"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Suasana di AlMart masih sepi karena mini market itu baru saja didatangi pegawai setengah jam yang lalu. Tiga orang pegawai nampak tengah membereskan barang-barang.
Ada pula yang mengepel. Sebentar lagi jam operasional AlMart akan dimulai. Dan apa yang mereka lakukan adalah rutinitas sebelum buka.
Tiba-tiba saja dari arah luar, muncul seorang wanita. Dia langsung masuk ke dalam mini market yang masih tutup.
Ketika masuk, wanita itu langsung menuju pada seorang wanita muda yang tengah berjongkok, merapihkan barang-barang di rak.
“Aaaaarrrggghhh!”
Terdengar teriakan salah satu pegawai ketika wanita tadi tiba-tiba menjambaknya. Bukan hanya menjambak, wanita itu juga menarik rambut sang pegawai hingga terpaksa berdiri. Dua orang rekannya tentu saja terkejut.
“Ya Allah, Bu. Tolong lepaskan Ayu.”
“Diam kamu!!” hardik sang wanita. “Dasar perempuan murahan! Beraninya kamu menggoda suami saya!”
“Tapi bu—”
PLAK!
Belum sempat pegawai wanita itu menyanggah, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Bukan hanya sekali, tapi dia menamparnya dua kali.
Sementara itu di lantai atas, Alvin yang tengah berada di ruang kerjanya, terkejut melihat apa yang terjadi di lantai bawah melalui kamera cctv yang terhubung pada laptopnya.
Dengan cepat dia beranjak dari duduknya lalu menuruni anak tangga setengah berlari.
“ANYE!!”
Teriakan kencang Alvin menghentikan wanita yang ternyata adalah Anyelir yang ingin menampar kembali pegawai wanita bernama Ayu itu.
“Apa-apaan kamu hah?!” berang Alvin.
“Aku hanya memberi pelajaran pada janda gatal ini! Beraninya dia menggoda kamu, Mas!”
“Jangan gila kamu!”
Dengan kesal Alvin menarik tangan Anyelir, kemudian membawanya pergi dari sana.
Dua rekan Ayu yang bernama Windi dan Adi, segera membantu Ayu untuk bangun. Dia membawa Ayu ke bagian belakang mini market yang merupakan tempat istirahat mereka.
“Minum dulu, Yu,” Adi memberikan segelas air putih pada Ayu.
Sambil menahan nyeri di pipinya, Ayu meminum air yang diberikan Adi. Wanita itu hanya bisa menangis mengingat peristiwa barusan.
“Kenapa Bu Anye tiba-tiba marah sama kamu?” tanya Windi.
“Ngga tahu. Mungkin karena Pak Alvin kemarin mengantarku membawa anakku ke rumah sakit. Tapi demi Allah, aku ngga ada hubungan apa-apa sama Pak Alvin,” jawab Ayu sambil menangis.
Kedua rekan Ayu hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Anyelir memang terkenal sangat posesif pada suaminya.
Sudah beberapa kali mini market ini berganti pegawai wanita. Mereka tidak kuat menjadi pegawai di sini karena sering mendapat intimidasi dari Anyelir.
Windi juga sempat mendapatkan sikap sinis dari Anyelir. Namun karena butuh pekerjaan, wanita itu bertahan dan sampai sekarang pun, terkadang Anyelir sering mengintimidasinya.
“Kalau ngga lihat Pak Alvin, aku juga udah resign dari sini,” ujar Adi. Pria itu kesal karena terkadang Anyelir bersikap arogan. Apalagi kalau tidak ada Alvin.
“Kamu istirahat aja dulu di sini. Kompres pipi kamu pakai es batu. Biar aku dan Windi yang siap-siap.”
Adi dan Windi bergegas meninggalkan ruangan belakang dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Sementara itu, Alvin sudah sampai ke rumah Kakek dan Neneknya yang sekarang sudah menjadi rumahnya. Dia baru melepaskan pegangannya di tangan Anyelir setelah berada di dalam kamar.
Dian, asisten rumah tangga di kediaman Alvin hanya bisa mengelus dada melihat pasangan suami istri itu. Sejak Kakek dan Nenek Alvin meninggal, rumah tangga Alvin dan Anyelir lebih banyak diisi dengan pertengkaran.
“Apa yang kamu lakukan pada Ayu? Kenapa kamu sampai menamparnya? Apa salahnya?!” cecar Alvin.
“Kenapa Mas membelanya? Apa karena dia selingkuhan kamu, iya kan?”
“Aku tidak berselingkuh dengannya!”
