Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Xiao Yan tidak menjawab. Sensornya mendeteksi pergerakan cepat dari arah semak-semak. Bukan satu, tapi tiga objek bergerak dengan kecepatan tinggi menuju posisi mereka.
"Bersiaplah. Pahlawan kita harus bekerja lagi," ucap Xiao Yan datar sambil menunjuk ke arah depan.
"Ugh... Baik! Serahkan padaku!" Lin Fan memasang kuda-kuda dengan gemetar.
"Srak! Srak! Srak!"
Tiga ekor monster serigala bertanduk kayu melompat keluar dari semak-semak. Namun, serigala ini berbeda dengan serigala simulasi yang diceritakan Guru Li. Mata mereka tidak berwarna kuning, melainkan hitam pekat dengan uap ungu keluar dari mulut mereka. Tubuh mereka penuh dengan luka bakar dan bekas cakaran yang tidak wajar.
"Hah? Serigala-serigala itu terlihat seperti monster yang sudah mati tapi dipaksa bergerak!" seru Song Jia kaget.
"Monster-monster ini sudah dikendalikan oleh energi gelap," batin Xiao Yan. "Seseorang di hutan ini sedang melakukan eksperimen atau sedang mencari sesuatu."
Serigala di tengah menggeram rendah, lalu melompat dengan kecepatan dua kali lipat dari serigala normal.
"Wusss!"
"Hiaaaa!" Lin Fan mengayunkan pedangnya dengan membabi buta.
"Kring!"
Pedang Lin Fan berbenturan dengan tanduk kayu serigala itu. Lin Fan terdorong mundur hingga kakinya terseret di tanah. Kekuatan serigala itu jauh melampaui kemampuan Lin Fan yang sebenarnya.
"Ugh! Kuat sekali! Tanganku mati rasa!" keluh Lin Fan.
Dua serigala lainnya mulai bergerak memutar, mengincar Chen Ping dan Song Jia yang berada di belakang.
"Gawat! Mereka mau mengepung kita!" teriak Chen Ping.
Xiao Yan menghela napas panjang. Dia tidak bisa membiarkan teman-temannya terluka sekarang, tapi dia juga tidak bisa membunuh serigala itu dengan kekuatannya sendiri karena akan terlihat mencolok.
"Hah... Merepotkan sekali."
Xiao Yan melihat sebuah batu kerikil kecil di dekat kakinya. Dengan gerakan yang sangat halus, dia menendang kerikil itu menggunakan ujung sepatunya. Dia tidak memberikan energi Qi, hanya menggunakan akurasi fisiknya yang mutlak untuk menghantam titik saraf di kaki depan serigala yang sedang berlari menuju Song Jia.
"Tak."
Serigala itu tiba-tiba tersandung dan terguling di tanah, menabrak pohon besar dengan keras.
"Brak!"
"Hah? Dia jatuh sendiri?" tanya Song Jia bingung.
Sementara itu, Lin Fan masih kewalahan menahan serigala utama. Serigala itu bersiap menggigit leher Lin Fan.
"Lin Fan, gunakan teknik putaran pinggang yang diajarkan Guru Li kemarin," kata Xiao Yan dengan suara datar dan tenang di tengah kekacauan itu.
"Ugh! Aku tidak bisa berpikir sekarang!" teriak Lin Fan.
"Pukul ke arah kiri bawah. Sekarang," perintah Xiao Yan lagi.
Lin Fan entah mengapa langsung mengikuti perintah Xiao Yan tanpa bertanya. Dia mengayunkan pedangnya ke arah kiri bawah secara asal.
Tepat pada saat itu, Xiao Yan menjentikkan jarinya secara tersembunyi. Sebuah gelombang tekanan udara kecil yang sangat padat menghantam moncong serigala itu, membuatnya miring tepat ke arah lintasan pedang Lin Fan.
"Cras!"
Pedang Lin Fan menebas telinga dan mata serigala itu. Monster tersebut melolong kesakitan dan mundur beberapa langkah.
"Wah! Aku berhasil lagi!" seru Lin Fan dengan semangat baru. "Ternyata aku memang seorang jenius dalam pertarungan!"
"Cepat selesaikan. Masih ada satu lagi," ucap Xiao Yan.
Serigala ketiga yang tadinya ragu-ragu tiba-tiba berhenti bergerak. Monster itu menoleh ke arah kegelapan hutan di belakang mereka. Seolah-olah ada perintah baru yang dikirimkan ke otaknya. Ketiga serigala itu tiba-tiba berbalik dan lari menghilang ke dalam hutan, meninggalkan kelompok Xiao Yan yang kebingungan.
"Hah? Mereka lari?" Lin Fan menurunkan pedangnya sambil terengah-engah.
"Ugh... Syukurlah kita selamat lagi," Chen Ping terduduk di tanah dengan lemas.
Xiao Yan tidak merasa lega. Dia menatap ke arah larinya serigala-serigala itu.
"Mereka bukan lari karena takut," batin Xiao Yan. "Mereka dipanggil kembali. Sesuatu yang lebih besar telah ditemukan di bagian lain hutan ini."
Xiao Yan melihat ke arah langit lagi. Dinding transparan itu semakin menguat. Kabut tipis mulai muncul di sekitar mereka, menutupi pandangan sejauh lebih dari lima meter.
"Situasinya berubah dengan cepat," ucap Xiao Yan datar. "Kita tidak bisa hanya diam di sini sekarang. Tempat ini sudah tidak aman."
"Lalu kita harus ke mana?" tanya Song Jia cemas.
"Kita akan mengikuti serigala-serigala tadi, tapi dari jarak yang aman," putus Xiao Yan.
"Apa?! Kau mau kita mendekati sumber masalahnya?!" seru Lin Fan kaget. "Bukankah kau bilang kau ingin menyelesaikannya dengan damai?"
"Tidakkah kau sadar?" Xiao Yan menatap Lin Fan dengan mata tenangnya. "Seluruh hutan ini sudah dikunci. Tidak ada tempat damai di dalam kubah ini. Pilihan kita hanya dua... bersembunyi sampai diburu, atau mencari celah di tempat musuh berada."
Lin Fan menelan ludah. Dia melihat ke arah kabut yang semakin tebal.
"Hah... Baiklah. Aku adalah pahlawan kelompok ini, jadi aku yang harus memimpin di depan," ucap Lin Fan sambil mencoba memberanikan diri.
"Um. Bagus," balas Xiao Yan.
Kelompok itu mulai merapikan barang-barang mereka dengan cepat. Suasana hutan menjadi semakin mencekam. Suara-suara aneh mulai terdengar dari balik kabut. Anomali ini bukan lagi sekadar ujian sekolah yang gagal.
Xiao Yan menyisipkan satu tangannya ke saku celana, menggenggam bantal lehernya yang belum sempat dia gunakan untuk tidur siang.
"Hah... Benar-benar gangguan waktu tidur yang sangat tidak sopan," batin Xiao Yan dengan sedikit kesal.
Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam kabut, mengikuti jejak energi gelap yang ditinggalkan oleh para serigala, menuju pusat anomali yang akan mengubah seluruh jalannya ujian bertahan hidup ini.