidup harus terus berjalan tanpa perlu menoleh ke belakang? Saat ini, kami hanya ingin hidup tenang tanpa harus terus-menerus diburu oleh bayang-bayang masa lalu kami sendiri." jawabnya dengan nada suara yang tertata, meski matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Zoe menyipitkan mata----- ia menangkap momen sepersekian detik saat ketiganya saling melirik dengan gelisah sebelum kembali ke posisi semula yang kaku—gugup.

Ddrrttt! Ddrrtt!

Getaran ponsel di meja membuat suasana semakin tegang. Zoe melihat layar yang menampilkan nomor tanpa nama, namun binar di matanya menunjukkan ia tahu persis siapa yang menghubungi. Ia mengangkat telepon itu tanpa mengalihkan pandangan dari mereka. Seketika, ekspresinya berubah drastis--- rahangnya mengeras dan tatapannya menajam bagai mata pisau.

Setelah menutup telepon, Zoe terdiam sejenak, menciptakan jeda yang menyiksa. "Tapi..." suaranya kini terdengar lebih dingin, matanya menyipit penuh curiga yang tidak lagi disembunyikan. "Apakah informasi yang baru saja aku dapatkan ini... benar-benar tentang kalian?"

Ketiganya saling pandang, perasaan tidak enak mulai menusuk hingga ke tulang belakang.

"Aku baru saja mendapatkan telepon dari seseorang yang sangat tepercaya," lanjut Zoe dengan nada mengintimidasi. "Dia bilang, Nana Sofyan memang pernah mendekam di penjara karena sebuah kasus. Namun di tahun kedua masa penahanan nya... Nana Sofyan dinyatakan meninggal dunia karena kanker perut yang dideritanya." Zoe menatap tajam ke arah sosok yang berdiri di depannya.

Nana mulai berkeringat dingin, wajahnya pucat pasi mendengar namanya disebut dalam konteks kematian.

"Lalu, Alexander Jordan..." Zoe beralih pada sosok tegap di sebelah Nana. "Catatannya menunjukkan kau adalah anggota mafia kelas atas yang menguasai dunia bawah tanah. Namun, kabar terbaru yang aku terima justru lebih mengejutkan. Alexander ditemukan tewas di tempat persembunyiannya tanpa luka luar sedikit pun. Hanya saja, hasil autopsi menunjukkan gejala keracunan zat yang sangat berbahaya." Alexander kini merasa terpojok, urat lehernya menegang menahan gejolak dalam dirinya.

Sebelum ia sempat menjawab, Zoe sudah beralih pada sosok di sampingnya. "Dan kau, Zio Jovan. Ada yang berbeda dengan tatapanmu hari ini."

Zio Jovan--- dulunya memang bekerja di pasar gelap. Dia menjual dagangan senjata rakitan nya sendiri. Sampai pertemuan tak terduga dengan Joe Erlangga mengubah hidupnya. Dan saat ini, Zio bekerja sebagai asisten Joe di perusahaan nya.

Makanya, Zoe cukup terkejut melihat kehadiran Zio. Apa lagi pria itu seolah tidak mengenalinya. Dan saat Zoe mengkonfirmasi pada sang Papa. Joe mengatakan jika Zio ada bersamanya.

Nindi, yang sejak tadi terpaku pada data di tangannya, menggeleng lemah dengan wajah pucat. "T-tidak mungkin, Zoe... Aku sudah menyisir setiap inci latar belakang mereka. Dari semua pelamar, hanya mereka yang memiliki kualifikasi dan bakat setinggi ini. Aku tidak mungkin melakukan kesalahan fatal dalam verifikasi data!"

"Itulah masalahnya, Nindi," potong Zoe seraya berdiri tegak, matanya berkilat dingin seperti es yang membeku. "Aku penasaran, bagaimana orang sejenius kamu bisa terkecoh? Siapa kalian sebenarnya? Apa tujuan kalian menyusup ke tempat ini dengan identitas palsu?!"

Tiba - tiba-- Zoe mencium aroma yang aneh berasal dari mereka bertiga. "Tubuh kalian... sangat bau,"

BRAK!

Ledakan energi yang luar biasa menghantam ruangan itu tanpa peringatan. Kekuatan yang begitu masif membuat ketiga orang itu terpental hebat hingga menghantam dinding. Debu beterbangan, menutupi pandangan untuk sesaat. Di ambang pintu yang hancur, sebuah siluet berdiri dengan aura kegelapan yang pekat dan mematikan.

Steven melangkah masuk, setiap derap langkahnya meninggalkan retakan kecil di lantai. "Kalian benar-benar luar biasa dalam menyembunyikan aura kalian..." suara Steven berat, mengintimidasi setiap sel saraf di ruangan itu. "Sampai aku sendiri tidak menyadari keberadaan kalian."

Bukannya merasa gentar karena tertangkap basah, ketiganya justru meledak dalam tawa terbahak-bahak yang terdengar sumbang dan mengerikan.

Seketika, pemandangan di depan mata Zoe dan Nindi berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Kulit manusia yang mereka kenakan seolah mengelupas dan lumer, menyingkap sosok asli yang tadi tersembunyi di balik penyamaran sempurna.

Sosok pertama kini berdiri tegak dengan kepala harimau yang bengis, taringnya mencuat keluar dengan liur yang menetes, sementara seluruh tubuh manusianya berubah menjadi gumpalan otot berbulu hitam legam yang pekat.

Di sampingnya, sosok kedua meliuk-liuk aneh---- sisik seekor ular menutupi seluruh kulitnya yang dingin, dengan leher yang terus memanjang secara tidak wajar layaknya kobra yang siap mematuk. Dan yang terakhir, sosok dengan kulit berwarna hijau pekat yang kontras dengan mata yang merah menyala seperti bara api, menatap mereka dengan haus darah.

"Sial! Kami ketahuan!" gumam mereka di sela tawa yang masih menggema, suara mereka kini berlapis-lapis antara geraman binatang dan desisan ular.

Mata Zoe dan Nindi terbelalak sempurna. Jantung mereka berdegup kencang, menyadari bahwa apa yang mereka hadapi bukanlah sekadar penyusup biasa, melainkan entitas yang jauh lebih haus darah daripada yang pernah mereka bayangkan.

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!