NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Bahasa Tanpa Suara

​Pasir pantai yang hitam dan kasar terasa dingin di pipi Arga. Kesadarannya timbul tenggelam di antara debu ombak yang menerjang tubuhnya. Di kejauhan, kapal selam Aegis yang raksasa itu kini teronggok diam seperti bangkai paus besi, lampu-lampu birunya telah padam total. Arga mencoba menggerakkan jemarinya, namun rasa sakit yang menyengat dari luka bakarnya membuat setiap inci tubuhnya terasa seolah ditusuk ribuan jarum.

​Di tengah kesunyian pantai yang hanya dipecah oleh suara ombak, terdengar bunyi logam yang terseret di atas karang. Arga memaksakan matanya terbuka sedikit. Dari kabut laut yang menipis, sosok Arya muncul. Klon itu sudah tidak lagi tampak seperti manusia yang sempurna. Kulit sintetis di wajahnya telah mengelupas, menyingkapkan struktur titanium yang retak dan kabel-kabel yang mengeluarkan percikan api. Kaki kanannya patah, membuatnya berjalan dengan menyeret tubuh logamnya yang berat.

​Arya tidak membawa senjata lagi. Dia hanya membawa kebencian yang murni. Lensa mata merahnya berkedip tidak stabil, mengunci posisi Arga yang tak berdaya.

​"Kau menghancurkan segalanya, Arga," suara Arya kini terdengar seperti parutan logam yang rusak. "Kau menghancurkan ketertiban yang baru saja dimulai. Manusia sepertimu tidak pantas memiliki kehendak bebas jika yang kau lakukan hanya merusak."

​Arga mencoba merangkak mundur, namun punggungnya membentur sebuah batang pohon bakau yang tumbang. Arya sampai di hadapannya, mencengkeram leher Arga dengan tangan mekanisnya yang masih berfungsi. Arga terangkat ke udara, napasnya tersumbat, wajahnya memerah karena kehabisan oksigen.

​"Darahmu... aku masih butuh darahmu untuk menyalakan kembali protokol darurat," desis Arya. Dia mengangkat bilah tajam yang tersembunyi di pergelangan tangannya, bersiap untuk merobek nadi Arga.

​Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya perak muncul dari arah belakang Arya. Tanpa suara, sebuah benda logam berat menghantam bagian belakang kepala Arya yang terbuka. Cengkeraman pada leher Arga terlepas seketika. Arga jatuh ke pasir, terbatuk-batuk sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.

​Di sana, berdiri Elina.

​Dia tampak sangat rapuh. Gaunnya yang dulu indah kini compang-camping dan basah kuyup. Di leher dan punggungnya masih terdapat bekas luka memerah tempat kabel-kabel Aegis sempat menancap. Namun yang paling mencolok adalah matanya. Warna perak digital itu telah hilang, kembali menjadi warna cokelat yang dalam, namun tampak redup seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis.

​Elina memegang sebuah potongan besi dari pintu kapal selam. Dia berdiri di depan Arga, melindungi pria itu dari Arya yang mulai bangkit dengan murka.

​"Elina... lari..." bisik Arga dengan sisa kekuatannya.

​Elina tidak menoleh. Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap Arya dengan tatapan yang sangat tajam. Arya tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat mengerikan karena modulator suaranya yang rusak.

​"Kau ingin melindunginya? Kau hanyalah raga kosong sekarang, Elina. Sistem sarafmu sudah hancur. Kau bahkan tidak bisa lagi memerintah sebuah drone kecil pun!"

​Arya menerjang Elina. Namun, meskipun Elina tidak lagi memiliki kekuatan prosesor Aegis, dia masih memiliki sisa-sisa peningkatan fisik di ototnya. Dia berkelit, menggunakan berat tubuh Arya yang tidak seimbang untuk menjatuhkan sang klon ke arah air laut.

​Air asin adalah musuh utama sirkuit Arya yang terbuka. Begitu tubuh Arya menghantam air, percikan listrik besar meledak. Arya menjerit saat sistem internalnya mengalami hubungan pendek besar-besaran. Dia mencoba merangkak keluar dari air, namun Elina tidak memberinya kesempatan. Dia menghujamkan besi di tangannya tepat ke arah pusat energi di dada Arya.

​Ledakan terakhir terjadi. Arya terdiam. Cahaya merah di matanya meredup, lalu padam untuk selamanya. Klon yang merupakan bayangan gelap Arga itu kini hanya menjadi rongsokan tak bernyawa di pinggir pantai Kalimantan.

​Elina menjatuhkan besinya. Dia berjalan dengan goyah ke arah Arga, lalu jatuh berlutut di sampingnya. Arga meraih tangan Elina, merasakan betapa dinginnya telapak tangan wanita itu.

​"El... kau baik-baik saja? Bicaralah padaku," ucap Arga penuh harap.

​Elina membuka mulutnya, mencoba membentuk kata-kata. Namun tidak ada suara yang keluar. Dia hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa ada nada sedikit pun. Kerusakan pada jalur saraf bicaranya akibat pelepasan paksa dari Aegis telah menghapus suaranya secara permanen.

​Air mata mulai mengalir di pipi Elina. Dia tampak sangat frustrasi karena tidak bisa mengucapkan nama pria yang telah menyelamatkannya berkali-kali. Namun, Elina kemudian meraih tangan Arga. Dengan jarinya, dia mulai menuliskan sesuatu di telapak tangan Arga yang terluka, menggunakan gerakan yang sangat lambat namun pasti.

​Arga merasakan sentuhan jari Elina. Dia memejamkan matanya, mencoba menerjemahkan setiap goresan di kulitnya.

​A... K... U... P... U... L... A... N... G...

​Arga tersenyum di tengah rasa sakitnya. Air mata ikut jatuh dari sudut matanya. Dia menarik Elina ke dalam pelukannya, mendekapnya erat di bawah fajar yang mulai menyingsing. Di kejauhan, Nadia muncul dari balik hutan, memanggil nama mereka dengan suara cemas.

​Dunia mungkin masih dalam keadaan kacau. Aegis mungkin akan mencari mereka kembali. Siska Winata dan Pak Broto mungkin masih menjadi bayang-bayang di masa depan. Namun, di pantai sunyi itu, jarak di antara mereka benar-benar telah hilang. Tidak butuh kode, tidak butuh satelit, dan tidak butuh suara.

​Hanya ada dua manusia yang kini benar-benar bebas.

​Arga memandang ke arah laut luas. Dia tahu perjuangan mereka belum berakhir. Masih ada rahasia ayahnya yang harus diungkap sepenuhnya, dan masih ada dunia yang harus mereka perbaiki dari kerusakan yang dibuat oleh keluarga mereka sendiri. Namun untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati keheningan itu bersama Elina.

​Arga mengambil bintang perak kecil yang tadi ia gunakan untuk memutus sistem Aegis. Dia meletakkannya kembali di tangan Elina.

​"Kita akan membangun kembali semuanya, El. Mulai dari nol. Tanpa ada jarak di antara kita lagi."

​Elina mengangguk pelan. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Arga, menatap matahari yang terbit di ufuk timur, membawa harapan baru bagi sang arsitek dan sang dewi yang kini telah kembali menjadi manusia biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!