Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beli Motor Supra
Hari semakin sore, kini Aldi dan Sita berhenti di tempat tujuan Aldi, dengan langkah pelan mereka masuk kedalam dealer sepeda motor. Aldi terpana melihat deretan motor yang begitu indah, apalagi motor sport yang sangat cakap jika dia mempunyai.
"Permisi mas, mau cari motor seperti apa?," tanya pegawai.
"Mau cari Supra aja mbak, buat keperluan bertani saja," jawab Aldi.
"Baik mas, mari!!," balas pegawai.
Aldi dan Sita mengikuti pegawai itu dengan langkah pelan. Pegawai itu sangat dengan pembeli datang walaupun hanya membeli motor sederhana namun pelayanan terbaik tidak memandang rendah orang lain adalah bentuk kepribadian baik.
"Ini mas harganya 17juta karena barang lama dan terbaru 22,5juta, silahkan mas pilih yang mana," penjelasan pelan dari pegawai bernama Sarah.
"Yang ini aja mbak," Aldi menunjuk ke brosur yang berikan, dia mengambil uang harga 20,5juta dengan body yang Aldi sukai.
"Baik mas, mau cash atau kredit?," balas pegawai itu lalu bertanya pelan.
"Cash saja mbak, diantar kerumah langsung saja nanti," jawab Aldi, lalu meminta di antarkan kerumahnya.
"Baik mas. Oh iya mas ini tunai apa transfer?," pegawai itu bertanya kembali setelah membalasnya.
"Transfer saja mbak," jawab Aldi.
"Baik mas," balas pegawai.
Lalu pegawai itu mengambil EDC, dengan pelan mereka melakukan transaksi itu. Aldi mengisi data yang diperlukan lalu menyerahkan kepada pegawai, setelah selesai Aldi pulang bersama Sita.
Sita ingin sekali bertanya tapi dia tidak berani takut jika Aldi akan marah pada dirinya, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Mbak kita mampir beli sate kambing ya?," tanya Aldi.
"Terserah kamu aja Al, mbak ikut aja," jawab Sita.
Aldi dengan perlahan menuju penjual sate, dengan perlahan Aldi menghentikan motornya.
"Pak pesan sate kambing 25ribu sama sate ayam 25ribu juga," pinta Aldi.
"Siapa mas, silahkan duduk disana mas jangan berdiri disitu kasihan istrinya," ujar penjual sate.
Glekk..
Aldi dan Sita tersentak kaget mendengar ucapan bapak penjual sate itu.
"Bukan pak, ini mbak saya," ujar Aldi.
"Ehh saya kira suami istri, karena saya lihat kalian cocok menjadi suami istri," balas bapak penjual sate.
"Enggak mikir nikah dulu saya pak, saya mau menjadi petani sukses dulu," Aldi berkata pelan.
"Bagus anak muda punya semangat. Mbak jaga calon suaminya jangan sampai cari istri banyak," seru penjual sate lalu mengatakan sesuatu pada Sita.
Wajah Sita seketika memerah karena malu, Aldi yang mendengarkan semua itu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Aldi kini duduk berdua bersama Sita, mereka berdua menghiraukan ucapan bapak penjual sate. Aldi dan Sita berfoto berdua untuk kenang-kenangan kebersamaan mereka.
"Al?," panggil Sita.
"Iya mbak," jawab Aldi.
"Mbak gak mau memiliki perasaan buruk Al, mbak mau kamu berkata jujur sama mbak. Bukan mbak gak percaya sama kamu tapi mbak gak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Sita, dia ingin kejelasan semuanya.
"Baiklah mbak, nanti di rumah saja aku jelaskan semua," balas Aldi.
Sita yang mendengarkan itu tersenyum begitu manis, lalu dengan perlahan Sita memeluk lengan Aldi merebahkan kepalanya yang sudah lelah akan beban hidup dengan kesendirian.
Aldi yang merasakan itu membiarkan Sita tetap memeluk lengannya. Dia masih bingung kenapa mbak Sita kini lebih dekat dengannya, bukankah kebaikan di balas kebaikan adalah hal wajar tapi kedekatan ini seakan-akan ada sesuatu arti yang membingungkan Aldi.
"Sudah selesai mas," ujar bapak-bapak penjual sate.
"Ini uangnya pak, kembaliannya ambil aja," Aldi berkata pelan.
"Wahhh, terimakasih anak muda kamu sangat baik sekali. Semoga rezekimu lancar, berikan umur panjang, di berikan keselamatan dunia maupun akhirat. Dan paling penting segeralah menikah kasian kekasihmu itu," doa bapak itu, dengan ucapan terakhir yang bikin Aldi dan Sita terdiam seribu bahasa.
"Makasih doanya pak," balas Aldi, dengan suara sedikit gemetar
Aldi dan Sita kini pergi meninggalkan penjual sate. Mengendarai motor NMAX milik Sita melaju dengan kecepatan sedang. Sita menyilangkan tangannya di pinggang Aldi, lalu merebahkan kepalanya di bahu belakang Aldi.
Sita merasakan kenyamanan dalam perjalanan pulang dengan kata-kata bapak penjual sate itu masih terngiang-ngiang di benak Sita.
