NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3 cerai

Arjuna melangkah dengan tubuh gemetar, matanya menatap ke arah tanah. Kakinya seolah berat untuk diangkat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Nafasnya pendek-pendek, dan wajah kecil itu tampak penuh ketakutan.

Ambar menunjukkan wajah penuh kasih sayang. Ia merentangkan tangannya seolah akan memeluk Arjuna.

“Juna, kemari, Nak…”

Suaranya terdengar lembut, begitu lembut hingga terdengar seperti belaian. Namun justru kelembutan itu membuat tubuh Arjuna semakin gemetar.

Arjuna melangkah dengan pelan. Ambar kembali berkata dengan nada yang sama lembutnya, “Juna, kamu sayang sama nenek, dan kamu juga sayang sama Dewi, kan?”

Ucapan itu terdengar biasa bagi orang lain. Namun Ambar tahu, itulah kata-kata yang selama ini mampu mengendalikan Arjuna. Kata-kata itu bukan sekadar ajakan, melainkan ancaman yang dibungkus kelembutan. Ambar selalu mengancam akan menyakiti Dewi jika Arjuna tidak menurut.

Setiap langkah Arjuna terasa seperti pisau yang mengiris hati Amira.

Baru saja ia bertemu kembali dengan anaknya setelah tiga tahun berpisah. Baru saja ia ingin membawa Arjuna pergi dari tempat itu. Namun sekarang, anak itu justru berjalan menuju orang yang telah menyakitinya.

“Sini, Nak, nanti kita cari Dewi,” suara Ambar kembali terdengar lembut, penuh perhatian.

Ambar yakin Arjuna akan memilih dirinya. Arjuna harus tetap bersamanya.

Bukan untuk disayang.

Melainkan untuk menjaga nama baiknya.

Selama ini ia dikenal sebagai nenek baik yang rela mengurus cucu dari menantu yang selingkuh. Citra itu tidak boleh runtuh.

Ambar memperlebar rentangan tangannya.

“Lihatlah, Amira, kamu memang wanita tak berguna. Bahkan anak kamu saja memilih aku,” ucap Ambar dalam hati, penuh kemenangan.

Tinggal satu langkah lagi Arjuna sampai di pelukannya.

Kemenangan sudah hampir digenggam.

Namun tiba-tiba Arjuna berhenti.

Ia berjongkok, meraih segenggam tanah dengan tangannya yang kecil, lalu bangkit.

“Burrr!”

Tanah itu dilemparkan tepat ke arah wajah Ambar.

“Arghhhh!” Ambar menjerit, menutup wajahnya.

Belum sempat ia bereaksi, Arjuna meludahi wajahnya.

“Dasar wanita jahat!” teriak Arjuna.

Suasana seketika hening.

“Plak!”

Dengan refleks, Ambar menampar Arjuna dengan keras.

Tubuh kecil itu terhuyung hingga jatuh ke tanah. Namun tidak berhenti sampai di situ, Ambar mengangkat kakinya, hendak menendang Arjuna.

Namun sebelum itu terjadi, Amira menerjang.

“Cukup!”

Dengan penuh amarah, Amira memukul kepala Ambar.

Ambar terjungkal ke belakang. Pukulan itu keras, penuh emosi yang selama ini terpendam.

Kepala Ambar terasa berat.

Emosinya langsung meledak.

“Dasar wanita gila!” teriak Ambar sambil memegang pipinya.

Rudi yang melihat kejadian itu tampak kaget. Ambar adalah ibunya, wanita yang sangat ia hormati.

Dan hari ini, di depan semua orang, Amira memukul ibunya.

“Dasar gila!” Rudi menerjang Amira.

Tendangan itu mendarat keras, membuat Amira terjungkal. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun Amira tidak sempat memikirkan rasa sakit itu.

Ia bangkit, lalu berlari memeluk Arjuna yang sedang menangis.

Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri.

Yang ia pedulikan hanya keselamatan Arjuna.

Namun bukannya berhenti, Rudi justru semakin menggila.

“Bugh!”

“Bugh!”

“Bugh!”

Seperti orang kesetanan, Rudi menendang punggung Amira berkali-kali.

Amira tetap memeluk Arjuna erat.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti anaknya lagi.

Arjuna menangis histeris. Suara tangis itu pecah, penuh ketakutan.

Namun Rudi malah semakin keras menendang.

“Mamah! Mamah! Mamah!” teriak Arjuna.

Tangisan itu menghancurkan hati Amira.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Pelukannya semakin erat, seolah ingin melindungi anak itu dari seluruh dunia.

“Tenang, sayang… sekarang ada Mamah… Mamah akan melindungi Juna dengan nyawa Mamah…”

Semua orang terperangah melihat kejadian itu.

“Tolong! Tolong!” Yuni berteriak panik.

Beberapa lelaki segera berlari mendekat. Mereka menarik Rudi yang masih menendang-nendang Amira.

“Dasar gila kamu, Rudi! Bisa mati orang!” sentak seorang pria paruh baya.

Rudi terengah-engah. Wajahnya merah. Ia menatap tajam ke arah Amira.

“Dia memukul ibu saya!” teriak Rudi sambil menunjuk Amira.