“Bohong! Jangan Mas pikir aku ngga tahu kalau kalian kemarin malam pergi berdua! Jadi itu yang Mas lakukan kalau aku lembur di kantor!” balas Anyelir dengan nada berapi-api.
“Aku mengantarnya ke rumah sakit karena anaknya sakit! Tidak lebih! Kenapa kamu selalu berpikiran buruk tentangku?!”
Bukan sekali ini saja Anyelir membuat kegaduhan di mini market. Entah sudah berapa pegawai wanita keluar masuk di mini marketnya. Rata-rata mereka tidak kuat menghadapi sikap Anyelir yang semena-mena dan intimidatif.
“Awalnya hanya mengantar anak ke rumah sakit, lama-lama dia akan menggoda Mas. Apa Mas lupa kalau dia itu janda gatal? Umur baru 21 tahun tapi sudah jadi janda. Pasti nikahnya karena kecelakaan!”
“Jaga mulutmu, Anye! Ayu itu menikah demi melunasi hutang orang tuanya. Dan dia menjadi janda karena suaminya meninggal, bukan karena bercerai!”
“Ooh.. bela aja terus, bela aja dia! Kamu memang ada main dengan dia.”
“Aku muak denganmu, Anye. Jangan pernah datang lagi ke mini market!”
Setelah mengatakan itu, Alvin bermaksud kembali ke mini market, namun Anyelir segera menahannya.
“Mas mau kemana?”
“Aku mau kerja.”
“Aku sengaja ambil cuti hari ini biar bisa berduaan dengan Mas.”
“Aku bukan pria pengangguran yang tidak punya pekerjaan. Nikmati saja waktu cuti mu sendiri!”
BRAK!!
Dengan kasar Alvin menutup pintu kamar. Hal tersebut semakin membuat Anyelir berang. Wanita itu berteriak sambil melemparkan barang-barang di kamarnya.
Dengan kesal Alvin kembali ke mini market miliknya. Pagi-pagi Anyelir sudah membuat masalah. Yang membuat Alvin berang, ini bukan pertama kalinya Anyelir melabrak karyawan wanita di mini market. Sikap posesif wanita itu semakin menjadi saja.
Sesampainya di mini market, ketiga pegawainya masih meneruskan pekerjaan. Ayu yang baru saja mendapat kekerasan dari Anyelir nampak sedang meneruskan pekerjaannya. Alvin segera mendekati wanita itu.
“Ayu,” panggil Alvin. Ayu buru-buru berdiri kemudian berbalik menghadap Alvin.
Mata Alvin memperhatikan karyawan wanitanya ini. Pipi sebelah kanan Ayu memerah dan sedikit bengkak. Pasti tamparan Anyelir cukup kencang hingga meninggalkan jejak di pipi wanita itu.
“Kamu lebih baik pulang. Tidak usah bekerja dulu hari ini dan besok.”
“Tapi … saya tidak apa-apa, Pak.”
“Pulang saja, Yu. Dan tolong maafkan istri saya.”
“Iya, Pak.”
Ayu segera beranjak dari tempatnya. Dia menuju loker tempatnya menaruh barang, dan tak lama kemudian wanita itu keluar dengan membawa tasnya.
“Saya pulang dulu, Pak.”
“Iya, Yu. Tapi kamu tetap kerja di sini kan?”
“Kalau Bapak mengijinkan.”
“Tentu saja. Kamu karyawan yang baik. Saya tidak punya alasan memecatmu. Istirahatlah selama dua hari, baru kamu masuk kerja lagi.”
Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh Ayu. Sebenarnya dia tak enak hati meninggalkan dua rekannya. Pasti mereka cukup kerepotan hari ini. Tapi wanita itu tidak punya pilihan lain. Memang lebih baik baginya untuk pulang dan menenangkan diri.
“Adi, hubungi Iwan. Tanya apa dia bisa masuk pagi ini.”
“Baik, Pak.”
Usai memberikan perintahnya, Alvin kembali ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Pria itu menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya. Dia memijat pelipisnya, Anyelir sukses membuat kepalanya pusing.
Baru satu menit Alvin duduk di kursinya, ponselnya bergetar. nampak Anyelir yang menghubungi. Dengan malas pria itu menjawab panggilan, “Halo.”
“Kalau Mas ngga pulang, aku mau pergi!”
“Terserah!” dengan cepat Alvin langsung mengakhiri panggilan.
***
Hai² aku datang lagi dengan karya baru. Jangan lupa like, komen, rate bintang 5 dan masukkan ke favorit supaya bisa terus dapat notif up date🤗
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