Akhirnya Aldi sampai di rumah, bersamaan dengan datangnya sepeda motor yang dia beli. Beberapa warga yang melihat itu mulai penasaran untuk melihat motor baru yang datang di rumah Aldi.
Senyum ejekan dua janda dan satu kembang desa Joyo terlihat jelas di wajah mereka bertiga, namun kabar Aldi membeli tanah di samping seharga 125juta lalu membayar separuh rumah Sita 200juta membuat mereka mulai penasaran tapi penuh ejekan.
Ketua Desa dan Pak RT tepat pulang dari balai desa melihat keramaian itu lalu mereka berdua berhenti menuju rumah Aldi.
"Wahh baru beli Al?," tanya ketua desa.
"Iya ketua, Alhamdulillah hasil dari jual warisan kakek," jawab Aldi, lalu memberi alasan yang cukup pas.
"Ya sudah kalau begitu, jangan boros-boros gunakan uangnya," balas ketua desa.
"Siap ketua," ucap Aldi.
Ketua dan Pak RT kini duduk mengobrol santai dengan Aldi, mereka berdua akhirnya tau berada jumlah hasil penjualan peninggalan kakek Budi. Membuat Ketua Desa dan Pak RT tersentak kaget mendengarkan jumlah cukup besar bagi mereka.
"Al, kamu jangan kasih tau siapapun takutnya ada kejahatan yang tidak di inginkan," ucap Pak RT.
"Kamu yang hati-hati ya nak Aldi," ikut ketua desa.
"Iya ketua, pak RT. Aldi sudah simpan semua di bank dan dirumah hanya sisa 20juta lebih buat kebutuhan sehari-hari," balas Aldi.
Ketua Desa dan Pak RT kini tersenyum lega mendengar uang itu di simpan di bank, karena lebih aman jika tidak memiliki uang tunai dengan jumlah semua itu.
Aldi menyiram sepeda motor barunya dengan bunga tujuh rupa mengikuti adat istiadat Jawa soal benda baru. Tujuannya hanya menjadi perantara ke tuhan saja tidak ada unsur kemusrikan dalam niat Aldi.
Setelah selesai Aldi kini duduk bersama Sita dan Bima yang baru saja bangun. Kini mereka bertiga menikmati sate yang beli Aldi, Bima sangat menikmati dan suka makan sate hingga belepotan di bibirnya.
Sita yang melihat itu membersihkan perlahan lalu memberikan air minum, Bima dengan perlahan minum air putih dia sudah merasakan kekenyangan.
"Sudah kenyang aku mau," ujar Bima.
"Iya sudah kamu duduk di dalam saja, disini dingin," pinta Sita, lalu meminta putranya masuk kedalam.
"Aku mau tidur di rumah Om Aldi lagi ya ma?," Bima berkata pelan.
Sita tersenyum kecil lalu mengangguk perlahan, Aldi kini melihat layar ponselnya yang ada notice pesan masuk.
Salma mengirim sebuah foto, Aldi yang melihat tersenyum kecil lalu membalasnya.
"Mau kemana kamu?," tanya Aldi.
"Gak kemana-mana kak, cuman pengen di nilai aja," pesan Salma.
"Hmmm, cantik banget nilainya," balas pesan dari Aldi.
"Makasih kak, aku mau lanjut ngerjain tugas bareng teman-teman ya kak!!," ujar Salma dalam pesan.
"Iya Salma, belajar yang rajin-rajin. Kamu sudah lihat saldomu?," balas Aldi lalu bertanya pelan.
"Belum kak," jawab Salma.
"Ya sudah kamu lanjut aja," ujar Aldi dalam pesan.
"Iya kak, by kak sayang," ucap Salma dengan emoticon hati.
Aldi membalasnya dengan emoticon hati juga lalu dia meletakkan ponselnya kembali, Sita yang melihat ekspresi Aldi sedikit berbeda ketika membaca pesan itu seperti ada kebahagiaan disana.
"Siapa Al?," tanya Sita.
"Salma mbak," jawab Aldi.
"Salma siapa?," tanya Sita bingung.
"Astaga mbak lupa ya!!, Salma adik Niko yang dulu pernah tinggal disini sekarang dia di kota," ujar Aldi.
Sita terdiam sejenak memikirkan nama Salma seperti tidak asing baginya, Sita begitu lama mengingatnya hingga akhirnya Sita ingat tentang Salma.
"Ohhh, dia ternyata. Chat apa dia?," ucap Sita lalu bertanya.
"Kasih kirim foto buat di nilai mbak," jawab Aldi.
Sita tersenyum kecil dia tidak melanjutkan pertanyaannya takut Aldi tidak nyaman dengannya. Aldi yang sedang terdiam dia mendapatkan pikiran untuk merenovasi rumah kakek Budi.
"Uangnya masih sisa 2miliar lebih. Aku mau merenovasi rumah saja biar lebih nyaman lagi," gumam pelan Aldi. Lalu dia memberikan pesan kepada pak RT meminta bantuan untuk mencarikan yang bisa membangun rumah dengan model sederhana tapi cukup bagus.
Aldi berencana merenovasi rumahnya dengan membangun dua lantai sekaligus agar lebih terlihat mewah bagi keinginannya, dia yang selalu di pandang rendah ingin sekali tidak di pandang rendah kembali.
°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.