Amira menyeka darah di bibirnya. Ia meraih Arjuna lebih erat, lalu menatap Rudi dengan mata penuh kemarahan.

“Saat ibu kamu menampar dan akan menendang Arjuna, kamu hanya diam. Padahal Arjuna adalah anak kamu,” ucap Amira tegas.

“Aku sebagai ibu yang melahirkan Arjuna tidak terima anakku ditampar dan dipukuli.”

“Mamah… mamah…” Arjuna menangis. “Mamah, mereka semua jahat. Mereka setiap hari pukul Juna. Mamah, ayo pergi…”

Hati Amira terasa diremas.

Setiap kata dari mulut Arjuna seperti belati yang menusuk.

“Bohong!” teriak Ambar. Matanya masih merah karena debu.

“Selama ini kami memperlakukan Arjuna dengan baik!”

Namun kali ini, tidak ada yang langsung percaya.

Semua orang yang melihat kejadian itu tahu kebenarannya.

Mana mungkin Arjuna diperlakukan dengan baik?

Baru saja mereka melihat sendiri Arjuna ditampar dengan keras.

Dan Rudi jelas bukan sosok ayah yang baik.

Tidak ada ayah yang membiarkan anaknya dipukul.

Tidak ada ayah yang menendang ibu dari anaknya tanpa memikirkan keselamatan anak itu.

“Sudah, Amira, bawa saja Arjuna,” ucap salah satu tetangga.

“Benar, bawa saja,” sahut yang lain.

Perlahan, dukungan mulai beralih.

Isu perselingkuhan yang selama ini melekat pada Amira mulai diragukan.

Dan bahkan jika itu benar, tidak seharusnya seorang anak disiksa.

“Diam kalian!” teriak Ambar.

“Juna cucu saya! Saya yang berhak mengasuhnya! Dia tidak pantas diasuh oleh penjina!”

“Diam kamu, iblis!” teriak Amira, menatap tajam.

“Lihat Arjuna begitu kurus, padahal setiap bulan gajiku kalian pegang semua! Dan sekarang kamu masih menganggap Arjuna cucu kamu? Demi Tuhan, sampai mati aku tidak akan pernah mengakui kamu sebagai nenek Arjuna!”

“Diam kamu, Amira! Jangan hina ibuku!” Rudi kembali maju.

“Diam kalian semua!” teriak Nanang, ketua RT setempat.

Suasana mendadak hening.

“Hidup jangan dibuat sulit. Kalau mau berpisah, berpisahlah baik-baik. Jangan membuat keributan,” ucapnya tegas.

“Saya akan ribut demi cucu saya!” balas Ambar keras.

“Bagaimanapun Arjuna harus di rumah ini. Dia belum aku hukum.”

Ucapan itu membuat beberapa orang saling pandang.

Ibu Haji Linda yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Sudah, Bu Ambar. Yang paling berhak mengasuh Arjuna adalah ibunya,” ucapnya tenang.

“Tadi semua orang melihat, Amira melindungi anaknya dengan tubuhnya sendiri. Sedangkan kamu menampar, dan anak kamu malah menendang tanpa peduli keselamatan anak itu. Arjuna lebih baik tinggal dengan Amira.”

Semua mengangguk.

“Benar, bawa saja Arjuna.”

Kerumunan semakin ramai. Dukungan untuk Amira semakin kuat.

Ambar semakin kesal.

“Ya sudah, bawa saja! Lagian aku juga tidak yakin dia cucu saya!”

Ucapan itu membuat suasana kembali tegang.

Amira hendak membalas, namun Arjuna lebih dulu bersuara, dengan suara serak.

“Mamah… ayo pergi… kita cari Dewi, Mah…”

Nanang menatap Amira.

“Amira, kamu pergilah dari sini. Bawa anak kamu. Jangan mengganggu ketenteraman warga.”

Ambar langsung menyela, “Dia sudah memukul kepala saya! Saya minta keadilan!”

Beberapa orang saling pandang.

Keadilan?

Bukankah Rudi yang tadi menendang Amira tanpa ampun?

Namun tidak ada yang mengucapkannya keras-keras.

Amira hendak menjawab, tetapi Nanang kembali berkata tegas, “Amira, pergilah.”

“Izinkan saya berbicara, Pak,” ucap Amira sambil menatap Nanang.

Nanang mengernyitkan dahi. “Ya sudah, tapi jangan lama-lama.”

Amira menarik napas panjang.

“Aku hanya ingin dia menceraikan saya,” ucapnya lantang, matanya tertuju pada Rudi.

Rudi menatap tajam.

“Tanpa kamu minta pun aku akan menceraikan kamu, Amira. Talak tiga,” ucapnya dingin.

“Dan jangan pernah menyesal.”

Amira terdiam sejenak.

Lalu ia meludah ke tanah, tiga kali.

Ia menginjak ludah itu.

“Demi ludah yang sudah jatuh ke tanah, aku tidak akan pernah menyesal dengan perceraian ini. Dan hal yang paling aku sesalkan adalah pernah menikah dengan kamu.”

Tidak ada tangis.

Tidak ada penyesalan.

Hanya amarah yang membuncah.

Dan untuk pertama kalinya…

Amira benar-benar siap untuk bangkit.

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!